
Devan memandang Arsya dengan sendu. Anak lelaki ini seperti tidak ingin dekat dengan dia. Apalagi setelah tahu jika Devan adalah ayah kandungnya. Arsya nampak begitu tidak suka.
Bahkan kini dia sudah duduk menyendiri diatas ranjang dan membiarkan dokter memeriksa Nesya.
Shabrina memandang Devan yang terlihat sedih, dia juga tidak tahu kenapa Arsya seperti itu. Shabrina berfikir jika Arsya akan senang seperti Nesya saat tahu jika ayahnya sudah datang. Tapi kenyataan nya malah seperti ini.
Arsya terlihat marah, tidak suka, dan juga.... kecewa.
"Sebaiknya anak kalian segera dibawa kerumah sakit Bu, pak. Saya takut terjadi sesuatu padanya. Jantung Putri kalian sudah harus segera ditangani. Sepaling tidak harus dirawat" ungkapan dokter wanita itu membuat fokus Devan langsung teralihkan.
"Baik dokter. Saya akan membawa Putri saya ke ibukota setelah ini" ucap Devan langsung. Bahkan dia tidak lagi memandang wajah Shabrina yang kembali berbeda.
Kesehatan Nesya adalah yang terpenting saat ini.
"Jika begitu saya pamit dulu. Putri kalian sudah bisa dibawa pulang. Secepatnya harus dilakukan penanganan yang serius" kata dokter itu lagi.
"Baik dokter, terimakasih" jawab Devan.
Dokter itu hanya mengangguk dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Ayah..." panggil Nesya.
Devan kembali menoleh pada Nesya
"Iya nak" jawab Devan.
"Apa Nesya bisa sembuh?" tanya Nesya
Shabrina memandang Nesya dengan sedih. Sedangkan Devan malah tersenyum dan mengangguk. Dia duduk disamping Nesya dan mengusap kepala Nesya dengan lembut.
"Nesya pasti sembuh, nanti kita berobat dirumah sakit besar. Nesya gak akan sakit lagi nak" ucap Devan.
"Tapi pasti mahal. Apa ayah punya uang?" tanya Nesya begitu polos.
Shabrina tertunduk dan langsung beranjak dari sana. Dia tidak tahan mendengar perkataan Nesya yang seperti itu. Dan itu membuat Devan memandang nya dengan hati yang lagi lagi terasa begitu perih.
"Ada nak, kamu tenang ya. Besok kita pergi ke kota. Supaya kamu berobat disana" ujar Devan.
"Sama bunda dan kakak juga kan" tanya Nesya lagi.
"Iya, sama bunda dan kakak" jawab Devan.
Shabrina duduk disamping Arsya. Dia memandang Arsya yang masih diam sejak tadi. Anak lelakinya ini tidak seperti anak lelaki seumuran nya, Arsya lebih dewasa dibanding umurnya, dan dia pasti sedang memendam sesuatu saat ini.
"Arsya" panggil Shabrina
Arsya menoleh pada Shabrina, yang kini mengusap kepala nya.
"Arsya kenapa diam aja?" tanya Shabrina lagi
"Enggak apa apa bunda" jawab Arsya
__ADS_1
"Arsya gak senang ayah datang?" tanya Shabrina lagi.
Arsya terdiam dan memandang Devan yang masih mengajak adiknya mengobrol disana.
"Arsya gak tahu" jawab Arsya. Dia tertunduk dan terlihat sedih.
Shabrina mengusap lembut bahu Arsya.
"Jangan marah sama ayah nak. Dia ayah Arsya, dia datang untuk Arsya dan Nesya" ungkap Shabrina. Hatinya terasa tertohok mengatakan ini. Meski dia sendiri tidak rela jika anak anak nya lebih memilih Devan dari pada dia nantinya. Tapi jika melihat keadaan ini, Shabrina harus bisa meredam egois nya.
"Tapi dia yang udah buat bunda sedih dan nangis" sahut Arsya.
Shabrina langsung terdiam mendengar itu.
"Dia udah buat bunda sedih dan marah. Arsya gak suka ada orang yang buat bunda sedih" kata Arsya lagi.
Ya tuhan...
Begitu baik nya Kau menitipkan buah hati yang begitu perduli pada nya seperti ini. Perduli dengan kesedihan dan luka nya selama ini.
Tapi Shabrina juga tidak bisa membiarkan Arsya memendam benci pada ayahnya. Biar dia yang terluka, biar dia yang menyimpan kesedihan itu. Jangan lagi anak nya.
Ceklek
Pintu yang terbuka membuat mereka semua langsung menoleh. Ternyata Hans yang masuk kedalam sana.
"Kita sudah bisa pulang tuan" ajak Hans pada Devan.
"Kita pulang ya" ajak Devan yang langsung menggendong Nesya.
"Ayah gak pergi lagi kan?" tanya Nesya, sepertinya dia masih begitu takut ditinggal oleh Devan.
"Tidak nak, ayah tidak pergi. Kalaupun ayah pergi, ayah pasti bawa kalian" jawab Devan
Nesya tersenyum dan mengangguk, bahkan dia langsung memeluk leher Devan dengan manja.
Shabrina juga turun dari ranjang dan membawa Arsya.
"Kita pulang ya" ajak Devan pada Arsya. Namun Arsya hanya diam dan langsung meraih tangan Shabrina.
Dia benar benar mengabaikan Devan.
Dan tentu saja itu membuat hati Devan bersedih.
Hari sudah malam saat mereka keluar dari klinik itu, Devan membawa mereka ke mobil nya. Bahkan Hans dengan sigap membukakan pintu mobil untuk tuan muda kecil nya.
"Ayo, silahkan" ajak Hans pada Arsya.
Lagi lagi Arsya hanya diam dan langsung naik kedalam mobil. Sedangkan Shabrina duduk bersama Devan dan Nesya dibelakang.
"Ayah... ini mobil siapa?" tanya Nesya.
__ADS_1
"Mobil ayah nak" jawab Devan.
"Wah ayah keren punya mobil. Nanti ajak Nesya dan kakak jalan jalan ya" pinta Nesya. Dia terlihat begitu antusias.
Devan tersenyum dan mengangguk seraya mengusap kepala Nesya terus menerus.
"Iya, nanti kita jalan jalan kemana pun Nesya mau" jawab Devan.
"Yeay .. nanti Nesya mau bilang sama kak Mimi, kalau Nesya udah punya ayah. Ayah Nesya juga punya mobil" ungkap Nesya
"Kak Mimi?" tanya Devan.
Nesya mengangguk dengan cepat. Bahkan karena bahagianya dia sampai lupa jika tadi dia hampir mati karena sesak nafas.
"Iya, kak Mimi temen Nesya ayah" jawab Nesya.
Shabrina yang mendengar Nesya sudah riang kembali hatinya cukup lega. Meski dia terkadang sedih dan malu saat Nesya mengadu tentang semua kesulitan nya pada Devan.
Malam itu sebelum kembali kerumah, Devan membawa mereka untuk makan malam disebuah rumah makan kecil yang ada didaerah itu.
Ya rumah makan kecil, tapi cukup bersih dan rapi. Dan itu sudah cukup untuk Devan.
Shabrina terlihat menolak, tapi Nesya memaksa nya, hingga mau tidak mau dia terpaksa ikut dan masuk kedalam.
Shabrina dan Arsya hanya makan dalam diam, dan hanya suara Nesya yang sejak tadi bersuara tidak ingin berhenti. Dia benar benar antusias dan bahagia sekali dengan kedatangan Devan.
"Nesya, makan dulu nak. Makan tidak boleh banyak bicara" ujar Shabrina yang meletakkan ayam goreng dipiring Nesya.
"Wah ayam... " gumam Nesya dengan mata yang berbinar.
"Makan yang banyak ya, biar cepat sehat" ujar Devan.
"Iya ayah" jawab Nesya. Dia nampak begitu lahap memakan ayam nya. Ayam yang hanya bisa dia makan sebulan sekali saat Shabrina gajian.
Devan melirik pada Arsya yang masih memakan nasi nya.
"Arsya juga makan yang banyak, ini ayam untuk kamu. Habiskan ya" ujar Devan. Seraya meletakkan ayam dipiring Arsya.
Arsya hanya diam dan bahkan sama sekali dia tidak ingin memandang Devan.
Devan melirik kearah Shabrina yang kebetulan juga melirik kearah nya. Hingga tanpa sengaja pandangan mata mereka saling bertatapan beberapa detik.
Pandangan mata yang sudah sangat lama tidak saling bertemu, pandangan mata yang sudah sangat lama tidak saling memandang penuh cinta dan kekaguman.
Dan kini, yang Devan lihat hanya pandangan mata penuh rasa kecewa, kesedihan dan beban yang begitu mendalam.
Shasa nya yang dulu ceria dan penuh senyum, kini telah berubah.
Seberapa besar beban yang telah kamu tanggung??
Bisakah aku memperbaiki semuanya???
__ADS_1