
Sebulan setelah Edward ke Medan dan berdiskusi dengan Sarah tentang wanita muslim, pria itu pun mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya. Keputusan yang diambil setelah satu bulan ini ia pikirkan matang-matang. Tadi pagi Edward telah meminta pendapat Purnomo, dan malam ini ia akan menemui Mikaila.
Hey Jude, don’t make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better
…
Hits lawas Hey Jude milik band legendaris The Beatles yang dinyanyikan band akustik menyambut kedatangan Edward di Khayangan Club. Pria itu menemukan Mikaila duduk di salah satu meja dekat jendela kaca sambil matanya memandang keluar, ke gedung-gedung di sepanjang kawasan Sudirman . Tadi sore dirinya telah membuat janji untuk bertemu dengannya di tempat ini.
Ia hampiri wanita yang malam ini memakai turtleneck hitam dan celana panjang warna krim itu.
“Selamat malam, Mikaila. Maaf, sudah menunggu lama?” sapa Edward sambil menarik kursi di hadapan wanita itu.
“Selamat malam juga, Ed.” ucapnya menoleh lalu melihat arloji di tangan kirinya.
“Baru sepuluh menit yang lalu. Belum juga memesan minum.”
“Kalau begitu ingin kupesankan apa?” tanya Edward sambil tangannya melambai ke pelayan.
“Terserah kamu, Ed.” ucap Mikaila malas-malasan.
Edward melihat wajah wanita itu agak pucat malam ini. Pria itu mengira mungkin ia kelelahan bekerja. Tak lama, pelayan pun datang sambil membawa buku menu. Edward mulai berusaha untuk berhenti minum alkohol, makanya malam ini ia hanya akan minum secangkir kopi. Melihat pria itu memesan espresso panas, Mikaila pun memesan hot creamy late.
“Kulihat kau kurang bersemangat. Wajahmu tampak pucat dan lelah, Mikaila. Apa kau baik-baik saja?”
“Kurasa aku baik-baik saja, Ed. Tapi sudah seminggu ini pinggangku terasa sakit. Kakiku juga kadang sering keram.”
“Sudah periksa ke dokter?” tanya Edward dengan wajah khawatir.
“Sepertinya tak perlu.” jawab Mikaila singkat.
“Jangan sepelekan itu! Selama ini kau bekerja hingga larut malam.”
“Aku tak apa-apa, Ed? Mungkin karena aku terlalu lama saja berdiri di lab yang dingin.” wanita itu berkilah.
“Oh ya, katamu ada yang ingin kau bicarakan denganku, apa itu Ed?” wanita itu coba mengalihkn perhatian Edward.
“Sebelumnya aku ingin bertanya dulu padamu, Mikaila.”
“Ya, apa?”
“Apakah kau percaya jika manusia itu bisa berubah?”
“Tentu saja bisa!" seru Mikaila tersenyum ke pria di hadapannya.
"Lihat dirimu, Ed. Kau pun berubah malam ini. Biasanya kau selalu memesan vodka atau wiski jika ke tempat ini. Tapi malam ini kau hanya memesan kopi.”
“Atmosfer di sini juga berubah. Lihat mereka itu.” ucap Mikaila sambil mengajak Edward untuk menoleh ke sudut ruangan.
Edward pun menurut. Ada sebuah panggung kecil di sudut ruangan. Beberapa pria tampak sedang memainkan musik akustik di sana. Suara merdu sang vokalis terdengar membawakan hits lawas Another Day in the Paradise milik Phill Colins. Sepertinya tema malam ini adalah golden memories. Karena kehadiran mereka, suasana Khayangan Club terasa lebih hidup. Sebelumnya hanya musik-musik yang diputar dari mp3 saja yang didengar oleh pengunjung.
“Banyak perubahan yang kutemui malam ini.” ucap wanita itu kembali menoleh ke Edward.
“Ya, kau benar Mikaila. Yang tetap dalam kehidupan ini adalah perubahan.” ucap pria itu berfilosofi sambil matanya masih fokus ke panggung.
__ADS_1
“Tapi apakah kau percaya jika manusia bisa berubah menjadi lebih baik?”
Kini Edward menoleh ke wanita itu.
“Maksudnya, Ed?” tanya Mikaila mengernyitkan dahi.
“Manusia yang selama hidupnya selalu berbuat yang tidak disukai Tuhan, mabuk-mabukan, berjudi, atau berzina. Apakah dia bisa menjadi baik?”
"Ed, pada hakikatnya semua manusia terlahir untuk menjadi baik. Ketika ia mengarungi kehidupan, ada hal-hal yang membuatnya menjadi buruk. Jadi aku percaya jika ada orang yang jahat dapat berubah menjadi baik.”
“Kenapa engkau menanyakan itu? Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan, Ed?”
“Aku ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik, Mikaila.”
Mikaila terperangah dengan pernyataan Edward. Wanita itu mengira-ngira dalam hati, dosa apa yang diperbuat pria itu hingga ia ingin bertaubat menjadi baik?
“Memang apa yang telah kau perbuat, Ed? Perubahan seperti yang kau maksud?”
“Selama ini aku telah menyia-nyiakan hidupku. Aku sibuk mengejar uang, karir, bersenang-senang dengan banyak wanita tanpa memperdulikan bahwa aku mempunyai Tuhan, aku mempunyai keluarga dalam hidupku.”
“Lalu sekarang kau mau apa, Ed? Kau ingin mengundurkan diri dari pekerjaanmu lalu menetap dalam biara menjadi pendeta? Begitu?” cerca Mikaila.
Wanita itu sedikit emosional, karena kisah yang dipaparkan pria itu juga adalah kisah hidupnya.
“Aku ingin menikah, Mikaila. Aku ingin mempunyai anak dengan seorang wanita dan membangun keluarga kecil Anderson.”
Mikaila hanya terdiam. Ia mengusap wajah dengan kedua tanganya.
“Lalu, kau akan menikahi modelmu itu?” tanya Mikaila.
“Bukan dengan dia!” sanggahnya cepat setelah ia tahu yang dimaksud wanita itu adalah Anjani.
“Lalu siapa wanita itu, Ed?” tanya Mikaila dengan suara serak.
Yang pasti bukan aku wanita yang kau pilih itu. Dalam hati Mikaila menjawab sendiri pertanyaannya. Tiba-tiba ada perasaan aneh yang asing, yang selama ini tak pernah ia rasakan. Perasaan aneh yang membuat dadanya terasa sesak.
“Gadis itu bernama Siti Sarah. Dia salah satu staf terbaik Zafora dari Medan.” ucap Edward.
Tiba-tiba Mikaila merasa, perasaan aneh yang membuat sesak dadanya tadi, kini berubah menjadi gerimis dalam hatinya.
“Apakah dia mau menerima ajakanmu itu?”
“Aku bahkan belum melamarnya.”
“Mengapa, Ed?”
“Aku takut ia menolaknya.”
“Secantik apakah dia Ed? sehingga masih menolak pria setampan dan sesukses dirimu?”
“Ia sangat cantik dan istimewa, Mikaila. Tapi ada hal besar yang akan menjadi penghalang.”
“Apa itu, Ed?”
“Ia seorang gadis muslim yang taat. Dan dia hanya akan menikah dengan seorang lelaki muslim juga.”
“Jadi artinya…?” Mikaila menebak-nebak.
“Ya, mungkin aku akan menjadi seorang muslim, Mikaila.” ucap Edward mengerti apa yang diduga wanita itu.
__ADS_1
“Aku tak percaya dengan semua ini. Kau bukan seperti Edward yang kukenal. Seorang Edward yang tidak ingin terikat dengan seorang wanita.
“Tapi sifat manusia bisa berubah kan? Dan aku ingin berubah menjadi lebih baik.”
“Apa yang telah merasukimu, Ed? Hingga kau rela berpindah jalan hidup hanya demi seorang wanita yang baru kau kenal.”
“Sudah kukatakan kalau dia istimewa. Toh, selama ini aku juga telah menyia-nyiakan jalan hidup yang telah Tuhan berikan padaku.”
Sejenak keadaan hening karena mereka berdua sama-sama tenggelam dengan pikiran masing-masing.
“Jadi kapan kau akan melamarnya?”
“Besok pagi aku akan ke Medan menggunakan penerbangan pertama untuk menemuinya. Makanya malam ini aku mengajakmu bertemu di sini.”
“Bahkan kau menyempatkan diri untuk menemuiku dulu. Sepenting apa diriku bagimu, Ed?” ucap Mikaila tersenyum kecut.
“Kau temanku Mikaila. Aku ingin berbagi cerita padamu.” tegas Edward.
“Setelah malam ini, aku berharap kita akan tetap menjadi teman selamanya. Tapi bukan teman untuk melepaskan hasrat.”
Mikaila hanya terdiam. Dari ucapan Edward ia tahu, kalau pria itu ingin mengakhiri hubungan tanpa ikatan yang selama ini telah mereka jalani.
“Sebagai temanmu, aku ingin kau bahagia, Mikaila. Berusahalah untuk move on dari bayang-bayang masa lalumu. Mulai sekarang bukalah hatimu untuk seorang pria. Menikahlah dengan orang yang kau cintai.”
Edward pun bangkit dari duduknya.
“Sungguh sangat menyedihkan jika di hari tua nanti, hidup kita sepi dalam kesendirian."
"Aku pamit, Mikaila.”
“Maukah kau tidur di apartemenku malam ini, Ed. Untuk yang terakhir kali.” ucap Mikaila penuh harap sambil meraih tangan Edward yang telah berdiri.
Edward tersenyum mendengar ajakan Mikaila. Sambil menggenggam jemari wanita itu yang memegangnya, Edward berkata.
"Maaf Mikaila, aku tak bisa. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, untuk tidak melakukan itu lagi padamu.” ucapnya sambil melepas pelan jemari tangan wanita itu.
“ Mudah-mudahan kau bahagia dengan jalan hidup yang kau tempuh nanti, Ed.” ucap Mikaila memalingkan wajahnya seperti tak rela.
“Terima kasih, Mikaila. Selamat malam.”
Mikaila memandang punggung pria yang berjalan menjauhinya itu dengan perasaan sendu. Setitik air mata jatuh menetes di pangkuan wanita itu. Banyak sudah pria yang datang di hidupnya, tapi baru Edward yang ia tangisi kepergiannya. Ia juga tak tahu untuk apa menangis. Bahagia atau sedih?
Harusnya ia bahagia melihat Edward telah menemukan jalan hidupnya yang lebih baik. Tapi mengapa rasanya hatinya sedih, karena tak akan mungkin lagi bisa bersama pria itu?
Sebuah lagu lawas karya Muhtar Embut yang dinyanyikan sang vokalis mengiringi kepergian Edward dari tempat itu.
Di wajahmu kulihat bulan
Bersembunyi di sudut kerlingan
Sadarkah tuan kau ditatap insan
yang haus akan belaian
Di wajahmu kulihat bulan
Yang mengintai di sudut kerlingan
Jangan biarkan ‘ku tiada berkawan
__ADS_1
Hamba menantikan tuan