
Devan tertunduk saat mendengar permintaan Arsya untuk tidak membuat bundanya menangis lagi.
Dia tidak ingin membuat Shabrina menangis, Devan sangat mencintai wanita itu. Tapi keadaan membuat dia tidak berdaya hingga Shabrina harus merasakan kepahitan hidup seperti ini.
"Ayah...."
deg
Devan mematung mendengar panggilan ayah dari mulut Arsya
"Nak... kamu" Devan sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat bahagia Arsya mau memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Selama ini bunda selalu menangis diam diam saat dia bersedih. Dia sudah lelah bekerja dan lelah mengurus kami. Apalagi Nesya yang sakit sakitan seperti itu. Bunda selalu menangis diam diam. Arsya tidak suka ada yang membuat bunda menangis lagi" ungkap Arsya. Mata nya berkaca kaca memandang Devan.
Devan langsung berlutut dihadapan Arsya, mengusap wajah anak lelakinya yang begitu mirip dengannya. Baik wajah, maupun sifatnya.
"Bunda selalu bersedih setiap hari, apalagi disaat orang orang menghina bunda karena tidak punya suami"
deg
Devan tertunduk perih mendengar perkataan Arsya.
"Orang orang selalu bilang bunda wanita murahan. Orang orang selalu bilang jika kami anak haram. Arsya sedih ayah" adu Arsya. Dia langsung menangis tertahan mengungkapkan semua nya pada Devan.
Dan bukan hanya Arsya, tapi Devan juga langsung menangis mendengar penuturan Arsya.
Dia memeluk Arsya dengan lembut, dan mengusap punggung putra nya itu dengan penuh perasaan. Ya tuhan, seberapa besar beban dan luka yang mereka rasakan selama ini.
"Tidak nak, bunda bukan wanita murahan. Bunda wanita hebat. Kalian juga bukan anak haram. Kalian anak ayah nak, kalian anak ayah. Maafkan ayah, maafkan ayah yang datang terlambat" ucap Devan. Sungguh, dia tidak bisa menahan Isak tangis nya sekarang.
"Ayah jangan pergi lagi, kami butuh ayah. Arsya tidak mau bunda sedih lagi" pinta Arsya.
"Tidak nak, ayah tidak akan pergi. Ayah akan ada bersama kalian. Maaf kan ayah. Ayah janji akan buat bunda bahagia. Juga kalian" jawab Devan.
Tangan kecil itu langsung membalas pelukan Devan, membuat Devan semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan ayah nak. Maaf" pinta Devan lagi.
Arsya memeluk Devan dengan erat, karena bagaimana pun kecewanya dia. Tapi sungguh, perasaan anak seusianya pasti juga begitu merindukan sosok seorang ayah. Ayah yang akan melindungi mereka dari kerasnya kehidupan. Ayah yang akan menanggung semua beban yang mereka rasakan selama ini.
Devan melepaskan pelukan nya dan mengusap air mata Arsya.
Dia tersenyum dan memandang anak nya dengan penuh bangga.
"Terimakasih sudah jadi anak yang hebat. Terimakasih sudah menjaga bunda dan Adik saat ayah tidak ada" ucap Devan.
__ADS_1
"Tapi Arsya tidak bisa membuat bunda senang, bunda masih sering menangis dibelakang kami" adu Arsya.
Devan tersenyum dan menggeleng.
"Bunda menangis karena ayah nak. Ayah yang salah. Bunda bahagia punya kalian, apalagi kamu, kamu anak yang hebat. Bunda pasti bahagia" ucap Devan.
"Benarkah?" tanya Arsya seraya memandang bunda nya yang nampak lelap dalam tidurnya.
Devan mengangguk dan tersenyum. Dia mengecup kepala Arsya dengan lembut.
Bahagia sekali rasanya mendapatkan anak yang mengerti dan penuh kasih sayang seperti Arsya. Meski hati Devan semakin merasa bersalah karena harus mendengarkan perkataan Arsya tadi.
Wanita yang dia cintai dan anak anak nya harus menanggung beban yang begitu besar, sedangkan dia hidup dalam kemewahan disana.
Entah bagaimana cara menebus semua kesalahan nya. Meskipun dia juga tidak tahu, jika selama ini dia mempunyai anak dari wanita yang dia cintai.
Tapi tetap saja, Devan merasa begitu bersalah sekarang.
"Kamu mau maafin ayah kan nak?" tanya Devan
Arsya memandang Devan dengan lekat.
"Ayah janji gak akan ninggalin kami lagi kan?" tanya Arsya.
"Janji untuk gak buat bunda sedih lagi" pinta Arsya lagi.
Devan mengangguk dan tersenyum.
"Ayah janji. Semampu ayah akan buat kalian bahagia" Jawab Devan.
Arsya kembali memeluk Devan, dia juga butuh ayahnya. Dia butuh seorang ayah untuk dia dan adiknya.
Dan malam itu, Devan menemani Arsya bercerita. Cerita tentang kehidupan mereka selama ini. Bagaimana susahnya Shabrina bekerja setiap harinya untuk menghidupi mereka.
Bagaimana susahnya mereka makan setiap harinya. Apalagi ketika Nesya sakit, uang Shabrina harus habis untuk membeli obat Nesya. Dan untuk makan, bahkan mereka hanya makan roti saja.
Bahkan Devan kembali menahan tangis nya saat mendengar jika bunda nya selalu dimarah oleh Bu Sri karena terus berhutang diwarung karena mereka yang tidak punya uang untuk membeli makanan.
Makan makanan enak juga baru tadi saat bersama Devan. Jika tidak, mereka hanya bisa makan enak saat Shabrina punya uang lebih, itu juga hanya beberapa bulan sekali.
Ya tuhan...
Miris sekali kehidupan mereka disini.
Mereka kesusahan bahkan masih harus menanggung cacian dari orang orang disekitar mereka.
__ADS_1
Tidak..
Devan tidak bisa membiarkan mereka seperti ini. Besok Devan akan membawa mereka pergi. Tapi sebelum itu. Devan akan membersihkan nama baik Shabrina dan anak anak nya disini.
"Sekarang, kamu tidur dulu ya. Besok kita bayar hutang bunda diwarung sebelum pergi" ujar Devan seraya mengusap kepala Arsya. Mata putranya sudah mulai sayu dan mengantuk.
"Ayah juga bilang sama mereka jika ayah adalah ayah kami ya" pinta Arsya.
Devan tersenyum dan mengangguk.
"Iya nak. Ayah pasti bilang dan balas semua perbuatan orang orang yang udah buat kalian sedih" jawab Arsya.
"Benar ayah" tanya Arsya.
"Iya. Ayo sekarang tidur" ajak Devan
Arsya mengangguk dan beranjak dari kursinya. Dia langsung berjalan menuju tempat tidur yang selama ini menampung mereka bertiga.
"Tidur yang nyenyak jagoan ayah, supaya besok tidak kelelahan" ucap Devan seraya mengusap kepala Arsya dengan lembut.
"Ayah tidur dimana?" tanya Arsya.
"Ayah bisa tidur dimobil nak" jawab Devan.
"Sama om supir?" tanya Arsya.
"Iya" jawab Devan. Mereka berbicara sambil berbisik pelan
Arsya mengangguk dan tersenyum tipis. Membuat Devan benar benar bahagia telah mendapatkan maaf dari anak lelaki nya ini.
"Tidur ya, ayah keluar dulu" pamit Devan.
"Iya ayah" jawab Arsya.
Devan tersenyum, dia memandang Nesya dan Shabrina yang tertidur dengan lelap. Meski hanya tidur ditempat yang keras dan berselimutkan selimut yang tipis.
Keluar dan membiarkan mereka tertidur dengan nyenyak. Meski malam ini Devan yang tidak akan bisa tertidur.
Ya, bagaimana dia bisa tertidur, jika semua ini masih terasa seperti mimpi untuknya.
Semalam dia bahagia ketika mendengar jika Shasa nya telah ditemukan.
Dan pagi tadi saat sampai ditempat ini, dia malah dikejutkan dengan keadaan Shabrina yang begitu menyedihkan, ditambah dengan kehadiran buah hati yang ternyata adalah anak nya.
Sungguh, semua ini benar benar kejutan yang luar biasa. Kejutan yang mampu menghantam jantung nya dengan begitu kuat.
__ADS_1