
Devan menggenggam tangan Arsya seraya berjalan menuju ruangan Nesya berada. Wajahnya datar dan dingin. Hatinya berkecamuk tidak menentu. Permintaan Adinda tadi benar benar membuat kepala nya terasa terbakar. Bagaimana mungkin dia bisa berfikir untuk menjadi istri kedua Devan.
Yang benar saja.
Dari pada harus menduakan Shabrina, Devan lebih memilih mati.
Meski dia hidup karena jantung mereka, tapi Shabrina dan kedua anak nya adalah harta yang paling berharga untuk Devan.
Tidak ada dalam kamus hidupnya niat untuk mendua, meskipun itu terpaksa.
"Ayah" panggil Arsya.
Devan sedikit terkesiap dan langsung menoleh pada anak lelakinya itu.
"Ayah sedang bersedih?" tanya Arsya.
Devan mendengus senyum dan menggeleng. Arsya seperti tahu saja jika hatinya sedang gundah.
"Tidak nak. Ayah baik baik saja." jawab Devan. Saat ini mereka sudah berada didalam lift.
"Pasti Tante itu tadi yang membuat ayah seperti ini" ucap Arsya.
Devan mengernyit.
"Kamu melihat nya?" tanya Devan sedikit terkejut. Pasalnya sejak didalam mobil hingga sampai dirumah sakit, baru kali ini mereka berbicara banyak.
"Arsya lihat, bahkan Arsya tahu jika Tante itu menangis tadi" jawab Arsya.
Devan tersenyum dan mengusap kepala Arsya dengan lembut.
"Ayah memang suka sekali membuat perempuan menangis" cibir Arsya.
Dan kali ini Devan memandang nya dengan takjub.
"Hei... kenapa berbicara seperti itu hmm. Kamu ini" gemas sekali Devan melihat anak lelaki nya ini. Dia memang terlalu jujur.
"Memang iya kan. Kemarin bunda yang menangis karena ayah, dan sekarang Tante itu. Semoga saja jika Arsya besar nanti Arsya tidak akan seperti ayah" ucap Arsya lagi.
Devan langsung terkekeh geli mendengar ungkapan Arsya. Ya tuhan, disaat hatinya sedang gundah seperti ini, ternyata kehadiran anak bisa membuat hatinya menjadi lebih baik.
Dan melihat ini, bagaimana mungkin Devan bisa menduakan bunda mereka. Tidak mungkin, dan tidak akan pernah.
"Kamu memang harus lebih hebat dari ayah nak. Kamu juga tidak boleh membuat bunda menangis. Cukup ayah, dan kamu jangan. Oke" ujar Devan. Seraya meraih tangan Arsya dan membawa nya keluar dari dalam lift.
"Tentu saja. Bunda itu ratu di hidup Arsya. Dan Arsya,.tidak suka Tante tadi" ucap Arsya seraya memandang Devan dengan tatapan yang begitu tajam.
Devan tersenyum dan mengangguk.
"Ayah juga tidak suka nak" jawab Devan.
__ADS_1
Ya, dia tidak suka ketika mengingat permintaan gila Adinda tadi. Meskipun sejujurnya jika mengingat jasa keluarga mereka Devan juga tidak bisa mengabaikan itu. Tapi untuk menikah, itu memang tidak mungkin dia lakukan.
Semoga saja ada hal lain yang bisa membuat nya bisa menebus kebaikan mereka.
Devan membawa Arsya menuju ruangan Nesya. Dan tanpa mengetuk pintu, Devan langsung membuka pintu itu dengan pelan.
Mereka langsung tertegun saat melihat ternyata Shabrina ketiduran di kursinya. Bahkan dia tertidur dengan posisi yang tidak nyaman dengan kepala yang bersandar diranjang Nesya.
"Bunda tidur" bisik Arsya.
Devan mengangguk pelan dan langsung mendekat kearah Shabrina. Sedangkan Arsya berjalan menuju Nesya disisi lain.
Devan tertegun, saat melihat wajah Shabrina yang sembab, bahkan masih ada sedikit bekas air mata diwajahnya.
Shabrina menangis???
"Sayang..." panggil Devan seraya dia yang mengusap bahu Shabrina dengan lembut. Hingga membuat Shabrina langsung terbangun dan terkejut memandang Devan.
"Mas..." gumam nya seraya mengusap wajahnya yang terasa lengket.
"Pindah ke sofa yuk. Kenapa tidur disini?" tanya Devan.
Shabrina tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Dia memandang Nesya yang ternyata masih tertidur. Sementara Arsya sudah ada didepan nya dan memandang dia dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Arsya udah pulang nak. Sini bunda gantikan baju Arsya" ujar Shabrina seraya menjulurkan tangan nya pada Arsya. Bahkan dia langsung beranjak dan mengabaikan Devan yang memandang nya dengan heran.
Ada apa dengan Shabrina?
"Bunda menangis?" tanya Arsya seraya mengikuti Shabrina yang membawa nya ke sofa. Disana sudah ada tas yang dibawakan oleh pak Mun pagi tadi.
"Enggak sayang" jawab Shabrina.
"Mata bunda merah" ucap Arsya.
"Bunda ketiduran nak" jawab Shabrina lagi seraya membuka pakaian sekolah Arsya.
"Bunda bohong kan?" tuding Arsya.
Shabrina menggeleng dengan pelan. Sedangkan Devan hanya memandang mereka dari dekat ranjang Nesya.
"Enggak. Bunda gak bohong" jawab Shabrina lagi.
"Tapi Arsya tahu bunda" jawab Arsya.
"Arsya.... " panggil Devan.
Arsya menoleh begitu pula dengan Shabrina.
"Setelah ini pergi dengan pak Mun beli makanan ya. Sudah siang, tadi ayah lupa untuk singgah beli makan siang kita" ujar Devan.
__ADS_1
Dia tidak ingin Arsya terus mendesak Shabrina. Karena dari wajah nya saja Devan sudah tahu jika memang telah terjadi sesuatu selama dia tidak ada.
"Yasudah... Tapi Arsya mau chicken ya ayah" ujar Arsya akhirnya.
"Iya, pergilah bersama pak Mun. Bilang ayah yang menyuruh" sahut Devan.
"Oke... ayah jangan buat bunda menangis selama Arsya tidak ada" ujar Arsya. Dia bahkan sampai memandang Devan dengan lekat.
"Iya... tidak akan lagi" jawab Devan dengan helaan nafas gerah nya. Lama lama Arsya memang sudah seperti seorang bodyguard untuk bunda nya.
Arsya mengangguk dan langsung pergi dari ruangan itu. Setelah sebelumnya pamit terlebih dahulu pada bunda nya.
Setelah Arsya pergi, Devan menoleh kearah Nesya yang masih tertidur. Dan dia langsung berjalan mendekat kearah Shabrina yang duduk disofa seraya merapikan pakaian Arsya.
Devan duduk disamping Shabrina. Dia memperhatikan wajah istrinya itu dengan lekat. Bahkan sudah sedekat ini namun Shabrina tetap saja tidak mau memandang nya.
Sangat berbeda, padahal pagi tadi mereka masih baik baik saja.
"Sayang..." panggil Devan.
Shabrina menoleh kearah Devan, namun hanya sebentar dan setelah itu dia kembali melipat pakaian Arsya.
"Lihat mas dulu" pinta Devan.
Shabrina menghela nafas dan memandang kearah Devan.
Wajah nya benar benar sendu, dan itu membuat Devan semakin curiga.
Dia meraih pakaian yang dipegang Shabrina dan meletakkan nya keatas meja.
"Ada apa?" tanya Devan akhirnya.
Shabrina terdiam dan menunduk, matanya kembali berkaca kaca.
Belum diceritakan saja sudah membuat hatinya sakit.
"Sayang..." panggil Devan lagi seraya meraih tangan Shabrina dan menggenggam nya dengan erat.
"Jangan di pendam begitu. Mas tahu kamu sedang sedih. Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" tanya Devan lagi. Dia berbicara dengan sangat lembut dan hati hati. Karena dia tahu hati Shabrina terlihat sedang sensitif sekali sekarang.
"Tadi ibu mas datang kemari" ungkap Shabrina.
Devan terdiam. Ibunya? kemari?
"Dia ingin melihat Nesya" ucap Shabrina
"Dan juga memberitahukan semua nya pada Shasa" ungkap Shabrina. Dan kali ini dia tertunduk dengan lirih.
"Apa yang mama bilang?" tanya Devan.
__ADS_1
"Mama meminta Shasa untuk memilih"
"Melepaskan mas, atau bersiap untuk dimadu" jawab Shabrina dengan setitik air mata yang langsung menetes diwajahnya. Memandang wajah Devan dengan perasaan yang hancur tidak menentu.