Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Bertemu Adinda Dan Orang Tua


__ADS_3

Selesai makan, Devan mengantar Nesya kedalam kamar bersama Arsya dan Shabrina tentunya. Mereka duduk dikamar Nesya seraya menunggu hari larut dan bercerita tentang hal hal random. Dan siapa lagi dalang nya jika bukan Nesya.


Gadis kecil itu begitu senang saat bersama ayah dan bunda nya seperti saat ini.


"Ayah... lihat! princess ini cantik sekali. Nesya boleh tidak punya baju seperti ini" pinta Nesya seraya menunjukkan boneka Barbie yang dia mainkan. Sementara Arsya masih asik duduk dilantai dan bermain mobil remote nya.


"Boleh, besok sama bunda ke butik untuk pesan baju seperti yang Nesya mau, tapi kita periksa Nesya kerumah sakit dulu ya" ujar Devan.


"Enggak disuntik kan?" tanya Nesya.


"Enggak" jawab Devan.


"Kalau enggak disuntik Nesya mau ayah" jawab Nesya.


Devan mengangguk dan tersenyum. Namun sesekali matanya melirik kearah Hans yang masih berdiri mematung di depan pintu.


"Kalau mau pergi, pergilah" ucap Shabrina tiba tiba.


Devan memandang nya sejenak dan juga beralih ke Nesya.


Dia tidak enak untuk pergi, tapi jika tidak pergi pasti ini akan menjadi masalah lagi. Devan pergi tanpa pamit, dan sudah jelas mereka pasti mencari nya sekarang.


"Ayah mau pergi?" tanya Nesya. Wajahnya cemberut. Dan itu yang membuat Devan berat untuk meninggalkan nya walau sejenak.


"Ayah ada pekerjaan. Tidak apa apa ayah tinggal sebentar kan?" tanya Devan. Arsya yang sedang bermain mobil nya pun langsung menoleh kearah Devan.


"Padahal Nesya mau bobok ditemeni ayah malam ini" sahut Nesya. Terdengar begitu sedih.


"Nesya sama bunda dulu nak. Ayah pergi sebentar" ujar Shabrina


"Nanti ayah lama perginya" ucap Nesya.


Devan tersenyum dan mencium kepala Nesya sejenak.


"Ayah janji cepat pulang. Besok pagi ketika Nesya bangun, ayah sudah ada disini" ucap Devan.


"Janji ayah" pinta Nesya seraya menjulurkan jari kelingking nya pada Devan.


Devan tersenyum dan meletakkan jari kelingkingnya pada Nesya.


"Janji sayang" jawab Devan.


"Janji gak pergi lama kayak kemarin kan. Masak Nesya harus nunggu sampai besar lagi baru ketemu ayah" gerutu Nesya.


Sungguh, Devan gemas sekali mendengar perkataan anak gadis nya ini.


"Enggak dong. Kali ini ayah pergi cuma beberapa jam aja. Nesya sama kakak dan bunda dulu oke" ucap Devan.


Nesya menghela nafas kesal, tapi dia juga mengangguk pasrah.


"Anak baik. Gak boleh nakal sama bunda ya. Ayah pergi dulu" kata Devan lagi.


"Iya" jawab Nesya.

__ADS_1


"Peluk ayah dulu sini" ujar Devan seraya merentangkan tangannya. Dan Nesya langsung masuk kedalam pelukan Devan.


"Anak baik, setelah ini istirahat, jangan main lagi" ujar Devan


"Siap ayah" jawab Nesya dengan cepat.


Dan kini Devan beralih pada Arsya yang masih memandang nya dari lantai. Devan beranjak dan mendekati Arsya. Berlutut dihadapan anak lelaki yang begitu mirip dengannya itu.


"Ayah pergi sebentar. Ayah titip bunda sama Nesya ya." ujar Devan


"Ayah mau kemana?" tanya Arsya


"Ayah ada keperluan nak. Hanya sebentar. Setelah selesai ayah janji akan cepat pulang" ungkap Devan.


Arsya mengangguk pelan.


"Ayah hati hati" ucap Arsya.


Devan tersenyum dan mengusap pucuk kepala Arsya.


"Mau peluk ayah?" tanya Devan seraya merentangkan kedua tangannya.


"Arsya sudah besar ayah. Tapi jika ayah memaksa apa boleh buat" jawab Arsya yang langsung masuk kedalam pelukan ayahnya.


Devan terkekeh mendengar itu. Dia mengecup pucuk kepala Arsya sejenak dan setelah itu melepaskan pelukan nya.


Dan setelah pada Arsya, kini Devan mendekat pada Shabrina.


"Aku pergi dulu. Jika ada apa apa minta tolong pada pak Mun. Dia berjaga didepan" ucap Devan pada Shabrina.


"Ayah gak mau peluk bunda juga?" tanya Nesya.


Shabrina dan Devan langsung mematung mendengar itu.


"Ayah udah buru buru nak" sahut Shabrina


"Peluk juga cuma tiga detik bunda" ucap Nesya.


Dan tanpa kata Devan langsung memeluk Shabrina dan mengecup kepala nya. Hanya sebentar, apalagi ketika merasa jika Shabrina nampak terkejut.


Nesya tertawa geli melihat wajah terkejut bunda nya.


"Sudah ya... ayah pergi dulu" pamit Devan, tanpa mau melirik kearah Shabrina yang nampak kesal.


"Dah ayah. Cepat pulang ya" seru Nesya.


"Iya sayang" jawab Devan


Dia langsung berbalik arah, namun sebelum itu sempat melayangkan senyuman hangat nya untuk Shabrina yang berwajah datar itu.


Meninggalkan anak anak nya dengan perasaan tenang. Setidaknya sekarang jika dia pergi sudah ada yang menantikan kepulangan nya.


Sungguh, hal yang terasa begitu aneh dan seperti mimpi. Hanya saja membuat Devan semakin bahagia dan semakin berani untuk melangkah kedepan. Menentang semua yang akan menghancurkan kebahagiaan nya. Sudah cukup sekali dia kehilangan Shabrina. Dan tidak akan kedua kali, apalagi kini dia sudah mempunyai dua buah hati dari wanita yang paling dia cintai.

__ADS_1


Dan sekarang disinilah Devan berada, didepan sebuah rumah mewah yang begitu besar dan luas.


Rumah kedua orang tuanya.....


Devan Bramasta, putra tunggal dari pengusaha sukses pemilik real estate property yang ada di ibukota. Sudah jelas dia yang akan menjadi pewaris dari semua kejayaan orang tuanya. Dan hal itulah yang membuat dia harus dituntut untuk sempurna baik segi penampilan maupun kehidupan asmara nya.


Tapi sekarang, Devan tidak akan lagi memikirkan itu. Wanita yang dia cintai dan kedua anak nya adalah hal yang utama untuk Devan.


Devan masuk kedalam rumah mewah itu dengan langkah tegap dan pasti. Berjalan dan disambut oleh beberapa orang pelayan yang menyambut kedatangan nya.


Mata Devan memicing, saat melihat kedua orang tuanya sudah duduk dengan santai diruang keluarga mereka. Namun yang membuat Devan tidak habis fikir adalah, kenapa Adinda juga ada disana? Bukan kah dia sedang melanjutkan studi S3 nya di London?


"Sudah tiga hari kamu pergi dan menghilang tanpa kabar. Kemana saja kamu Dev?" tanya nyonya Kartika, mama Devan.


"Kenapa dia disini?" tanya Devan yang tidak mengindahkan perkataan mama nya. Dia memandang Adinda yang nampak begitu anggun duduk disofa, memandang nya penuh kekaguman seperti biasa.


"Bulan depan rencana pernikahan kalian"


deg


Devan mematung memandang mama nya.


Sudah enam tahun berlalu, dan masih saja itu yang dibahas. Astaga, apa mereka sudah gila.


"Dev... aku sudah memberikan kamu waktu selama enam tahun. Aku juga sudah menyelesaikan studi ku dengan baik. Dan ternyata kamu juga tidak bisa mencari pengganti ku atau wanita itu bukan. Dan kini sudah waktunya kita untuk bersatu. Jodoh tidak ada yang tahu" ungkap Adinda.


"Duduklah Dev" ujar tuan Bram, papa Devan.


Devan menghela nafasnya dalam dalam dan menggeleng pelan. Dia memandang Adinda dan mama nya yang terlihat begitu antusias.


"Sejak enam tahun yang lalu, bahkan sampai saat ini. Jawaban ku tetap sama. Aku... tidak akan mau menikahi mu" ucap Devan dengan begitu tegas.


"Dev... kamu ingat umurmu yang sudah tua nak. Sudah sewajarnya kamu menikah" sahut nyonya Kartika.


"Aku memang akan menikah, tapi bukan dengan dia" jawab Devan.


"Dev... apa kurang nya aku? aku sudah membuat diriku sempurna hanya agar bisa pantas bersanding dengan mu. Aku juga sudah menunggu selama enam tahun hanya untuk bisa bersama kamu" seru Adinda


Devan menggeleng.


"Aku sudah menikah, dan sudah memiliki dua orang anak" jawab Devan.


Dan tentu saja perkataan Devan membuat kedua orang tuanya dan juga Adinda nampak terkejut. Namun sedetik kemudian Adinda terlihat mendengus tawa.


"Jangan berbohong kamu. Tidak lucu kamu bercanda Dev" sahut Adinda.


Namun kini bergantian Devan yang mendengus senyum.


"Aku tidak bercanda. Papa, mama, untuk yang terakhir kali, berhenti mengatur urusan asmara ku. Besok aku akan memperkenalkan istri dan anak ku pada kalian" ujar Devan


"Devan... kamu bercanda kan nak" tanya mama. Wajah tidak percaya nya itu benar benar kentara.


"Apa aku pernah membercandai sesuatu?" tanya Devan dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Mereka semua langsung tertegun dan terperangah .


__ADS_2