CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
8. Undangan Fine Dining (2)


__ADS_3

Edward masih tak percaya kalau akhirnya ia akan mengajak modelnya sendiri untuk menghadiri jamuan makan dari Graha Indonesia itu. Bagi sebagian wanita, fine dining adalah satu prosesi yang mempunyai makna sangat dalam. Pria itu tak ragu untuk mengajak Mikaila, karena ia sudah tahu komitmen wanita itu tentang hubungan mereka. Tapi bagaimana dengan Anjani? Ia belum mengenal wanita itu. Karena itu ia tak ingin melakukan hal yang bisa membuatnya salah penafsiran.


Tapi pria itu membenarkan apa yang dikatakan asistennya tadi pagi. Anjani adalah bagian dari mereka. Dan gathering ini juga berhubungan dengan bisnisnya. Ia yakin model itu juga profesional sama seperti dirinya. Dapat memisahkan antara urusan pekerjaan dan pribadi. Pria itu membuat hipotesis sendiri untuk menenangkan pikirannya.


Sampai di sini ia merasa masih aman.


Edward mematutkan diri di depan cermin, membetulkan dudukan tuksedo dan posisi dasinya. Berewoknya yang baru mulai tumbuh di dagu dan pipi pun sudah ia cukur licin. Aroma parfum dan pomade mahal menyeruak ke setiap sudut ruangan kamar. Sebagai sentuhan akhir, ia buka koleksi arloji terkenalnya dari dalam laci, ia pilih salah satunya untuk kemudian dipakainya. Ketika pria itu rasa semua sudah sempurna, ia pun bersiap untuk menjemput Anjani yang sudah menunggu di butik langganannya.


Tamu-tamu sudah mulai berdatangan saat mobil Erward berhenti di depan pintu utama lobi The Ocean’s Hotel. Seorang pria berseragam membukakan pintu dan mengangguk hormat saat Anjani keluar dari mobil. Ia juga melakukan hal yang sama saat Edward menyerahkan kunci mobil kepadanya. Edward menoleh ke wanita di sampingnya dan memberikan siku kirinyanya. Anjani tersenyum dan segera menggelayutkan tangan kanannya ke lengan kiri pria itu. Ia pun masuk ke lobi dengan langkah anggun mengimbangi langkah Edward yang gagah.


Edward akan menjadi pria paling munafik kalau mengatakan Anjani tidak cantik malam ini. Wanita itu bahkan sangat cantik dengan balutan gaun panjang yang mengekspose bagian atas tubuhnya serta belahan di bawah gaunnya yang menampakan betisnya yang jenjang. Rambutnya yang panjang di sanggul rapi. Satu-satunya aksesoris yang ia pakai adalah anting permata yang menggelayut di lehernya yang jenjang. Tapi sesungguhnya fokus perhatian semua mata akan tertuju ke anting yang cahayanya berkerlip nakal itu. Sementara tangan kiri wanita itu menjinjing tas tangan.


Edward menuju ke resepsionis untuk sekedar melakukan reservasi ulang. Dua orang wanita menyapa hormat padanya.


“Saya tamu untuk acara Gathering Graha Indonesia.”


“Maaf, atas nama siapa, Tuan?” tanya resepsionis penuh hormat sambil mengecek daftar nama tamu di komputer.


“Edward Anderson.”


“Dari Zafora ya, Tuan.”


Resepsionis bertanya sambil menyerahkan buku tamu untuk ditanda tangani. Edward pun mengiyakan.


“Anda duduk di meja 52. Silahkan anda naik ke lantai tiga. Terima kasih, Tuan Edward.” ucapnya menunjuk sebuah pintu lift di ujung lobi sambil menyerahkan secarik kartu kecil.


“Terima kasih kembali.” ucap Edward tersenyum sambil kembali menggandeng Anjani menuju ke lift.


Sebelum masuk ke ruang restoran, mereka melewati sebuah ruangan yang memanjang. Logo Graha Indonesia sebagai tuan rumah juga beberapa sponsor dan vendor pendukung tampak memenuhi dinding ruangan. Sebagian tamu berada di ruangan itu karena acara belum dimulai. Tampak beberapa wartawan media cetak dan elektronik sedang mengambil gambar.

__ADS_1


Sepertinya banyak juga tamu yang berasal dari kalangan pesohor dan model. Beberapa pria dan wanita yang mempunyai profesi sama dengan Anjani tampak menyapanya. Wanita itu pun beberapa kali mengenalkan Edward ke teman-temannya. Beberapa tamu tampak menatap dan berbisik-bisik ke mereka.


“Aku sedikit tak nyaman berada di sini. Bisakah kita langsung ke ruang restoran?” Edward berbisik ke Anjani.


“Ya.” ucap Anjani menggandeng tangan Edward sambil melambaikan tangan ke teman-temannya dan beberapa wartawan.


Edward duduk satu meja dengan owner restoran waralaba yang juga berada di Grand Jakarta Plaza.. Pria itu datang bersama istrinya. Edward menyalaminya dan mengobrol sekedarnya. Tak berapa lama acara fine dining pun dimulai. Para pelayan mengitari meja-meja untuk menyajikan cocktail ke para tamu. Sebentar lagi hidangan pembuka akan segera disajikan.


 


Pukul 10 malam Edward meninggalkan The Ocean's Hotel meski acara gathering belum selesai. Ia sedang khusuk menyetir mobil untuk mengantar Anjani pulang ke apartemennya. Wanita itu telah menawarkan untuk singgah ke suatu tempat, tapi ia menolaknya.


“Apa tidak sebaiknya kita singgah dulu di suatu tempat, Tuan Edward? Rasanya masih terlalu sore pulang ke apartemen pada pukul sepuluh di weekend begini.” ucap Anjani menawari.


“Tidak usah. Kita pulang saja ya?” jawab Edward menolak ajakan itu.


“Kita bisa menikmati secangkir kopi dulu di kafe.” bujuk Anjani.


Anjani tak berniat untuk berdebat lagi. Wanita itu merasa tiba-tiba Edward berubah menjadi pria yang sangat membosankan. Lebih baik dirinya membuka gawainya dan memperbaharui status di IG-nya. Ia akan memamerkan acara dinner-nya malam ini. Itu yang sedang dipikirkan Anjani. Dibiarkan saja mobil pria itu melaju menuju ke apartemennya.


“Maaf, Nona Anjani, Saya kurang berkenan karena di restauran tadi, anda beberapa kali berswafoto.” ucap Edward saat tahu wanita di sampingnya ingin mengunggah foto.


“Saya tak mengerti dengan maksud anda, Tuan. Sejak kapan ada larangan swafoto.” ucap Anjani masih tetap sibuk dengan layar gawainya.


“Ini menyangkut privacy, Nona Anjani. Anda sudah mengambil foto saya tanpa izin.”


Anjani tercengang. Ia baru sadar jika pasangan dinner-nya malam ini bukan pria eksekutif Jakarta yang tak kan protes saat diajak ber-selfie ria. Padahal baru saja ia hendak mengunggah sebuah foto dirinya bersama Edward dan caption yang berbunyi ; '#The Ocean,s Hotel_Fine dining dengan bos baru Zafora, Tuan Edward Anderson.’


“Saya yakin profesi anda menekankan pentingnya untuk menjaga attitude. Bukan begitu Nona Anjani?”

__ADS_1


“Hmm, ya. Tapi bukankah saya partner perusahaan anda, Tuan Edward? Anda jangan lupa, saya model produk anda.” ucap wanita itu mencoba membela diri.


“Nona Anjani, sebaiknya anda pelajari lagi kontrak anda bersama Zafora. Apa saja yang menjadi kewajban anda.”


“Baik, kalau begitu. Saya minta maaf, Tuan.” ucap Anjani mengakhiri perdebatan.


Ting!


Edward melirik ke samping. Caption yang siap diunggah itu pun terhapus.


“Saya juga minta maaf, Nona Anjani.” ucap Edward dengan nada menyesal.


Anjani hanya diam tak menanggapi ucapan Edward. Tak ada lagi perdebatan setelah itu. Hingga mobil Edward sampai di depan lobi apartemen wanita itu. Melihat pria itu hanya diam dan tertunduk malas di depan kemudinya, Anjani pun menoleh.


“Maukah anda singgah sebentar di apartemen saya, Tuan?" ucap wanita itu menawari.


“Maaf, mungkin lain kali saja, Nona Anjani. Tak keberatankah jika anda hanya saya antar sampai di sini?” ucap Edward dengan nada malas.


“Ouh, It's okay! Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri ke apartemen." ucapnya membuka pintu mobil.


"Terima kasih untuk fine dining-nya. Selamat malam, Tuan Edward.” Anjani tersenyum sambil menutup pintu. Tapi Edward segera menahan pintu itu agar tak tertutup dulu.


“Terima kasih juga sudah menemani saya, Nona Anjani. Selamat malam.” balas Edward.


Ia menatap Anjani hingga akhirnya wanita itu hilang dari pandangannya.


Edward mengumpati dirinya sendiri atas sikapnya tadi. Padahal tadi siang ia sudah meyakinkan hatinya kalau makan malam ini adalah acara bisnisnya Zafora dan Anjani adalah bagian dari bisnis itu. Jadi apa salahnya ia mendokumentasikan pekerjaannya dengan atasannya? Sudah jelas! Salahnya karena Edward merasa Anjani berusaha ingin membawa pria itu masuk ke kehidupannya.


Sampai di sini ia merasa tak aman.

__ADS_1


Pria itu akhirnya singgah ke sebuah kafe dan memesan secangkir kopi espresso panas untuk menyegarkan kembali pikirannya yang kusut. Masih terlalu cepat untuk kembali ke apartemen, pikirnya.


__ADS_2