Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Cinta Shabrina


__ADS_3

Kehidupan akan selalu berjalan walau bagaimanapun halang dan rintang yang menghadang. Mencintai seseorang yang berbeda status sosial memang terasa sulit. Sangat sulit dan terasa begitu berat.


Hinaan, rasa sakit, dan pengorbanan selama enam tahun sudah Shabrina lalui dengan hati yang lapang, meski sebenarnya dia selalu menangis didalam setiap kesendirian.


Tapi walau bagaimana pun dia menghindar, sejauh apapun dia pergi, jika memang itulah jodohnya, Devan akan tetap kembali padanya.


Restu orang tua pernah membuat dia pergi menjauh, tapi Devan tetap kembali. Dan belum hanya sampai disitu ternyata, permasalahan Devan dengan kehidupan masa lalu nya juga ternyata harus membuat Shabrina merasa gundah dan kembali bersedih. Tapi tetap saja, sekarang semua sudah bisa terlalui dengan damai.


Shabrina sempat berfikir, apa dia harus berjuang lagi, mengalah lagi, dan kalah lagi. Tapi ternyata, Tuhan masih begitu baik untuk memberikan dia kebahagiaan yang selama ini bahkan terlalu takut untuk dia bayangkan.


Sekarang...


Semua sudah ada dalam genggaman tangan nya.


Devan telah kembali, putri kecilnya juga sudah sembuh setelah beberapa Minggu berada dirumah sakit.


Kini, kebahagiaan dan kehidupan yang tenang sudah bisa dia rasakan.


Shabrina tersenyum saat melihat Arsya dan Nesya yang bermain ditaman belakang rumah mereka. Bermain menangkap ikan ikan peliharaan Devan bersama pak Mun.


Tawa ceria Nesya membuat hati Shabrina benar benar haru. Sebab rasa takut itu kini sudah mulai memudar.


Sudah sebulan berlalu sejak operasi jantung Nesya, kini mereka sudah berada dirumah karena Nesya juga sudah di nyatakan sehat oleh dokter Satria.


Sungguh...


Shabrina sangat bersyukur.


Grep


Shabrina terkesiap saat tiba tiba sebuah tangan melingkari perut nya.


Dia tersenyum dan mengusap lengan kekar itu dengan lembut.


Harum aroma maskulin ini membuat Shabrina begitu terbuai.


"Mas sudah pulang, kenapa cepat sekali?" tanya Shabrina seraya menoleh sedikit kearah Devan.


Cup


Satu kecupan langsung mendarat di pipinya. Membuat Shabrina langsung memalingkan wajah nya dan sedikit menghindar.


"Sudah tidak ada pekerjaan lagi. Lagipula mas rindu dengan istri mas dan anak anak" jawab Devan yang semakin mengeratkan pelukan nya.


"Mas... jangan seperti ini. Malu dilihat anak anak" ujar Shabrina


"Mereka sedang asik, tidak akan melihat" jawab Devan.


Shabrina menghela nafas pelan dan langsung tertawa kecil saat Devan malah bermain dileher nya.


Entah kenapa sekarang, suami tampan nya ini begitu manja padanya. Bahkan tidak lagi malu bermanja disaat ada anak anak nya seperti ini.


"Ayah!!!!!" seru Nesya yang berlari mendekat kearah mereka.


"Tuh kan... dilihat anak" ucap Shabrina seraya menampar sekilas lengan Devan.


Devan terkekeh dan langsung melepaskan Shabrina, bergantian dengan Nesya yang langsung masuk kedalam pelukan nya.


"Enggak boleh peluk bunda lama lama, Nesya juga mau ayah" protes Nesya dengan wajah cemberutnya yang begitu menggemaskan.


Devan tertawa geli mendengar nya, begitu pula dengan Shabrina.


"Kan gantian sayang. Ayah juga sayang bunda. Masak gak boleh peluk" jawab Devan seraya mencium gemas putri kecilnya ini.


"Boleh, tapi jangan lama lama" sahut Nesya.


"Iya iya..." jawab Devan yang memeluk gemas Nesya.


"Kalian sedang apa hmm. Mengacau ikan ayah lagi?" tanya Devan seraya berjalan menuju Arsya yang masih berada dikolam ikan nya bersama pak Mun. Sementara Shabrina berjalan kedalam rumah untuk mengambil minuman dan makanan ringan.


"Kakak ingin ambil ikan ayah" adu Nesya.


Devan menghela nafasnya dan berjalan mendekat kearah Arsya.


"Tuan" sapa pak Mun. Devan hanya mengangguk sekilas dan kembali memandang Arsya.


"Sedang apa?" tanya Devan pada Arsya. Dia menurunkan Nesya dan berjongkok disamping Arsya yang terlihat mengaduk aduk kolam ikan dengan jaring nya.


"Mau ambil ikan ayah" jawab Arsya.


"Untuk apa nak?" tanya Devan begitu heran. Pasal nya sejak tadi Arsya hanya mengaduk aduk ikan Khoi milik nya.


"Untuk dibakar ayah. Pasti enak makan ikan bakar yang langsung dari kolam nya" jawab Arsya begitu polos.


Devan terperangah dan langsung menoleh pada pak Mun yang terlihat tersenyum canggung.

__ADS_1


"Maaf tuan, tuan muda ingin ikan yang disini. Saya sudah menawarkan pergi ke kolam pancingan tapi tuan muda tidak mau" adu pak Mun.


"Kan kalau disini tidak mengeluarkan duit lagi ayah. Tinggal ambil" ucap Arsya dengan begitu polosnya.


Membuat Devan langsung tepuk jidat mendengar itu.


Apa Arsya tidak tahu jika harga satu ikan Khoi ini bisa membeli satu kolam pemancingan dengan lahan lahan nya???


Astaga...


"Arsya... ini ikan peliharaan nak. Bukan untuk dimakan. Bagaimana jika kita memancing saja. Ayah sudah janji pada Arsya kan" rayu Devan.


"Memang nya ini tidak bisa dimakan?" tanya Arsya.


"Bisa.. tapikan ini ikan peliharaan ayah. Mana tega ayah memakan nya" jawab Devan.


Arsya menghela nafas berat, dia bahkan melepaskan jaring yang sejak tadi dia pegang kepinggir kolam.


Wajahnya terlihat sedih, dan itu malah membuat Devan tidak tega.


"Besok ayah libur, bagaimana jika mengabiskan waktu dikolam pancing dan memancing banyak ikan" tawar Devan.


"Ayah suka bohong. Sudah kedua kali, tapi ayah mengingkari nya" sahut Arsya.


Devan tersenyum dan langsung merangkul tubuh Arsya, sedangkan Nesya sudah bermain dengan makanan ikan Devan.


"Tidak, kali ini ayah tidak akan mengingkari nya. Waktu itu kan kita sibuk dengan Nesya dan bunda yang sakit. Tapi sekarang tidak lagi, jadi kita bisa memancing nanti" jawab Devan.


"Ayah janji ya " pinta Arsya.


"Janji sayang" ucap Devan seraya mengusap kepala Arsya dengan gemas.


"Nesya ikut memancing ayah" seru Nesya seraya menebarkan makanan ikan kedalam kolam, hingga membuat ikan ikan itu nampak berkumpul.


"Iya, nanti kita ajak bunda juga. Kita sekalian piknik disana" jawab Devan.


"Yeay ... piknik!!!" seru Nesya begitu senang. Bahkan sangking senang nya dia menumpahkan semua makanan ikan yang ada didalam wadah.


"Astaga nak.... Kenapa ditumpahkan" tanya Devan dengan wajah frustasi nya.


"Biar gemuk ayah" jawab Nesya dengan polosnya.


Devan hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya umur ikan ikan kesayangan nya ini tidak akan lama lagi. Tadi Arsya yang mengaduk aduk dan membuat mereka mabuk, dan sekarang malah Nesya lagi yang membuat ulah.


Astaga....


"Ayah kesana dulu, jangan main terlalu dekat dipinggir kolam ya" ujar Devan pada kedua anak nya.


"Oke ayah" jawab mereka.


Devan hanya bisa menggeleng pasrah dan berjalan menuju Shabrina. Dia yang tidak setiap saat bersama dengan anak anak nya saja terkadang begitu repot dibuat oleh mereka. Bagaimana dengan Shabrina yang dua puluh empat jam? Ah... dia pasti begitu lelah.


Devan langsung duduk meleseh diatas tikar disamping Shabrina.


Seraya meraih gelas jus jeruk dari tangan istrinya. Menenggak nya hingga tinggal separuh lagi.


"Pusing ya sama kelakuan anak anak" ucap Shabrina seraya memandang anak anak nya yang bermain dipinggir kolam bersama pak Mun.


"Tidak. Mas malah senang mereka begitu aktif dan ceria. Hanya saja terkadang merasa sedih ketika Arsya dan Nesya masih selalu berfikir jika ayah nya tidak bisa memberi mereka kemewahan" jawab Devan.


Shabrina langsung tersenyum tipis mendengar itu.


"Itu karena sejak dulu mereka sudah hidup kekurangan. Shasa tidak pernah bisa memberikan mereka apapun yang berharga. Bahkan untuk sepiring nasi saja sudah terasa begitu nikmat untuk mereka" ungkap Shabrina. Matanya kembali berkaca kaca. Membuat Devan semakin merasa bersalah.


Dia merangkul pundak Shabrina dengan lembut.


"Kamu sudah berjuang sayang. Mas benar benar tidak tahu harus bagaimana membalas semua perjuangan kamu yang membesarkan mereka sendirian. Tapi dengan begini, bukan kah ketika besar nanti mereka tidak akan menjadi orang yang sombong ketika mereka sudah memiliki segalanya" ucap Devan.


Shabrina tersenyum sendu dan mengangguk.


"Ya, semoga mereka bisa menjadi anak anak yang bisa selalu menghargai setiap kehidupan. Menjadi anak anak yang penuh rasa syukur" harap Shabrina.


"Tentu saja. Didikan bunda nya pasti akan selalu mereka ingat" jawab Devan.


"Dan peran ayah juga sangat mereka butuhkan mas" sahut Shabrina lagi.


"Iya sayang, mulai sekarang, kita didik anak anak kita supaya mereka bisa menjadi anak anak yang bisa membanggakan kita kelak ya" ucap Devan


Shabrina tersenyum dan mengangguk. Perjalanan hidup enam tahun bukan waktu yang singkat. Rasanya jika mengingat itu, sampai saat ini Shabrina masih selalu ingin menangis. Bekerja siang malam untuk mencari sesuap nasi demi anak anak nya kenyang, masih begitu Shabrina ingat. Bahkan dia harus bekerja ditengah tengah merawat Nesya yang sering sakit sakitan.


Hinaan tetangga, gunjingan orang orang yang selalu memandang rendah dirinya karena tidak mempunyai suami, hingga hutang yang selalu ada disetiap warung benar benar menjadi hal yang begitu teriris jika di ingat.


Rasanya tidak pernah terbayangkan jika Shabrina akan ada dititik ini.


"Sayang..." panggil Devan. Membuat Shabrina langsung menoleh kearah nya.

__ADS_1


"Terimakasih untuk semua nya" ucap Devan.


"Terimakasih juga masih selalu ada untuk mencintai Shasa mas" balas Shabrina pula.


"Sampai kapanpun. Sampai detak jantung ini masih bekerja, aku akan selalu mencintai kamu" jawab Devan.


Shabrina langsung mendengus senyum dan menggeleng.


Wajahnya terasa memanas setiap kali mendengar kata kata manis itu.


"Mas sudah pintar merayu" ucap Shabrina


Devan tertawa kecil dan menggeleng. Gemas sekali dia melihat wajah Shabrina yang memerah seperti ini.


"Tidak merayu. Mas berkata benar sayang" jawab Devan. Dan Shabrina hanya mengangguk tipis saja.


"Oh iya, besok mas ingin membawa Arsya memancing dikolam pemancingan. Kamu mau ikut atau mau spa saja dirumah?" tanya Devan seraya meminum kembali jus jeruk nya.


"Ikut sajalah, Nesya juga pasti ingin ikut besok. Lagi pula sudah kemarin Shasa melakukan itu" jawab Shabrina.


"Setiap hari juga tidak apa apa sayang. Kamu harus memanjakan diri sekarang. Sudah cukup lelah selama ini. Sekarang, biar aku yang bekerja. Anak anak juga ada pak Mun yang menjaga. Jadi kamu bisa menggunakan waktu senggang untuk menenangkan diri dan merawat diri kamu" ujar Devan.


Shabrina tersenyum dan mengangguk.


"Mungkin jika mama tahu kalau Shasa spa dirumah, dia pasti bilang jika Shasa hanya menghabiskan uang mas" ucap Shabrina


Devan tersenyum dan menggeleng pelan.


"Tidak lah, mama bahkan meminta supaya mas lebih memperhatikan kamu. Dia mau kamu berubah menjadi seperti wanita wanita cantik dan elegan. Agar dia bisa membawa kamu untuk bertemu dengan teman teman nya nanti" ungkap Devan.


"Benar mama bilang begitu?" tanya Shasa


"Benar sayang. Dia ingin kamu terlihat cantik dan terlihat bahagia hidup bersama mas." jawab Devan.


Shabrina mendengus senyum dan menggeleng pelan.


Sejak pulang dari rumah sakit, Devan memang selalu mendatangkan layanan salon dan spa kerumah mereka. Dia ingin Shabrina merawat dirinya dan memanjakan tubuhnya yang selama ini sudah lelah.


"Mama juga bilang, jika bulan depan akan mengadakan resepsi pernikahan untuk kita"


deg


Shabrina langsung tertegun mendengar itu.


"Resepsi pernikahan?" tanya Shabrina lagi


"Iya, dia ingin kita menikah kembali, kita kan baru menikah secara agama waktu itu. Dan sekaligus dia ingin membuat resepsi untuk kita. Malam nanti kita diminta kerumah utama untuk membicarakan hal ini" jawab Devan.


"Apa itu masih perlu mas. Shasa menikah resmi dengan mas saja sudah senang. Apalagi kita sudah mempunyai dua anak. Apa kata orang orang nanti" ucap Shasa terlihat begitu ragu.


"Mas juga sudah bilang ini pada papa dan mama. Tapi mereka ingin kita menikah dengan pesta yang mewah. Kamu tahu kan, jika mas anak tunggal. Ini adalah yang pertama. Masalah anak anak, jangan khawatir. Semua bisa di atur oleh papa" jawab Devan


Shabrina menghela nafasnya dengan pelan.


Rasanya aneh, dia memang ingin merasakan pernikahan yang mewah seperti perempuan pada umumnya. Tapi ketika melihat anak anak nya yang sudah besar. Apa itu masih pantas??.


"Memikirkan apa hmm?" tanya Devan yang mencubit gemas hidung Shabrina


"Hanya merasa aneh saja mas" jawab Shabrina.


Devan tersenyum dan menggeleng pelan


"Bukan kah ini janji mas dulu, yang akan memberikan kamu pernikahan yang mewah. Dan sekarang sudah didukung oleh mama dan papa. Jadi semua pasti akan berjalan dengan aman" ucap Devan


Shabrina mendengus senyum dan mengangguk.


"Terimakasih mas. Shasa benar benar bahagia. Karena akhirnya, bukan hanya menikah dengan mas, tapi papa dan mama juga mau menerima Shasa sebagai menantunya" ungkap Shabrina


Devan tersenyum dan langsung memeluk Shabrina dengan gemas. Dia juga bahagia dengan semua yang mereka dapatkan ini. Padahal beberapa waktu lalu, semua terasa begitu berat. Tapi nyatanya, sekarang sudah ada dalam genggaman.


"Semua sudah selesai sayang. Perjuangan dan pengorbanan kamu selama ini sudah cukup. Dan waktunya sekarang kamu untuk bahagia" ujar Devan


"Ya, bahagia bersama sama mas" jawab Shabrina.


"Tentu.. mas sangat mencintai kamu sayang. Terimakasih untuk cinta yang selalu kamu jaga selama ini" ucap Devan.


"Shasa juga sangat mencintai mas" jawab Shabrina.


Kebahagiaan dan segala harapan akan mereka raih setelah ini.


Cinta yang dimiliki Shabrina ternyata mampu menjadi penguat dia dalam setiap jejak kehidupan nya.


Begitu pula dengan Devan. Dia sudah membayangkan hal yang begitu menyakitkan, yaitu meninggalkan Shabrina dan anak anak nya karena permasalahan yang dia miliki. Namun ternyata semua bisa terlalui. Dan kini, dia akan membalas kebaikan dan perjuangan istrinya selama ini.


Cinta Shabrina yang begitu besar untuk dia dan anak anak nya.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2