Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Shabrina mengusap kepala Nesya yang baru saja tertidur. Anak perempuan nya ini terlihat kelelahan dan ketakutan setelah dari rumah orang tua Devan tadi.


Perlakuan kedua orang tua Devan cukup buruk, dan masih saja sama seperti yang dulu. Apalagi ketika melihat nya, wajah benci nyonya Kartika masih begitu melekat.


Sedih, tentu saja. Apalagi ketika mereka berkata jika mereka hanya mau menerima anak anak Devan, tapi tidak dengan dia.


Menyedihkan sekali memang, tapi Shabrina cukup bersyukur, dia mempunyai anak anak yang mau melindunginya, yang mau membela dia dan berada di garda terdepan untuk dia. Meskipun didalam hati, Shabrina tetap saja takut jika mereka akan mengambil anak anak nya suatu hari nanti.


Apa jadinya Shabrina jika tanpa kedua anak nya ini???


"Sha..."


Suara Devan membuat Shabrina menoleh. Devan baru saja dari kamar Arsya dan melihat anak lelaki nya yang hebat itu.


Dia tersenyum memandang Shabrina yang masih saja nampak sendu.


"Kita istirahat?" ajak Devan.


Shabrina tertegun.


Kita???


Astaga... dia baru ingat jika mereka kan sudah menikah, apa itu berarti malam ini dia dan Devan harus tidur bersama?


Shabrina memalingkan wajahnya dan kembali memandang Nesya.


Rasanya masih begitu canggung. Terasa seperti ada sesuatu yang membuat Shabrina merasa aneh dan berbeda.


Meski dulu mereka adalah sepasang kekasih, tapi tetap saja, berpisah selama enam tahun dengan keadaan yang menyakitkan membuat dia tidak lagi memikirkan perasaan nya.


Bukan tidak cinta, dia yakin cintanya hanya untuk Devan. Bahkan tiada hari tanpa mengingat Devan. Hanya saja, terasa berbeda.


Dan sekarang mereka dipertemukan lagi dalam keadaan seperti ini. Tentu semua tidak lagi sama. Rasanya ini adalah pertemuan pertama mereka, terasa seperti memulai sesuatu dari awal kembali.


Terasa sangat canggung, apalagi dengan status yang tiba tiba berubah.


Melihat Shabrina yang nampak berat, Devan pun hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya dia memang tidak bisa memaksakan Shabrina untuk menjadi miliknya secepat ini.


"Jika kamu ingin tidur dengan Nesya lagi. Tidak apa apa. Aku kekamar duluan ya" ucap Devan.


Shabrina kembali menoleh pada Devan, ada secarik kecewa diwajah tampan itu.


"Mas ... tidak apa apa?" tanya Shabrina dengan ragu.


Devan tersenyum dan menggeleng. Dia mengusap kepala Shabrina dengan lembut.

__ADS_1


"Tidak apa apa, aku mengerti" jawab Devan. Meski didalam hati dia sudah sangat ingin melepaskan rindu yang selama ini terpendam. Tapi nampaknya, semua memang tidak bisa dipaksakan sesuai dengan keinginannya.


"Aku keluar dulu" pamit Devan, yang langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar.


Shabrina mematung memandang kepergian Devan. Tidak, tidak bisa begini, dia istri Devan dan sudah seharusnya dia menjadi istri yang baik untuk pria itu kan. Bukankah sejak dulu ini yang dia harapkan.


"Mas" panggil Shabrina


Devan yang sudah tiba di ambang pintu langsung menoleh.


"Aku ikut" ucap Shabrina


Devan langsung tersenyum dan mengangguk. Dia menunggu Shabrina yang sedang membenarkan selimut Nesya.


Dan setelah itu Devan langsung menjulurkan tangan nya kearah Shabrina.


Wajah Shabrina sedikit merona saat meraih tangan itu. Tangan kekar yang dulu adalah sebagai tempat dia bermanja.


Devan membawa Shabrina kekamarnya. Kamar yang memang berada tidak jauh dari kamar anak anak mereka.


Sembari berjalan, Shabrina terus memperhatikan Devan dari belakang.


Kenapa rasanya jadi canggung seperti ini. Bahkan debaran jantung nya benar benar tidak menentu sekarang. Apalagi saat Devan membawa dia masuk kedalam kamar.


Ya ampun... Padahal mereka bukan lagi pengantin baru. Mereka sudah pernah melakukan itu. Hal terlarang yang membuat mereka tanpa sengaja memiliki Arsya dan Nesya.


"Kenapa wajah kamu seperti itu?" tanya Devan. Membuat Shabrina langsung terkesiap


"Tidak ada" jawab Shabrina dengan gelengan kepala nya.


"Tentang omongan mama dan papa, jangan difikirkan lagi ya" pinta Devan seraya menarik Shabrina untuk duduk ditempat tidur mereka.


Shabrina mengangguk pelan, meski jika mengingat itu dia kembali sedih.


"Bagaimana jika orang tua mas mengambil Nesya dan Arsya dari aku?" tanya Shabrina memandang Devan dengan pandangan lirih.


Devan tersenyum dan menggeleng. Tangan nya masih menggenggam tangan Shabrina dengan lembut.


"Tidak akan Sha. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kamu juga bisa lihat kan bagaimana Arsya membela kamu tadi. Dia pasti akan ada digarda terdepan untuk bundanya" jawab Devan seraya mengusap wajah Shabrina dengan lembut.


Shabrina menghela nafas pelan dan mengangguk.


"Jika mereka masih memaksa kamu untuk menikah dengan Adinda bagaimana?" tanya Shabrina lagi.


"Itu terserah mereka. Aku tidak perduli" jawab Devan.

__ADS_1


"Segala macam cara pasti akan mereka lakukan seperti dulu" ucap Shabrina dengan kepala yang tertunduk getir.


"Apa kamu takut jika aku akan meninggalkan kamu?" tanya Devan seraya mengangkat dagu Shabrina


Shabrina terlihat tidak suka mendengar itu.


"Jangan beralasan untuk anak anak Sha. Tapi aku hanya ingin mendengar perasaan kamu sendiri. Bukan dengan alasan anak anak kita. Aku ingin tahu bagaimana perasaan kamu padaku setelah enam tahun ini" ujar Devan.


Shabrina tertegun mendengar itu. Pandangan mata mereka kini saling pandang dengan lekat.


"Semenjak bertemu, kamu selalu menjaga jarak dengan ku. Kamu tidak lagi manja seperti dulu, bahkan untuk tersenyum pun kamu sudah tidak ingin lagi. Padahal aku merindukan semua nya. Semua yang ada padamu seperti dulu" ungkap Devan.


Mata Shabrina langsung berair mendengar itu.


"Aku tahu luka mu masih begitu besar, rasa sakit itu pasti masih tertanam dihati kamu. Tapi tidak bisakah untuk menjadi Shasa ku yang dulu" pinta Devan lagi.


Kali ini nada bicara nya terdengar begitu sedih.


Shasa menunduk dan menghela nafasnya dalam dalam.


"Apa kamu meragukan perasaan ku mas?" tanya Shasa.


"Aku tidak meragukan kamu. Hanya saja, semua terasa begitu berbeda" jawab Devan.


Shabrina tersenyum getir dan langsung memalingkan wajahnya.


"Aku bahkan sudah tidak tahu lagi bagaimana aku dulunya mas. Aku tidak pernah lagi memikirkan perasaan ku sendiri. Yang aku fikirkan hanyalah bagaimana anak anak bisa tumbuh besar dengan baik" ungkap Shabrina terdengar begitu perih.


"Jika kamu bertanya kenapa aku berubah, aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa" ucap Shabrina lagi seiring dengan air mata yang jatuh menetes diwajahnya.


"Dan jika kamu bertanya tentang perasaan ku, sejak dulu hingga sekarang perasaan itu tidak pernah berubah mas. Meski aku sudah memutuskan pergi jauh dari kamu" ungkap Shabrina dengan Isak tangis yang mulai terdengar dari bibir nya.


Devan langsung menarik Shabrina kedalam pelukannya.


"Maafkan aku Sha" ucap Devan


"Bagaimana aku bisa menghapus perasaan itu, jika bahagia dan luka ku adalah karena perasaan itu mas. Bahkan wajah dan sifat kamu ada bersama Arsya. Bagaimana aku bisa melupakan kamu dan perasaan ini?" lirih Shabrina dengan Isak tangis yang semakin kuat, seiring dengan tangan nya yang memeluk tubuh Devan dengan erat.


"Maafkan aku" gumam Devan.


"Tolong jangan menambah luka itu lagi. Shasa tidak sanggup mas. Sakit.... sakit sekali" pinta Shabrina dalam dekapan Devan.


Devan langsung menangis lirih mendengar bahasa itu.


"Tidak sayang ....tidak... mas janji tidak akan membiarkan kamu terluka lagi. Mas janji" jawab Devan dengan segenap perasaannya.

__ADS_1


Dan malam pertama pernikahan mereka. Adalah malam dimana mereka mengungkapkan segala perasaan mereka yang terpendam selama enam tahun mereka berpisah. Segala rasa sakit dan perasaan rindu yang selama ini mereka pendam. Langsung tercurah dalam dekapan dan tangis masing masing.


__ADS_2