CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
4. Kencan Pertama


__ADS_3

Tiga hari ini sungguh hari yang melelahkan untuk Edward.


Dua hari lalu ia telah mengecek laporan akhir yang dibuat oleh Mrs. Elena. Mulai dari laporan pemasaran, laporan distribusi logistik, laporan income dan aset yang dimiliki perusahaan, hingga memeriksa kontrak dengan beberapa perusahaan yang menjadi vendor Zafora.


Kemarin ia mengadakan meeting dengan seluruh manajer cabang.


Dan sepanjang hari ini, ia mengadakan pertemuan dengan beberapa perusahaan pengiklan dan vendor, serta dua orang model yang menjadi brand ambassador untuk Zafora Indonesia. Tapi salah seorang model berhalangan hadir sehingga diwakilkan oleh manajernya.


Pria itu memutuskan untuk mengubah strategi pemasaran dan beberapa kebijakan kontrak yang sudah hampir berakhir. Tapi semua itu belum final sampai ia mengunjungi dulu outlet-outlet cabang. Dan Bandung adalah kota pertama yang akan dikunjunginya esok lusa.


Edward keluar dari outlet saat arloji di tangan pria itu menunjukan pukul 17. 30 WIB. Jasnya ia sampirkan di siku kirinya, sedang tangan kanannya menjinjing koper. Ia berjalan menyusuri lorong plaza untuk menuju ke lift. Weekend seperti ini pengunjung plaza lebih ramai dari hari-hari biasa. Semua orang ingin menyenangkan diri setelah satu minggu berkutat dengan pekerjaan.


Begitu juga dengan pria itu, Ia ingin rileks malam ini. Tadi siang Edward telah membuat janji dengan Mikaila untuk bertemu. Ia akan kembali dulu ke apartemennya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Satu jam kemudian pria itu telah keluar dari apartemennya bersiap-siap untuk turun. Ia kelihatan tampan dengan memakai kemeja motif flannel yang dipadu dengan jaket cokelat dan celana denim. Ketika lift sampai ke bawah, ia langsung menuju ke basement, di mana mobilnya terparkir. Beberapa menit kemudian, mobil itu pun keluar dari kompleks plaza dan berbelok ke jalan Sudirman, bergabung dengan ribuan kendaraan lain untuk menuju ke apartemen Mikaila.


Grand Kaharu Residence, 14th floor 254. At 07 PM.


Edward membuka kembali pesan yang dikirim wanita itu tadi siang. Dengan panduan Google Maps, ia akhirnya sampai di pelataran gedung berlantai 20 itu. Pria itu telah berdiri di depan pintu bernomor 254 dan dengan mantap menekan bel.


Mata Edward berbinar saat seraut wajah tersenyum di balik pintu. Gadis itu sangat cantik dengan bibir yang diberi sapuan warna salem dan rambut ikalnya yang hanya sebahu dibiarkan tergerai. Dress mini hitam yang menampakan sebagian pahanya membuat ia tampak seksi.


“Selamat malam, Mikaila.” ucap pria itu tersenyum.


“Malam Ed. Ayo masuk. Aku udah siap kok.” ucapnya memakai bahasa yang tak formal agar lebih akrab.


Mikaila melebarkan lagi daun pintu dan memberi jalan untuk tamu prianya masuk.


Edward menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang luas. Terlalu luas untuk seorang wanita lajang. Apartemen itu seluas dengan apartemen miliknya. Sebuah meja bar tampak memisahkan area pantry di sudut kiri dengan ruang utama. Di sebelah pantry ada sebuah meja makan dengan empat kursi. Di dinding sebelah kanan terpajang beberapa lukisan reinances dan sebuah TV LED. Sementara di dekat dinding depan, seperangkat sofa terpajang. Dinding itu memisahkan ruangan utama dengan area balkon. Seluruh dinding terbuat dari kaca sehingga seakan-akan ruangan dan balkon menyatu dengan view teluk Jakarta dari ketinggian 70 meter.


Pria itu membayangkan dirinya menikmati suasana Jakarta di malam hari bersama Mikaila di area itu dengan ditemani sebotol champagne atau tequila.

__ADS_1


“Ayo Ed!” ucap Mikaila membuyarkan lamunan Edward. Wanita itu keluar dari kamar sambil memakai cardigans untuk menutupi bagian atas tubuhnya.


“Ya. Kita berangkat sekarang.” ucap pria itu menggandeng tangan Mikaila.


“Kau tepat waktu, Ed. Padahal kota ini sangat payah. Kau bisa menghabiskan waktumu berjam-jam hanya untuk menunggui mobilmu yang terjebak di tengah jalan.”


“Anggap saja aku seorang pria beruntung yang terhindar dari macet dan mengencani seorang gadis cantik.” ucap Edward membukakan pintu mobil untuk Mikaila.


“Sejak kapan seorang pria Inggris berubah menjadi gombal, Tuan Edward? Kau seperti supir taksi yang ada di Paris saja, Ed.” balas wanita itu.


“Oh ya?” Edward hanya tertawa sambil membawa mobil ke arah barat kota.


Mereka akhirnya sampai di Continental Club, salah satu klub terbesar di Jakarta. Mikaila mengajak Edward masuk. Musik techno yang diramu sang dj menghentak-hentak menyambut mereka. Pengunjung di dalam bar cukup ramai. Pria itu menemukan hampir semua pengunjung bar adalah orang asing seperti mereka.Tetapi ada juga beberapa yang warga lokal. Mungkin teman atau pasangan mereka. Sebagian besar dari mereka seperti dari Eropa atau Amerika karena berambut pirang. Namun, ada beberapa pengunjung yang Edward lihat berwajah latin dan negro. Dan tampak tiga orang pria bermata sipit baru datang juga, sepertinya mereka berkewarganegaraan Jepang atau Korea.


Mikaila mengatakan kalau sebagian besar tamu yang datang adalah member dari klub ini, termasuk juga dirinya. Edward melihat wanita itu mengeluarkan id card dan ditunjukan ke penjaga saat masuk tadi. Tempat ini memang menjadi wadah bagi para ekspatriat di Jakarta yang ingin membentuk komunitas. Syarat utama menjadi member haruslah berkewarganegaraan asing. Bahkan bartender dan barista yang bekerja di sini juga orang asing.


Edward memesan vodka untuk mereka berdua.


“Sejak aku tiba di kota ini tiga tahun lalu.”


Mikaila mengambil sebatang rokok dan ikut meyalakannya juga.


“Senang rasanya berkumpul bersama orang-orang dengan berbagai bangsa seperti ini." ucapnya menghembuskan asap rokoknya.


" Apalagi jika kau bertemu dengan orang yang senegara denganmu. Rasanya menemukan keluarga di tempat yang jauh dari kampung halaman.”


“Kau pasti rindu dengan Moskow, Mikaila.” ucap Edward menoleh ke wanita di sampingnya sambil meneguk sedikit minumannya.


Mikaila tersenyum kecut. Ia hisap rokoknya dalam-dalam dan dihembuskan ke udara.


“Coba kau perhatikan dua orang itu, Ed.” ucap wanita itu menunjuk ke belakang Edward.

__ADS_1


Edward menoleh ke belakang. Tampak dua orang pria duduk tak jauh mereka. Yang seorang berambut pirang dan seorang lagi berambut hitam.


“Mereka pasti berasal dari negara yang berbeda dan saling menceritakan kampung halamannya. Di sini semua orang bangga dengan identitas. Think globaly, act localy. Mereka semua pelintas banyak negara tapi tetap tak lupa dengan akar mereka.”


Karena respon yang ditunjukan Edward datar saja, wanita itu menunjukan gelang yang melingkar di tangan kirinya ke pria itu.


“Coba lihat ini.”


“Hanya sebuah manik-manik biasa. Tak terlalu istimewa.” ucap pria itu.


“No ! This is something special. Ini adalah garam himalaya yang telah mengkristal dan sekeras batu. Diambil dari kedalaman puluhan meter perut bumi. Gelang ini diberikan oleh Ojani, temanku dari India. Kami bertemu di sini dua tahun lalu.”


“Apakah dia juga seseorang yang spesial bagi dirimu?’ tanya Edward.


Mikaila tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian dihisap kembali rokoknya.


“Pria itu sekarang telah kembali ke negaranya. Tapi kami masih saling mengirimkan email.” jelasnya.


“Intinya, Ed,” wanita itu mencecap vodkanya.


“Orang-orang di sini bangga memberikan identitas dirinya untuk orang yang baru dikenalnya. Mereka lazim bertukar pin atau barang-barang kecil khas negaranya.”


“Kalau begitu aku akan mendapat sesuatu yang spesial dari Rusia.” Pria di sampingnya mengerlingkan matanya.


“Tak ada yang spesial dari diriku, Ed. Aku bahkan bingung dengan identitasku sendiri.” Mikaila menghela napas.


“Mengapa?” Edward mengernyitkan dahi.


Tak ada respon dari wanita itu. Walaupun samar, Edward melihat ada beban di wajah Mikaila. Pria itu tak ingin bertanya lebih lanjut. Lagi pula tidak sopan rasanya bertanya masalah pribadi pada kencan pertama. Ia tak ingin merusak momen yang sedang intim ini.


Edward hanya ingin menikmati malam ini dan bersenang-senang dengan Mikaila. Dipesannya lagi minuman untuk mereka berdua sambil dagunya menghentak-hentak lembut mengikuti irama Shake It Off-nya Taylor Switf yang diremiks oleh sang dj.

__ADS_1


__ADS_2