CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
19. Gadis di Balik Hijab (2)


__ADS_3

Apakah secara pribadi anda keberatan dengan kerudung yang saya pakai, Tuan Edward?" ucap Sarah.


“Kalau ternyata dugaan anda benar, saya keberatan dengan kerudung anda, apa sikap anda, Nona?” tanya Edward menantang.


“Saya akan mengundurkan diri dari sini, Tuan.” ucap gadis itu mantap.


Edward tersenyum sebelum kemudian memberi penegasan.


“Saya bukan orang yang rasis terhadap etnis atau agama tertentu, Nona.”


“Dalam perusahaan juga tidak ada peraturan yang melarang bagi karyawati yang ingin memakai kerudung saat bekerja. Selama hal itu tak mengganggu kinerjanya, saya anggap itu bukan suatu masalah.”


“Yang menjadi pemikiran saya, mengapa sebagian wanita muslim menutup seluruh tubuh dan rambutnya sepanjang waktu seperti anda, Nona Sarah?”


“Mengapa anda menanyakan itu, Tuan?”


“Hanya sekedar ingin tahu, Nona Sarah.”


Sarah mengernyitkan dahi mendengar ucapan pria di hadapannya. Ia merasa sesuatu yang ditanyakan sudah menyangkut masalah pribadi. Atau tepatnya tentang prinsip dan pandangan hidupnya. Gadis itu bisa saja menolak menjawab pertanyaan bosnya yang tidak ada hubungan dengan kinerjanya itu.


Tapi akhirnya Sarah berpikir, bahwa sebagai seorang muslim, dia juga mempunyai kewajiban memberikan penjelasan yang benar tentang Islam ke orang-orang yang belum memahaminya.


“Bagi kami wanita muslim, hampir seluruh bagian tubuhnya dilarang untuk diperlihatkan ke laki-laki. Selain telapak tangan dan wajah mereka. Wanita-wanita itu hanya diperbolehkan menampakan rambut, tangan, dan kaki mereka hanya pada laki-laki tertentu yang mempunyai pertalian darah dengannya, seperti ayah dan saudara kandungnya.”


Edward tercenung mendengar ada aturan seperti itu.


“Banyak wanita muslim yang sudah saya temui. Baik di sini atau pun di negara saya. Tapi mengapa dari mereka ada yang tidak menutup tubuh dan rambutnya?”


“Semua kembali kepada setiap individu, Tuan. Ada dari kami yang keimanannya sudah mantap jadi akan dengan ikhlas menutup auratnya.”


“Tapi sebagian dari kami masih memiliki keimanan yang lemah. Sehingga ini merupakan keputusan besar. Mereka memerlukan proses yang panjang untuk berhijrah dalam hidupnya.”


“Karena jika sudah memutuskan untuk melakukannya, mereka harus konsekuen dengan komitmen itu”

__ADS_1


“Apa itu hijrah, Nona?” tanya Edward sambil mengernyitkan dahi.


“Ketika seseorang ingin mengubah dirinya menjadi lebih baik.”


“Tapi bukankah keindahan seorang wanita adalah suatu anugerah yang harus dibanggakan, Nona?”


“Islam juga mengatakan jika seorang wanita adalah perhiasan yang indah di dunia. Tapi perhiasan untuk yang berhak memilikinya, Tuan.” ucap Sarah meluruskan.


“Setiap pria pasti berhak memiliki wanita mana pun. Itu sudah menjadi hukum alam bukan?”


“Anda salah, Tuan. Tidak semua berhak untuk itu.” ucap Sarah tersenyum.


“Jadi siapa pria yang beruntung itu?” tanyanya.


“Pria yang telah sah menikahinya.”


Edward terperangah dengan jawaban Sarah.


“Menutup tubuh dan rambut adalah suatu perintah. Karena membuka sebagian tubuh mereka adalah suatu dosa. Tubuh mereka bisa mendatangkan birahi laki-laki.”


“Oh ya, mengapa saat kunjungan saya tempo hari, anda meminta maaf saat saya ajak berjabatan tangan? Nona juga menolak saat saya ajak pergi ke kafe.”


“Wanita muslim dilarang bersentuhan dengan laki-laki asing., Tuan.”


“Juga dilarang pergi berdua, jika itu bukan urusan pekerjaan atau sesuatu yang sangat mendesak.”


“Mengapa begitu?”


"Karena banyak kemungkinan buruk yang akan ditemui, seperti akan terjadi hal yang melanggar norma.”


“Tapi saya mengajak anda di tempat ramai. Tak mungkin saya akan berbuat tak sopan dengan anda.”


“Tapi tetap akan timbul prasangka dan fitnah bagi orang yang melihatnya, Tuan”

__ADS_1


“Jadi bagaimana mereka dapat saling mengenal satu sama lain jika ada aturan seperti itu?”


“Islam membolehkan seorang wanita bertemu dengan laki-laki yang akan dinikahinya dengan tujuan agar saling mengenal sifat masing-masing, tapi dengan syarat, harus ditemani oleh ayah atau saudara laki-lakinya.”


Edward mendelik mendengar ucapan Sarah.


“Saya tak bisa membayangkan, betapa anehnya jika saya berkencan dengan seorang wanita yang dijaga oleh ayahnya di samping.”


“Tapi memang sudah begitu hukumnya, Tuan Edward.” ucap Sarah tersenyum.


Karena Edward tak mencecarnya lagi dengan pertanyaan, gadis itu pun memberanikan diri untuk kabur dari wawancara tak resmi itu.


“Maaf Tuan, jika tidak ada lagi yang ingin anda tanyakan, saya mohon izin untuk kembali bekerja.”


“Silahkan, Sarah. Terima kasih telah berbagi ilmu dengan saya.”


“Sama-sama, Tuan.” ucap Sarah sambil berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Sarah, Edward menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia merenungi percakapannya bersama gadis itu tadi. Ternyata kehidupan Sarah sangat jauh berbeda dengan kehidupan Anjani dan Mikaila. Juga kehidupannya sendiri. Gadis itu sangat taat menjalankan kepercayaannya. Sarah hidup dalam aturan dan norma-norma yang ketat tapi ia kelihatan begitu iklas dan bahagia.


Sedangkan ia sendiri?


Dirinya begitu mengagung-agungkan kebebasan. Tak ingin terikat dengan aturan yang akan mengungkungnya. Tapi apakah ia bahagia dengan kebebasan itu? Jauh dalam lubuk hatinya, diam-diam Edward juga merasakan kalau jiwanya gelisah dan hampa.


Edward memang terlahir dari keluarga Kristiani. Tapi mereka bukanlah keluarga yang kolot dan konservatif. Papa dan mamanya sangat demokratis terhadap anak-anaknya. Mereka memberi kebebasan penuh bagi pria itu dalam mengambil keputusan apa pun, jika itu akan membuatnya bahagia. Termasuk kebebasan untuk tidak terikat pada pernikahan atau kepercayaan tertentu.


Edward memperhatikan Sarah yang sedang melayani customer melalui layar komputer yang terhubung dengan kamera di depan. Sejujurnya ia akui, Sarah masih kalah cantik jika dibandingkan dengan Anjani. Dan kalah seksi tentunya. Tapi pria itu merasa ada aura kuat yang dimiliki gadis itu. Ia seperti memiliki kecantikan yang terpancar dari dalam. Dan inner beauty itu muncul dari kerudung yang menutupinya. Kerudung itu memberi kesan terhormat, tegas, dan terjaga.


“Ia memang berbeda Pak Purnomo.” ucap Edward menoleh ke Purnomo saat pria itu masuk ke ruangannya.


“Ya, anda benar, Tuan.” balasnya tersenyum sambil pandangannya juga tertuju pada layar monitor.


Begitu banyak kata-kata dalam pikiran Edward tentang Sarah. Gadis itu ibarat sesuatu yang ada di balik tirai. Engkau pasti penasaran ingin menyingkap, apa sesuatu yang ada di balik tirai itu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terbersit dalam hatinya apa yang selama ini terasa jauh dan sangat asing baginya. Ia ingin hidupnya teratur dan terikat. Ia ingin membangun sebuah keluarga dengan seorang wanita.


Ia ingin menikah.


__ADS_2