
Sementara disekolahan Arsya....
Shabrina masih duduk di bangku taman sekolah bersama Arsya dan Nesya. Arsya baru saja keluar dari kelas. Dan kini mereka sedang menunggu Hans untuk menjemput.
Nesya terlihat bermain diayunan yang ada ditaman itu. Mulutnya bersenandung ceria seperti biasa. Padahal saat ini Nesya sedang sakit, tapi dia masih saja bisa ceria.
"Jangan kuat kuat sayang. Pelan pelan saja ya" ujar Shabrina pada Arsya yang tengah mengayun adiknya.
"Iya bunda. Siap" jawab Arsya.
"Bunda, kenapa om Hans lama sekali. Nesya sudah lapar" ucap Nesya.
"Nesya lapar? Tapi tadi sudah makan roti" tanya Shabrina yang berjalan mendekat kearah Nesya.
"Tidak tahu, tapi Nesya mau makan. Kan makan nya cuma sedikit tadi" jawab Nesya.
"Nesya mentang mentang dirumah ayah banyak makanan selalu lapar terus. Biasa juga makan nya dikit" sahut Arsya.
Shabrina langsung tersenyum getir mendengar itu.
"Kan itu dulu kakak. Sekarang sudah ada ayah yang bekerja. Kalau tidak buat Nesya, buat siapa coba" ucap Nesya
"Ya buat kakak lah. Enggak cuma buat kamu" jawab Arsya.
"Sudah sudah. Kalau begitu tunggu disini sebentar ya. Bunda beli roti didepan. Nanti kalau om Hans sudah datang, bilang bunda ditoko roti itu." ujar Shabrina seraya menunjuk toko roti yang memang ada didepan sekolahan Arsya.
Arsya dan Nesya langsung memandang ke toko roti diseberang jalan sana. Toko roti yang cukup besar.
"Wow... itu pasti mahal bunda" gumam Arsya.
Shabrina tersenyum dan mengusap pucuk kepala Arsya.
"Bunda sudah dikasih uang sama ayah. Jadi bunda bisa beliin itu buat kalian. Arsya jaga Nesya disini. Jangan kemana mana. Nanti om Hans cari kita" ujar Shabrina
"Iya bunda. Beli yang enak, yang rasa cokelat kayak yang sering dibeli ayah ya bunda" pinta Nesya.
"Iya sayang" jawab Shabrina.
Dia langsung berjalan keluar pagar sekolah. Berjalan dengan hati hati menyeberangi jalan yang beruntung nya tidak terlalu ramai karena bukan jalan utama, lagi pula itu masih dikawasan sekolah elite itu.
Toko kue itu cukup besar. Dan sebenarnya Shabrina sedikit kikuk belanja disini. Sudah lama sekali dia tidak masuk kedalam tempat tempat seperti ini. Sejak enam tahun terakhir.
__ADS_1
Shabrina berjalan memilih milih roti yang akan dia beli untuk anak anak nya. Devan sudah memberikan dia sebuah kartu kredit untuk keperluan dia dan anak anak. Jadi Shabrina bisa mempergunakan itu saja sekarang.
Menjadi istri dan ibu dari anak anak seorang lelaki yang kaya, tentu bisa membuat hidupnya lebih mudah. Tapi rintangan yang dihadapi juga tidak mudah. Berat sekali, karena Shabrina hanya gadis miskin yang tidak mempunyai siapa siapa lagi.
Cake cokelat kesukaan Nesya ternyata ada disini. Shabrina mengambil nya satu kotak. Namun dia terkesiap saat tiba tiba seseorang juga ingin meraih kue itu.
"Oh maaf" ucap gadis itu.
Shabrina menoleh kearah nya, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat siapa orang itu. Begitu pula dengan gadis itu.
"Kamu" gadis itu memandang Shabrina dengan pandangan terkejutnya.
"Adinda" gumam Shabrina.
Adinda memandang Shabrina dengan lekat, bahkan dia memandang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membuat Shabrina benar benar canggung dan kesal.
"Kamu Shasa?" tanya Adinda.
"Menurutmu siapa?" tanya Shabrina.
Dia langsung meraih kotak cake cokelat itu dan ingin pergi meninggalkan adinda. Namun gadis itu malah menahan lengan nya dan berdiri dihadapan Shabrina.
"Tunggu dulu, aku masih ingin berbicara padamu" kata Adinda.
Adinda langsung mendengus kesal mendengar itu.
"Kemana kamu selama ini?" tanya Adinda
"Bukan urusan mu" jawab Shabrina
"Apa kamu memang benar sudah menikah dengan Devan dan memiliki anak?" tanya Adinda lagi. Wajahnya terlihat begitu sendu. Dan itu membuat Shabrina memandang nya dengan heran.
"Hei... kenapa kamu tidak menjawab?" tanya Adinda lagi
"Iya.. aku sudah menikah dengan Devan. Dan sudah memiliki anak" jawab Shabrina akhirnya.
"Kamu berbohong kan?" tanya Adinda. Matanya terlihat berkaca-kaca sekarang. Apa dia sedih dan kesal mendengar ini?
Tapi memang sejak dulu Shabrina tahu, jika Adinda memang begitu menyukai Devan.
"Mereka anak anakku" Shabrina menunjuk kearah luar. Dimana dari balik dinding kaca itu, depan sekolahan Arsya memang nampak jelas. Dan tentu saja Arsya dan Nesya yang sedang bermain terlihat oleh Adinda. Meski wajah mereka tidak begitu jelas.
__ADS_1
"Tidak mungkin" gumam Adinda serasa tidak percaya.
"Apa yang tidak mungkin. Dia anak anak ku bersama Devan. Tolong, jangan lagi usik kebahagiaan kami" pinta Shabrina.
"Kamu pasti berbohong kan. Kamu pergi sudah begitu lama. Tapi anak anak itu sudah begitu besar" ungkap Adinda.
"Mereka anak anak yang aku bawa tanpa sepengetahuan kalian. Saat kamu dan nyonya Kartika mengusir ku, aku pergi dengan membawa anak yang sudah ada dalam kandungan ku" ungkap Shabrina. Matanya juga berkaca kaca sekarang. Jika mengingat itu, dia benar benar merasa sedih dan sakit. Luka yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
Adinda menggeleng dengan menahan tangis yang semakin ingin keluar.
"Tidak mungkin. Lalu bagaimana dengan aku dan orang tua ku jika Devan sudah menikahi mu dan memiliki anak" gumam nya begitu sedih.
Shabrina benar benar bingung. Apa cinta Adinda begitu besar pada Devan nya?
"Kamu tahu jika aku dan Devan sudah dijodohkan. Tapi kenapa kamu masih saja tidak mengerti?" tanya Adinda, kini dia memandang Shabrina kembali.
Wajahnya benar benar terlihat sedih. Jika dulu Adinda akan marah marah padanya, tapi kenapa sekarang berbeda???
"Tidak bisakah kamu merelakan ini. Aku sudah memiliki anak anak. Mereka butuh ayahnya" ujar Shabrina.
Adinda menggeleng pelan...
"Kamu tidak mengerti... Aku sudah menunggu lama, bahkan orang tua ku pun begitu. Tapi kenapa seperti ini. Terasa tidak adil" ungkap Adinda.
"Tidak adil bagaimana? Kamu belum kehilangan sesuatu karena mencintai Devan. Kamu masih bisa mendapatkan suami yang lebih baik dari dia Adinda" ujar Shabrina.
Adinda menggeleng.
"Tidak bisakah kamu melepaskan dia Sha?"
deg
Shabrina langsung mematung mendengar itu. Masih juga itu yang dia minta???
"Aku mohon" pinta Adinda begitu memelas. Sangat berbeda dengan Adinda yang angkuh enam tahun yang lalu.
"Kamu gila" ucap Shabrina
"Aku bisa meninggalkan dia. Tapi bagaimana dengan anak anak ku. Kamu tidak mengerti bagaimana bahagia nya mereka saat bersama ayahnya" kata Shabrina lagi.
Adinda menggeleng dan memandang kedua anak itu.
__ADS_1
"Tolong... untuk kali ini saja. Jangan lagi ganggu hubungan kami. Dulu aku mengalah dan pergi dari kalian. Tapi nyatanya kamu tidak juga bisa merebut hatinya kan. Maka sekarang, jangan lagi ganggu apa yang sudah kami bentuk" pinta Shabrina
Dan setelah mengatakan itu dia langsung pergi meninggalkan Adinda yang nampak menangis begitu perih.