
Arsya dan Nesya masih asik bermain dengan mainan baru mereka. Mereka nampak begitu bahagia. Dan tentunya Devan juga ikut bahagia melihat anak anak nya.
Setelah memastikan Nesya tidak akan mencarinya lagi, Devan mendatangi Shabrina yang sejak tadi hanya duduk melamun dikamar Nesya. Wanita itu nampak melamun, dan entah apa lagi yang dilamunkan nya.
"Sha" panggil Devan.
Shabrina langsung menoleh kearah Devan, dia melirik sekilas kekamar Arsya dimana Nesya masih asik bermain disana. Mereka seperti tidak mengenal lelah setelah satu harian berada diperjalanan jauh.
"Ayo aku tunjukan kamar kamu" ajak Devan.
Shabrina tertegun sejenak. Namun beberapa detik kemudian dia menggeleng.
"Aku tidur disini saja" ucap Shabrina.
"Kamar kamu sudah ada, kamu bisa istirahat disana" kata Devan lagi.
"Tidak mas, terimakasih. Aku bisa tidur dengan Nesya. Tidak perlu memikirkan aku" jawab Shabrina. Terdengar acuh dan tidak enak.
Devan menghela nafasnya dengan pelan. Dia duduk disamping Shabrina sembari memperhatikan anak anak nya dari sana.
"Kamu masih begitu marah padaku?" tanya Devan.
Shabrina diam.
"Bagaimana caranya untuk menebus kesalahan itu. Bukan kah aku sudah menjelaskan semuanya?" tanya Devan lagi. Dia memandang Shabrina dengan pandangan yang sedih dan mengiba.
Kenapa Shabrina masih bersikap dingin. Kenapa dia seolah menjaga jarak. Devan rindu Shasa nya yang manja, yang selalu merengek apapun dan selalu mengutamakan dia, seperti dulu.
Tapi sekarang, rasanya benar benar berbeda.
"Jangan lagi dibahas. Bukankah kemari untuk membuat mereka bahagia. Maka mas hanya perlu bertanggung jawab atas mereka. Dan untukku..... rasanya tidak perlu lagi" ucap Shabrina.
"Kenapa kamu seperti ini?" tanya Devan.
Shabrina memandang kearah Devan dengan pandangan datar, namun matanya berair.
"Tidak adakah rasa cinta itu lagi dihati kamu?" tanya Devan.
Shabrina tertegun, dia langsung memalingkan wajah nya kembali.
"Itu bukan pembahasan yang penting lagi" sahut Shabrina.
Terdengar acuh, tapi sebenarnya hati nya benar benar merasa ingin menangis lagi.
__ADS_1
Kenapa ditanya seperti itu?
Shabrina tidak tahu apakah cinta itu masih ada atau tidak, tapi yang jelas, setiap hari, selama enam tahun, bayangan Devan memang tidak pernah lepas dari ingatan nya.
Tapi semua perasaan itu bukan lagi hal yang utama, karena yang utama adalah kehidupan anak anak nya.
"Sha.... Sejak dulu, tidak ada yang lebih penting dari kamu dan perasaan ini. Sejak kamu pergi, aku seperti hidup tanpa nyawa. Kamu segalanya Sha. Tolong jangan seperti ini" pinta Devan.
Dia meraih tangan Shabrina dan menggenggam nya dengan lembut.
Shabrina tertunduk, air mata nakal ini kembali menetes diwajahnya.
"Cinta itu masih sama. Aku masih begitu mencintai Shasa ku yang manja. Aku mohon maafkan aku, dan izinkan aku untuk memperbaiki segala nya. Untuk kebahagiaan kita, dan anak anak kita sha" ucap Devan begitu serius.
Shabrina masih terdiam, dia hanya bisa menahan Isak tangis nya kembali.
Tawaran cinta dan kebahagiaan itu datang lagi. Tapi apakah Devan bisa menepatinya. Setelah mereka pernah gagal dan berakhir dalam kesusahan selama enam tahun.
"Sha...." panggil Devan.
Shabrina menggeleng seraya menarik tangan nya dari Devan. Dia mengusap kasar wajahnya yang sudah basah.
"Aku akan menikahi kamu"
Shabrina langsung menoleh pada Devan dengan pandangan tidak percaya nya.
"Aku ingin menjadikan kamu istriku. Agar kita bisa bersama sama menjaga Arsya dan Nesya" ucap Devan lagi.
"Jangan gila kamu mas" sahut Shabrina dengan wajah kesalnya.
"Gila bagaimana, aku serius. Apa kamu kira aku akan membiarkan kamu pergi lagi. Tidak Sha. Sudah cukup enam tahun kamu menderita. Dan aku juga menahan perasaan seperti mau mati selama enam tahun kamu tidak ada" ucap Devan, dia memandang Shabrina dengan lekat. Hingga kini mereka saling pandang dengan tatapan tajam masing masing.
"Apa kamu sadar dengan perkataan kamu barusan" tanya Shabrina
"Karena aku sadar, maka dari itu aku mengatakan nya" jawab Devan.
Air mata kembali menetes diwajah Shabrina.
"Kamu tidak tahu betapa takutnya aku ikut kamu kemari mas. Kamu tidak tahu bagaimana aku berperang dengan hatiku sendiri, antara memikirkan kesehatan Nesya dan rasa khawatir bertemu dengan ibumu dan wanita itu. Apa kamu mengerti itu?" tanya Shabrina.
Devan menarik tangan nya kembali, namun Shabrina menghempaskan nya dengan cepat.
"Kamu tidak tahu betapa sakitnya aku ketika mereka menghina ku dan mengusir ku dulu. Aku takut ibu kamu berbuat seperti itu pada anak anak ku. Aku tidak mau mas. Aku takut" seru Shabrina dengan tangis yang semakin menjadi.
__ADS_1
Devan langsung menarik Shabrina kedalam pelukan nya, meski Shabrina menolak, tapi Devan tetap memeluk nya dengan erat. Hingga akhirnya Shabrina luluh dan malah menangis dalam dekapan Devan kembali.
Rasa sakit akibat perlakuan orang tua Devan begitu terasa. Dia dihina, direndahkan, di ancam dan diusir dengan begitu tega. Dan tentu saja Shabrina tidak bisa melupakan hal itu.
"Aku tahu Sha, aku tahu. Maka dari itu aku akan menikahimu, agar mereka tidak akan mengusik kamu lagi. Kita sudah punya ikatan yang kuat, kamu istriku, dan ibu dari anak anak ku. Aku tidak akan membiarkan mereka mengusik kamu lagi Sha. Aku janji" ucap Devan.
"Aku takut mas" lirih Shabrina
Devan semakin mengeratkan pelukan nya dan mencium pucuk kepala Shabrina dengan lama.
"Ada aku Sha. Aku janji, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Besok lusa, kita akan menikah. Kamu mau kan" pinta Devan. Dia menangkup wajah Shabrina dan mengusap wajah sendu itu dengan lembut.
"Tapi... bagaimana dengan mereka?" tanya Shabrina masih begitu ragu.
"Jangan fikirkan mereka. Yang terpenting, kita mempunyai status yang kuat. Sekarang, kita hanya perlu mementingkan kesehatan Nesya dan juga Arsya. Anak anak kita Sha, tidak ada yang lain" jawab Devan.
Shabrina tertunduk
"Jangan takut, aku tidak akan membiarkan mereka mengusik kamu. Dulu aku masih berada dibawah tekanan papa, tapi sekarang, aku sudah punya usaha sendiri. Dan jika pun mereka menolak, maka aku bisa pergi membawa kalian tanpa takut apapun lagi" ungkap Devan seraya dia yang kembali meraih dagu Shabrina untuk memandang kearah nya.
"Kamu mau menikah dengan ku kan. Maafkan aku, tidak ada lamaran romantis ataupun pesta pernikahan yang besar. Aku hanya ingin mengikat mu terlebih dulu. Dan jika semua sudah baik baik saja, aku pasti akan menikahi kamu dengan pesta yang mewah" ucap Devan lagi
"Apa ini demi anak anak?" tanya Shabrina.
"Demi janji ku dulu. Aku tidak ingin lagi kehilangan kamu" jawab Devan.
"Kamu mau kan, aku mohon" pinta Devan lagi.
Shabrina terdiam sejenak, matanya melirik kearah anak anak nya. Jika dia menolak, maka semua pasti akan berdampak pada anak anaknya. Tapi jika dia menerima, apakah itu pilihan yang baik?
Tapi....
Shabrina tidak ingin egois. Anak anak nya memerlukan ayah mereka.
"Sha..." panggil Devan lagi
Dan akhirnya, Shabrina mengangguk pelan, dengan mata yang memandang Devan penuh harapan.
Devan tersenyum dan langsung mengecup dahi Shabrina sejenak. Sentuhan hangat yang membuat hati Shabrina sedikit lebih tenang. Yah, sejak dulu hatinya selalu lemah dengan perlakuan Devan. Hingga membuat dia terus menerus memberikan kesempatan kesempatan yang akhirnya membuat dia menderita.
Apakah jika kali ini dia memberikan kesempatan itu, maka dia bisa bahagia bersama anak anaknya?
Atau malah, luka itu datang lagi???
__ADS_1