
Tak lama setelah Edward kembali dari mushola, seorang perawat keluar dari ruang emergency.
“Keluarga pasien atas nama Nona Mikaila Polvdoski!” serunya.
“Saya keluarganya.” ucap Edward segera bangun dan mendekat.
“Dokter ingin berbicara dengan anda.” ucap perawat itu sambil mempersilahkan pria itu masuk dan mengantarkannya pada seorang lelaki memakai jas putih duduk di belakang meja.
“Bagaimana keadaannya, dokter?” tanya Edward begitu duduk di hadapan pria itu.
“Dengan siapa saya berbicara?”
“Saya Edward Anderson, dokter.”
“Sebentar ya, Tuan Edward. Nanti akan saya jelaskan tentang kondisi terkini pasien.”
“Apa hubungan anda dengan Nona Mikaila Polv-dos-ki?” tanya dokter tersebut mengeja nama belakang Mikaila.
“Keluarga, kerabat, atau..?”
“Teman.” Edward memotong pertanyaan sang dokter.
“Ouh iya.” responnya tersenyum sambil menulis sesuatu.
“Teman kerja atau teman kencan?” tanyanya lagi.
Edward merasa dokter di hadapannya itu tak seperti dokter umum di ruang gawat darurat kebanyakan. Menurutnya pria itu terlalu nyinyir seperti seorang dokter kejiwaan atau psikiater. Ya Tuhan, apakah ucapanku tadi memang benar-benar akan terjadi? Mikaila harus ditangani seorang psikiater? Pikirnya.
“Maaf dokter, apa perlu anda menanyakan hal privasi seperti itu? Saya hanya ingin tahu keadaannya?” tanya Edward kurang senang.
Dokter itu tersenyum.
“Sangat perlu, Tuan. Saya perlu tahu latar belakang pasien untuk menemukan penyebab Nona Mikaila overdosis.”
“Over dosis!?” Edward terkejut.
“Ya. Makanya saya perlu tahu anda teman kencannya atau bukan?”
“Ya. Saya teman kencannya.” ucap pria itu mengaku juga.
“Tapi sudah lebih dari dua bulan ini kami tak lagi berhubungan.”
__ADS_1
“Alasannya?” tanya dokter itu enteng sambil tetap menulis.
“Maaf, dokter. Sepertinya anda tak perlu tahu alasannya apa.” ucapnya jengah.
“Okey, Saya tidak memaksa karena itu privasi anda.” ucap dokter memandang Edward.
“Tapi anda harus tahu, apa pun alasannya, sepertinya itulah penyebab Nona Mikaila sampai minum obat penenang melebihi dosis. Mungkin antara lima sampai delapan butir.”
Obat penenang. Untuk apa ia minum obat penenang? Edward bertanya-tanya.
“Obat penenang apa yang ia minum, dokter?” Mata pria itu terbelalak.
“Kami belum bisa memastikan jenisnya apa. Sampelnya sedang diuji di lab. Tapi kami juga mendeteksi kadar alkohol yang tinggi dari tubuhnya. Apakah Nona Mikaila seorang alkoholik?”
“Ya.” Jawab Edward. Ia tadi memang sempat melihat botol champagne di kamar Mikaila.
“Itulah yang memicu kondisi pasien tambah buruk.”
“Jadi bagaimana keadaannya sekarang?”
“Nona Mikaila sudah melewati masa kritisnya dan sekarang sudah dipindahkan ke ruang ICU. Tapi saat ini ia belum bisa dijenguk oleh siapa pun.”
Edward termangu mendengar penjelasan dokter dihadapannya.
Saat menerima kartu nama dari Edward, dokter itu kembali berucap sambil tersenyum.
“Saran saya, malam ini sebaiknya anda pulang dan beristirahat. Anda terlihat berantakan, Tuan.”
Edward mengernyitkan dahi mendengar ucapan lelaki itu. Ia pun melangkah ke cermin di dekat wastafel dan melihat bayangan wajahnya yang sudah mulai tumbuh berewok.
Kau tidak hanya terlihat berantakan Edward Anderson, tapi juga sangat mengenaskan,
Hari ini kau benar-benar sangat direpotkan oleh dua orang wanita. Ternyata selama ini dirimu belum memahami sepenuhnya tentang kaum hawa. Mereka bisa melakukan apa saja agar seorang pria mau bertekuk lutut di kakinya.
Mudah-mudahan Sarah tidak seperti itu jika nanti sudah menikah denganmu. Edward berbicara sendiri dengan bayangannya.
Hari yang sangat melelahkan. Edward menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai sambil melihat arloji di tangannya. Waktu telah menunjukan 01.15 WIB.
...------------------------------------------...
Edward tiba di rumah sakit pukul sepuluh pagi.
__ADS_1
Pria itu tadi sudah menelpon Adrian dan mengatakan pada asistennya itu, bahwa kemungkinan dirinya ke kantor menjelang siang karena akan ke rumah sakit pagi ini. Sebelum ke ruang ICU, ia ke bagian administrasi dahulu untuk mengurus biaya perawatan Mikaila. Tapi sesampainya di sana, petugas memberitahukan bahwa biaya perawatan Nona Mikaila Polvdoski sudah ditanggung. Belum lama berselang, dua orang dari perusahaan tempat ia bekerja datang dan mengurus segala keperluan wanita itu.
Edward bertemu kembali dengan dokter tadi malam yang ia tahu bernama Hadi Prasetyo dari name tag yang dipakainya. Lelaki itu tampak lebih muda dengan kemeja biru langit dan dasi warna krem di balik jas putihnya.
“Silahkan duduk Tuan Edward.” sapanya mempersilahkan begitu Edward masuk sambil tersenyum.
“Anda tampak tampan dan lebih rapi hari ini. Bagaimana istirahat anda tadi malam?”
“Terima kasih dokter. Saya tidur dengan nyenyak malam ini.” ucapnya.
Karena nyenyaknya sampai-sampai ia tak dapat salat subuh karena pukul delapan baru terbangun. Tadi malam ia memang terlalu lelah dan pukul tiga pagi baru bisa tertidur. Sebelum membacakan hasil pemeriksaan Mikaila, dokter itu juga memberitahukan bahwa sebelum dirinya, juga ada pihak perusahaan tempat Mikaila bekerja menemuinya dan melihat Mikaila.
“Dan sekarang saya ingin memberitahukan pada anda hasil pemeriksaan Nona Mikaila.” ucapnya sambil membuka map yang berisi lembaran hasil lab.
“Seperti dugaan kami sebelumnya bahwa pasien mengkonsumsi obat penenang benzodiazepine dengan jenis yang dipakai alprazolam.”
Edward mendengarkan dengan seksama.
“Obat ini sangat tidak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama karena akan menyebabkan ketergantungan. Sepertinya pasien sudah lebih dari dua bulan mengkonsumsi ini.”
“Dan dari konsentrasi cairan yang kami keluarkan semalam, diperkirakan ia menelan lebih dari lima butir. Dan fatalnya lagi, ia juga minum alkohol.”
Edward masih terdiam.
“Dan anda harus tahu, Tuan. Fungsi hati dan livernya telah terganggu, dan ginjalnya sudah membengkak.”
Edward akhirnya terperanjat. Pria itu teringat sesuatu. Ternyata itu yang membuat Mikaila selalu mengeluh terasa sakit di bagian pinggangnya.
“Mengapa bisa separah itu dokter?”
“Banyak pemicu yang membuat organ-organ tubuhnya terganggu. Karena rokok, alkohol, kelelahan dan stres berkepanjangan. Ditambah pemakaian benzodiazepine secara berulang-ulang makin memperparah kondisinya."
"Dan overdosis semalam membuat tubuhnya yang sudah lemah menjadi colaps.”
“Apakah ia bisa disembuhkan, dokter?”
“Dengan terapi yang intensif selama beberapa bulan, mudah-mudahan Nona Mikaila akan pulih kembali. Mari saya antar melihat pasien.” jelasnya kemudian berdiri mengajak Edward.
Perawat membimbing Edward masuk ruangan sterilisasi untuk memakai mantel, masker, dan tutup kepala. Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di depan ruangan Mikaila. Rasa iba menyeruak melihat wanita yang terbaring tak sadarkan diri melalui dinding kaca. Wajahnya pucat seperti kapas. Di mulutnya dipasang alat bantu pernapasan, dan di samping ranjangnya terpasang layar monitor pengukur detak jantung.
Ternyata tak hanya masalah psikis yang dialami Mikaila, tapi fisik wanita itu juga terganggu. Edward menyesali mengapa Mikaila tak menuruti sarannya untuk memeriksakan diri saat mengetahui ada keluhan yang ia rasakan dari tubuhnya.
__ADS_1
Dan Edward tak menyangka, jika wanita itu sudah lebih dari dua bulan memakai obat penenang. Itu berarti bertepatan saat ia memutuskan hubungan tanpa ikatan mereka.
Apakah Mikaila merasa sedih karena kutinggalkan? Tapi mengapa ia tak pernah mengatakan apa pun padaku? Ia selalu saja mengatakan tak ingin terikat dengan satu hubungan. Dugaan-dugaan Edward terus berkecamuk dalam pikirannya.