CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
35. Faris dan Furqan


__ADS_3

Edward melakukan monitoring lagi ke enam outlet di luar Jakarta setelah kondisi Mikaila mulai membaik. Di hari ketiga ia terbangun dari pingsannya dan alat pernapasannya dibuka. Dan setelah dua minggu dirawat, pria itu cukup yakin meninggalkannya di rumah sakit bersama perawat untuk beberapa hari pergi ke daerah.


Setelah mengunjungi Makassar, kota terakhir yang ia kunjungi adalah Medan.


Edward mengunjungi lagi kota ini setelah tiga bulan lalu kunjungan terakhirnya, saat mengucap ikrar di Masjid Salman Al-Farisy. Sarah merasa lega karena pria itu sepertinya menuruti apa yang dimintanya agar tak menunjukan sikap kalau mereka sedang taarufan. Edward hanya melakukan monitoring rutin seperti biasa. Tak ada sikap khusus yang ia tunjukan pada dirinya. Pria itu hanya tersenyum ketika tadi memasuki outlet, itu pun dilakukannya juga pada semua karyawati.


Namun ada yang dirasa aneh oleh Sarah. Sebenarnya minggu ini dirinya mendapat shif sore. Tapi semalam Hesti menelponnya bahwa ada urusan keluarga mendadak, jadi tak bisa masuk shif pagi. Baginya tak masalah jika harus bertukar shif. Justeru ia malah senang karena bisa mengikuti pengajian Ustadj Faruk nanti malam. Dan pagi ini Edward mengunjungi outlet. Seperti kebetulan yang sudah direncanakan. Apakah ini ada campur tangan pria itu? Pikir Sarah su’uzon. Tapi gadis itu segera menghapus segala prasangka yang ada dalam hatinya.


Saat jam istirahat, Edward mentraktir Purnomo dan semua karyawan untuk makan siang. Tapi Sarah meminta maaf tidak bisa bergabung. Pria itu terlihat agak kecewa karena gadis itu tak ikut makan.


Sarah baru saja selesai salat zuhur dan akan kembali ke outlet, ketika ada notifikasi dari smartphone-nya.


Edward mengiriminya dua pesan.


Assallamualaikum. Sarah, nanti malam ada pengajian dengan Ustadj Faruk ‘kan? Kita jumpa di sana ya.


Sarah tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala saat membaca pesan itu. Inilah tujuan dari 'campur tangan pria itu' yang ia maksud tadi.


Dibukanya pesan satu lagi.


Maaf saya tidak kembali ke outlet, ingin istirahat di hotel. Tadi saya pesankan chickens teriyaki dan salad di Hobben. Nasinya juga ada. Dimakan ya?


Gadis itu kembali tersenyum dan segera bangkit meninggalkan mushola.


 


Edward tiba di masjid berkubah hijau itu, tiga puluh menit menjelang azan magrib dikumandangkan. Ia menyalami Ustadj Faruk yang ditemuinya di ruangan marbot masjid. Ustadj itu lantas mengajaknya mengobrol di teras bergabung dengan beberapa jamaah yang telah datang. Beliau menanyakan perkembangan Edward selama belajar di Al-Waqilah. Tak lupa pria itu juga menyampaikan salam dari Ustadj Zakaria. Mereka mengobrol hingga suara azan berkumandang.


Selesai salat magrib, Edward berniat menemui kembali ustadj itu untuk mengajaknya makan malam. Tapi tampaknya seseorang telah mendahuluinya. Ia melihat Ustadj Faruk sedang duduk berdua dengan seorang pria di teras masjid. Pria yang juga memakai gamis pakistan dan berkupiah kupluk seperti dirinya itu tampak serius menyampaikan sesuatu pada beliau. Karena sepertinya mereka berdua membicarakan hal yang penting, maka Edward pun mengurungkan niat untuk bergabung.


Edward memilih duduk bersandar di salah satu tiang masjid yang berlapis marmer itu, tak jauh dari Ustadj Zakaria dan pria itu duduk. Ia urungkan untuk makan malam sendiri. Sore tadi pria itu sudah melahap dua buah croissant dan segelas kopi di hotel, jadi ia rasa belum terlalu lapar.


Ia pun coba menelpon Sarah, sekedar ingin bertanya sudah berangkat atau belum? Tapi panggilannya tak diangkat. Mungkin Sarah lagi di jalan, pikirnya. Lantas Edward pun menelpon Mikaila.


“Halo, Mikaila. Bagaimana kondisimu?”


“Dokter bilang perkembangan kesehatanku bagus. Tapi aku sudah bosan, Ed.”


“Sabar ya. Kau baru bisa pulang setelah ada rekomendasi dari dokter.” ucap Edward sambil tangannya menggulung lengan gamisnya.


“Aku janji akan menemanimu duduk di taman rumah sakit nanti. Besok aku sudah kembali ke Jakarta. Ini aku lagi di Medan.”


“Hhmm. Sudah bertemu dengan Sarah, Ed?”


“Untuk apa menanyakan tentang dia? Nanti kau sedih lagi, Mikaila.” Edward mengernyitkan dahi.


“Aku baik-baik saja, Ed.” Terdengar tawa lemah dari seberang.

__ADS_1


“Ya karena ia stay di outlet, sudah pasti kami bertemu. Lagi pula aku kemari kan untuk bekerja, bukan menemui dia.” ucap Edward berbohong.


Kenyataan yang tak diketahui Mikaila, dari tadi wajah pria itu celingak-celinguk, kalau-kalau Sarah sudah datang ke masjid.


“Oh ya, Kau sudah makan dan minum obat belum?” tanya Edward coba mengalihkan topik.


“Sudah.”


“Ya sudah, istirahat saja ya. Aku tadi cuma ingin memastikam kau sudah makan atau belum."


"Hhmmm." Mikaila mengguman.


Good night.”


“Good night to.”


Tut tut tut.


Edward memutus panggilannya.


Sambil menunggu waktu isya tiba, ia pun membuka aplikasi Iqra di smartphone-nya coba untuk mengulang lagi kajian bacaan Arabnya. Tapi baru saja ia hendak mulai membaca, matanya tertumbuk pada sesosok tubuh terbalut hijab putih yang berjalan menaiki tangga masjid. Mata pria itu tak berkedip memandang Sarah yang ia lihat begitu cantik malam ini.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Bak gayung bersambut, Sarah yang dipandangi juga menoleh padanya. Sarah dan Edward sama-sama tersenyum saat tatapan mereka berdua bertemu.


Tapi moment itu tak lama. Hanya sekilas. Gadis itu buru-buru menundukan wajahnya.


“Astaghfirullah!” ucapnya tersadar.


Selama dewasa, sudah puluhan wanita yang ia kencani. Tapi rasanya perasaan yang selama ini ia rasakan hambar saja. Hubungannya dengan wanita-wanita itu hanya untuk melepaskan hasratnya, bukan karena ada perasaan yang muncul dari hatinya pada mereka.


Tapi pengalaman dengan Sarah malam ini sangat indah. Walau itu hanya sebatas memandang wajahnya. Sesuatu yang sulit untuk didapatkan memang terasa sangat indah dan berharga. Perburuan itu lebih menantang dibanding menikmati hasil buruan itu sendiri.


Tak sengaja Edward melihat kalau pria yang dari tadi mengobrol dengan Ustadj Faruk juga memandang wajah gadis itu sambil tersenyum hingga tubuh gadis itu menghilang ke dalam masjid. Seketika Edward merasa tak suka dengan pria itu karena melakukan itu pada Sarah. Ternyata sudah menjadi fitrahnya seorang lelaki suka memandang seorang wanita apalagi yang cantik seperti gadis itu, batin Edward bersungut-sungut.


"Saudara Rais!”


Edward mendengar Ustadj Faruk memanggil seorang lelaki yang sedang berjalan di pelataran masjid dari tempat wudhu. Laki-laki itu pun menghampiri dan menyalami mereka berdua.


“Assallamualaikum, Ustadj!”


Sepertinya ia sudah mengenal pria yang bersama dengan Ustadj Faruk.


“Wa’alaikumsallam. Saudara Rais, nanti setelah pengajian saya minta waktunya sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan.”


“Oh iya, Insya Allah, Ustadj.” ucap lelaki tersenyum.


Adzan isya telah berkumandang. Semua masuk ke masjid untuk bersiap-siap melaksanakan salat fardhu isya.

__ADS_1


 


Selesai pengajian, Rais memberitahukan Sarah kalau ia diminta menemui Ustadj Faruk karena ada hal penting yang akan dibicarakan. Lelaki itu mengatakan mungkin hanya tiga puluh menitan dan meminta dirinya menunggu sebentar. Sarah duduk sendiri di teras, sementara para jamaah lain sudah mulai meninggalkan masjid. Gadis itu melihat Rais menemui Ustadj Faruk yang duduk di sudut teras dekat ruangan marbot, tapi karena jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan mereka.


“Begini Saudara Rais, saya ingin membicarakan tentang adik saudara, Sarah.” Ustadj Faruk membuka percakapan setelah mereka berdua duduk berhadap-hadapan.


“Ada apa dengan adik saya, Ustadj?” Rais mengerutkan dahi.


“Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah Sarah sudah ada yang mengkhitbah?”


Rais terperanjat dengan pertanyaan ustadj itu. Yang ia tahu, saat ini Sarah sedang taaruf dengan seorang pria bernama Edward, atasannya yang baru saja menjadi mualaf dan sedang belajar Islam. Tapi sampai hari ini, ia belum pernah bertemu dengan pria asing itu. Dan Rais merasa bingung harus menjelaskan apa pada beliau. Ia tak punya hak untuk memberitahukan tentang taarufan mereka berdua.


“Maaf sebelumnya Ustadj, mengapa Ustadj menanyakan hal itu?” tanya Rais hati-hati.


“Rahmatanlillah. Ada yang berniat untuk mengkhitbah Sarah, Saudara Rais.” jelas Ustadj Faruk tersenyum.


Rais sudah menduga kemana arah pembicaraan ustadj itu.


“Sampai hari ini belum ada seorang pria pun yang datang pada saya dengan maksud mengkhitbah Sarah. Dan apabila ternyata, ia saat ini sedang taaruf dengan seorang pria, itu semua di luar pengetahuan saya. Akan saya tanyakan nanti padanya.”


“Alhamdulillah. Jadi Insya Allah, niat orang ini ingin menyambung tali silaturahmi dengan keluarga Saudara tak ada halangan apa pun.”


“Apa dia sudah mengenal Sarah sehingga sudah yakin ingin mengkitbah adik saya?”


“Dia sudah mengenal Sarah, tapi baru sebatas melihat, karena ia juga jamaah pengajian kita di sini.”


“Jamaah kita, Ustadj?” Rais kembali mengernyitkan dahi.


“Ya. Makanya saya tahu betul bagaimana akhlak dan agamanya. Seperti dia juga yakin bagaimana akhlak dan agama Sarah.”


“Apakah saya juga mengenalnya Ustadj." Hati Rais berdebar-debar.


“Saudara Rais sudah mengenalnya. Dan sekarang pun ia masih ada di sini.”


Rais terperanjat mendengar ucapan beliau. Seketika matanya nyalang melihat ke sekeliling. Diamatinya satu per satu jamaah yang masih ada di kompleks masjid dan mengira-ngira salah satu dari mereka adalah orang yang dimaksud Ustadj Faruk itu.


Tapi bukannya menemukan petunjuk, matanya malah menangkap Sarah yang sedang duduk dengan seorang pria. Ia tak dapat melihat wajah orang itu karena posisinya yang membelakangi Rais.


Siapa pria itu? Tak biasa-biasanya Sarah melayani obrolan dengan pria meskipun di tempat terbuka seperti ini dan masih duduk dengan jarak yang sopan. Tapi rasa keingintahuannya tentang pria itu segera ia tepiskan. Saat ini hatinya lebih penasaran dengan siapa orang itu yang dimaksud oleh Ustadj Faruk tadi.


Ustadj Faruk tersenyum melihat gelagat Rais yang seperti orang kebingungan. Beliau pun segera menoleh ke sebelah kanannya dan memanggil sebuah nama.


Furqan!”


Jleeebb!!!


Seperti orang yang terkejut karena tersambar kilatan petir yang datang tiba-tiba, Rais tergagap mendengar sebuah nama yang dipanggil oleh Ustadj Faruk.

__ADS_1


Dan seperti orang yang belum habis rasa terkejutnya karena kilatan petir tadi dan harus kembali terkejut karena suara guntur yang menggelegar, Rais kembali dikejutkan oleh seorang pria yang keluar dari ruang marbot sambil tersenyum dan menghampirinya.


Keterkejutan yang bertubi-tubi.


__ADS_2