
...Maafkan aku jika tak mampu menjadi bulan yang menerangi jalanmu. Tapi kurasa kau telah menemukan harapanmu, hingga tak lagi membutuhkan bulan yang cahayanya semakin hari makin meredup ini. Aku menyayangimu. Mungkin rasa itu melebihi rasa sayang seseorang yang telah mengalihkan duniamu selama ini....
Mikaila tersedak seperti kehabisan oksigen.
Napasnya memburu setelah terbangun dari mimpi buruknya. Entah sudah berapa puluh kali mimpi itu melintas terus dalam tidurnya. Mimpi di mana ia melihat ibu dan adiknya tersesat di padang Siberia dan akhirnya menghilang di dalam badai salju. Atau melihat ibunya yang dipukul ayahnya dengan membabi buta seperti seorang petani yang memukuli anjing liar yang mengganggu ternak-ternaknya.
Dan jika sudah terbangun seperti itu, ia tak akan bisa tidur lagi hingga esok pagi.
Dengan cepat Mikaila meraih sebotol champagne di atas nakas dan dituangnya ke dalam gelas, lalu ditenggaknya hingga habis setengah. Setelah napasnya teratur, segera Mikaila meraih smartphone-nya. Ia lakukan panggilan ke salah satu nomor. Nadanya terdengar aktif tapi tak direspon. Wanita itu mengulangi lagi panggilannya. Kali ini nadanya sibuk. Ia tak putus asa. Diulangnya panggilan itu berkali-kali. Dan entah yang keberapa kalinya, akhirnya panggilannya pun tersambung.
________________________________________
Tower Grand Jakarta Land, Thamrin.
Edward kembali ke ruang meeting dengan wajah tegang. Sementara semua peserta rapat yang telah menantikannya, juga tak kalah gusar memandang pria itu. Ada Adrian, Anjani dan managernya, dua orang karyawan bagian humas, serta dua orang perwakilan dari event organizer dan perusahaan vendor di ruangan itu.
Rapat mendadak terpaksa diadakan malam ini karena Anjani, sebagai brand ambassador Zafora Indonesia menolak untuk mengikuti road show yang akan digelar oleh Zafora ke tujuh kota besar Indonesia itu. Padahal Anjani akan menjadi bintang utama di event itu nanti. Jadi tak mungkin road show itu dapat digelar tanpa kehadiran sang model itu sendiri. Dan rapat yang dijadwalkan pukul tujuh malam terpaksa diundur dua jam karena Anjani sedang ada pemotretan.
Sebenarnya juga bukan Anjani yang ingin menyalahi kontrak kerja dengan Zafora. Tapi kesalahan ini sebenarnya ada di pihak perusahaan sendiri selaku penyelenggara. Dalam agenda model itu telah tertulis jelas bahwa road show akan dilaksanakan sebelum ia mengikuti syuting film di Nusa Tenggara. Dan agenda wanita itu telah dikonfirmasi ke manajemen Zafora. Tapi karena ada perubahan marketing perusahaan, maka event yang seharusnya telah digelar dua bulan lalu, terpaksa diundur dan akhirnya berbentrokan dengan proyek Anjani yang lain.
Itulah mengapa Edward jadi uring-uringan saat Mikaila menelpon dan membahas hal yang tak perlu di saat-saat krusial seperti ini.
“Maaf Tuan Edward, bisakah segera kita selesaikan rapat ini?” tanya Anjani tak sabar.
“Ya! Segera kita akhiri.” ucap Edward memandang wanita itu dengan wajah yang lelah.
“Apakah ada yang salah Nona Anjani?” tanyanya menyipitkan mata.
“Ya menurut saya tidak profesional saja berlama-lama mengangkat telefon dari pacar saat sedang rapat. Bukankah anda sendiri yang menekankan bahwa urusan pekerjaan jangan dicampuradukan dengan urusan pribadi?”
Edward tertawa mendengar ucapan wanita itu. Sementara yang lain duduk diam dalam ketegangan.
“Terima kasih Nona telah mengingatkan. Tapi menurut saya ucapan anda tadi kurang etis disampaikan di depan forum. Lagi pula kenapa anda begitu yakin kalau yang menelpon tadi itu pacar saya?”
“Ya siapa lagi?” ucap Anjani.
Braakk!
“Bisakah untuk tidak berdebat lagi? Kita semua sudah lelah malam ini!” Adrian menggebrak meja membuat semua orang terkejut tak terkecuali Edward. Pandangannya ia arahkan ke dua orang yang berdebat tadi.
“Segera kita cari kesepakatan!”
“Kalau saya tetap sama seperti tadi, road show ditunda sampai jadwal syuting selesai.” ucap Anjani kesal.
“Oke, fine!” seru Edward.
“Kapan anda selesai syuting, Nona?” tanyanya sambil menoleh ke wanita itu.
__ADS_1
“Coba dicek Rick, kapan gue selesai syuting.” perintah Anjani ke manajer di sampingnya. Pria tambun yang dipanggil Erick itu pun memeriksa kembali jadwal modelnya
“Syuting dimulai tanggal 4 Oktober selama 18 hari. Jadi, minggu keempat Oktober Anjani telah kembali ke Jakarta.” terangnya sambil menatap ke Edward dan Adrian bergantian.
“Oke, awal November kita adakan event itu. Bagaimana, deal?” tanya Edward.
Semua orang mengangguk dengan wajah lega. Sementara Anjani tersenyum dengan wajah penuh kemenangan.
“Tapi Nona Anjani, anda jangan senang dulu.” ucap Edward memandang tajam ke arah Anjani, membuat wanitu itu tergagap. Yang lain terdiam, sementara Adrian mengerutkan dahi.
“Sepulang ke Jakarta, sebelum event, anda harus fokus treatment untuk me-recovery kembali kulit anda yang akan hangus terbakar nanti.”
Semua orang membelalakan matanya.
“Saya tak bisa membayangkan, bagaimana kulit anda nanti setelah seharian selama dua puluh hari anda berjalan-jalan di savana Nusa Tenggara yang panas dan kering.”
“Oke, Tuan Edward.” ucap Anjani tersenyum.
Semua beranjak dari duduknya dan keluar sesaat setelah rapat dibubarkan. Sebelum meninggalkan ruangan itu Anjani berjalan mendekati Edward yang masih tampak belum beranjak dari kursi di ujung meja. Sementara managernya ia suruh keluar lebih dulu. Pria itu sama sekali tak menghiraukan kedatangannya.
“Ada apa lagi? Bukankan sudah selesai meeting-nya?” tanya Edward tak menoleh ke Anjani yang telah berada di depannya. Ia hanya sibuk melepaskan kancing paling atas kemejanya dan mengendurkan sedikit ikatan dasinya agar dapat bernapas lebih lega.
“Saya hanya ingin mengucapkan selamat untuk anda, Tuan Salman Alfarisy yang telah menjadi mualaf. Semoga anda bisa menjadi imam yang baik untuk istri anda dan tidak nakal lagi.” ucap wanita itu sambil tersenyum.
“Tapi jika anda ingin membuat pesta kecil untuk mengakhiri masa lajang anda, saya siap menemani anda, Tuan?” bisiknya dengan suara mendesah.
"Saya sedang tak ingin bercanda, Nona. Silahkan keluar sekarang atau saya sendiri yang akan menyeret anda.” ucapnya sambil memandang tajam ke Anjani.
Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, Edward Anderson yang sombong dan angkuh, batinnya.
Masih dalam keadaan kesal, Edward meraih smartphone-nya yang tadi ia letakan di dalam agendanya. Apakah Mikaila sudah tidur, pikirnya. Ia bermaksud ingin menelpon wanita itu dan meminta maaf atas semua ucapan kasarnya tadi. Edward merasa tadi bukan dirinya. Ia hanya kesal karena wanita itu menelponnya di saat yang tak tepat seperti tadi.
Grand Kaharu Residence, Ancol -1 jam lalu.
“Halo, Mikaila. Ada apa !?” terdengar suara seorang pria di seberang dengan nada agak keras.
“Aku sedang meeting ini. Harusnya kau paham, jika berkali-kali telponmu tak kuangkat itu berarti aku sedang sibuk!”
“Bisa tidak berbicara dengan lebih lembut. Ed? Pendengaranku masih normal.” ucap Mikaila lesu.
Tak ada respon dari seberang sana.
“Ed?” Mikaila pun kembali memanggil.
“Ya. Ada apa menelponku?”
“Lagi pula mana aku tahu kalau kau meeting malam-malam begini.”
__ADS_1
“Oke, oke. aku minta maaf. Ada apa?”
“Aku takut, Ed.” ucapnya memelas.
“Takut dengan apa, Mikaila?”
“Entahlah Ed. Aku sekarang selalu mimpi buruk, gelisah, juga takut kalau sendiri di apartemen.”
“Jadi apa yang harus kulakukan untukmu?”
“Datanglah kemari, Ed. Aku kesepian.”
“Gila kau Mikaila.”
“Ed..”
“Kau tahu, aku tak akan menuruti permintaanmu itu. Dulu kau yang bilang kalau tak ingin terikat denganku kan? Jika aku tak bisa, kau akan mencari pria lain. Tapi mengapa sekarang kau bergantung padaku?”
“Jadi kau tak menganggap aku temanmu lagi, Ed?”
“Mikaila, hubungan teman antara laki-laki dan wanita juga ada batasannya. Tak sebebas antara dua orang laki-laki.”
“Ed, kumohon sekali ini saja. Aku butuh seseorang untuk menemaniku.”
“Maaf Mikaila, sekarang aku punya kehidupan baru yang membatasi keliaranku.”
“Ed, apa kau tak sadar, bukan dirimu yang liar, tapi kehidupan barumu itu telah mengekang kebebasanmu.”
“Sama sekali aku tak merasa terkekang, Mikaila. Justeru sekarang hidupku lebih terarah dan punya tujuan. Kusarankan kau pergi saja ke psikiater untuk untuk mengatasi masalahmu itu. Kau membuang-buang waktuku hanya untuk urusan tak berguna seperti ini."
“Ed.”
"Selamat malam !”
“Ed !”
Tut tut tut
Ucapan Mikaila berhenti karena panggilan diputus. Dipandanginya layar smarphone-nya dengan mata berkaca-kaca. Teganya engkau mengatakan aku gila hingga menyuruhku pergi ke psikiater, Ed, ucapnya dalam hati. Wanita itu memandang jauh keluar jendela yang tak tertutup gordin dengan rasa putus asa. Perasaan wanita itu betul-betul tak menentu.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan segera beranjak ke tepi ranjang. Ditariknya laci nakas di samping ranjang dan mengambil sebuah botol. Dalam beberapa bulan ini Mikaila kerap menelan isi botol itu jika sulit tidur atau terbangun karena mimpi buruk. Awalnya ia merasa tenang dan nyenyak tidur setelah menelan obat penenang itu. Tapi lama-kelamaan tubuhnya seperti bergantung dengan pil-pil itu. Ia harus menelan terus obat itu untuk meredam insomania dan kegelisahannya. Hingga penderitaannya masih terus berlanjut sampai malam ini.
Wanita itu pun berniat menelan lebih banyak pil malam ini agar dapat melupakan semuanya. Walau pun ia paham betul apa risiko yang akan ia terima. Mikaila sudah membuka tutup botol dan menuang isinya. Wanita itu memandangi enam buah pil yang berhasil meluncur turun ke telapak tangan kirinya.
Jika malam ini aku harus kehilangan nyawaku karena pil ini mungkin itu akan lebih baik. Mikaila berucap dalam hati dengan tatapan kosong. Toh, orang-orang yang kucintai juga telah meninggalkanku. Ibuku, adikku, dan sekarang Edward juga telah pergi. Tak ada lagi kebahagiaan yang harus kujemput di dunia ini.
Dengan tangan gemetar ia masukan semua pil ke dalam mulutnya dan segera diraihnya segelas air di atas nakas. Wanita itu hampir tersedak karena memaksa untuk menelan sekaligus pil-pil itu. dengan mata terpejam,pil-pil itu pun berhasil melewati kerongkongannya. Mikaila merebahkan tubuhnya ke atas ranjang untuk menenangkan perasaan sejenak. Tiba-tiba pinggang kanannya terasa nyeri. Ia tangkupkan kedua telapak tangannya ke pinggang untuk menekan rasa sakitnya.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dan tanpa memperduliakn rasa sakit yang dirasakannya, Mikaila pun beringsut untuk meraih smarphone-nya yang tadi ia letakan di nakas. Dengan kepayahan Mikaila pun berhasil meraih benda itu. Dan dengan tangan gemetar ia mencoba mengetik sesuatu. Tapi rasa nyeri di pinggangnya semakin keras mendera, hingga ia mengeluarkan air mata karena menahan rasa sakitnya yang teramat sangat. Wanita itu melihat kamarnya semakin lama semakin gelap. Dan sejurus kemudian ia pun tak ingat apa-apa lagi.
Smartphone dalam gengamannya terjatuh di lantai.