Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Devan Yang Terlihat Berbeda


__ADS_3

Malam ini Shabrina dan juga anak anak nya sedang makan malam bersama. Mereka makan tanpa Devan, karena Hans berkata jika Devan akan pulang malam hari ini. Ada sedikit pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Mereka makan seperti biasa, suara Nesya yang selalu menjadi pengisi keheningan di ruang makan itu.


"Bunda, ayah kenapa lama sekali?" tanya Nesya. Dia baru saja selesai makan.


"Ayah lembur nak. Kan om Hans bilang pekerjaan ayah banyak" jawab Shabrina seraya merapikan piring bekas anak nya makan.


"Huh.... padahal Nesya ingin ajak ayah main" gerutu Nesya.


"Besok kalau ayah sudah pulang baru main sama ayah ya. Sekarang ayo kita kekamar. Nesya sama kakak istirahat dulu. Besok kita pergi kerumah sakit kan" ajak Shabrina.


"Nesya gak mau pergi kalau gak sama ayah ya bunda" ujar Nesya.


"Iya sayang" jawab Shabrina


"Pak Mun, kami masuk dulu ya" pamit Shabrina pada pak Mun yang sejak tadi berdiri disana.


"Baik nyonya. Selamat beristirahat" jawab pak Mun


"Daaah pak Mun. Jangan lupa makan ya, biar gemuk" ujar Nesya.


Pak Mun tertawa dan mengangguk cepat.


"Kamu itu suka sekali mengejek orang" gerutu Arsya yang berjalan mengikuti Nesya.


"Mengejek gimana sih kakak. Nesya cuma suruh pak Mun makan biar dia gemuk. Nesya gak bilang kalau pak Mun kurus" jawab Nesya dengan polos nya.


Arsya hanya mendengus gerah memandang Nesya.


Shabrina membawa anak anak nya masuk kedalam kamar mereka masing masing. Sebelum tidur, Shabrina menemani Arsya belajar, Nesya juga ikut belajar bersama kakak nya.


Sungguh, kebahagiaan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Melihat anak anak nya bahagia seperti ini.


Tapi yang Shabrina khawatirkan adalah dengan permintaan Adinda siang tadi. Kenapa sudah enam tahun berlalu dia masih saja meminta Shabrina untuk meninggalkan Devan. Kenapa dia tidak juga bisa melepaskan Devan. Sungguh Shabrina tidak habis fikir.


Untuk kali ini, Shabrina ingin egois. Dia tidak akan lagi mengalah. Anak anak nya butuh Devan, dan anak anak nya juga butuh dia. Jadi bagaimana pun caranya Shabrina harus mempertahankan rumah tangga nya demi kedua anak nya ini.


Ya ... dia harus bisa bertahan kali ini. Ada kedua anak nya yang membutuhkan ayah mereka.


Cukup lama Shabrina menemani anak-anak nya, tapi Devan belum juga pulang. Tidak biasanya, apa pekerjaan nya begitu banyak.


Biasanya Devan pasti pulang cepat dan tidak melewatkan sedikit pun waktu bersama mereka. Tapi malam ini, Devan malah lambat pulang. Bahkan sampai Nesya dan Arsya tertidur, Devan belum juga pulang.

__ADS_1


Perasaan Shabrina jadi cemas. Tidak tahu kenapa. Tapi dia merasa jika terjadi sesuatu pada Devan. Apalagi pagi tadi Devan yang terlihat berbicara begitu serius dengan Hans.


Apa telah terjadi sesuatu?


Ceklek


Suara pintu kamar yang terbuka membuat Shabrina menoleh. Dan dia langsung tersenyum karena ternyata orang yang dia khawatirkan sudah kembali.


Shabrina bisa bernafas lega sekarang.


Dia langsung menyelimuti tubuh Nesya dengan baik. Dan setelah itu langsung berjalan mendekati Devan yang hanya berdiri mematung didepan pintu. Entah kenapa dia tidak masuk. Apa mungkin dia takut membangunkan Nesya?


Bisa Shabrina lihat jika wajah Devan terlihat lelah dan kusut. Bahkan wajah tampan itu terlihat begitu lemas.


"Mas sudah pulang" sapa Shabrina seraya menutup pintu kamar Nesya.


grep


Shabrina terkejut saat tiba tiba Devan memeluk tubuhnya. Sangat erat bahkan Shabrina sampai merasa sesak.


Dia mematung heran merasakan pelukan Devan ini. Jika biasanya Devan memeluk nya dengan hangat dan lembut, tapi kenapa malam ini terasa begitu berbeda?


"Mas... kenapa?" tanya Shabrina dengan lembut. Dia mengusap punggung kekar itu dengan pelan.


"Tidak ada, hanya ingin memeluk" jawab Devan yang masih menyembunyikan wajahnya dibalik bahu Shabrina.


Shabrina hanya diam dan terus membiarkan Devan memeluk tubuhnya, hingga lelaki itu merasa puas barulah Devan melepaskan pelukan nya.


"Kita kekamar" ajak Shabrina seraya meraih jas dari tangan Devan.


Devan tersenyum tipis dan mengangguk. Dia langsung meraih tangan Shabrina dan menggenggam nya dengan lembut.


Perasaannya memang sedang tidak baik baik saja sekarang.


Sesampainya didalam kamar, Devan juga tidak ada bersuara. Sebenarnya Shabrina cukup heran. Tapi dia tidak ingin bertanya lebih, apalagi ketika melihat wajah lelah Devan.


"Mandilah, air hangat nya sudah Shasa siapkan" ucap Shasa.


"Iya, terimakasih" jawab Devan. Bahkan dia langsung berlalu menuju kamar mandi. Meninggalkan Shabrina yang mematung memandangi punggung nya.


Ada apa sebenarnya?


Shabrina menghela nafasnya dan pergi untuk membuat air jahe untuk Devan. Mungkin karena lelah, jadi Devan terlihat berbeda malam ini. Semoga saja, sikap Devan ini bukan karena Adinda.


Dan tidak lama setelah selesai membuatkan air jahe, Devan juga sudah selesai mandi. Wajahnya sudah terlihat lebih segar dari pada tadi.

__ADS_1


"Minum dulu mas" ujar Shabrina seraya duduk disamping Devan dan menyerahkan air jahe nya.


Devan meraih gelas itu dan menyesapnya perlahan. Rasa hangat dan segar jahe itu bisa sedikit membuat nya tenang dan juga relaks. Dia meletakkan gelas itu diatas meja nakas dan kembali menoleh pada Shabrina.


"Lelah ya?" tanya Shabrina.


"Lelah sekali" jawab Devan.


"Kemari" ajak Shabrina. Dia langsung naik ke tempat tidur dan menepuk nepuk pahanya. Membuat Devan tersenyum dan langsung berbaring dipangkuan Shabrina.


Matanya langsung terpejam saat merasakan tangan halus Shasa yang memijat kepala nya dengan lembut.


Ah... nyaman sekali.


Shabrina tersenyum tipis melihat Devan yang terlihat relaks. Wajah tampan nya tidak bisa berbohong, jika dia memang sedang menyimpan beban yang cukup besar.


"Sha...." panggil Devan tiba tiba.


Shabrina hanya memandang Devan dan mengusap kepala Devan dengan lembut.


"Bagaimana Arsya hari ini?" tanya Devan.


"Baik mas. Arsya cukup pintar. Dia bisa berbaur dan beradaptasi dengan baik. Bahkan dia sudah mulai bisa menulis dengan baik" jawab Shabrina.


"Syukurlah. Aku takut dia tidak nyaman" jawab Devan.


"Dia pintar dan hebat. Sama seperti ayahnya" ucap Shabrina seraya mengusap wajah Devan dengan lembut.


Devan tersenyum dan meraih tangan Shabrina. Mengecup nya dengan lembut dan memeluk tangan itu didadanya.


"Tadi Shasa bertemu Adinda" ucap Shabrina.


Dan bisa dia lihat jika wajah Devan terlihat begitu terkejut.


"Apa dia melakukan sesuatu pada kamu lagi?" tanya Devan.


Namun Shabrina menggeleng dan tersenyum.


"Tidak, tapi permintaan nya masih sama seperti dulu" jawab Shabrina.


"Kamu tidak akan pergi meninggalkan mas lagi kan sayang?" tanya Devan. Wajahnya berubah sendu sekarang.


"Untuk kali ini, Shasa ingin egois. Shasa sudah pernah pergi selama enam tahun. Dan kali ini, apapun yang terjadi, Shasa tidak akan mengalah dan pergi lagi" jawab Shasa.


"Janji? apapun yang terjadi?" pinta Devan.

__ADS_1


Shasa mengangguk dengan yakin. Seyakin hatinya yang tidak ingin lagi kehilangan.


__ADS_2