Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Devan memandang rumah mewah milik keluarga Adinda dengan lekat. Dia masih duduk didalam mobil sekarang. Hatinya cukup was was, karena selama ini dia tidak pernah mendatangi langsung orang tua Adinda. Bahkan untuk bertemu secara pribadi saja baru kali ini. Selebihnya mereka hanya pertemuan keluarga dan juga pertemuan diluar itupun berbicara tentang bisnis.


Semoga semua bisa berjalan dengan lancar.


"Anda yakin akan masuk kedalam tuan?" tanya Hans yang mengantar Devan malam ini.


"Ya, semoga mereka bisa diajak berbicara baik baik" jawab Devan.


"Bagaimana jika tidak?" tanya Hans.


Devan terdiam dengan senyum tipis dibibir nya.


"Mungkin aku akan mengembalikan jantung ini" jawab Devan.


Hans langsung memandang Devan dengan lekat.


"Tuan... Anda serius dengan perkataan anda?" tanya Hans dengan pandangan mata yang mengiba.


"Apalagi yang harus aku lakukan Hans. Aku juga masih ingin hidup bahagia bersama anak dan istri yang baru aku temui. Tapi untuk berbagi hati, aku sungguh tidak sanggup" jawab Devan.


Hans mematung dan kembali memandang keluar. Cukup rumit kisah perjalanan tuan nya ini. Baru hitungan hari bertemu dengan wanita yang dia cintai dan juga anak anaknya. Tapi sekarang sudah harus terancam kembali dengan masalah jantung dan hutang nyawa ini.


"Jika aku tidak kembali dalam waktu yang lama. Tolong jaga istri dan anak anak ku Hans" ucap Devan yang langsung mengejutkan lamunan Hans.


Bahkan dia terkesiap saat melihat Devan yang sudah keluar dari dalam mobil.


"Tuan... Kenapa perkataan tuan sudah seperti mau berperang begitu?" tanya Hans tidak habis fikir seraya dia yang membuka pintu mobil dan memandang kepergian Devan.


Devan nampak tersenyum dan menggeleng pelan.


"Rasanya memang seperti berperang Hans. Berperang dalam memperjuangkan cintaku" jawab Devan.


Dia menoleh sekilas kearah Hans, dan setelah itu langsung masuk kedalam rumah. Dimana dia sudah disambut oleh beberapa orang pelayan keluarga itu.


Hans mematung disamping mobil. Bahkan tangan nya masih memegang pintu mobil. Seolah sedang menahan tubuhnya yang terasa lemas tak bertulang.


Devan berjalan masuk kedalam rumah dengan langkah kaki yang pasti. Meski tetap tidak bisa dipungkiri jika kini jantung nya juga bergemuruh dengan hebat.


"Mari tuan, tuan besar dan juga nyonya sudah menunggu anda didalam" ujar pelayan itu.


Devan hanya diam dan terus berjalan mengikuti langkah mereka. Rumah yang cukup mewah, bahkan lebih mewah dan lebih besar dari pada rumah kedua orang tuanya.


Wajar saja, karena orang tua Adinda adalah seorang pejabat negara dan juga seorang pengusaha. Jadi mereka mempunyai kekuasaan dan kekayaan yang tidak akan ada habisnya.


Deg


Jantung Devan langsung berdenyut nyeri saat melihat dua orang paruh baya duduk disofa dengan pandangan mata yang memandang Devan dengan lekat.


Dan pandangan mata mereka itu membuat jantung Devan juga bergemuruh tidak menentu.


Kenapa ini?


Ada apa?


"Akhirnya kau datang juga Dev" ucap nyonya Ambar.


Bahkan dia langsung beranjak dan langsung memeluk Devan yang belum sempat menyapa nya.

__ADS_1


Kepala nyonya Ambar langsung dia letakkan didada Devan, seolah sedang mendengarkan detak jantung Devan yang bergemuruh hebat saat ini.


"Oh anak ku. Aku benar benar sudah merindukan detak jantung ini" gumam nya.


Devan tertegun. Dan dengan ragu tangan nya mengusap pundak nyonya Ambar. Dia tidak mungkin menolak pelukan ini kan.


"Kamu kemari untuk membicarakan tentang pernikahan kalian kan nak?"


deg


Devan langsung tertegun mendengar perkataan nyonya Ambar. Dia langsung melirik tuan Bastian yang nampak tersenyum tipis dengan wajah penuh pengharapan.


Apa apaan ini..


"Nyonya... Saya datang kesini bukan untuk membicarakan tentang pernikahan" ucap Devan.


Nyonya Ambar langsung melepaskan pelukan nya dan memandang Devan dengan heran.


"Jadi untuk apa, Adinda bilang jika kau kemari untuk membicarakan pernikahan kalian" sahut Nyonya Ambar.


Devan menggeleng pelan.


"Dev... kamu tidak bisa menolak lagi ketika kamu sudah tiba disini" seru Adinda dari dalam.


Devan langsung menoleh kearah nya dengan pandangan terkejut.


"Duduklah dulu" ujar tuan Bastian.


Devan menghela nafas dan langsung duduk disofa singel. Dia langsung memandang tuan Bastian dan juga nyonya Ambar bergantian. Sebenarnya apa yang sudah dikatakan oleh Adinda pada mereka berdua???


Kenapa mereka bisa berfikir jika Devan datang kesini untuk membicarakan tentang pernikahan?


"Tentu saja membahas pernikahan kalian. Tidak bisa ditunda lagi, kami sudah menunggu untuk waktu yang lama Dev. Pernikahan yang batal beberapa tahun lalu karena kamu kecelakaan sudah menjadi tenggang waktu untukmu. Dan sekarang, tidak ada alasan apapun lagi" sahut nyonya Ambar dengan cepat. Bahkan dia langsung mematahkan perkataan Devan begitu saja.


Sedangkan Adinda nampak tersenyum lebar mendengar itu.


"Dev... kamu tahu, kami sudah memberi kalian kesempatan. Bahkan kami sudah memenuhi permintaan orang tuamu untuk tidak menuntut apapun padamu secara langsung. Dan sekarang, sudah cukup Dev. Sudah cukup waktu enam tahun yang kami berikan" ujar tuan Bastian pula.


Devan memandang mereka dengan pandangan tidak percaya. Kenapa mereka begini?


"Tuan... Maafkan saya sebelumnya. Tapi sungguh, saya tidak bisa menerima pernikahan ini" ucap Devan langsung.


"Apa yang membuat mu menolak?" tanya tuan Bastian.


"Saya sudah memiliki istri dan anak" jawab Devan dengan tegas.


"Tidak bisa Dev. Sejak dulu, sejak jantung putra kami, kami berikan padamu. Orang tua mu sudah menyetujui tentang permintaan kami ini. Jika akan menikah kan mu dengan putri kami, Adinda" sahut nyonya Ambar.


"Tapi saya tidak tahu tentang perjanjian itu nyonya" ucap Devan.


"Tidak. Perjanjian itu tetaplah perjanjian. Kami menyerahkan jantung itu agar putra kami tetap hidup dan ada diantara kami meski hanya bagian dari dirinya. Kamu tidak bisa mengabaikan itu begitu saja" kata nyonya Ambar. Dia terlihat tidak bisa dibantah. Devan benar benar bingung bagaimana cara meyakinkan mereka saat ini.


"Dev... sudah sejak dulu orang tua mu melarang kau untuk berhubungan dengan gadis lain selain Adinda. Dan kau tetap keras kepala. Maka sekarang, kau harus menentukan pilihan" ujar tuan Bastian.


Devan langsung menarik nafasnya dalam dalam dan mengembuskan nya perlahan. Dia memandang serius pada nyonya Ambar dan juga tuan Bastian.


"Tuan... Nyonya.. Saya sudah menikah. Dan saya sudah mempunyai dua orang anak. Saya tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja" ucap Devan dengan tegas.

__ADS_1


"Dev.. Aku sudah bilang kan. Jika aku siap untuk menjadi madu asalkan kau mau menikahiku" sahut Adinda.


Devan menggeleng pelan.


"Aku tidak bisa Adinda. Aku bukan lelaki seperti itu. Aku tidak bisa menduakan istriku" tegas Devan.


"Apa kau mau mengabaikan kehidupan yang selama ini kau nikmati Dev?"


deg


Devan langsung mematung memandang tuan Bastian.


"Bukan aku mengungkit. Hanya saja kau terlalu kejam jika kau mengabaikan perasaan kami yang sudah berkorban untuk mu. Yang bukan siapa siapa untuk kami" ucap tuan Bastian lagi.


"Kami hanya ingin dekat dan selalu bersama dengan putra kami. Meski bukan lagi dia yang ada disini" nyonya Ambar nampak tertunduk dengan air mata yang mulai keluar dari mata tuanya.


Devan tertunduk dengan helaan nafas yang cukup panjang. Dia akui jika semua kehidupan dan nafas yang dia nikmati selama dua puluh dua tahun ini adalah karena kebaikan hati mereka. Tapi untuk menikah dan mengkhianati istri dan anak anak nya. Mana mungkin Devan sanggup.


"Tuan... nyonya" panggil Devan. Dia memandang kedua orang tua Adinda dengan pandangan mengiba.


"Saya tahu saya sudah begitu tidak tahu terimakasih selama ini pada kalian. Tapi sungguh, untuk menikah dengan Adinda saya benar benar tidak bisa. Tidak adakah pilihan lain selain menikah? Saya benar benar tidak bisa tuan" pinta Devan


Bahkan baru kali ini dia seperti menjatuhkan harga dirinya pada seseorang.


"Dev... kenapa kamu kejam sekali" ucap Adinda


Namun Devan hanya memandang sedih pada kedua orang tua Adinda.


"Tidak kasihan kah kau pada kami Dev?" tanya nyonya Ambar dengan Isak tangis yang tertahan.


"Nyonya.. maafkan saya. Saya janji, saya tidak akan pernah pergi jauh dari kalian. Saya janji. Tapi untuk menikah. Saya benar benar tidak bisa nyonya" ucap Devan. Dengan begitu memohon.


"Dev... Dengan menikah kau akan lebih dekat dengan kami. Apa itu terlalu sulit untuk kau lakukan?" tanya tuan Bastian lagi.


"Maaf tuan. Tapi saya benar benar tidak bisa. Tapi untuk dekat. Saya pasti akan berusaha untuk selalu dekat dengan kalian. Tapi untuk menikah, saya tidak bisa" jawab Devan.


"Aku bahkan sudah menjatuhkan harga diriku untuk menjadi madu Shasa. Tapi ternyata kamu masih juga egois Dev. Kami memberikan mu kehidupan, tapi hidup mu malah bukan untuk kami" ucap Adinda terlihat marah.


"Maafkan aku" lirih Devan.


"Aku memberikan mu dua pilihan Dev" ucap tuan Bastian tiba tiba.


Devan langsung menoleh kearahnya.


"Kau pilih nikahi Adinda tapi kau masih bisa hidup bersama istri dan anak mu. Atau kau kembalikan jantung putraku"


deg


Devan langsung tertegun mendengar itu.


"Agar tidak ada lagi yang bisa merasakan ketenangan didunia ini. Tidak kami, tidak juga keluarga mu" ungkap tuan Bastian dengan egoisnya.


Devan langsung tersenyum dengan getir mendengar itu. Dia tahu ini hanya ancaman untuk nya. Tapi kenapa terdengar begitu menyakitkan .


"Kami sudah puas menunggu, kami sudah puas mengalah dan mengulur waktu. Tapi nyatanya kalian malah menarik ulur harapan kami. Dan sekarang, kamu malah sudah menikah dengan orang lain. Untuk menghancurkan kalian mudah saja bagiku, tapi itu tidak akan aku lakukan karena akan percuma. Dan sekarang, aku hanya memberimu dua pilihan itu" ujar tuan Bastian.


Devan menghela nafasnya dan mengangguk pelan. Mungkin ini sudah jalan nya. Apapun yang dia pilih, dua dua nya pasti akan menyakiti Shabrina. Tapi dia tidak ingin seumur hidupnya menyesal. Jadi dia akan memilih......

__ADS_1


"Aku akan mengembalikan jantung putra kalian!"


__ADS_2