
Hari ini Devan dan Shabrina membawa Nesya kerumah sakit.
Nesya akan diperiksa kembali untuk mengecek jantung nya, apakah masih bisa diobati atau harus melakukan operasi seperti Devan waktu itu.
Malam tadi Shabrina dan Devan dikejutkan dengan keadaan Nesya yang kembali sesak nafas. Bahkan karena keadaan Nesya membuat Devan dan Shabrina yang masih ingin membicarakan hal yang sedang mengganggu fikiran Devan menjadi buyar. Karena perhatian mereka malah teralihkan pada Nesya.
Siang ini Nesya sudah berada ditempat tidur rumah sakit.Alat bantu pernafasan sudah terpasang dihidung nya. Nesya masih tertidur, jadi Devan dan Shabrina duduk disofa untuk menjaga Nesya.
Arsya masih disekolah, dan pak Mun yang bertugas untuk menjemputnya nanti.
Hans masih sibuk diperusahaan. Dan dia tidak bisa diganggu hari ini.
"Sudah jangan sedih, Nesya tidak apa apa" ujar Devan seraya mengusap bahu Shabrina dengan lembut.
"Shasa takut mas. Jika saja Nesya diobati sejak dulu mungkin sekarang dia tidak perlu di operasi" jawab Shabrina.
Dokter Satria mengatakan jika Nesya menderita penyakit jantung bawaan, dimana ada beberapa katup jantung nya yang bocor. Hingga itu yang menyebabkan Nesya sering merasa dadanya sakit dan juga sesak nafas. Pertumbuhan nya yang terhambat dan juga sering lelah. Jika ditangani sejak lama, mungkin penyakit Nesya tidak separah ini, dan sekarang mereka memang harus melakukan operasi untuk membuat jantung Nesya sehat kembali.
Shabrina benar benar merasa terpukul mendengar itu.
"Sayang... bukan salah kamu. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk Nesya. Meskipun terdengar mengerihkan, tapi jantung Nesya masih bisa berfungsi dengan baik. Jadi dia tidak memerlukan transplantasi jantung. Kita berdoa untuk kesembuhan Nesya ya" ujar Devan.
Shabrina mengangguk dengan mata yang berkaca kaca memandang Nesya.
"Nesya seperti ini karena mas" ucap Devan lagi.
Shabrina langsung memandang Devan kembali.
"Mas juga dulu menderita penyakit jantung seperti Nesya. Bahkan sudah hampir mati" ungkap Devan.
Shabrina langsung mematung mendengar itu.
"Benarkah?" tanya Shabrina tidak percaya.
Devan tersenyum tipis dan mengangguk.
"Ya, kamu dengar perkataan dokter Satria tadi kan. Jika penyakit Nesya ini adalah karena faktor genetik. Dan itu diturunkan dari mas" jawab Devan.
Shabrina tertegun tidak percaya mendengar ini. Jadi Devan juga mengidap penyakit jantung bawaan?
"Dulu harapan untuk mas hidup itu kecil. Apalagi jantung mas sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. Nesya beruntung karena dia masih bisa bermain dan tertawa. Mas dulu, hanya untuk berjalan saja sudah tidak sanggup" ungkap Devan dengan senyum getirnya.
Shabrina kembali memandang Nesya dengan getir.
__ADS_1
"Papa dan mama benar benar putus asa saat itu. Mencari donor jantung tidak mudah, harus menunggu bertahun tahun. Sedangkan keadaan mas sudah tidak bisa bertahan lama. Bertahan sampai usia delapan tahun saja rasanya sudah menjadi sebuah mukjizat dari Tuhan." kata Devan lagi.
"Apa mas melakukan transplantasi jantung juga?" tanya Shabrina.
Devan tersenyum dan mengangguk. Namun raut wajahnya nampak berubah sekarang. Dan itu sungguh membuat Shabrina heran.
"Ya, ada orang baik yang merelakan jantung nya diberikan pada mas. Hingga mas bisa hidup sampai saat ini" jawab Devan.
Dia menoleh pada Shabrina yang nampak memandang nya dengan lekat.
"Kamu mau tahu siapa orang itu?" tanya Devan.
Shabrina hanya diam, tapi matanya menunjukkan rasa penasaran yang besar.
"Kakak Adinda "
deg
Dan kini, jantung Shabrina yang terasa terlepas dari tempatnya. Bahkan dia langsung memalingkan wajahnya dari Devan.
Kakak Adinda?
Kenapa harus dia. Dan apa karena jantung itu yang membuat mereka meminta Devan untuk menikahi Adinda.
Devan terlihat menghela nafasnya dengan berat.
Shabrina terdiam dengan perasaan yang tidak menentu. Mungkin karena hal ini yang membuat Devan terlihat berbeda semalam. Ya, mungkin dia masih begitu terpukul dengan kenyataan yang dia terima.
"Apa karena itu yang membuat mereka menjodohkan mas dan Adinda" tanya Shabrina. Suara nya terdengar begitu dalam dan getir.
"Ya, sebagai imbalan karena mereka telah merelakan jantung putra mereka untuk mas" jawab Devan.
Shabrina langsung tertunduk sedih.
Kenapa harus seperti ini?
Kenapa semakin rumit saja?
Shabrina juga jadi mengingat pertemuan nya dengan Adinda semalam.
Gadis itu terlihat begitu hancur dan sedih saat mengetahui jika Shabrina telah memiliki anak dari Devan. Bahkan dengan teganya dia meminta Shabrina untuk melepaskan Devan.
Apa karena jantung yang dimiliki oleh Devan ini hingga dia begitu berniat untuk memiliki Devan?
__ADS_1
Atau karena rasa cinta yang begitu besar?
"Apa saat tahu kenyataan ini mas akan pergi meninggalkan kami?" tanya Shabrina. Air mata mulai menetes diwajahnya. Namun dengan cepat Devan menghapusnya.
"Sha .. aku memang hidup karena pertolongan mereka. Tapi aku hidup hanya untuk kalian. Aku tidak mungkin meninggalkan kamu dan anak anak" jawab Devan.
"Tapi bagaimana jika mereka mengungkit tentang hal ini mas?" tanya Shabrina.
Devan menghela nafasnya kembali. Dia juga tidak tahu bagaimana dia harus menyikapi hal ini. Dia memang berhutang nyawa pada mereka. Tapi bukan berarti dia membayarnya dengan menelantarkan istri dan anak anak nya kembali kan.
Tidak...
Tidak mungkin itu dia lakukan...
Devan sudah begitu mencintai Shabrina. Dan Adinda, dia hanya menganggap gadis itu sebagai adiknya. Tidak lebih, sebagaimana pemilik jantung ini yang memang adalah kakak Adinda.
"Berdoa saja yang terbaik untuk hubungan kita ya" pinta Devan.
Shabrina langsung memeluk Devan dengan erat.
"Shasa takut mas pergi. Anak anak butuh mas" ungkap Shabrina begitu lirih.
"Shasa juga tidak ingin kehilangan lagi. Sakit mas, sakit sekali" kata Shabrina lagi.
Devan mencium pucuk kepala Shabrina dengan mata yang terpejam.
Tuhan....
Harus apa dia sekarang???
Ini lebih sulit ketimbang Adinda yang mencintai dia. Tapi ini menyangkut tentang hutang nyawa yang telah terjadi.
Masih Adinda yang selalu menuntut. Bagaimana jika orang tua Adinda yang menuntut, seperti yang dikatakan oleh orang tuanya.
Tidak... tidak bisa. Devan akan mendatangi orang tua Adinda setelah ini.
Ya, semoga saja mereka bisa mengerti jika Devan tidak bisa membalas kehidupan yang telah mereka berikan dengan sebuah pernikahan.
Devan tidak mungkin mengkhianati istri dan anak anak nya.
"Apapun yang terjadi. Mas tetap sama seperti dulu sayang. Mas hanya akan menikah dengan kamu. Hanya kamu dan anak anak" ungkap Devan terdengar begitu lirih.
Shabrina hanya bisa menangis. Masalah Nesya belum selesai, dan sekarang ditambah dengan masalah baru yang lebih rumit lagi.
__ADS_1
Sekarang bagaimana mereka menyikapi nya. Devan bisa hidup karena mereka. Dan sekarang Shabrina jadi tahu, kenapa orang tua Devan begitu kekeh untuk menikahkan Devan dengan Adinda. Semua itu semata mata hanya untuk balas Budi.
Keluarga Adinda sudah memberikan kehidupan kepada putra mereka. Sedangkan Shabrina tidak bisa memberikan apapun. Tidak ada. Hanya cinta yang dia punya. Tapi cinta.... apa bisa membuat Devan hidup????