CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
12. Mengunjungi Tanah Leluhur


__ADS_3

Setelah Medan. kota terakhir yang Edward kunjungi adalah Makassar. Tak ada bedanya seperti di kota-kota sebelumnya, pria itu juga menerapkan kunjungan kerja sesuai standar perusahaan di kota ini. Berkenalan dengan seluruh karyawan dan memeriksa neraca penjualan. Tapi ada sesuatu yang istimewa bagi Edward ketika pertama kali menginjakan kaki di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.


Pulau ini adalah tempat kelahiran Opa-Omanya dan Paman Maweru. Keluarga Opanya terpaksa harus meninggalkan Manado dan bermigrasi ke Inggris lima puluh tahun lalu, ketika situasi politik di kota tempat tinggalnya sedang bergejolak. Opanya termasuk anggota organisasi yang aktif mengkritik pemerintah masa itu sehingga masuk daftar orang yang dicari. Saat itu Opa dan Oma baru mempunyai satu orang anak, yaitu Paman Maweru. Setelah beberapa tahun tinggal di Manchester, barulah mamanya lahir kemudian disusul oleh Tante Bella, adik mamanya.


Meski telah berdiaspora selama puluhan tahun ke Eropa dan menjadi warga negara Inggris, tapi keluarga mereka masih tetap menjalin komunikasi dengan keluarga di Manado. Terutama dengan Tante Dora, sepupu mamanya. Opa dan omanya juga pernah beberapa kali pulang ke Manado.


Dan hari ini Edward akan mengunjungi keluarga mamanya itu, setelah urusan kerjanya di Makassar selesai. Tante Dora sangat senang saat tahu kemenakannya itu telah bertugas di Indonesia dan akan mengunjunginya.


Edward baru sadar jika jarak antara Makassar dan Manado ternyata sangat jauh. Makassar terletak di semenanjung sebelah selatan pulau Sulawesi sedangkan Manado di sebelah utara. Dari Makassar ke Menado sekitar satu jam lebih perjalanan menggunakan pesawat terbang. Ketika sampai di Bandara Sam Ratulangi, Edo, sepupu jauh pria itu telah menunggu untuk menjemputnya.


Hari telah senja saat Edward tiba di kediaman Tante Dora. Rumah mereka terletak di lereng perbukitan di pinggiran kota Manado. Wanita paruh baya itu langsung memeluknya. Juga anak-anak Tante Tante Dora, sepupu jauhnya. Meski mereka sering berkomunikasi melalui video call, tapi ini kali pertama mereka bertatap muka.


“Selamat datang kembali di rumah, Edward. Tuhan memberkatimu, anakku.” ucapnya.


“Terima kasih, Tante Dora.” balasnya mencium pipi wanita itu.


“Ada yang ingin bertemu denganmu.” ucap Tante Dora sambil pandangannya beralih ke seorang wanita tua yang baru keluar dari kamar. Ia berjalan tertatih-tatih dengan dipapah oleh salah seorang sepupunya.


“Beliau Oma Margareth. Adik dari Opamu, Edward.” terang Tante Dora.


Edward langsung memeluk wanita tua itu. Margareth menangis dalam pelukannya. Demi melihat Oma Margareth kepayahan, ia pun membimbing wanita tua itu duduk.


“Kau mirip opamu saat ia muda dulu, Edward. Tapi kau lebih tampan dan gagah. Pasti itu kau warisi dari papamu, bukan?” ucap Margareth sambil mengusap pipi Edward.


“Terima kasih, Oma Margareth.” ucap Edward tersenyum.


Malam itu mereka makan bersama untuk menyambut kedatangan Edward. Tante Dora memasak bubur tinutuan yang disajikan dengan ikan cakalang panggang dan babi asap bumbu rica. Menurut Edward, tinutuan mirip bubur ayam yang pernah ia makan di Jakarta, tapi bedanya bubur ini lebih creamy. Saat penyajian juga tidak diberi toping suwiran ayam dan kerupuk, tapi dinikmati dengan ikan cakalang atau babi asap. Saat dimasak, bubur ini dicampur dengan bayam, jagung manis, dan ubi jalar..


Mereka makan sambil mengobrol dengan akrab. Sesekali di antara mereka menjahili Edward dengan pertanyaan-pertanyaan konyol.


“Apa kamu sudah punya kekasih di Jakarta, Edward?”

__ADS_1


Semua orang tertawa mendengar pertanyaan Paman Rudolf, suami Tante Dora. Sementara Edward hanya tersenyum tersipu sambil menggeleng.


“Kau sudah keliling negara ini. Pasti kau sudah tahu kalau gadis Indonesia itu cantik-cantik kan?” tanya Paman Rudolf lagi.


“Ya. Wanita negara ini memang cantik dan anggun, Paman.”


“Jadi apalagi yang engkau tunggu, anakku? Atau kau ingin Tante jodohkan dengan gadis Manado?” ucap Tante Dora ikut menimpali.


“Belum terpikirkan olehku untuk menikah, Tante. Aku masih ingin berkarir.” ucap Edward.


“Menikah dan berkarir bukanlah dua hal yang saling bertentangan, anakku. Engkau bisa melakukannya secara bersamaan. Lihatlah Edo!” ucap Tante Dora sambil pandangannya beralih ke sepupunya.


“Edo bahkan lebih muda darimu. Tapi lihatlah sekarang, ia sudah mempunyai dua orang anak yang lucu-lucu.”


Sepupunya itu hanya cengar-cengir sambil asik menguliti cakalang bakarnya.


Mengapa makan malam ini jadi membicarakan pernikahan dan calon istriku yang entah siapa dan berada di mana? Gerutu Edward dalam hati.


“Dan tentu saja harus pintar memasak seperti tantemu ini.”. ucapnya lagi sambil mengerling ke istrinya di samping.


Sekarang giliran Tante Dora yang tersipu. Ia menyikut pinggang suaminya membuat semua orang tertawa kecuali Edward. Pria itu hanya tertegun mendengar nasihat Paman Rudolf tadi.


Ketika ia sudah merebahkan tubuhnya di kamar tamu rumah Tante Dora pun, ia masih memikirkan apa yang disampaikan oleh suami tantenya itu. Ia sudah mengenal beberapa orang wanita selama di sini. Tapi untuk dijadikan kekasih?


Mikaila? Wanita itu bahkan tak ingin terikat dengan seorang pria selama hidupnya.


Anjani? Jauh dari ekspetasinya.


Sarah? Ia baru sekali bertemu.


Dan kesan pertama yang ia dapatkan dari gadis itu adalah; tertutup.

__ADS_1


Sarah seakan-akan membuat batas dengan dirinya. Edward tak tahu mengapa ia begitu. Tapi yang pria itu rasa, aura gadis itu sangat kuat mempengaruhinya. Edward teringat kembali percakapannya dengan Purnomo saat mereka makan di Jalan Kesawan kemarin sore.


“Pak Purnomo, setelah saya melakukan monitoring di delapan outlet, ternyata ada beberapa karyawati yang memakai kerudung seperti Sarah.” ucap Edward.


“Ouh ya? Nona Sarah memang tak pernah melepas kerudungnya, ia seorang muslim yang taat.” ucap Purnomo sambil mengangguk pada pelayan yang mengantar pesanan. Mereka memesan kwetiau goreng dan sate.


“Ya selama hal itu tak mengganggu kinerjanya, saya anggap itu bukan suatu masalah.”


“Kalau boleh saya akui, kinerja Nona Sarah sangat baik. Ia lulusan sekolah kecantikan di Jakarta dan pernah bekerja sebagai supervisor di perusahan kosmetik besar. Karena itu kami tak ragu untuk merekrutnya sebagai analis kecantikan.”


“Soal pakaian dan kerudungnya, saya rasa itu tak menghambat aktivitasnya. Dan tak ada peraturan perusahaan yang melarang itu.”


“Ya saya setuju dengan anda. Saya juga melihat bagaimana kemarin ia melayani customer.”


“Justeru menurut saya, ia gadis yang mempunyai prinsip hidup dan karakter yang tegas. Bukankah itu sesuai dengan misi brand kita, Tuan edward? Mewujudkan keinginan wanita yang ingin mengeksplore karakter dirinya.” jelas Purnomo.


Edward hanya mengangguk.


Tapi pria itu masih penasaran dengan ucapan Sarah. Tentang alasan gadis itu segan pergi minum kopi dengannya. Mungkinkah ia segan dengan kekasihnya? Mungkinkah kekasihnya adalah seorang pria yang pencemburu? Ia akan menanyakan itu jika nanti melakukan kunjungan kerja lagi ke sana.


Ia pun berusaha untuk tidak memikirkan gadis itu lagi dan memutuskan untuk segera tidur. Karena besok pagi Paman Rudolf berjanji akan mengajaknya mengunjungi Tomohon. Ada sesuatu yang ingin ditunjukannya ke Edward di tempat itu.


PEMBERITAHUAN AUTHOR


Karena kesalahan teknis yang dilakukan author, telah ter up episode ganda (double episode). Jadi untuk menghindari kebingungan kawan-kawan pembaca dan menghindari tumpang-tindih cerita, setelah episode ini silahkan langsung menuju episode 15.13 Mengunjungi Tanah Leluhur (2).


Jangan lagi membuka episode 13.13 dan episode 14.14.


Mohon maaf untuk ketidaknyamanan ini dan terima kasih untuk perhatiannya.


Salam Author

__ADS_1


__ADS_2