
Hari sudah larut dan mereka baru tiba dirumah petak Shabrina. Nesya sudah tertidur saat diperjalanan tadi. Dan sekarang Devan membawa Nesya masuk kedalam rumah dengan hati hati. Takut anak perempuan nya ini terbangun.
Anak yang tidak dia sangka telah ada didunia ini. Berharap bisa bertemu dengan Shabrina, namun malah bertemu juga dengan anak nya yang tidak dia ketahui kehadirannya.
Devan merebahkan Nesya diatas tempat tidur dengan pelan. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut tipis milik Nesya.
Lagi lagi hatinya teriris perih melihat keadaan rumah ini. Dimana setiap malam anak dan wanita yang dia cintai harus tidur dengan tempat yang sangat tidak layak baginya ini.
Devan melirik Shabrina yang kini sedang menggantikan pakaian Arsya. Anak lelakinya itu sama sekali tidak ada lagi menegur ataupun melihat kearahnya. Sepertinya dia benar benar kecewa pada Devan.
"Pergilah, anak anak sudah mau tidur" usir Shabrina.
Devan memandang Arsya yang naik ke tempat tidur.
"Aku akan tidur dimobil saja" ucap Devan.
Shabrina hanya diam dan menyelimuti Arsya. Dia mengabaikan Devan.
Dan lagi lagi, Devan hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
"Jika belum mengantuk, aku tunggu diluar ya" ucap Devan. Setelah mengatakan itu dia langsung keluar rumah. Meninggalkan Shabrina yang masih mengurus anak anak nya.
Hari sudah cukup larut malam. Hans juga sudah masuk kedalam mobil. Karena malam ini mereka tidak akan pergi dari rumah ini. Devan bisa saja tidur di penginapan yang ada didaerah itu. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan, melihat anak anak nya tidur ditempat ini membuat hatinya sedih. Jadi dia lebih memilih untuk tidur dimobil saja.
Menunggu hari esok untuk mereka pergi ke kota. Semoga saja Shabrina mau ikut bersama nya.
Mata Devan memandang kedaerah sekitar, dimana semua tetangga Shabrina mempunyai rumah yang cukup bagus. Meskipun kecil dan sederhana, tapi jauh lebih baik dari pada rumah yang ditinggali anak anak nya ini.
Devan menghela nafas kembali. Entah sesusah apa mereka selama ini. Bahkan makan saja pasti tertahan.
Sungguh, Devan benar benar sedih jika mengenangkan keadaan anak anak nya dan juga wanita yang dia cintai.
Dia hidup dalam kemewahan, tapi anak anak nya malah sengsara disini.
Devan sudah menorehkan luka dihati Shabrina, merenggut kesucian nya, membiarkan dia hamil sendirian, dan membiarkan dia menanggung beban untuk menjaga kedua anak anak nya seorang diri.
Ya tuhan...
Devan tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menebus segala kesalahannya ini.
__ADS_1
Ceklek
Suara pintu yang tertutup membuat Devan menoleh. Ternyata Shabrina yang keluar. Wajahnya nampak lesu dan bersedih. Tidak tahu apa yang dia fikirkan saat ini.
Shabrina duduk disamping Devan. Terpisahkan oleh sebuah kursi yang sudah rusak. Matanya memandang kearah depan dimana jalanan sepi dan nampak gelap.
"Kamu mau kan, pergi ke ibukota untuk mengobati Nesya" tanya Devan.
Shabrina menghela nafasnya sejenak dan tertunduk perih.
"Mas mengakui dia sebagai anak mas?" tanya Shabrina, tanpa mau memandang Devan yang menatapnya dengan heran.
"Apa maksud kamu?" tanya Devan.
"Aku bahkan belum berkata jika mereka anak anak mas. Tapi mas sudah sangat yakin" ucap Shabrina.
Devan tersenyum tipis mendengar itu.
"Bahkan tanpa tes DNA ataupun yang lain aku sudah tahu jika mereka memang anak anak ku. Wajah Arsya tidak bisa membohongi siapapun" sahut Devan.
Shabrina terdiam. Matanya masih memandang kedepan.
Ya, wajah Arsya yang selalu membuat dia teringat dengan pria ini setiap detiknya.
Shabrina masih diam. Dia sudah lelah berdebat.
"Mencari kamu seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Kamu menghilang bagai ditelan bumi" ucap Devan lagi.
"Enam tahun yang lalu, mama memang menyiapkan semua persiapan pernikahan. Bahkan undangan memang sudah disebar. Tapi sama sekali aku tidak tahu itu. Saat itu aku berada diluar kota mengurus perusahaan cabang yang sedang bermasalah. Dan aku berniat untuk menikahi kamu sepulang dari sana. Dengan atau tanpa restu orang tua ku" ungkapan Devan membuat hati Shabrina kembali sedih. Ingatan enam tahun lalu kembali terlintas dikepala nya.
"Tapi saat itu aku mengalami kecelakaan "
Shabrina mematung.
"Aku masuk rumah sakit dan dinyatakan koma oleh dokter"
deg
Haruskah Shabrina percaya???
__ADS_1
"Jika kamu tidak percaya, lihatlah ini" ujar Devan. Dia seperti tahu isi hati Shabrina saat ini.
Shabrina menoleh kearah Devan yang menyingkap celana nya. Dimana meski saat itu gelap, tapi bisa Shabrina lihat jika ada bekas luka yang panjang dan lebar disana.
"Ini" Devan juga menyingkap lengan kemeja nya, dimana lengan nya juga ada bekas luka yang cukup serius.
"Dan disini" kata Devan lagi seraya mengusap dahinya yang juga terdapat bekas luka itu.
"Kecelakaan itu membuat aku terluka parah dibagian kepala dan kaki. Aku sendirian waktu itu. Aku pulang dan terburu buru karena mendengar kabar dari Hans jika mama sudah mempersiapkan pernikahan ku dengan Adinda. Bahkan dia juga sudah menyebar undangan pernikahan itu"
"Aku kalap dan aku takut kamu kecewa. Tapi kenyataan nya, karena kecelakaan itu aku malah kehilangan kamu"
Devan memandang Shabrina yang kembali tertunduk sedih.
Tidak tahu harus bahagia atau sedih mendengar cerita Devan. Tapi tetap saja, enam tahun ini dia benar benar tersiksa. Apalagi ditahun pertama dia menjadi seorang ibu.
"Aku salah, karena aku terlalu lamban mengambil keputusan. Maafkan aku Sha. Aku tahu kamu kecewa. Tapi sungguh, aku tidak berniat untuk mengkhianati kamu"
Air mata Shabrina kembali menetes membasahi wajahnya.
"Sha... tolong. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Biarkan aku bertanggung jawab untuk kamu dan anak anak" pinta Devan dengan segenap hati nya.
Shabrina mengusap air matanya dengan cepat.
"Aku tidak melarang mas" ucap Shabrina.
"Selama ini aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka. Mereka selalu kesusahan bersamaku. Aku tidak bisa membuat mereka bahagia" lirih Shabrina dengan Isak tangis nya yang tertahan.
"Sha..." Devan ingin meraih tangan Shabrina, namun Shabrina mengelak.
"Kamu berhak atas mereka. Kamu memang ayahnya. Mereka lebih butuh kamu dari pada aku. Bawalah mereka pergi." ujar Shabrina. Air mata semakin deras saat dia mengatakan itu. Karena sungguh, hati Shabrina benar benar hancur ketika dia harus merelakan anak anak nya pergi.
Meskipun Devan berkata jika dia tidak berkhianat, tapi tetap saja, Shabrina tidak ingin lagi mengulang luka yang sama.
Biar anak nya bahagia bersama Devan. Biar dia yang terpuruk sendiri disini. Itu lebih baik dari pada melihat anak anak nya yang bersedih setiap hari hanya karena ingin makan sesuap nasi.
"Sha... aku tidak mungkin membawa mereka tanpa kamu" ucap Devan.
Namun Shabrina hanya menangis dan semakin tertunduk dengan begitu perih.
__ADS_1
"Aku juga tidak mungkin pergi bersama kamu mas. Aku tidak ingin mengulang luka yang sama lagi"
deg