
Shabrina mengusap kepala Nesya dengan lembut. Putri kecilnya ini baru saja tertidur setelah menjalani serangkaian pemeriksaan pada jantung nya. Besok, Nesya akan di operasi, dan itu membuat Shabrina benar benar merasa cemas dan takut.
Nesya masih terlalu kecil, melihat dia yang diinfus seperti ini saja sudah membuat Shabrina iba dan tidak tega. Bagaimana jika melihat dia dibedah dengan pisau pisau itu?
Ya Tuhan...
Shabrina benar benar tidak tega.
Shabrina menghela nafasnya, sudah dua hari dia berada dirumah sakit. Pagi ini Devan sedang mengantar Arsya kesekolah. Sekaligus dia yang akan pergi keperusahaan. Tapi dia berjanji untuk kembali secepatnya seraya menjemput Arsya siang nanti.
Ya, mereka berbagi tugas sekarang.
Cukup berat sebenarnya, ditengah tengah merawat Nesya yang sakit, disitu pula masalah hubungan mereka yang terancam.
Tiba tiba suara pintu terdengar diketuk dari luar. Shabrina menoleh dan langsung tertegun saat melihat pintu yang terbuka dan nyonya Kartika lah yang masuk kedalam.
"Nyonya" gumam Shabrina. Dia langsung beranjak dari duduk nya dan memandang nyonya Kartika dengan ragu.
Untuk apa ibu Devan datang kesini?
Apa ada sesuatu yang penting?
Atau apa ?
Namun mata nyonya Kartika hanya terfokus pada Nesya yang terbaring di atas ranjang dengan selang infus ditangan nya, dan juga selang kecil dihidung Nesya.
Shabrina hanya diam dan memandang nyonya Kartika yang mendekat kearah Nesya. Bahkan bisa Shabrina lihat jika ibu Devan ini terlihat memandang Nesya dengan sedih. Begitukah???
"Dia punya penyakit jantung bawaan juga?" tanya nyonya Kartika.
"Iya nyonya" jawab Shabrina dengan suara yang terdengar pelan.
Nyonya Kartika terlihat menghela nafasnya dan memandang Nesya dengan lekat. Hidung dan bibir gadis kecil ini mirip dengan Devan, hanya mata dan bentuk wajah nya yang mirip Shabrina.
Ada rasa haru yang tidak bisa diungkapkan sebenarnya ketika melihat anak anak Devan. Karena mau bagaimanapun mereka adalah cucunya.
Tangan nyonya Kartika mengusap kening Nesya dengan ragu, membuat Shabrina memandang nya dengan heran.
Apalagi melihat tatapan sendu wanita paruh baya ini.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan mu saat melihat anak mu sendiri sakit seperti ini?" tanya nyonya Kartika.
Shabrina terdiam...
Apa maksud nyonya Kartika berbicara seperti ini? Jelas Shabrina cemas dan takut.
"Apa kau takut dan sedih?" kini nyonya Kartika menoleh pada Shabrina. Namun Shabrina menoleh pada Nesya dengan sedih.
"Seperti itu lah perasaan ku dulu ketika Devan sakit. Kau masih bisa melihat tawa dan senyum anak mu saat ini. Tapi Devan, sejak dia lahir bahkan hingga dia berusia delapan tahun, dia selalu hidup dengan bantuan alat. Devan tidak pernah tertawa dan bermain seperti anak anak lain nya. Kau tahu betapa berat hati ku saat itu. Aku sangat ingin memiliki anak, tapi Tuhan memberiku cobaan yang begitu berat" ungkap nyonya Kartika seraya memandang Nesya yang masih tidur dengan lelap.
Shabrina tertunduk perih mendengar nya. Sebagai seorang ibu, dia mengerti bagaimana perasaan nyonya Kartika waktu itu.
Mata nyonya Kartika terlihat berkaca kaca. Apalagi ketika mengenangkan delapan tahun hidup dalam ketakutan dan rasa lelah untuk berjuang.
"Delapan tahun aku dan suamiku hidup untuk memperjuangkan Devan agar tetap hidup. Berharap dia bisa bernafas lebih lama dan menjadi kebahagiaan untuk kami"
"Tapi tepat ketika usia Devan delapan tahun, dia kritis. Sedangkan donor jantung belum kami dapatkan. Kau tahu bagaimana hancurnya hati ku saat itu?" tanya nyonya Kartika yang memandang Shabrina dengan sendu.
Shabrina menggigit bibirnya seraya menahan Isak tangis nya. Hatinya bersedih, karena yang diceritakan oleh nyonya Kartika adalah suami nya sendiri. Tapi bukan itu, dia membayangkan sebagai seorang ibu, Shabrina bahkan takut jika Nesya akan mengalami hal yang sama seperti ayahnya.
"Sedih Sha, hancur dan takut setiap malam yang kami rasakan. Aku bahkan sudah hampir putus asa melihat anak ku dipenuhi dengan alat disekujur tubuhnya. Tubuh kecil yang sudah kurus dan lemah. Sudah hampir mati karena jantung nya yang tidak lagi berfungsi" ungkap nyonya Kartika dengan air mata yang sudah mengalir diwajahnya. Namun segera dia hapus kembali.
"Tapi ditengah tengah keputusasaan kami. Seseorang datang seperti malaikat yang memberikan nyawanya untuk Devan. Kami bahagia, sangat bahagia. Anak ku kembali dan bisa sehat karena donor jantung dari orang itu." ucap nyonya Kartika, kali ini dia tersenyum dan memandang Nesya.
"Aku sangat bersyukur, bahkan dengan semua harta yang kami miliki tidak akan bisa mengganti apa yang sudah mereka berikan. Jika hutang Budi masih bisa dibalas dengan Budi. Tapi hutang nyawa, bagaimana membalas nya?"
Nyonya Kartika kembali memandang Shabrina. Kali ini dia memandang Shabrina dengan lekat.
"Sejak awal, sejak mengetahui Devan mendekatimu, aku sudah selalu melarang dan memperingatkan mu bukan. Bukan aku tega dan tidak ingin anak ku bahagia, tapi karena hal inilah yang membuat aku tidak ingin Devan bersama dengan orang lain"
Ucapan nyonya Kartika membuat Shabrina mematung, namun dengan air mata yang begitu banyak keluar dari kelopak matanya.
"Mereka tidak menginginkan imbalan apapun. Mereka hanya ingin Devan menikah dengan anak perempuan mereka, agar mereka bisa selalu dekat dengan anak mereka yang telah tiada."
deg
deg
deg
__ADS_1
Jantung Shabrina benar benar terasa sesak untuk berdenyut. Rasanya ada beban yang begitu berat yang menimpa dada nya hingga membuat dia benar benar sesak dan merasa sakit.
"Aku harus apa?? Jika kau menjadi aku? Apa kau tega mengabaikan permintaan mereka? setelah kehidupan yang mereka berikan untuk anak mu?" tanya nyonya Kartika dengan air mata kepedihan yang kembali mengalir, membuat Shabrina semakin tidak bisa menahan Isak tangis nya.
Sakit ... sakit sekali...
Mungkin jika itu dia, dia juga akan melakukan hal yang sama kan.
"Sakit Sha. Kau sudah menjadi ibu sekarang. Dan anak mu juga sedang sakit seperti ini. Kau pasti akan melakukan apapun untuk kesembuhan nya kan?"
Shabrina semakin terisak
"Sejak dulu aku sudah memperingatkan mu. Aku melarang mu untuk bersama Devan. Segala cara aku lakukan agar kalian tidak bersama. Supaya apa? supaya kamu tidak lebih merasakan sakit saat tahu yang terjadi. Tapi kalian malah tetap bertahan. Dan lihat... lihat sekarang..."
Suara nyonya Kartika tertahan sembari dia menggeleng dan mengusap air matanya yang semakin deras.
"Aku harus apa Sha? Devan hidup karena mereka. Tapi malah kamu yang memiliki dia. Dan sekarang... ada anak anak kalian"
"Aku harus bagaimana untuk menepati janji itu?" lirih nyonya Kartika dengan begitu pilu. Dia ingin meminta Shabrina pergi, tapi ketika melihat Nesya yang seperti ini dan tahu jika cucunya juga sakit, nyonya Kartika menjadi tidak tega untuk meminta Shabrina pergi.
Cucunya butuh ibunya, sebagaimana dia yang pernah merasakan hal ini dulunya.
"Nyonya .... maafkan saya" ucap Shabrina terdengar begitu lirih.
Nyonya Kartika menggeleng pelan dan kembali menoleh pada Nesya.
"Aku tidak ingin egois. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan mereka Sha. Devan hidup karena mereka. Dan kamu sudah terlanjur masuk kedalam kehidupan Devan. Kamu bisa berfikir apa yang harus kamu lakukan bukan" ujar nyonya Kartika.
Shabrina terdiam memandang nyonya Kartika.
"Jika kamu tidak ingin meninggalkan Devan, setidak nya kamu harus siap untuk berbagi suami dengan Adinda"
deg
deg
deg
Jantung Shabrina terasa terlepas dari tempatnya mendengar ucapan nyonya Kartika.
__ADS_1
Berbagi suami???
Bagaimana mungkin???