Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Terimakasih Untuk Kehidupan Ini


__ADS_3

Untung saja luka dikepala Shabrina tidak terlalu serius, hingga tidak harus membuat Shabrina berada diatas tempat tidur sepanjang hari.


Sore ini Nesya sudah sadar. Dia menangis mencari bunda nya. Hingga mau tidak mau Devan membawa Shabrina keruangan Nesya dengan memakai kursi roda. Sebenarnya Shabrina masih bisa berjalan, hanya saja kakinya yang terkilir tidak bisa berjalan jauh. Apalagi dengan kepala nya yang masih sakit jika terlalu banyak bergerak. Membuat dia harus memakai kursi roda untuk beberapa waktu.


"Bunda" lirih Nesya saat melihat Shabrina dan Devan yang masuk kedalam ruangan nya.


Padahal didalam sana sudah ada nyonya Kartika yang menemani nya bersama Arsya. Tapi tetap saja yang dicari Nesya adalah Shabrina.


"Iya nak ini bunda" ucap Shabrina seraya meraih tangan Nesya dan mengusap nya dengan lembut.


Nyonya Kartika langsung beralih dan pindah duduk disofa, membiarkan Shabrina menenangkan cucu perempuan nya itu.


"Bunda kenapa, kenapa kepala bunda diperban?" tanya Nesya yang semakin menangis.


"Enggak apa apa sayang. Bunda tadi gak sengaja jatuh. Nesya gak boleh nangis dong" ucap Shabrina dengan mata yang berkaca kaca.


"Dada Nesya sakit bunda. Denyut denyut" adu Nesya yang kembali menangis.


Obat bius bekas operasi nya sudah habis, dan itu yang membuat Nesya menangis dan merintih kesakitan sejak tadi. Hingga membuat siapapun tidak bisa untuk menenangkan dia.


"Tahan sebentar ya. Sakit nya cuma sebentar, setelah ini Nesya sudah bisa bermain sepeda sama kakak" rayu Shabrina seraya mengusap bagian bawah dada Nesya dengan lembut dan halus.


"Tapi sakit bunda" jawab nya lagi.


Devan yang tidak tega langsung memencet tombol pemanggil dokter. Dia tidak bisa melihat anak nya yang seperti ini. Itu pasti sakit sekali, dan Nesya yang tidak bisa diam tentu dia takut akan membuat luka bekas operasi itu terganggu.


"Jangan nangis. Nanti kita main sepeda kalau kamu udah pulang" rayu Arsya yang kini ikut berdiri disamping Shabrina.


Nesya masih menangis dan merintih. Seolah rayuan itu memang tidak mempan untuk meredakan rasa sakit nya.


"Sabar ya nak. Kita nunggu om dokter sebentar" ujar Devan.


"Sakit ayah" ucap Nesya dengan Isak tangis nya


Devan langsung mendekat dan meraih tubuh Nesya yang ingin beranjak. Dia duduk diatas tempat tidur Nesya dan memangku Nesya, seraya tangan nya yang mengusap punggung gadis kecil itu dengan lembut.


Shabrina langsung mengusap air matanya, karena dia yang juga tidak tega melihat Nesya kesakitan seperti ini.


"Sakit ayah" gumam Nesya terus menerus.


"Anak ayah kuat. Sebentar lagi om dokter datang nak. Sabar ya" ucap Devan sembari terus mengusap punggung Nesya.


Nyonya Kartika hanya diam dan memandang Devan yang mencoba menenangkan anak nya. Sejak tadi dia juga sudah mencoba menenangkan Nesya. Tapi tetap saja cucu kecilnya itu tidak bisa diam. Nyonya Kartika juga terlihat tidak tega melihat Nesya seperti itu. Dia jadi ingat sewaktu Devan kecil dulu. Penuh air mata ketika harus merawat Devan, bukan Devan yang menangis, tapi dia.


Nyonya Kartika tidak menyangka jika Devan bisa hidup sampai saat ini.


Meski saat ini, kesedihan dan perjuangan itu terulang kembali pada Putri kecilnya.


Dan tidak lama, pintu terbuka. Dokter Satria masuk bersama asisten nya. Membuat Shabrina dan juga Arsya langsung mundur untuk membiarkan dokter Satria memeriksa Nesya.

__ADS_1


"Baring dulu ya nak" ujar Devan pada Nesya.


Namun Nesya menggeleng dengan cepat.


"Enggak mau, Nesya takut" jawab Nesya masih dengan Isak tangis nya. Bahkan dia semakin memeluk Devan dengan erat.


Devan memandang dokter Satria dengan bingung.


"Tidak apa apa tuan. Tahan sedikit tubuhnya, saya akan menyuntikan obat pereda nyeri untuk nona kecil" ujar dokter Satria seraya meraih suntikan dari asisten nya.


"Enggak mau disuntik ayah" ucap Nesya dengan tangis yang semakin kuat. Apalagi saat Devan memegangi lengan kecil Nesya.


"Sebentar sayang. Supaya dada Nesya tidak sakit lagi" ujar Devan.


Namun Nesya semakin menangis dengan kuat. Hingga membuat Shabrina juga ikut menangis. Bahkan Arsya langsung beralih dan pindah ke sofa mendekat pada nyonya Kartika. Dia tidak tega melihat adik nya yang seperti itu.


"Oke sudah" ucap dokter Satria.


"Tidak sakit kan, biar cepat sembuh" Devan mengusap kepala Nesya dan mencium dahi nya dengan lembut.


"Sakit ayah" gumam Nesya dengan suara yang semakin serak karena dia terus menangis.


"Apa jika obatnya habis dia akan kesakitan lagi dokter?" tanya Shabrina.


Dokter Satria tersenyum tipis dan menggeleng pelan.


"Tidak nona. Kalaupun sakit, tapi tidak akan sesakit ini lagi. Tubuh nona Nesya masih terkejut dengan efek operasi itu. Apalagi karena efek bius nya sudah habis. Jadi dia merasakan sakit diluka nya" jawab dokter Satria.


"Sebentar lagi nona kecil akan tertidur. Jika ada apa apa tuan bisa panggil saya lagi" ujar dokter Satria.


"Baik dokter. Terimakasih" jawab Devan yang masih terus memeluk Nesya.


"Saya permisi dulu" pamit dokter Satria yang langsung keluar dari ruangan itu setelah sebelum nya menyapa nyonya Kartika yang berada disofa.


Dan benar saja, lama kelamaan, Nesya mulai tenang. Tangis nya mulai mereda dan hanya tinggal sesunggukkan kecil saja. Bahkan tidak lama setelah nya dia sudah tertidur dalam dekapan Devan.


Hingga membuat Devan sesekali mengusap kepala Nesya dan wajah nya yang basah karena air mata.


"Jangan dipindahkan dulu sebelum nyenyak Dev" ujar nyonya Kartika.


Devan mengangguk pelan menanggapi nya. Karena jika bersuara, dia takut Nesya akan terbangun.


"Nesya bisa sembuh kan Oma?" tanya Arsya.


"Bisa sayang. Nesya sudah sembuh. Tinggal menunggu luka nya kering. Arsya harus selalu hibur Nesya supaya dia tidak sedih" ujar nyonya Kartika seraya mengusap kepala Arsya dengan lembut.


Arsya mengangguk pelan dan kembali memandang ayah nya yang masih menidurkan Nesya. Sepertinya malam ini mereka akan kembali menginap dirumah sakit.


Dan memang begitulah kenyataan nya. Kesehatan Shabrina yang belum pulih, dan juga keadaan Nesya yang membutuhkan perawatan membuat mereka tidur dirumah sakit kembali.

__ADS_1


Malam harinya....


Kini Shabrina sudah berada di satu ranjang yang sama dengan Nesya. Dia tidur disamping Nesya seraya mengusap kepala putrinya itu dengan lembut.


Sedangkan Arsya sudah nampak tertidur diatas sofa dengan selimut tebal yang menyelimuti nya. Dia disana bersama ayah dan Oma nya yang memang belum pulang sejak sore.


Mereka masih membicarakan sesuatu. Tapi karena rasa kantuk dan rasa sakit dikepala nya, Shabrina juga ikut tertidur menyusul Nesya.


Hingga kini tinggal menyisakan Devan dan nyonya Kartika berdua yang masih belum tidur.


"Apa kata dokter Satria Dev?" tanya nyonya Kartika


"Sudah tidak apa apa ma. Jantung nya masih bisa diperbaiki. Entah apa yang dikatakan dokter Satria, tapi keadaan Nesya sudah baik baik saja. Hanya saja dia memang harus selalu rutin kontrol setelah operasi ini" jawab Devan.


Nyonya Kartika menghela nafas pelan dan mengangguk.


"Syukurlah jika dia tidak harus melakukan transplantasi jantung seperti mu dulu. Mama benar benar takut jika itu terjadi" ucap mama.


Devan tersenyum dan menggeleng. Dia juga takut Nesya akan mengalami hal seperti yang dia alami dulu. Namun nyatanya, Nesya dalam keadaan yang jauh lebih baik dari pada Devan.


"Tidak ma. Beruntungnya kelainan dijantung Nesya masih bisa diatasi. Dan kejadian itu, tidak akan terulang lagi" jawab Devan.


Nyonya Kartika memandang Nesya dan Shabrina yang sudah tertidur. Ruangan itu menjadi senyap. Hanya suara gumaman mereka saja yang kini terdengar .


"Ma.." panggil Devan. Membuat nyonya Kartika langsung menoleh kearah nya.


"Terimakasih sudah mau berjuang hingga Devan bisa hidup hingga sekarang" ucap Devan. Matanya berkaca kaca memandang nyonya Kartika. Membuat mama nya itu tertegun memandang Devan.


"Pasti berat jadi mama dulu. Setiap hari harus merawat Devan yang sekarat. Setiap hari harus merasa takut, dan setiap hari harus berjuang untuk kesembuhan Devan. Terimakasih untuk semuanya ma. Dan maaf, Devan belum bisa untuk membalas setiap tetesan keringat dan air mata mama" ungkap Devan begitu dalam. Hingga membuat nyonya Kartika langsung meneteskan air matanya.


Devan langsung memeluk nyonya Kartika dengan hangat dan penuh perasaan.


"Maaf, jika selama ini Devan selalu membuat mama kecewa" ucap Devan lagi.


"Tidak nak, tidak. Mama ikhlas. Mama senang kamu bisa hidup sampai sekarang. Kamu tetap bertahan untuk tetap ada dan menjadi putra kebanggan mama" jawab mama.


Devan juga ikut menangis tertahan. Mengurus Nesya baru beberapa hari saja rasanya Devan sudah benar benar merasa tertekan dan tidak berdaya. Bagaimana dengan mama nya yang mengurus Devan selama delapan tahun dalam penyakit itu? Bagaimana juga dengan Shabrina yang mengurus Nesya selama lima tahun ini.


Ya tuhan...


Rasanya tidak akan sanggup Devan untuk membalas jasa dua orang wanita yang ada dihidupinya ini.


Mama yang memberi nafas untuk dia tetap hidup, dan istri yang memberi kehidupan baru untuk Devan.


"Terimakasih untuk segalanya. Devan janji, tidak akan lagi mengecewakan mama" ucap Devan


Nyonya Kartika tersenyum dan mengangguk.


"Maafkan segala kesalahan Devan selama ini" pinta Devan lagi seraya melepaskan pelukannya dan memandang mama nya dengan lekat.

__ADS_1


"Mama sudah selalu memaafkan kamu nak" jawab mama.


__ADS_2