
Dan pagi itu juga, Devan membawa Shabrina dan kedua anaknya pulang ke Jakarta. Pergi meninggalkan kota yang sudah hampir enam tahun Shabrina tinggali. Pergi dengan meninggalkan sejuta kenangan pahit yang tidak ingin lagi dia kenang.
Shabrina duduk memandang nanar keluar jendela pesawat. Disampingnya ada Arsya yang masih begitu antusias memandang awan awan yang terlihat dari jendela kaca itu.
Devan duduk dibelakang mereka bersama Nesya. Anak perempuan nya yang tidak ingin berpisah dari ayahnya meski hanya sebentar.
Entah harus bahagia atau takut. Tapi yang jelas ketakutan itu sama besarnya ketika melihat anak anaknya bahagia pergi bersama ayah mereka. Pergi dengan fasilitas yang mewah dan membuat mereka antusias.
Bahkan Arsya yang pendiam, saat ini saja begitu senang naik pesawat yang mengudara membawa mereka pergi.
Pergi ketempat asal yang membuat Shabrina merasakan luka nya lagi.
Ya, dia takut, takut jika orang tuan Devan akan mengusir nya lagi. Takut jika Adinda masih berniat untuk mengusik dia dan anak nya.
Bisakah Devan melindungi mereka?
Sepaling tidak melindungi anak anak nya.
Karena sungguh, Shabrina benar benar tidak ingin anak anak nya merasakan kesedihan seperti dia dulu.
Jika orang tua Devan tahu tentang anak anak nya, apa yang harus dia lakukan?
Bisakah orang tua Devan menerima anak anaknya?
Shabrina menarik nafasnya dalam dalam. Ini sungguh berat jika harus dikenang.
Ingin melupakan tapi nyatanya semua memang harus dihadapi.
Nesya butuh ayahnya, dia butuh pengobatan yang memerlukan biaya banyak. Shabrina tentu tidak akan bisa memberikan pengobatan yang layak untuk putrinya itu. Jangankan pengobatan, untuk makan sehari hari saja dia tidak sanggup memberikan makanan yang layak.
Ah... semenyedihkan itu.
"Bunda" panggil Arsya
Shabrina langsung menoleh kearah nya.
"Kenapa nak?" tanya Shabrina
"Apa masih lama?" tanya Arsya.
Shabrina tersenyum dan menggeleng.
"Sebentar lagi" jawab Shabrina
"Nanti kita tinggal dimana bunda?" tanya Arsya lagi.
Shabrina terdiam, dia tidak tahu akan ditempatkan Devan dimana.
"Dirumah ayah" jawab Shabrina seadanya.
Arsya tersenyum dan mengangguk. Dia kembali memandang kearah luar. Dimana pemandangan dari atas benar benar memukau dipandangan matanya.
Sementara dibelakang mereka, suara Nesya tidak pernah berhenti mengoceh bersama Devan. Anak perempuan nya itu benar benar betah bersama ayahnya.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian, pesawat mereka sudah mendarat dengan selamat.
Shabrina berjalan dengan menuntun tangan Arsya. Sedangkan Devan menggendong Nesya.
Hans berjalan dibelakang mereka dengan beberapa orang bodyguard-nya.
Dan jika dilihat, mereka sudah seperti keluarga yang bahagia dan lengkap.
Mobil jemputan sudah menunggu dilobi. Lagi lagi Hans dan orang orang nya dengan sigap membukakan pintu untuk mereka.
"Wah.. om keren" puji Nesya pada seorang bodyguard Devan. Memakai kacamata dan juga jas formal, dan itu yang dia bilang keren. Padahal Shabrina benar benar risih dikelilingi orang orang seperti ini.
"Silahkan tuan muda" Hans membukakan pintu depan untuk Arsya.
Arsya nampak menghela nafasnya dan mengangguk.
"Kenapa om suka sekali memanggil tuan muda. Padahal Arsya punya nama" gerutu Arsya.
Hans hanya tersenyum saja menanggapi nya.
Dan setelah mereka semua masuk, Hans langsung melajukan mobilnya menuju rumah yang akan Shabrina dan anak anak nya tinggali.
Hans sudah meminta orang orang mereka untuk menyiapkan semua nya. Bahkan segala perlengkapan didalam nya. Termasuk pakaian dan juga perlengkapan kedua anak kembar Devan.
Semua dilakukan dalam waktu sekejap saja. Apalagi Shabrina dan anak anak nya yang tidak membawa apapun, hanya yang menempel ditubuh saja.
Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah rumah mewah dengan taman mini didepan nya.
"Ini rumah Nesya dan kakak" jawab Devan.
Arsya yang masih asik memandangi air terjun buatan itu langsung menoleh pada Devan.
"Ini rumah ayah?" tanya Arsya
Devan mengangguk dan tersenyum, dia langsung menjulurkan tangan nya pada Arsya dan menggenggam tangan Arsya untuk masuk kedalam.
Nesya masih betah dalam gendongan nya.
Sementara Shabrina hanya mengikuti nya saja.
Untung lah Devan membawa nya kesini, dia fikir Devan akan membawanya kerumah orang tuanya langsung.
Mereka langsung disambut oleh para pelayan yang ada disana. Namun Devan tidak memperdulikan mereka, dia langsung melengos masuk membawa kedua anaknya. Hanya Shabrina yang tersenyum dan mengangguk membalas sapaan para pelayan itu.
Devan memang tidak pernah berubah.
"Waahh rumah nya besar sekali" gumam Nesya begitu takjub.
"Kalian suka rumah ini?" tanya Devan.
"Suka ayah, suka sekali" jawab Nesya dengan cepat. Sedangkan Arsya hanya diam dan memandang kagum rumah mewah ini.
Devan membawa kedua anak nya menuju kamar mereka.
__ADS_1
Kamar yang sudah disiapkan oleh orang orang nya.
Dan saat membuka pintu mata Nesya langsung melebar melihat kamar dengan warna pink yang dipenuhi oleh banyak boneka.
"Ayah... ini kamar siapa?" tanya Nesya.
Devan menurunkan Nesya dari gendongan nya.
"Ini kamar kamu nak. Nesya suka?" tanya Devan.
"Waaah beneran ayah???" tanya Nesya memandang Devan dengan wajah yang terperangah senang.
"Iya sayang, ini kamar untuk Nesya" jawab Devan seraya mengusap kepala Nesya dengan lembut.
Nesya langsung memandang Shabrina yang mematung dibelakang mereka.
"Bunda, ini benar kamar Nesya. Nesya boleh main boneka boneka itu?" tanya Nesya.
Shabrina tersenyum dan mengangguk.
"Yeay... terimakasih ayah, terimakasih bunda" ucap Nesya yang langsung berlari menuju tempat tidur nya. Dimana begitu banyak boneka disana.
Devan tersenyum dan berjalan mendekat kearah Nesya, begitu pula dengan Arsya dan Shabrina. Mereka benar benar bahagia melihat kebahagiaan Nesya. Bahkan Nesya sampai memeluk semua boneka yang ada disana.
Boneka yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.
Dan sungguh itu membuat hati Shabrina teriris perih.
Ini yang anak nya mau, kebahagiaan dengan segala kemewahan. Bukan seperti hidup bersama nya. Yang hanya dipenuhi oleh kesengsaraan.
"Kakak... lihat Nesya punya boneka. Bahkan lebih bagus dari punya kak Mimi" adu Nesya pada Arsya.
Arsya hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kamar Arsya juga ada nak, ayo kemari" ajak Devan yang berjalan kearah pintu. Dimana kamar kedua anak nya memang saling berhubungan.
Devan yang meminta seperti itu pada orang orang nya.
Dan beruntungnya, karena uang, semua nya bisa dikerjakan dalam waktu satu malam saja. Bahkan bau cat baru masih begitu melekat.
"Arsya juga punya kamar?" tanya Arsya.
"Tentu saja. Ini kamar Arsya" ucap Devan seraya membuka pintu kamar itu.
Dan sama seperti Nesya tadi, Arsya juga nampak bahagia mendapatkan kamar dengan segala macam mainan dan juga perlengkapan yang bagus bagus.
Bahkan dia langsung berlari kedalam kamarnya. Diikuti oleh Nesya dan juga Devan.
Shabrina masih duduk dikamar Nesya. Dia hanya memperhatikan kedua anak nya dari jauh.
Dia bahagia melihat anak nya bahagia seperti ini. Hanya saja hatinya selalu bersedih ketika mengingat selama ini dia yang tidak bisa memberikan apapun untuk kedua anaknya. Hanya kesedihan dan juga kesengsaraan yang anak anak nya dapatkan. Dan sekarang, baru sehari bertemu dengan ayahnya, mereka sudah terlihat bahagia.
Yah... Dia merasa jika dia bukan ibu yang baik....
__ADS_1