Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Obrolan Dipagi Hari


__ADS_3

Shabrina berdiri didepan cermin dengan wajah yang kesal. Dia memandangi bekas bekas merah yang ada dileher nya yang nampak jelas. Untung saja hanya ada beberapa, tidak banyak, jadi bisa dia tutupi dengan foundation makeup nya.


Devan benar benar keterlaluan, bisa bisa nya sampai meninggalkan jejak seperti ini.


grep


Devan langsung memeluk Shabrina dari belakang, meletakkan kepalanya di bahu istrinya ini.


"Mas keterlaluan banget. Lihat nih, bakal jadi bulan bulanan nya Arsya nanti" gerutu Shabrina seraya menutupi berkas merah itu.


Devan tertawa pelan dan mengecup pipi Shabrina sekilas.


"Enggak apa apa. Nanti juga hilang. Mas khilaf sayang. Udah rindu, jadi lupa kalau sudah punya bodyguard" ungkap Devan. Dia langsung melepaskan pelukannya dan menarik bahu Shabrina untuk menghadap kearahnya.


"Lain kali jangan seperti ini lagi" ujar Shabrina.


"Tidak... tapi ditempat lain boleh kan" bisik Devan dengan senyum nya yang terlihat menggoda.


Shabrina langsung memalingkan wajahnya yang merona.


"Kenapa jadi mesum sekali sekarang" gumam Shabrina.


"Rindu sayang" ucap Devan. Dia kembali meraup wajah Shabrina, mendekatkan wajahnya dan ingin mencium bibir ranum istrinya.


Tapi tiba tiba ..


"Ayah!!!!!"


Teriakan Nesya membuat Devan terkesiap. Bahkan Shabrina langsung mendorong dadanya dengan cepat.


"Ayah mau ngapain sama bunda?" tanya Nesya yang berjalan masuk kedalam kamar mereka. Wajahnya terlihat cemberut. Entah apa lagi yang sudah terjadi.


Devan melirik kearah pintu, yang ternyata tidak tertutup. Sialan memang, hampir saja mata anak nya ternodai.


"Enggak ada. Mata bunda kelipipan tadi nak" jawab Shabrina dengan cepat.


"Kenapa wajah anak ayah cemberut begitu. Tapi sudah cantik?" tanya Devan seraya mengangkat Nesya kedalam gendongan nya.


"Kakak bilang baju Nesya jelek ayah" adu Nesya seraya menarik ujung baju dress nya.


"Cantik kok. Anak ayah seperti princess" puji Devan.


"Tapi kakak bilang Nesya jelek" sahut Nesya lagi.


"Kakak cuma godain Nesya. Udah jangan ngambek begitu. Kan bajunya memang bagus" ucap Shabrina pula.


"Memang jelek kok bunda, apalagi yang pakai baju nya cengeng seperti Nesya" sahut Arsya dari luar.


"Kakak!!!! Nesya enggak cengeng" teriak Nesya begitu kuat. Hingga membuat Devan langsung meringis dan menjauhkan telinga nya dari Nesya.


Shabrina langsung tertawa melihat wajah terkejut Devan. Dia baru tahu jika Nesya memang sedikit bar bar dan cerewet. Shabrina sudah puas menghadapi sikap anak anak nya yang terkadang menggoda iman.

__ADS_1


"Sayang .... jangan teriak teriak dong. Ayah terkejut" ucap Devan seraya mengusap kepala Nesya dengan lembut.


"Kakak itu, nakal" ungkap Nesya.


Arsya hanya menjulurkan lidahnya saja.


"Arsya... kamu ini jail sekali" Devan mengacak gemas rambut Arsya yang sudah tersisir rapi.


"Ah ayah... rambut Arsya berantakan lagi" gerutu Arsya dengan wajah kesal nya.


Namun Devan hanya tertawa dan menarik tangan Arsya untuk keluar.


"Kamu walaupun tidak bersisir, tetap ganteng" jawab Devan.


"Yuk, kita sarapan" ajak Devan pada Shabrina


Shabrina mengangguk dan mengikuti mereka untuk keluar kamar menuju ruang makan.


Benar benar bahagia hatinya melihat pemandangan seperti ini. Bahkan dulu, dia sama sekali tidak pernah berani untuk membayangkan hal seperti ini. Membayangkan anak anak nya memiliki ayah atau membayangkan anak anak nya bertemu Devan.


Shabrina tidak pernah berani. Mengingat hal yang pernah dia alami. Tapi sekarang, kenyataan nya Devan telah kembali dan mereka berkumpul lagi.


Shabrina bahagia, sangat bahagia. Meski dibalik kebahagiaan nya dia memendam ketakutan dengan ancaman nyonya Kartika yang akan memisahkan dia dan anak anak nya.


Shabrina hanya berharap, jika Devan bisa dengan tegas untuk kali ini. Sudah cukup dulu dia yang terluka, Shabrina tidak ingin anak nya juga merasakan luka yang sama.


"Ayah itu ikan ayah?" tanya Arsya seraya menunjuk ikan didalam akuarium besar didekat ruang makan.


"Iya, kamu suka?" tanya Devan.


"Wow... anak pandai memancing?" tanya Devan.


"Iya, untuk makan Nesya" jawab Arsya dengan bangga nya.


Shabrina tersenyum seraya menyiapkan tempat duduk untuk Arsya. Masih ingat jelas diingatan nya, Arsya yang meminta dibelikan pancing, dan hampir setiap hari jika Shabrina dirumah, anak lelaki nya ini selalu memancing dibelakang rumah. Dia sangat senang ketika mendapatkan ikan. Apalagi mereka yang memang jarang sekali makan ikan.


Ah... jika mengingat itu, rasanya miris sekali.


"Ikan kecil ayah, kecil sekali. Mana kadang cuma dapet dua lagi" ucap Nesya seraya menunjukkan dua jari nya.


"Itu juga sudah bersyukur. Kamu tahu nya cuma makan saja" gerutu Arsya.


"Kalau Arsya suka mancing, nanti ayah bawa kamu ke kolam pemancingan. Kita bisa memancing disana nanti" ujar Devan.


"Benar ayah?" tanya Arsya.


"Benar sayang" jawab Devan.


"Kenapa tidak memancing dibelakang saja. Nesya lihat ikan nya banyak, cantik cantik lagi" sahut Nesya.


Shabrina langsung tertawa melihat wajah Devan yang nampak terkejut. Apalagi ikan yang dimaksud Nesya adalah ikan Khoi peliharaan nya.

__ADS_1


"Jangan dong,.itu ikan peliharaan. Bukan untuk dimakan sayang" jawab Devan


"Itu ikan mahal ayah?" tanya Arsya.


"Lumayan" jawab Devan dengan senyum hangat nya. Dia memandang Shabrina yang sedang melayani mereka makan.


"Hari ini ayah tinggal bekerja dulu ya. Kalian dirumah sama bunda baik baik" ujar Devan pada kedua anak nya.


"Apa ayah bakalan lama lagi pulang nya?" tanya Nesya, wajah nya berubah sedih lagi.


"Tidak sayang, ayah usahain cepat pulang. Oke" jawab Devan


"Apa Nesya harus menunggu ayah seperti kemarin lagi. Sampai lamaaaaa sekali" ucap Nesya.


"Enggak sayang, nanti sore ayah juga pulang" sahut Shabrina yang meletakkan makanan didepan Nesya.


"Beneran, enggak nunggu Nesya besar kan?" tanya Nesya. Sepertinya pemikiran polos nya masih begitu takut dengan alasan ayahnya yang ingin bekerja.


Devan tertawa dan menggeleng.


"Enggak dong. Ayah kan udah janji gak akan ninggalin kalian lagi. Nanti sore ayah sudah pulang. Ayah bekerja didekat sini. Tidak jauh" ungkap Devan.


"Arsya boleh ikut ayah?" tanya Arsya.


"Arsya, ayah kerja nak" sahut Shabrina. Yang kini sudah duduk di kursinya.


"Nanti ayah ajak Arsya keperusahaan. Tapi tidak sekarang ya. Arsya dirumah dulu sama bunda dan Nesya. Besok lusa juga Arsya sudah bisa sekolah. Om Hans sudah mendaftarkan Arsya sekolah" ungkap Devan.


"Wah .. beneran ayah?" tanya Arsya


Devan mengangguk dan tersenyum, begitu pula dengan Shabrina. Dia senang sekali melihat wajah bahagia Arsya.


"Untuk Nesya, nanti sekolah jika sudah berobat ya nak. Biar bisa bermain bersama teman. Tidak apa apa kan?" kini Devan beralih pada Nesya yang terlihat sedih.


"Nesya sendirian dong berobatnya kalau kakak sekolah" ungkap Nesya.


Arsya langsung menoleh pada adiknya.


"Nanti pulang sekolah kakak pasti nemeni kamu" sahut Arsya.


"Iya, Nesya gak sendirian. Ayah, bunda sama kakak pasti menemani Nesya" ucap Devan pula.


"Nesya gak boleh sedih sayang" kata Shabrina pula


Nesya mengangguk dengan wajah polosnya yang sendu.


"Berobat nya tidak sakit kan ayah?" tanya Nesya


"Enggak... nanti dikasih hadiah lagi sama dokter Satria. Suka kan?" ucap Devan.


"Suka" jawab Nesya.

__ADS_1


"Sudah, sekarang sarapan dulu. Ayo makan nasi goreng nya" ujar Shabrina


"Iya bunda" jawab Nesya dan Arsya, bahkan Devan juga tidak mau kalah, membuat Shabrina hanya geleng geleng kepala saja.


__ADS_2