CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
38. Faris atau Furqan?


__ADS_3

Maryam membuka pintu kamar belakang yang ditempati oleh Sarah. Dilihatnya gadis itu masih duduk di atas sajadah memakai mukena menyelesaikan doanya setelah salat isya.


“Sarah, selesai salat nanti, temui Bang Rais ya. Ada yang ingin dibicarakannya padamu.” ucapnya sambil menyembulkan wajahnya yang cuby di daun pintu.


Gadis itu hanya mengangguk mendengar ucapan istri sepupunya itu. Ia pun segera menyeleseaikan doanya dan melepas mukenanya. Ia putuskan tak makan malam lagi karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Lagi pula ia tidak terlalu lapar karena petang tadi ia sudah makan kwetiau goreng yang dibelikan rekannya.


“Duduklah di sini. Ada yang ingin Abang sampaikan padamu.”


Perintah Rais begitu melihat Sarah keluar dari kamarnya. Sejak kemarin malam, mulai perjalanan pulang dari Rangkang Kupi hingga sampai ke rumah, lelaki itu terus memikirkan perihal yang disampaikan Ustadj Faruk tentang niat Furqan mengkhitbah Sarah. Tapi tadi pagi Rais tak sempat untuk menyampaikannya pada gadis itu karena pukul setengah tujuh ia sudah harus berangkat ke pabrik.


Dan ia merasa malam ini hal itu harus disampaikan pada Sarah. Adik sepupunya itu harus tahu segera tahu untuk secepatnya menentukan sikap agar Furqan tidak terkatung-katung dengan jawaban Sarah.


“Ada apa, Bang?”


Sarah bertanya setelah ia duduk di depan Rais. Maryam juga ikutan duduk diam di sampingnya setelah tadi ia menidurkan Rayhan. Wanita itu sudah tahu apa yang akan disampaikan karena tadi sore suaminya telah berbicara padanya.


Dan Rais telah mewanti-wanti istrinya itu agar tidak mengacaukan pembicaraan ini dengan ucapan-ucapannya yang kadang dapat membuat hati Sarah menjadi risau.


“Sebelumnya abang ingin bertanya, seberapa jauh hubunganmu dengan Pak Edward?”


Sarah terperangah mendengar pertanyaan Rais. Ia tak menduga Rais akan menanyakan hal itu.


“Aku hanya ingin berbuat baik pada orang yang ingin berhijrah, bang. Sama seperti yang abang sarankan, ayah juga meminta padanya untuk belajar dulu tentang ilmu Islam. Setelah ia mantap dengan akidahnya, barulah maksudnya itu akan dibicarakan lagi.”


“Apa kau dan Edward ada berencana untuk ke tahap yang lebih serius? Karena Abang lihat kalian terlihat akrab. Kau dan dia bertemu kemarin malam. Abang rasa itu bukan satu kebetulan.” ucapnya tersenyum.


“Menurut Abang, ia seorang lelaki yang perhatian, tidak hanya dengan pasangannya, tapi juga pada keluarganya.”


“Aku sama sekali belum memikirkan tentang menikah dengan dia, Bang. Dalam masa-masa seperti sekarang ini, apa pun bisa berubah kan?”


Sarah berkata seolah-seolah menegaskan pada Rais kalau belum ada kemajuan yang berarti antara hubunganya dengan pria Inggris itu.


“Termasuk jika ada orang lain yang mengkhitbahmu?”


“Mengapa abang bertanya seperti itu?” ucap Sarah mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Inilah yang ingin abang sampaikan padamu.”


jawab lelaki itu sambil menarik napas panjang.


“Kemarin Ustadj Faruk memanggil abang itu untuk menyampaikan bahwa Tengku Furqan ingin mengkitbahmu.”


Sarah terkejut mendengar pengakuan Rais. Sebelum malam ia dikenalkan oleh Rais dan tahu kalau ternyata pria itu teman abang sepupunya, Sarah sudah mengenal Furqan. Meskipun mereka hanya melihat satu sama lain saat berpapasan. Menurutnya, ia adalah pria yang ramah dan sopan.


Tapi mengetahui bahwa pria Aceh itu mengkitbahnya sungguh di luar dugaan. Ternyata selama ini pria itu memperhatikan dirinya. Ucapan Edward kemarin malam benar tentang Furqan. Pantas saja ia tidak terlalu menyukainya.


“Lalu apa jawaban Abang pada Tengku Furqan?”


"Abang tak punya hak untuk menjawab apa pun. Makanya sekarang abang tanyakan langsung padamu. Apa jawabanmu?”


“Aku tak bisa menjawab apa pun. Kalau menurut abang, aku harus memilih siapa?”


“Kau ingin jawaban jujur dari hati abang?”


Sarah mengangguk. Tapi hati kecilnya berkata lain . Ia ragu dengan sikapnya beberapa detik lalu yang bertanya pada Rais. Dan ia seperti sudah menduga apa jawaban yang akan diberikan lelaki itu.


Sarah merasa tiba-tiba saja ada sesuatu yang tercerabut dalam hatinya saat mendengar jawaban lelaki itu.


“Apa karena ia teman Abang?”


“Ya!” Rais menjawab dengan mantap.


“Karena Tengku Furqan teman abanglah, makanya abang sangat tahu tentang dirinya. Dia seseorang yang memenuhi syarat untuk menjadi pendampingmu. Tentunya kau paham apa yang Abangmu ini maksud, bukan?”


Sarah tak menjawab atau pun mengangguk. Gadis itu hanya bisa menunduk. Ia sangat paham bahwa ada empat perkara yang harus dilihat dari seseorang yang akan dinikahi. Yang pertama adalah ilmu dan agamanya. Dan itu sudah tak diragukan lagi dari seorang Furqan yang mempunyai akidah yang kuat dan akhlak yang mulia.


Yang kedua silsilah keluarganya. Meski Sarah belum mengenal Furqan, tapi gadis itu yakin bahwa pria itu berasal dari keluarga yang terhormat.


Yang ketiga hartanya. Sarah tak tahu seberapa banyak pria itu dan keluarganya mempunyai kekayaan. Tapi jika melihat Rangkang Kupi yang representatif dan terletak di kawasan yang strategis, rasanya tak berlebihan jika ia menduga miliaran rupiah uang Furqan tertanam di kafe itu. Dan semua itu lebih dari cukup untuk menafkahi anak istrinya, bahkan untuk digunakan berjuang di jalan Allah.


Yang terakhir adalah wajahnya. Sarah tak menapik jika Tengku Furqan mempunyai paras yang rupawan. Bahkan tak jarang ia dengar para akhwat yang mengikuti pengajian Ustadj Faruk berbisik-bisik di belakang membicarakan ketampanan ustadj muda itu.

__ADS_1


Rasanya sulit bagi Sarah menemukan cela pada diri Furqan. Pria itu merupakan sosok yang mendekati sempurna untuk dijadikan calon imam. Semua kriteria ada padanya.


“Tengku Furqan tak hanya tampan, tapi beliau juga mempunyai ilmu agama yang tinggi, kaya, dan berasal dari keluarga yang terhormat.”


Lamunan Sarah tentang Furqan seketika buyar karena ucapan Rais.


“Sedangkan Edward…?”


Ucapan Rais terhenti demi melihat Sarah yang sedari tadi menunduk seketika mendongakan wajahnya begitu nama itu disebut. Sepertinya ia tidak ikhlas Rais membanding-bandingkan pria itu dengan Furqan. Tak adil rasanya membandingkan dua orang yang level ilmu agamanya jauh berbeda. Tak perduli dengan dahi Sarah yang berkerut, Rais meneruskan ucapannya.


“Pria itu mungkin memiliki ketampanan dan kekayaan. Tapi tidak dengan ilmu agama. Dan bagaimana pula dengan silsilah keluarganya?”


“Tak bijak rasanya Bang, membandingkan mereka berdua seperti itu. Tengku Furqan sudah belasan tahun belajar agama, sedangkan Edward, baru saja menjadi mualaf.”


“Lagi pula Islam memberi hak istimewa untuk seorang kafir yang dengan sungguh-sungguh ingin memeluk Islam. Mereka terlahir kembali sebagai manusia baru dan Allah menghapus semua dosa-dosanya di masa lalu. Semoga Allah memberi rahmat-Nya pada Edward yang sedang belajar.”


Rais hanya diam mendengar ucapan gadis itu. Ia menoleh pada istrinya yang masih mendengar percakapan mereka dengan tekun.


“Jadi bagaimana dengan lamaran Tengku Furqan? Diterima atau tidak?” tanya lelaki itu meminta kepastiannya.


“Maafkan aku Bang. Aku belum bisa memberi jawaban sekarang.”


Sarah merasa butuh waktu untuk mengambil keputusan sepenting ini. Keputusan yang akan mennetukan hidupnya nanti. Ini bukan sekedar seperti memilih ingin makan apa hari ini? Nasi goreng atau mie ayam?


“Sebaiknya jangan lama-lama, Sarah. Kasihan Tengku Furqan terkatung-katung menunggu jawabanmu.”


"Iya, Bang. Aku mengerti.”


“Satu pesan Abang. Jangan kau pertaruhkan hidupmu hanya untuk menunggu seseorang yang belum pasti. Sementara ada orang lain yang sudah yakin ingin jadi pendamping hidupmu. Haqul yakkin.”


“Bang, jodoh, langkah, pertemuan, dan kematian manusia itu semua telah diatur oleh Sang Khalik. Aku percaya, apa pun yang akan terjadi padaku nanti, itu sudah ditentukan oleh-Nya.” ucapnya menatap Rais.


“Besok pagi aku akan pulang dan menyampaikan tentang ini pada Ayah.”


Sarah bangkit dari duduknya dan kembali masuk ke kamar. Meninggalkan suami-istri itu yang menatap kepergiannya dengan hati bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu, Sarah?

__ADS_1


__ADS_2