
Ustadj Faruk tersenyum melihat gelagat Rais yang seperti orang kebingungan. Beliau pun segera menoleh ke sebelah kanannya dan memanggil sebuah nama.
"Furqan!”
Jleeebb!!!
Seperti orang yang terkejut karena tersambar kilatan petir yang datang tiba-tiba, Rais tergagap mendengar sebuah nama yang dipanggil oleh Ustadj Faruk.
Dan seperti orang yang belum habis rasa terkejutnya karena kilatan petir tadi dan harus kembali terkejut karena suara guntur yang menggelegar, Rais kembali dikejutkan oleh seorang pria yang keluar dari ruang marbot sambil tersenyum dan menghampirinya.
Keterkejutan yang bertubi-tubi.
“Ustadj Furqan!?” Seru Rais masih belum percaya.
“Ya Tengku Rais, ini Saya.” Pria itu memeluk Rais sambil menangis.
Rais menyambut pelukan Furqan sambil menepuk-nepuk punggung pria itu. Ustad Faruk pun ikut tersenyum haru melihat dua sahabat karib yang sedang berpelukan itu.
“Subhanallah! Allahu Akbar!” Rais bertasbih di sela-sela tangisnya.
“Telah dikabulkan-Nya doaku sepuluh tahun lalu. Dulu dalam salat selalu kupanjatkan doa agar tali persaudaraan antara keluarga saya dengan keluarga Tengku dapat tersambung.” bisik Rais di telinga Furqan. Pria Aceh itu mengangguk.
Dulu memang sempat terbersit niat dalam hati Rais untuk mengenalkan sahabatnya itu dengan Laila, adik kandungnya yang saat itu masih di tahun pertama aliyah. Tapi niat itu tak pernah terwujud karena ia putus komunikasi dengan Furqan begitu pulang dari pesantren. Dan sekarang, meskipun bukan dengan Laila, Furqan datang sendiri mengkitbah adiknya yang lain.
Rais pernah berjanji pada Sarah bahwa akan mengenalkan pada temannya yang mempunyai akhlak dan akidah yang bagus. Dan Furqan tak hanya mempunyai akhlak yang terpuji dan akidah yang mantap, tapi pria itu mempunyai ilmu agama yang tinggi. Ia tak hanya mampu menjadi imam yang baik untuk Sarah, tapi ia juga layak mengimami rakyat sepenjuru negeri. Rais tak ragu mengabarkan berita itu pada pakciknya dan mengatakan bahwa Furqan sangat pantas menjadi pendamping Sarah.
Tapi tiba-tiba hatinya merasa bimbang. Di satu sisi hatinya senang bisa menyatukan tali persaudaraan dengan Furqan melalui Sarah. Tapi di sisi lain, bagaimana caranya ia mengatakan hal ini pada Sarah yang sedang taarufan dengan seseorang yang bernama Edward? Bagaimana jika pria asing yang sedang mendalami Islam itu menjadi seorang muslim yang taat dan layak menjadi imam untuk Sarah?
Mereka telah saling melepaskan pelukan.
Rais menoleh ke arah Sarah yang masih bersama pria tadi. Sekarang mereka tak lagi mengobrol, tapi sedang menoleh ke arahnya. Sepertinya perhatian mereka juga tersita dengan drama mengharu biru tadi. Rais bertatapan dengan pria yang tersenyum dan mengangguk padanya itu.
Furqan yang masih duduk bersimpuh di hadapan Rais ikut menoleh ke arah Sarah. Ia mengernyitkan dahi begitu tahu seseorang yang sedang bersama gadis itu adalah pria yang tadi duduk tak jauh dari tempat ia dan ustadj Faruk mengobrol. Penampilannya yang bule membuat ia menjadi titik perhatian di masjid itu.
Kini dua orang itu pun memikirkan satu hal yang sama. Siapakah sebenarnya pria itu?
... ------------------------------------------------...
Beberapa saat yang lalu.
“Assallamu’alaikum.”
Sarah dikejutkan oleh sapaan suara seorang laki-laki di belakangnya.
“Wa’allaikumsalam.” ucapnya menoleh dan terperanjat begitu tahu siapa pemilik suara itu.
“Keberatankah kau jika saya duduk di sini?”
Tapi Sarah tak perlu menjawab pertanyaan Edward, karena pria itu telah duduk di hadapannya. Ia hanya mengernyitkan dahinya sambil tersenyum. Gadis itu tampak senang melihat Edward memakai gamis pakistan dan kopiah hadiah darinya.
“Siapa pria itu?” Edward menoleh ke arah Rais yang sedang berbicara dengan Ustadj Furqan.
“Saya lihat tadi ia berbicara padamu?” Pria itu menoleh lagi ke depan.
“Itu abang sepupu saya, Tuan. My cousins brother.”
“Jadi kau pergi dengannya? Bolehkan saya berkenalan dengannya?”
“Nanti ada waktunya anda berkenalan dengannya, Tuan.”
Edward mengangguk tersenyum.
“Oh ya, mengapa siang tadi kau menolak saat saya ajak lunch? Kan ada karyawati lain juga.” tanya pria itu kurang senang.
“Hari ini saya puasa sunah, Tuan.”
“Ouh maaf!” Edward terperangah. “Saya tak tahu kalau kau sedang berpuasa, Sarah. Jadi kupesankan makanan tadi.”
__ADS_1
“Terima kasih untuk pemberian Tuan. Makanan tadi tidak terbuang percuma kok, tapi saya berikan pada clining service yang membersihkan outlet. Saya katakan itu sedekah dari Tuan Faris. Dan ia sangat senang karena tak perlu lagi membeli makan siang.”
“Alhamdulilah.”
Engkau memang baik pada sesama Sarah, ucapnya dalam hati memandang gadis itu.
“Saya juga ingin melakukan ibadah itu suatu hari nanti. Belajar menahan lapar dan haus. Kita memang harus bersyukur diberi makanan dan minuman bukan? Sementara di tempat lain masih banyak orang-orang yang tak seberuntung kita.”
“Insya Allah Tuan Faris bisa. Tapi berpuasa tak sekedar menahan lapar dan dahaga saja, Tuan. Lebih dari itu. Menahan segala nafsu. Termasuk nafsu diri ingin marah-marah dengan karyawan.”
Edward terkejut dengan ucapan terakhir Sarah.
“Apa saya seorang atasan yang kejam, Sarah? ”. tanya Edward sambil memicingkan mata.
“Tentu saja tidak.”
Sarah tersenyum. Edward pun tertawa lega.
Perbincangan Sarah dan Edward teralihkan oleh isakan keharuan dari sudut teras masjid.
“Sepertinya mereka bertiga sedang membicarakan hal yang bahagia.” guman Edward saat melihat Rais dan Furqan berpelukan.
“Ya. Sepertinya, Tuan Faris.” Sarah menimpali ucapan pria sambil melihat ke sudut teras.
“Apakah kau mengenal pria yang berpelukan dengan abang sepupumu itu?” Edward bertanya sambil pandangannya masih mengarah ke mereka.
“Saya hanya tahu beliau teman abang saya saat belajar ilmu Islam di Aceh dulu. Namanya Tengku Furqan.”
Edward mengangguk-angguk mendengar cerita gadis itu.
“Hhmmm. Tapi saya tidak suka dengan perilaku pria itu.”
Ucapan Edward membuat Sarah mengernyitkan dahinya,
“Kenapa dengan dia?”
“Jangan mencari kesalahan pada orang lain. Bukankah Tuan Faris juga melakukan hal yang sama tadi?” Sarah memandangnya dengan tatapan tajam.
Edward hanya meringis mendengar ucapan gadis itu. Dirinya tak berani lagi memandang matanya yang bening dan murni seperti air embun itu. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah mereka bertiga tadi. Tak sengaja tatapannya bersirobok dengan Rais. Edward tersenyum sambil mengangguk pada lelaki itu.
... -----------------------------------------------...
Dua orang itu masih memikirkan satu hal yang sama tentang pria itu.
“Allah telah menunjukan kebesaran-Nya. Kalian berdua yang telah berteman sejak lama akan dieratkan lagi dengan hal ini.”
Ucapan Ustadj Faruk membuyarkan lamunan mereka.
“Saya sebagai walinya, sangat setuju dengan rencana Tengku Furqan ingin mengkitbah Sarah.” Rais menoleh bergantian pada dua orang di hadapannya.
“Tapi maaf, saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Saya harus menanyakan dulu pada Sarah. Apakah ia sudah punya calon sendiri atau belum? Apakah ia menerima lamaran ini atau tidak. Begitu Ustadj, Tengku.” jelas lelaki itu sambil menoleh pada Sarah.
Furqan mengangguk-angguk tanda dirinya mafhum.
“Ya sebaiknya memang dibicarakan dulu pelan-pelan dengan Sarah.” jawab Ustadj Faruk.
“Carilah saat yang tepat agar ia tak terkejut dan dapat mengambil keputusan dengan tepat.”
Lelaki itu mengangguk.
“Terima kasih Ustadj dan Tengku. Secepatnya kami berikan jawaban.”
“Oh ya , apakah Ustadj kenal dengan pria yang berbicara dengan Sarah itu? Apakah beliau juga jamaah pengajian di sini?”
Rais bertanya sambil menoleh ke arah Edward dan Sarah. Ustadj itu menoleh ke arah yang ditunjukan lelaki itu. Ia mengernyitkan dahi untuk menajamkan pandangannya. Dan sesaat kemudian ia tersenyum.
“Itu Saudara Salman. Beliau bukan jamaah pengajian di sini, tapi atasan di tempat kerjanya Sarah yang tiga bulan lalu baru saja menjadi mualaf. Saya kira beliau sudah pulang sejak tadi.”
__ADS_1
“Subhanallah” Furqan berseru mendengar penjelasan Ustadj Faruk. Rais terperangah begitu tahu pria itulah yang diceritakan Sarah selama ini.
“Ucok!” seru Ustadj Faruk pada seorang remaja laki-laki yang sedang melintas di halaman. Demi mendengar panggilan beliau, remaja itu pun mendekat.
“Kamu bilang ke mereka berdua, diminta bergabung dengan Ustadj di sini.” ucapnya.
Remaja itu mengangguk dan berjalan ke tempat di mana Edward dan Sarah berada.
Sarah dan Edward ikut bergabung dengan mereka. Sambil tersenyum pria itu mengucapkan salam dan menyalami Furqan, Rais, dan Ustadj Faruk. Mereka berempat duduk berkeliling membentuk lingkaran. Sedang Sarah duduk di belakang Rais.
“Jadi Saudara Salman, beliau berdua ini jamaah pengajian di sini. Beliau ini Tengku Furqan dari Aceh, dan beliau ini Saudara Rais, abangnya Sarah.” ucap Ustadj Faruk mengenalkan dua orang itu.
"Saya merasa mendapat kehormatan bisa berkenalan dengan Bang Rais dan Tengku Furqan."
“Perkenalkan, saya Muhammad Salman Alfarisy. Alhamdulillah sudah tiga bulan menjadi mualaf dan saat ini sedang belajar Islam di Pesantren Al-Waqilah, Pluit.”
“Subhanallah. Semoga saudara dilimpahkan rahmat-Nya dalam menuntut ilmu dan mengarungi hidup sebagai seorang muslim. Oh ya, nama saudara seperti nama masjid ini.” tanya Furqan yang tergelitik hatinya.
Edward menoleh ke Sarah sambil tersenyum.
“Atas rekomendasi Sarah, saya mengucapkan ikrar dengan bimbingan Ustadj Faruk di masjid ini. Dan beliau yang menabalkan nama itu." ucapnya seraya mengangguk ke Ustadj Faruk.
"Nama asli saya Edward Anderson. Saya berasal dari Inggris.”
Furqan manggut-manggut. Sedangkan Rais yang sedang mendengarkan penjelasan Edward dengan seksama tampak menoleh ke Sarah yang memberi kode untuk segera pulang jika urusan dengan Ustadj Faruk telah selesai.
“Maaf Ustad dan semua, kalau sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, kami berdua ingin memohon pamit.” ucap Rais.
“Maaf” Edward menyela cepat sambil menoleh ke Rais.
“Bagaimana kalau kita duduk makan dulu. Sebenarnya setelah salat magrib tadi saya ingin mengajak Ustadj makan, tapi saya lihat ustadj tadi sedang menerima tamu.”
Edward menoleh ke Furqan sekedar memberi penekanan jika tamu yang ia maksudkan tadi adalah pria itu. Lalu ia menoleh pada yang lainnya dan melihat arloji di tangannya.
“Masih pukul 22 lewat, saya pikir belum terlalu malam.”
“Boleh juga usul saudara. Saya setuju.” Furqan menimpali.
Rais belum mengambil keputusan, ia tampak ragu-ragu dan menoleh ke Sarah seakan meminta pendapat. Tapi gadis itu menyerahkan keputusan pada lelaki itu.
“Bagaimana Bang Rais dan Sarah?” tanya Edward lagi seperti tahu keraguan mereka berdua.
“Ya kita anggap ini untuk merayakan perkenalan kita. Supaya lebih akrab.”
“Bolehlah kalau begitu.” Rais akhirnya memberi keputusan. Edward tersenyum sambil melirik sekilas ke Sarah.
Ustadj Faruk tidak ikut pergi dengan alasan sedang menjaga pola makan. Untuk lelaki seusia dirinya memang rentan mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan pola makan yang kurang tepat seperti kolestrol dan diabetes.
Karena Edward tidak membawa kendaraan, disepakati bahwa ia dibonceng motor oleh Furqan, sedang Sarah dibonceng oleh Rais.
"Kita mau makan di mana?” tanya Furqan setelah mereka di parkiran.
“Saya tak tahu tempat-tempat makan di sini, maka saya serahkan pada Bang Rais dan Tengku saja untuk menentukan. Saya dulu pernah makan dengan teman di Kesawan. Tapi saya rasa kawasan itu terlalu jauh dari sini.”
Tiba-tiba wajah Furqan berubah cerah. Tampak ada sesuatu yang akan dia sampaikan.
“Bagaimana kalau di warung kopi kami saja? Tidak terlalu jauh dari sini dan menyediakan menu-menu khas Aceh.” Furqan memandang mereka bertiga bergantian.
“Boleh kalau begitu!” ucap Edward semangat. Rais dan Sarah juga mengamini.
Mereka berempat segera meluncur di jalanan yang masih ramai.
......--------------------------------......
Salam Author
Terima kasih Author ucapakan untuk teman-teman yang masih setia mengikuti cerita hingga episode ini. Menurut teman-teman semua, harusnya Sarah dengan siapa? Edward atau Furqan?
__ADS_1