CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
24. Melamar (3)


__ADS_3

Hari ini telah sampai sepekan saat Edward memberi kesempatan pada Sarah untuk memikirkan lamaran itu. Dan pria itu akan menelponnya.


“Maaf Tuan, saya tidak bisa memberi jawaban apa pun. Tapi maksud anda sudah saya sampaikan ke orang tua saya. Mereka meminta anda untuk bertamu ke rumah.” jawab Sarah di seberang sana saat Edward menanyakan keputusan gadis itu tentang maksud hatinya.


“Kapan saya bisa datang menemui orang tuamu, Sarah?” tanya Edward.


“Ayah saya bukan orang yang sibuk, Tuan. Beliau hanya seorang petani. Jadi kapan pun anda ada waktu, pintu rumah kami selalu siap menerima kedatangan anda.”


“Kalau begitu, besok saya bertamu.” ucap pria itu.


“Baik, Tuan. Kami tunggu kedatangan anda. Saya berusaha menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Apa pun keputusan beliau nanti, saya akan mematuhinya, Tuan.”


“Terima kasih, Sarah.”


“Terima kasih kembali, Tuan.”


Esok harinya Edward benar-benar menepati janjinya. Ia terbang ke Medan hanya untuk menemui orang tua Sarah. Karena rumah gadis itu jauh ke luar kota dan agar ia tak tersesat, Purnomo mengantar pria itu menggunakan mobilnya. Manajernya itu memberitahukan Sarah bahwa mereka sedang dalam perjalanan dan diperkirakan sebelum magrib mereka telah sampai. Gadis itu sendiri sudah lebih dulu tiba di rumah orang tuanya sejak siang tadi. Purnomo memberinya izin satu hari karena ia dan Edward akan bertamu.


...-------------------------------------------...


Sarah membawa pinggan berisi gulai ayam yang tadi ia masak dengan Ibu ke ruang makan. Di sana ayahnya, Edward, dan Purnomo sedang mengobrol sambil menunggu makan malam. Edward tidak memakai jas tapi penampilannya tetap formal. Kemeja lengan panjang yang dipadu dengan celana katun dan sepatu pantofel.


Di meja makan telah terhidang semangkuk besar nasi putih, gulai ikan asam padeh, sayur asam daun melinjo, ayam goreng lengkuas, telur asin, dan setoples kerupuk udang. Juga gulai ayam yang baru saja diletakan tadi yang tampak asapnya masih mengepul.


Tak lupa, Sarah juga menghidangkan pancake durian kesukaan ayahnya yang tadi pagi ia bawa dari Medan untuk pencuci mulut. Sepertinya gadis itu ingin memanjakan ayahnya yang tidak bisa sering-sering ia jenguk seperti sekarang.


Sambil makan mereka bertiga mengobrol dengan hangat.


“Ayo, tambah lagi nasinya Nak Edward, Nak Purnomo. Jangan sungkan-sungkan.” ucap ayah sambil pandangannya mengarah ke mangkok nasi.


“Terima kasih, ini sudah cukup, Pak.” jawab Purnomo sopan sambil melihat hidangan beraneka di meja makan. Pria itu lebih tertarik mengambil gulai ikan dan sayur daun melinjo.


“Ini gulai ayam kampung, masakan favorit keluarga kami. Setiap tamu yang mencicipi ini pasti memuji kelezatannya.” kata Bapak tersenyum bangga sambil menyodorkan pinggan yang berisi gulai ayam pada Edward.


“Ouh, chicken curry. Terima kasih.”


Edward menerima pinggan itu lalu mengambil sepotong daging dan dua sendok kuah gulai.


“Nak Edward ini berasal dari mana?” tanya ayah Sarah.

__ADS_1


“Saya berasal dari Inggris, Pak.”


Dan seperti lazimnya pria Inggris yang lain, Edward memang selalu bersikap gentlemen seperti malam ini. Kesantunannya selalu dijaga saat pria itu duduk, berbicara, atau mengunyah makanan. Tapi sisi jeleknya, karena itu ia jadi terkesan kaku dan serius. Berbeda dengan pria Perancis atau Spanyol yang mempunyai selera humor dan lebih santai.


“Bertemu Nak Edward membuat Bapak teringat masa lalu.” ucap orang tua itu di sela-sela mengunyah makanannya.


“Oh ya, Apa itu Pak kalau saya boleh tahu?” tanya pria itu sedikit terkejut.


“Dulu waktu masih belia, Bapak pernah bekerja di perkebunan tembakau milik Belanda di tanah Deli. Setiap hari kami bertemu dengan orang Belanda pemilik kebun yang biasa kami panggil tuan meneer dan anak-anak lelakinya yang dipanggil tuan sinyo.” cerita orang tua bersemangat.


Sementara sang tamu hanya mendengar ucapan ayah Sarah dengan khusyuk sambil menikmati hidangan di piringnya. Edward merasa ayah adalah sosok yang ramah, hangat, tapi tetap rendah hati. Ia merasa orang tua itu memperlakukan dirinya sebaik mungkin. Atau memang begini sifat orang Indonesia jika memperlakukan tamu? pikir Edward.


“Tapi setelah Tentara Indonesia berhasil mengalahkan Sekutu pada tahun 1949, mereka semua harus pulang ke negerinya di Holand.”


Sarah yang mendengar obrolan mereka dari dapur hanya tersenyum. Ah Ayah! Selalu saja bercerita tentang masa mudanya setiap bertemu orang-orang baru, batinnya.


“Oh ya, sudah berapa lama bekerja di sini? karena Bapak lihat bahasa Indonesia Nak Edward lumayan fasih.” tanyanya.


“Belum ada satu tahun, Pak. Sebenarnya Ayah saya yang seorang British tulen. sedang leluhur Ibu berasal dari sini. Dari Manado.”


Mata orang tua itu sedikit terbelalak, tapi sesaat kemudian ia tampak tersenyum kagum. Edward meneguk sedikit air putih disampingnya yang tadi dituangkan Sarah. Pria itu belum terbiasa dengan masakan pedas yang dihidangkan tuan rumah.


“Kalau begitu, Nak Edward bisa toh seperti pemain-pemain sepak bola timnas yang punya darah campuran, seperti Diego Michelis atau Sergio van Dijk? Apa ya sebutannya.” Ayah Sarah mengerutkan dahi mencoba berpikir.


“Apa yang Bapak maksud naturalisasi?” Edward coba menebak.


“Ya, Naturalisasi! Itu tadi yang Bapak maksud.” Bapak berteriak kegirangan.


“Tapi Saya belum ada niat pindah kewarganegaraan. Dan saya sama sekali tidak berbakat bermain bola. Maafkan saya, Pak.”


Bapak tertawa, dan Edward pun tersenyum kemudian kembali menekuri makan malamnya.


“Kalau Nak Purnomo berasal dari mana?” tanya Ayah Sarah beralih ke Purnomo.


“Saya aslinya Bandung, Pak. Anak dan istri tinggal di sana.” jawab pria itu.


“Semoga Nak Purnomo betah ya tinggal di Medan.” ujar orang tua itu menguatkan.


“Makasih, Pak. Memang berat kalau harus jauh dari keluarga yang kita sayangi.”

__ADS_1


Dan suasana akrab di meja makan itu pun harus diakhiri saat acara makan malam selesai. Ayah mengajak tamu-tamunya kembali ke ruang tamu. Suasana pun menjadi tegang saat orang tua itu menanyakan maksud kedatangan Edward dari Jakarta.


“Saya mencintai Sarah, putri Bapak.”


“Ya. Semua orang berhak mencintai siapa pun. Lalu Nak Edward ini menginginkan apa dari Sarah?”


“Saya ingin menikahinya, Pak.”


“Bapak menghargai sikap Nak Edward yang mempunyai niat mulia. Dalam kepercayaan kami menikah adalah ibadah yang besar pahalanya. Tapi maaf Nak Edward, dalam Islam Sarah harus menikah dengan orang yang seiman dengannya.”


“Saya akan memeluk Islam jika itu syarat untuk bisa menikah dengannya.” pria itu coba meyakinkan Ayah Sarah.


Orang tua itu tersenyum sambil mengusap wajahnya. Ia tegakkan sedikit tubuhnya.


“Tujuan Nak Edward memeluk Islam agar dapat menikahi Sarah, begitu?” ucapnya memandang tajam Edward.


“Iya, benar Pak” Edward mengangguk serius.


“Tapi setelah tujuan itu tercapai, apakah Nak Edward masih akan menjadi seorang muslim yang taat? Apakah Nak Edward masih hidup dalam keislaman?"


Edward hanya terdiam sambil menunduk. melihat pria itu tak mampu menjawab, Ayah Sarah kembali berbicara.


"Jangan jadikan Islam sebagai alat untuk mencapai tujuan, Nak. Karena hakikatnya, Islam itulah tujuan hidup yang sesungguhnya?”


Edward tertegun. Pria itu merasa sikap orang tua itu berubah drastis dari sosok yang hangat dan jenaka menjadi sosok yang tegas tapi penuh kearifan. Ia tak mampu menemukan jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan pria beruban di hadapannya, bahkan sampai ia duduk di pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta. Yang masih diingatnya adalah ucapan Ayah Sarah yang terakhir sebelum ia berpamitan.


“Kenali dulu apa itu Islam. Pelajari nilai-nilai di dalamnya. Setelah Nak Edward paham dan bisa mencintai Islam secara ikhlas, maka datanglah lagi ke rumah ini menemui Bapak.”


Edward menarik napas dalam sambil menyandarkan kepalanya di kursi pesawat. Pandangannya ia arahkan ke luar jendela, memandang awan-awan yang bertebaran di angkasa. Ia kembali teringat lagu yang didengar di Khayangan Club tempo hari.


Di wajahmu kulihat bulan,


Menerangi hati gelap rawan,


Biarlah daku mencari naungan


Di wajah damai rupawan


Serasa tiada jauh dan mudah tercapai tangan

__ADS_1


Ingin hati menjangkau kiranya tinggi di awan.


__ADS_2