
Pagi hari ini nampak begitu cerah, bahkan matahari juga sudah mulai terbit dan menampakan sinar nya yang menghangatkan.
Sangat cerah secerah senyum Devan saat ini. Dia masih betah bergelung dalam selimut dengan tangan yang masih mendekap hangat tubuh Shasa nya.
Shabrina masih nampak terlelap dalam tidurnya, sepertinya dia kelelahan, karena malam tadi setelah drama tangis menangis, akhirnya mereka berakhir diatas ranjang.
Meluahkan segala perasaan mereka yang selama ini terpendam. Mengulang kembali perasaan yang pernah mereka perbuat dulu.
Jika dulu mereka melakukan itu karena perasaan yang menggebu dan bercampur dengan nafsu terlarang, maka malam tadi mereka melakukan nya dengan penuh cinta dan kasih. Rasanya sangat berbeda, dan tentunya lebih indah untuk dinikmati. Bersatu dalam keadaan yang suci dan halal.
Terkadang, sempat terlintas difikiran Devan, jika penderitaan selama enam tahun yang mereka lalui adalah karena kesalahan yang pernah mereka lakukan dulunya. Tapi jika diingat ingat lagi, rasanya tidak adil jika karena itu. Apalagi disini Shabrina lah yang lebih menderita dibanding dia. Dia hanya menahan rindu dan perasaan nya. Tapi Shabrina, dia harus berjuang untuk kedua buah hati mereka. Padahal Devan yang memulai dulunya.
Devan tersenyum seraya mengusap wajah Shabrina yang masih terlelap dalam dekapan nya. Wanita yang paling dia cintai sejak dulu hingga sekarang. Bahkan rasanya saat ini perasaan itu semakin bertambah besar.
Shabrina, wanita yang paling besar jasanya untuk kehidupan Devan. Begitu besar kesalahan nya karena telah membiarkan Shabrina berjuang sendiri selama enam tahun demi anak anak nya. Dan itu sudah cukup. Sekarang, Devan tidak akan lagi membiarkan istrinya ini lelah dan bersedih lagi. Semampunya, Devan akan membahagiakan Shabrina, juga anak anak nya.
Tangan Devan masih asik bermain diwajah Shabrina. Wajah yang terlihat kering karena sepertinya dia memang tidak pernah lagi merawat nya. Wajah yang terlihat kusam karena panas matahari demi menghidupi anak anak nya.
Hati Devan terenyuh, dia pasti akan membuat Shabrina menjadi wanita yang paling cantik dan paling bahagia suatu saat nanti. Itu janjinya.
cup
Gemas sekali. Tidak tahan Devan melihat bibir ranum yang selalu saja menggoda nya itu.
Dan karena kecupan itu, membuat Shabrina langsung menggeliat dan terbangun dari tidurnya.
Devan tersenyum saat melihat mata Shabrina terbuka dengan sayu. Bahkan pandangan mata sayu itu langsung memandang kearah nya.
Shabrina nampak mengerjapkan matanya memandang Devan. Dan tentu itu membuat Devan kembali gemas.
Cup
Sekali lagi dia mendaratkan kecupan dibibir ranum istrinya. Dan itu membuat Shabrina terkesiap.
"Mas..." gumam Shabrina yang langsung menjauh namun Devan kembali menarik tubuhnya.
"Selamat pagi sayang. Nyenyak sekali kamu tidur" ucap Devan seraya mengusap anak rambut yang menutupi sedikit wajah cantik itu.
Shabrina masih memandang Devan, dia masih sungguh tidak percaya dengan pemandangan pagi ini. Wajah tampan Devan lah yang pertama kali dia lihat.
Senyum Devan dan dekapan hangat nya ini sungguh membuat Shabrina merasa benar benar tenang dan damai. Apalagi dengan aroma maskulin bercampur dengan aroma feromon bekas mereka bersatu malam tadi, sungguh membuat Shabrina begitu terbuai. Bahkan dia merasa jika malam tadi tidurnya begitu nyenyak, tidur ternyenyak dan ternyaman selama enam tahun terakhir.
Ya, malam tadi semua dimulai kembali.
"Lelah?" tanya Devan.
__ADS_1
Shabrina tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Jika begitu, boleh mengulang lagi?" tanya Devan dengan senyum simpulnya
Shabrina langsung mendengus kesal dan memeluk tubuh Devan dengan manja.
"Jangan lupa diri mas. Ini sudah jam berapa, anak anak pasti akan bangun sebentar lagi" jawab Shabrina
Devan terkekeh pelan dan mengecup kepala Shabrina seraya mendekapnya dengan erat.
"Mas bercanda sayang" ucap Devan.
Shabrina kembali terpejam dalam dekapan itu, apalagi dengan usapan lembut Devan dipunggung nya.
"Terimakasih telah kembali. Jangan pergi lagi ya" pinta Devan.
"Tidak akan. Karena sekarang, Shasa ingin egois. Bukan kah sudah ada Arsya yang akan membela?" jawab Shasa seraya mendongak dan memandang Devan.
"Benar... dia memang anak mas" ucap Devan.
"Sangat mirip. Semua nya" sahut Shasa
"Itu berarti dia memang tidak memperbolehkan bunda nya melirik lelaki lain selain ayah nya ini" ucap Devan.
Shasa mendengus senyum dan mengangguk. Karena memang benar, tidak ada dia melihat lelaki lain selain Devan selama enam tahun ini. Hanya Devan dan tetap Devan.
Suara teriakan Nesya membuat Shabrina dan Devan langsung terkesiap. Bahkan Shabrina langsung beranjak dari duduk nya. Apalagi bisa mereka dengar jika Nesya berteriak dengan suara yang bercampur tangis.
Shabrina langsung turun dari atas ranjang dan berjalan menuju pintu. Untung saja dia sudah memakai gaun tidur nya sekarang.
Saat membuka pintu ternyata Nesya sudah ada disana bersama baby sitter yang sudah disiapkan Devan untuk membantu Shabrina mengurus anak anak nya.
"Bunda kenapa ilang. Nesya cari bunda dari tadi" tanya Nesya dengan Isak tangis nya.
Shabrina langsung menggendong Nesya kedalam pelukannya.
"Maaf nyonya, nona muda tidak ingin bersama saya" ucap baby sitter itu
"Enggak apa apa mbak. Biar Nesya sama saya" jawab Shabrina dengan senyum tipis nya.
"Udah dong, jangan nangis. Gak baik nangis pagi pagi sayang" ujar Shabrina seraya mengusap pundak Nesya dengan lembut.
"Nesya rusuh banget. Arsya masih enak tidur udah teriak teriak" sahut Arsya yang juga baru datang. Dia terlihat mengusap matanya yang masih sayu.
"Nesya cari bunda dan ayah" jawab Nesya terlihat begitu kesal.
__ADS_1
"Mana ayah Nesya bunda?" tanya Nesya
"Itu ayah.." tunjuk Shabrina pada Devan yang masih ada diatas tempat tidur. Dia masih memakai baju nya disana.
Shabrina langsung membawa Nesya pada Devan, diikuti dengan Arsya juga tentunya.
"Ayah... kenapa ayah tidur disini" rengek Nesya yang langsung masuk kedalam pelukan Devan. Arsya juga langsung melompat naik keatas tempat tidur. Bahkan dia langsung memejamkan matanya lagi sekarang.
"Ini kan kamar ayah sayang" jawab Devan seraya merebahkan Nesya disamping Arsya dan memeluk nya dengan gemas
"Ayah tidur dengan bunda?" tanya Nesya.
Arsya langsung membuka matanya dan memandang bunda nya mendengar itu.
"Iya, ayah tidur dengan bunda. Kenapa? Nesya kan sudah besar, masak tidak berani tidur sendiri?" tanya Devan.
"Kenapa tidak ajak Nesya tidur disini? Semalam ayah tidur dengan kakak, sekarang ayah tidur dengan bunda. Ayah jahat sekali" rengek Nesya.
Devan langsung tertawa mendengar itu. Begitu pula dengan Shabrina
"Iya, malam nanti gantian ayah tidur dengan Nesya. Oke, jangan ngambek lagi dong" ujar Devan.
"Ayah tidak bohong?" tanya Nesya. Wajah cemberut nya benar benar menggemaskan.
"Tidak sayang" jawab Devan.
"Bunda" panggil Arsya
Shabrina dan Devan langsung menoleh pada Arsya.
"Kenapa leher bunda merah merah?" tanya Arsya
Shabrina langsung mematung dan meraba lehernya. Dia langsung memandang Devan dengan kesal. Namun Devan malah terlihat santai dan tersenyum bangga.
Menyebalkan memang.
"Bunda digigit serangga ya bunda?" tanya Nesya dengan polos nya.
"Iya nak, serangga besar" jawab Shabrina dengan menahan kesal.
Devan langsung menggaruk pelipis nya dengan canggung.
"Ayah... kenapa ayah membiarkan bunda seperti ini. Apa ayah jorok dan tidak pernah mencuci bantal dan selimut?" tanya Arsya pada Devan.
Matanya memicing memandang Devan, hingga membuat Devan jadi bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Ayah memang jorok" sahut Shabrina dengan cepat
"Sayang...." protes Devan.