Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Menikah


__ADS_3

Shabrina dan Devan kini duduk diruang tamu. Setelah selesai sarapan, Devan mengajak Shabrina untuk berbicara berdua. Sedangkan kedua anak nya di ajak bermain ditaman belakang oleh Pak Mun.


Devan memandang Shabrina dengan lekat. Wanita ini hanya diam dan tidak ada memulai pembicaraan sama sekali.


"Sha..." panggil Devan.


Shabrina menoleh kearah Devan, dan memandang Devan yang kini nampak begitu serius.


"Siang ini juga aku akan menikahi kamu" ucap Devan.


Shabrina terkesiap, dia memandang Devan dengan heran.


"Kenapa secepat itu? Tapi semalam mas bilang besok" tanya Shabrina


Devan terlihat menghela nafasnya dengan berat.


"Tidak bisa menunggu besok, karena malam nanti aku akan membawa kamu dan anak anak kerumah orang tua ku"


deg


Shabrina tertegun.


"Mas .."


"Sha... aku tidak tahu kenapa masalah kita serumit ini. Tapi menikahi kamu dan mengenalkan kedua anak kita pada orang tua ku adalah jalan satu satu nya agar mereka tidak lagi memaksakan kehendak" ungkap Devan.


"Apa mereka masih ingin menjodohkan mas dengan wanita itu?" tanya Shabrina. Perasaan nya mulai tidak enak lagi sekarang. Dia benar benar takut jika luka itu kembali lagi, apalagi sekarang dia sudah memiliki dua anak.


"Ya, Adinda kembali lagi. Dan aku tidak tahu kenapa bersamaan dengan aku yang sudah menemukan kamu" jawab Devan.


Shabrina langsung tertunduk lirih. Namun Devan segera meraih tangan Shabrina dan menggenggam dengan erat.


"Percayalah, semua akan baik baik saja. Tidak akan ada lagi orang yang akan memisahkan kita dan anak anak" ucap Devan.


"Tapi bagaimana jika mereka tetap tidak bisa menerima aku dan anak anak mas?" tanya Shabrina.


"Itu terserah mereka Sha, aku tidak lagi perduli. Yang terpenting mereka harus tahu jika aku sudah memiliki kalian" jawab Devan.


Shabrina menggeleng pelan dengan wajah yang kembali sendu. Luka enam tahun yang lalu masih begitu terasa. Masih teringat jelas diingatan nya bagaimana dia yang dicaci dan dihina oleh ibu Devan dan juga Adinda.


Rasa trauma itu benar benar besar.


"Sha.... percayalah padaku. Sejak dulu sampai kapanpun. Aku hanya mau kamu. Aku tidak meminta kamu untuk berjuang lagi. Aku hanya meminta kamu untuk tetap bertahan disisiku dan anak anak" pinta Devan.


"Aku takut..." lirih Shabrina


Devan semakin menggenggam tangan Shabrina dengan erat.


"Aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi. Aku akan berusaha semampuku untuk menjaga kamu dan anak anak" ucap Devan.


Shabrina memandang Devan dengan lekat. Pandangan penuh cinta dan kekaguman itu masih bisa dia lihat. Pandangan mata yang sama seperti enam tahun yang lalu.


Tapi karena luka dan rasa sakit selama enam tahun ini sungguh membuat Shabrina benar benar tidak berani untuk melangkah.


"Aku tidak meminta apapun Sha. Aku hanya mau kamu berada disisiku. Ikatan pernikahan dan anak anak, aku yakin bisa menjadi penguat hubungan kita" kata Devan lagi

__ADS_1


Shabrina menghela nafasnya dan langsung mengangguk dengan pelan. Demi anak anak nya. Shabrina juga tidak ingin mereka berpisah dari ayah nya. Anak anak nya baru mendapatkan kebahagiaan mereka. Dan kali ini, sepertinya Shabrina memang harus bertahan. Bukan lagi berjuang untuk cintanya, tapi bertahan untuk anak anak nya.


"Terimakasih.... aku janji. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi" ucap Devan.


"Aku hanya ingin anak anak bahagia mas" kata Shabrina


Devan tersenyum dan mengusap wajah Shabrina dengan lembut.


"Anak anak akan bahagia jika bunda nya bahagia" sahut Devan.


Shabrina hanya tersenyum tipis dan mengangguk saja. Dia sangat berharap, kisah nya kali ini tidak akan sesakit waktu itu. Karena sungguh, Shabrina tidak ingin anak anak nya bersedih karena perlakuan orang tua Devan nantinya.


"Sekarang kita bersiap siap ya. Kita pergi ke kantor pernikahan. Semua sudah diatur oleh Hans. Setelah dari sana kita kerumah sakit untuk memeriksakan keadaan Nesya" ujar Devan.


Shabrina mengangguk dan langsung beranjak untuk menyiapkan anak anak nya. Meninggalkan Devan yang masih memandang kepergian nya dengan nanar.


Devan tahu, keraguan dihati Shabrina begitu besar untuk memulai semua nya lagi. Tapi dia akan membuktikan pada gadis itu, jika dia pasti bisa membahagiakan mereka apapun yang terjadi nanti.


Devan sudah mempersiapkan semuanya.


Tidak ada lagi Devan yang bodoh yang selalu tunduk dengan orang tuanya seperti dulu. Sekarang, Devan sudah harus berdiri dikaki nya sendiri. Berjuang untuk membahagiakan keluarga kecilnya.


...


Dan beberapa saat kemudian...


Mereka semua telah ada dikantor pernikahan sipil yang ada dikota itu. Devan akan menikahi Shabrina secara resmi, agar ikatan pernikahan semakin kuat. Meski sedikit sulit karena mempersiapkan nya terlalu cepat, tapi karena uang bisa merubah segalanya.


Shabrina beberapa kali menghela nafasnya, apalagi disaat dia harus menandatangani berkas berkas pernikahan nya ini.


"Nona dan tuan muda. Ayo kita masuk kedalam" ajak Hans yang datang menjemput mereka.


"Mau ngapain sih om?" tanya Nesya yang langsung meraih tangan Hans yang menuntunnya kedalam. Sementara Arsya mengikuti mereka bersama pak Mun.


"Lihat bunda sama ayah menikah" jawab Hans.


"Loh memang nya bunda sama ayah belum menikah ya?" tanya Nesya lagi.


"Belum" jawab Hans


"Terus kenapa kami bisa ada om?" tanya Nesya dengan polos nya.


Hans sampai menghentikan langkah nya mendengar itu. Membuat pak Mun langsung menahan tawanya.


Hans jadi tersenyum getir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bagaimana cara menjawabnya?


Mereka kan ada karena kekhilafan dua orang itu.


Astaga...


"Sudah menikah dulu nona, cuma belum resmi. Sekarang baru diresmikan lagi, supaya bisa tidur berdua" sahut pak Mun


Hans langsung memandang nya dengan kesal. Jawaban macam apa lagi itu.

__ADS_1


"Memang nya kalau tidur berdua harus menikah dulu ya pak?" tanya Nesya.


Pak Mun langsung mengangguk dengan cepat.


"Biar bisa punya Dedek lagi?" tanya Nesya.


Pak Mun dan Hans langsung saling pandang canggung. Lama lama pembicaraan ini menjurus ke tujuh belas tahun keatas.


"Nesya berisik. Sudah ayo kita masuk saja" ajak Arsya yang jengah melihat adik nya yang banyak sekali bertanya. Padahal dia juga tidak mengerti apa yang mereka bahas.


Nesya mengerucutkan bibirnya sekilas dan kembali berjalan.


Didalam ayah dan bunda nya sudah duduk di kursi dihadapan dua orang tua.


Pak Mun langsung membawa Nesya dan Arsya duduk dibelakang mereka. Sedangkan Hans duduk sebagai saksi pernikahan mereka.


Devan menarik nafasnya dalam dalam. Dia sedih sebenarnya, Karen bukan pernikahan seperti ini yang dia inginkan. Dia ingin pesta pernikahan mewah untuk Shabrina nya. Pernikahan yang dihadiri oleh banyak orang dan tentunya pernikahan yang dipenuhi oleh senyuman.


Tapi kenyataan nya, hanya pernikahan seperti ini yang bisa dia berikan demi untuk mempertahankan hubungan mereka.


Penghulu yang menikahkan mereka langsung memulai, dan prosesi ijab kabul itu juga langsung dilantangkan oleh Devan.


Shabrina tertunduk, tidak tahu apa yang dia rasakan. Ini adalah impian nya sejak dulu bersama Devan. Mereka menikah dan hidup bersama.


Bahagia? Ya, dia akui dia bahagia.


Tapi tidak tahu kenapa dia merasa sedih diwaktu yang bersamaan. Menikah tanpa dihadiri oleh siapapun. Tidak ada orang tua dan tidak ada yang menjadi saksi pernikahan nya.


Hanya anak anak nya.


Ya, hanya kedua anak nya yang membuat Shabrina bersemangat dan bahagia.


"Bagaimana saksi? sah?" tanya penghulu itu.


"Sah" ucap Hans dan juga saksi yang lain nya.


"Yeay.... ayah dan bunda sudah menikah." seru Nesya begitu girang. Meski dia tidak tahu apa arti dari menikah itu yang sebenarnya.


Shabrina dan Devan yang tadinya berwajah sendu, kini langsung tersenyum haru melihat kebahagiaan kedua anak nya.


Devan langsung menghadap kearah Shabrina. Memakaikan cincin pernikahan mereka dijari manis wanita yang kini sudah resmi menjadi miliknya.


Dan bergantian juga dengan Shabrina yang memakaikan cincin dijari Devan.


Rasa haru dan bahagia yang seharusnya sejak dulu mereka rasakan.


"Terimakasih sudah mau menjadi istriku Sha" ucap Devan saat Shabrina mencium tangan nya.


Untuk yang pertama kali sejak bertemu, Shabrina tersenyum pada Devan. Senyum yang sangat dirindukan oleh Devan.


Ya tuhan...


Semoga ini awal yang baik untuk mereka...


Meski dimulai dengan kesedihan, semoga akan berkahir dengan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2