CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
5. Kencan Pertama (2)


__ADS_3

Waktu telah menunjukan setengah satu malam saat mereka keluar dari Continental Club.


Edward merangkul Mikaila karena wanita itu agak gontai berjalan. Ia bukakan pintu untuk Mikaila dan menuntunnya saat memasuki mobilnya. Pasti ia pusing karena terlalu banyak minum, pikir Edward. Makanya pria itu membiarkan saja saat Mikaila menyandarkan kepala di bahunya.


Edward masih memapah wanita itu saat keluar dari lift dan berjalan menyusuri koridor menuju ke apartemennya. Lalu pria itu mengambil id card dari tas Mikaila untuk membuka pintu. Wanita itu pun menghempaskan tubuhnya di sofa begitu masuk ke dalam apartemennya. Sementara Edward menuju ke pantry untuk mengambil air mineral di lemari es. Ia juga mencari-cari buah lemon dalam boks sayuran.


“Minum ini dulu.” ucap pria itu mengulurkan segelas air yang telah diberi sedikit perasan lemon ke Mikaila.


“Terima kasih, Ed.” ucap wanita itu dan meminum air itu sampai habis. Ia merasa kesejukan mengaliri tenggorokannya yang dari tadi terasa kering terbakar.


“Aku pulang ya. Terima kasih untuk malam ini.” pamit pria itu sambil bangkit dari duduknya. Tapi ketika ia hendak pergi, tangan Mikaila mencekal tangannya.


“Bolehkah aku memintamu untuk tetap di sini malam ini, Ed?” tanyanya.


Edward melihat wanita itu menatapnya penuh harap. Ia kembali duduk karena Mikaila menarik tangannya. Ia tersenyum dengan permintaan wanita itu yang berisi ajakan untuknya. Sejujurnya pria itu tertarik dengan Mikaila dan merasa nyaman bersamanya. Ia yakin wanita itu juga merasakan hal yang sama meskipun mereka baru dua kali bertemu.


Awalnya ia agak ragu. Ini adalah bulan pertamanya bertugas di negara ini. Ia harus berkonsentrasi penuh untuk pekerjaannya yang masih menumpuk. Bukan saatnya untuk urusan pribadi dan belum waktunya juga ia bersenang-senang. Tapi akal sehat pria itu sepertinya telah berdamai dengan hasrat dalam dirinya yang sudah menggebu-gebu. Terakhir ia lepaskan hasrat itu tiga minggu lalu dengan seorang wanita klub di kota Hanoi.


Edward memandanng Mikaila yang sudah dalam posisi setengah terbaring menyandar pinggiran sofa. Tangannya meraih pinggang wanita dan perlahan kepalanya menunduk hingga wajah mereka begitu dekat. Dengan lembut dipagutnya bibir wanita itu yang langsung mendapat sambutan. Masih ada tertinggal aroma vodka di bibir itu.


“Ed…” bisik Mikaila sambil menggelinjang geli.


“Hhmm…” pria itu hanya melenguh sambil mencium leher Mikaila.


“Ed…Kita ke kamar saja.” bisiknya lagi.


Dengan malas pria itu pun bangkit dari tubuh wanita itu lalu membopongnya masuk ke kamar.


... ---------------------------------------------------...

__ADS_1


Edward terbangun saat sinar matahari menerobos masuk ke kamar lewat dinding kaca yang tak tertutup gordin. Ia menemukan tubuhnya di atas ranjang milik Mikaila tertutup selimut hijau. Di sisinya wanita itu masih tertidur pulas. Gadis itu merebahkan kepalanya di dada Edward yang berbulu, sementara tangan kirinya melingkari pinggang pria itu. Mereka berdua sama-sama tak berpakaian sehelai pun.


Diliriknya jam meja di atas nakas. Sudah pukul 08. 45 WIB. Setelah seminggu lebih berada di Jakarta, baru hari ini pria itu bangun tidur sesiang ini. Tadi malam memang malam yang cukup melelahkan bagi Edward. Pria itu mengalami puncak hingga beberapa kali. Ia melepaskan pelukan Mikaila dan menggeser tubuhnya sangat hati-hati agar tak membangunkan wanita yang masih pulas itu. Alih-alih tetap tertidur, gerakan yang dilakukan Edward malah membuatnya terbangun.


“Selamat pagi, Mikaila.” ucap Edward tersenyum sambil mengecup pipi wanita di sampingnya.


“Pagi, Ed.” ucapnya membalas kecupan pria itu.


Mikaila segera bangun dan duduk membelakangi Edward. Ia mengambil sehelai lingerie dari laci nakas dan memakainya untuk menutupi tubuhnya yang polos. Edward pun merasa jengah dengan keadaannya. Pria itu mengambil celana dalamnnya yang tercecer bersama pakaiannya yang lain di bawah ranjang. Setelah memakainya, ia letakan beberapa bantal dan menyandarkan tubuhnya. Sementara Mikaila ia rengkuh agar bersandar di dadanya.


“Makasih untuk tadi malam.” bisik Edward sambil mencium bagian belakang leher wanita itu.


“Ya, Ed. Kita berdua sama-sama menginginkan.” ujar Mikaila.


“Mikaila…” ucapan pria tertahan.


“Ya, Ed?”


Mikaila mendongakan kepalanya memandang wajah pria yang merengkuhnya.


“Mengapa kau menanyakan itu, Ed? Apa kau merasa kita sudah berkomitmen sehingga kau berhak tahu masa laluku?”


“Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin saling berbagi cerita dengan teman terdekatku. Itu saja Mikaila.” ucap Edward segera memperjelas maksud ucapannya karena sadar wanita dalam pelukannya tak nyaman.


“Aku sendirian di negara ini. Hanya dirimu yang sesama perantauan dari Eropa yang kukenal. Tapi kalau kau merasa pertanyaan itu masuk ke area privasimu, aku minta maaf.”


“Ed..” ucap gadis itu sambil tangannya mengusap pipi Edward.


“Aku tak ingin kita terikat satu sama lain. Aku tak ingin hidup kita tak nyaman karena selalu diatur dan diawasi oleh pasangan. Aku ingin hubungan kita tak lebih dari sekedar playmate. Selama kita masih nyaman bersama, kita akan tetap bertemu."

__ADS_1


"Jika kau menginginkannya, kau bisa datang padaku. Begitu juga jika aku sedang ingin, aku akan meminta padamu, Ed.”


Edward tersenyum mengangguk.


“Jika nanti aku sedang tak ingin denganmu, kau bisa mencari yang lain. Dan aku ingin kau juga tak kecewa jika aku begitu.”


“Ya, Mikaila. Itu akan lebih baik untuk kita.” ucap Edward.


Sebenarnya di usianya yang masih tiga puluh tahun, keinginan Edward tak berbeda seperti wanita itu. Ingin hidup bebas tanpa ada ikatan. Menurutnya, pernikahan dan anak-anak hanya akan menghambat karirnya. Bagi pria itu, kebutuhan biologis tak ubahnya seperti kebutuhan makan dan pakaian bersih, engkau tak harus memasak dan mencuci sendiri, cukup datang ke restoran cepat saji dan laundry, maka semua keinginanmu akan terpenuhi. Setidaknya itulah pemikirannya untuk saat ini.


“Ojani pernah tidur di sini beberapa kali, karena saat itu kami merasa saling membutuhkan. Tak ada bedanya dengan kau sekarang, Ed. Itu saja, tak ada yang spesial. Setelah ia kembali ke negaranya, hubungan kami masih tetap baik.” Mikaila akhirnya menjelaskan perihal pria di masa lalunya.


“Ya, aku hanya bertanya tadi. Semoga kalian berdua akan tetap menjadi teman selamanya.” ucap Edward merenggangkan pelukan tangannya.


“Aku harus pulang sekarang.”


Edward melepaskan pelukannya dan duduk di pinggir ranjang.


“Kenapa harus buru-buru, Ed? Bukankah ini hari Minggu?” tanya Mikaila memperhatikan Edward..


“Ada beberapa pekerjaan yang harus kusiapkan sekarang di kantor. Besok pagi aku akan ke Bandung. Mungkin setelah itu langsung ke Yogyakarta dan Surabaya.” ucap pria itu sambil memunguti pakaiannya di lantai.


“Mandilah dulu. Biar kubuatkan sarapan untukmu.” perintah Mikaila saat melihat Edward hendak memakai celana denimnya.


Edward menuruti perintah wanita itu dan bangkit menuju bathroom. Sedang Mikaila menuju ke pantry. Ia akan membuatkan Edward roti sandwich isi tuna dan mayonnaise untuk sarapan.


...-------------------------------------------------...


Terima kasih kepada pembaca yang masih mengikuti cerita hingga bagian ke lima ini. Author akan sangat menghargai dan berterima kasih jika ada pembaca yang ingin meninggalkan jejaknya berupa komentar atau vote. Segala saran dan kritik yang membangun akan Author terima untuk meningkatkan kualitas cerita ini.

__ADS_1


Riono Muhari


__ADS_2