Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Arsya Tidak Punya Ayah


__ADS_3

Nesya dibawa ke klinik terdekat yang ada didaerah itu. Tidak ada rumah sakit disini, rumah sakit cukup jauh, sekitar lima jam dari tempat tinggal Shabrina. Jadi Hans tidak ingin mengambil resiko apalagi ketika melihat Nesya yang sudah kesulitan bernafas.


Saat ini Nesya sudah terbaring dengan alat bantu pernafasan nya. Nafasnya sudah mulai teratur kembali. Dan itu membuat Shabrina sudah bisa merasa tenang.


Sejak tadi dia tidak pernah jauh dari Nesya. Duduk disamping ranjang Nesya dan menggenggam tangan kecil itu dengan lembut.


Sedangkan Arsya dan Devan duduk disebuah ranjang kosong yang juga ada didalam ruangan kecil itu.


"Jadi Nesya menderita penyakit jantung bawaan sejak kecil?" tanya Devan tiba tiba.


Shabrina hanya mengangguk pelan. Wajahnya lelah dan terlihat begitu sedih.


Devan cukup terkejut ketika Shabrina menjelaskan pada dokter yang menangani Nesya tadi, dan mengatakan jika putri nya menderita penyakit jantung bawaan sejak lahir. Sungguh Devan semakin merasa bersalah mendengar itu.


"Kita bawa Nesya ke kota ya Sha" ajak Devan


Shabrina tertegun, dia memandang Nesya yang masih tertidur dengan pandangan nanar nya.


Kekota???


Itu berarti dia kembali ke kehidupan Devan?


Kembali melihat orang orang yang sudah membuat nya menangis setiap hari???


"Sha, Nesya butuh perawatan dan operasi. Kamu pasti tidak ingin dia seperti ini terus kan" kata Devan lagi. Dia berbicara selembut mungkin pada Shabrina yang masih terlihat bingung dan gelisah.


Shabrina tertunduk, air mata lagi lagi menggenang di pelupuk matanya.


Jika dia kembali ke ibukota, dia pasti akan bertemu dengan ibu Devan yang sangat membencinya itu.


Dan lagi, Shabrina bukan istri Devan, dan Devan tidak bisa bertanggung jawab atas dia. Devan hanya harus bertanggung jawab untuk anak anak nya saja.


Shabrina tidak bisa ikut pergi, dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.


Tapi bagaimana dengan anak anak nya?


Nesya butuh perawatan, dan Arsya juga butuh sekolah.


Hidup bersamanya hanya akan membuat anak anaknya sengsara.


Ini adalah jalan agar anak anak nya bahagia. Tapi... apa dia sanggup berpisah dari mereka????


Enam tahun Shabrina hanya hidup bertiga, susah senang mereka lalui bersama. Dan sekarang Devan datang menawarkan segalanya, dan segalanya untuk kebahagiaan Nesya dan Arsya.


Apa yang harus Shabrina lakukan?


Dia tidak ingin pergi bersama Devan?


Tapi anak anak nya butuh Devan.


"Sha..." panggil Devan lagi.


Shabrina mengusap air matanya dengan cepat.

__ADS_1


Dia masih diam, dia masih benar benar bingung.


"Bunda nangis lagi?" tanya Arsya yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan mereka. Kini dia turun dari atas ranjang dan berjalan mendekati Shabrina.


Shabrina tersenyum dan meraih Arsya kedalam pangkuan nya.


"Bunda cuma khawatir sama Nesya nak" jawab Shabrina. Dia memeluk Arsya dan mengecup kepala nya dengan lembut.


Devan memandang mereka dengan hati yang perih. Luka dihati Shabrina benar benar besar. Dia pasti bimbang saat ini.


Tapi Devan juga tidak bisa membiarkan Nesya seperti ini terus.


"Bunda, apa kita gak ikut om Devan aja untuk bawa Nesya berobat?" tanya Arsya. Dia memandang Shabrina dengan sendu.


Dan itu membuat Devan tersenyum tipis. Niatnya akan berhasil jika Arsya dan Nesya yang mengajak bunda mereka.


"Dari dulu Nesya suka sesak. Arsya takut Nesya kenapa Napa bunda" kata Arsya lagi.


Shabrina terdiam mendengar itu.


"Arsya mau ikut om Devan kan nak?" tanya Devan pula. Kini dia mendekati Arsya dan Shabrina.


Shabrina langsung memandang Devan dengan mata yang semakin berair.


"Kita bawa Nesya berobat ya. Biar Nesya sembuh" ujar Devan lagi seraya mengusap kepala Arsya dengan lembut.


Arsya memandang pada bunda nya yang masih terlihat ragu.


Namun perhatian mereka kembali teralih pada Nesya yang mulai bangun.


"Bunda..." panggil Nesya. Suaranya masih serak dan terdengar pelan.


"Iya nak, bunda disini" Shabrina beranjak dan mengusap kepala Nesya.


"Masih sakit dadanya?" tanya Shabrina. Namun Nesya langsung menggeleng.


"Bunda lepas" Nesya menarik alat bantu pernafasan di hidung nya, namun langsung diraih oleh Devan.


"Pelan pelan nak" ujar Devan yang membantu melepaskan alat itu.


Nesya memandang Devan dengan lekat, dan kembali memandang bunda nya.


"Bunda" panggil Nesya lagi disaat Devan sudah melepaskan alat itu.


"Iya sayang" jawab Shabrina


"Tapi Nesya mimpi ketemu ayah"


deg


Shabrina dan Devan langsung mematung mendengar perkataan Nesya.


"Ayah datang bunda, ayah datang mau jemput Nesya sama bunda juga kakak" kata Nesya lagi.

__ADS_1


Mendengar itu Shabrina kembali tertunduk dan menahan tangisnya.


Lihatlah, bahkan anak nya sendiri memang sudah tahu dengan kehadiran ayah kandung nya.


Bagaimana Shabrina bisa mengelak lagi.


Devan langsung memeluk Nesya dengan lembut, mengecup dahi putri kecil nya yang masih nampak pucat.


"Ini ayah nak, ini ayah. Ayah datang, maafin ayah nak" ucap Devan dengan penuh sesal. Air mata tidak bisa dia tahan. Hatinya benar benar sakit dan hancur mendengar perkataan Nesya.


Ayah macam apa dia yang tega membiarkan anak anak nya seperti ini.


Shabrina terisak dan membiarkan Devan memeluk Nesya. Ya, dia tidak bisa lagi menutupi semuanya. Anak anak nya memang harus tahu jika ayah mereka telah kembali.


"Ayah?" tanya Nesya


Devan memandang Nesya dan mengangguk.


"Iya, ini ayah nak. Maafin ayah yang baru datang sekarang. Maafin ayah" ucap Devan


"Kenapa ayah gak bilang. Kenapa ayah baru pulang sekarang. Nesya udah nungguin ayah dari lama" ungkap Nesya dengan polosnya. Namun perkataan polos itu mampu membuat Shabrina dan Devan semakin menangis bersedih.


"Maafin ayah nak" Devan tidak mampu berkata apapun lagi selain kata maaf. Meski ribuan kali kata maaf itu dia ucapkan, tapi tetap saja, tidak akan bisa menebus kesalahan nya selama ini.


"Ayah jangan pergi lagi. Nesya mau sama ayah terus" pinta Nesya.


Devan menggeleng dengan cepat.


"Ayah gak akan pergi lagi nak" jawab Devan seraya mengucap wajah Nesya dan mencium lembut dahi putri nya.


"Ayah janji" pinta Nesya lagi.


"Janji" jawab Devan.


Nesya langsung tersenyum dan memeluk Devan dengan erat. Wajahnya nampak begitu bahagia.


"Bunda... Ayah Nesya udah kembali. Nesya punya ayah sekarang" adu Nesya pada Shabrina.


Shabrina hanya bisa mengangguk dan tersenyum dengan perih.


Ya tuhan...


melihat kebahagiaan Nesya yang seperti ini, apa dia tega memisahkan mereka lagi???


"Kakak, kita udah punya ayah kan sekarang" kini Nesya beralih pada Arsya yang sejak tadi mematung memandang Devan.


Shabrina dan Devan langsung memandang pada Arsya.


"Nak.." panggil Devan.


Arsya hanya diam dan memandang nya dengan lekat. Wajah polos itu terlihat datar, tapi tidak ada yang tahu tentang isi hatinya saat ini.


"Arsya tidak punya ayah!"

__ADS_1


deg


__ADS_2