
Devan memeluk Shabrina dengan erat. Menciumi pucuk kepala nya dengan penuh perasaan. Rasa sakit yang begitu mendalam sedang mereka rasakan saat ini.
Shabrina yang tidak rela berbagi suami, dan Devan yang tidak bisa melihat istrinya selalu bersedih seperti ini. Padahal janji Devan adalah untuk membuatnya bahagia. Tapi kenyataan nya, malah Shabrina harus menangis setiap hari.
"Sudah .. jangan menangis lagi" pinta Devan seraya mengusap air mata Shabrina dengan lembut. Memandang wajah sendu yang entah sudah berapa kali menangis hari ini.
"Shasa takut mas. Rasanya Shasa gak sanggup kalau harus dimadu" ucap Shabrina dengan Isak tangis yang masih dia tahan.
"Sayang.... mas gak akan menduakan kamu. Mas gak mungkin bisa" ucap Devan.
"Tapi bagaimana dengan mereka mas?" tanya Shabrina.
Devan menggeleng dan menggenggam tangan Shabrina dengan erat. Seolah mereka memang harus saling menguatkan saat ini.
"Mas akan cari cara. Kamu sabar ya" jawab Devan.
"Tapi apa yang dikatakan oleh ibu mas juga benar. Hutang Budi bisa dibayar dengan Budi, tapi hutang nyawa bagaimana membayar nya. Mas ada disini bersama Shasa dan anak anak juga karena mereka. Dan sekarang....."
"Sssttt" Devan langsung menghentikan perkataan Shabrina.
"Sha... walaupun kamu mengizinkan, aku tetap tidak akan menduakan kamu, apalagi sampai harus menikahi Shabrina." tegas Devan.
"Tapi bagaimana jika mereka memaksa?" tanya Shabrina sedikit berseru.
"Aku lebih baik mati dan mengembalikan jantung ini pada mereka".
deg
Shabrina langsung mematung mendengar itu. Seriuskah Devan dengan perkataan nya itu???
"Sha... aku itu cinta sama kamu. Enam tahun berpisah dengan mu benar benar membuat ku tersiksa. Cinta ku tidak sesederhana itu Sha. Dari pada melihat kamu bersedih karena aku yang menduakan mu, lebih baik aku mati" ungkap Devan dengan begitu serius.
Shabrina menggeleng dan semakin terisak. Dia langsung memeluk Devan dengan erat, sangat erat bahkan Devan sampai merasakan jantung Shasa yang berdetak dengan kuat dan tidak menentu.
"Shasa lebih memilih kita berpisah dari pada harus kehilangan mas untuk selama nya" ucap Shabrina dengan Isak tangisnya.
Devan memejamkan matanya dan terpaku.
"Apa artinya mas hidup jika kamu tidak ada. Arsya dan Nesya butuh kamu. Apa kamu tega meninggalkan mereka?" tanya Devan dengan nada yang begitu lirih.
Shabrina menggeleng dalam dekapan Devan.
"Shasa bingung mas" gumam Shabrina
Devan menghela nafasnya dan melepaskan pelukan Shabrina. Dia memandang lekat wajah istrinya itu seraya menghapus air mata yang seakan tidak ingin berhenti mengalir.
"Kamu mencintai mas Sha?" tanya Devan.
Shabrina mengangguk
__ADS_1
"Katakan" pinta Devan begitu serius membuat Shabrina terpaku dengan tatapan yang begitu dalam itu.
"Shasa mencintai mas. Sangat cinta" jawab Shabrina, membuat Devan langsung tersenyum dan mengangguk.
"Jika begitu kamu hanya perlu tetap disini. Menjaga Nesya dan Arsya. Jangan fikirkan apapun tentang permintaan mama. Cukup doakan untuk kebaikan hubungan kita ya. Kamu hanya perlu mengurus Nesya dan menguatkan dia. Itu yang terpenting sekarang Sha" pinta Devan.
Shabrina menghela nafasnya dengan pelan dan mengangguk getir. Rasanya memang berat, tapi Nesya juga tubuh dia.
"Sampai kapanpun aku akan memperjuangkan kamu dan anak anak. Itu janjiku. Sudah cukup enam tahun kamu hidup susah dan berjuang sendiri. Maka kali ini, biarkan aku yang berjuang untuk hubungan kita" kata Devan lagi.
"Kamu mau bersabar sedikit lagi kan sayang" pinta Devan.
Shabrina memandang mata tajam Devan dengan lekat. Ini terasa berat. Bagaimana Devan akan berjuang sementara keputusan ada ditangan Shabrina.
Tapi melihat kesungguhan Devan dan keadaan Nesya, Shabrina tidak bisa berkata apapun selain mengangguk dan memasrahkan segalanya.
Semoga semua bisa berjalan dengan baik tanpa harus merasakan luka lagi.
Devan tersenyum dan mengusap wajah Shabrina kembali.
"Jangan menangis lagi. Mas tidak suka kamu menangis seperti ini" ujar Devan.
"Shasa hanya tidak tahu harus berbuat apa mas" jawab Shasa.
"Tidak ada yang perlu kamu lakukan selain mencintai ku Sha" ujar Devan.
Shabrina langsung mendengus senyum getir dan memalingkan wajahnya pada Nesya.
Devan tersenyum dan menangkup wajah istrinya.
"Tidak merayu. Mas mengatakan yang sebenarnya. Mas benar benar mencintai kamu Sha" ucap Devan seraya dia yang mencium dahi Shabrina dengan lembut. Turun ke kedua kelopak mata Shabrina dan terakhir menuju bibi manis istrinya itu.
Namun belum lagi bersentuhan, suara pintu yang terbuka membuat mereka terkesiap kaget.
"Ayah .. bunda... sedang apa?" tanya Arsya. Sedangkan pak Mun nampak memalingkan wajahnya yang nampak canggung.
"Tidak ada, mata bunda kelipipan debu" jawab Devan seraya mengusap wajah Shabrina yang sembab dan terasa lengket.
Arsya mendengus dan langsung berjalan menuju ayah dan bunda nya.
"Pembohong sekali. Padahal sudah jelas jelas bunda menangis. Ayah memang tidak bisa dipercaya" ucap anak kecil berusia lima tahun itu. Dan sialnya, usia dan perkataan nya sangat tidak sesuai. Membuat Devan benar benar takjub sekaligus gemas.
"Enggak nak, bunda memang kelilipan" jawab Shabrina langsung. Sepertinya Arsya memang tidak bisa dibohongi.
"Maaf tuan, nyonya, ini makanan nya. Saya pamit keluar dulu" ucap pak Mun seraya meletakkan makanan yang mereka beli diatas meja.
"Lain kali ketuklah pintu terlebih dahulu pak Mun. Arsya bisa dewasa sebelum waktunya nanti" ujar Devan.
Pak Mun tersenyum canggung dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Baik tuan. Maaf. Tuan muda memang sudah begitu sejak dulu" jawab pak Mun
Arsya mengangguk cepat. Seperti tahu saja dia apa yang dimaksud oleh ayahnya.
Pak Mun keluar dari ruangan itu bertepatan dengan Nesya yang juga terbangun dari tidurnya.
"Bunda" rengek nya dengan mata yang berkaca-kaca. Shabrina langsung beranjak dari atas sofa dan mendekati Nesya. Begitu pula dengan Devan.
"Bunda" panggil Nesya lagi.
"Iya nak, bunda disini sayang" jawab Shabrina seraya mengusap kepala Nesya dengan lembut.
"Jangan pergi, Nesya takut" pinta Nesya dengan rengekan nya.
"Enggak.. bunda gak pergi nak. Bunda disini" jawab Shabrina.
"Ayah mana?" tanya Nesya lagi.
"Ayah disini sayang. Apa ada yang sakit princess ayah?" tanya Devan seraya naik keatas ranjang Nesya dan berbaring disamping Putri kecilnya itu.
"Dada Nesya sakit ayah" adu Nesya.
Devan memeluk Nesya dengan lembut dan mengecup dahinya.
"Sabar ya. Harus kuat. Princess kan kuat. Nanti kalau sudah diobati oleh dokter Satria pasti tidak sakit lagi" ujar Devan.
Shabrina duduk dikursi dengan tangan yang mengusap lengan Nesya.
Putri kecilnya ini terlihat lemah dan lesu. Apalagi semakin hari Nesya yang sering mengeluh jika dadanya sakit.
Dan sungguh, itu membuat mereka sangat cemas dan tidak tega.
"Harus sembuh. Gak boleh cengeng. Nanti biar sekolah dengan kakak" ucap Arsya yang juga mendekat pada adiknya. Shabrina langsung menarik Arsya untuk duduk dipangkuan nya.
"Temen temen disekolah banyak kak?" tanya Nesya.
"Banyak sekali" jawab Arsya.
"Mereka gak jahat kayak kak Mimi kan?" tanya Nesya.
"Enggak, kalau jahat kan kita udah punya ayah. Ayah pasti belain kamu. Benarkan ayah" ucap Arsya pada Devan.
Devan tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja. Tidak akan ayah biarkan anak anak ayah disakiti oleh orang lain." jawab Devan dengan yakin
"Benar ayah" pinta Nesya.
"Benar sayang" jawab Devan yang kembali memeluk Nesya. Ya, tidak akan dia biarkan siapapun menyakiti istri dan anak anak nya. Apalagi membuat mereka bersedih.
__ADS_1
Sudah cukup enam tahun ini mereka susah dan menderita. Maka sekarang adalah tugas Devan untuk mencari cara mempertahankan hubungan mereka agar tetap baik baik saja tanpa ada orang ketiga.