Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Alasan Menyakitkan


__ADS_3

Dan benar saja, siang hari saat Devan baru selesai mengerjakan pekerjaan nya. Tuan Bram datang keruangan Devan. Pemilik Perusahaan retail itu nampak begitu berwibawa diusianya yang sudah melewati setengah abad.


Tuan Bram duduk disofa tanpa berbicara apapun pada Devan. Membuat Devan menghela nafas dan beranjak dari kursi CEO nya.


Dia berjalan dan mendekati tuan Bram. Memandang ayahnya dengan lekat. Sudah pasti ini adalah tentang hal yang disampaikan oleh Hans pagi tadi.


"Apa kau sudah memikirkan perkataan ku?" tanya tuan Bram.


"Apa papa tidak juga puas untuk mengatur hidupku?" tanya Devan pula.


Pandangan tajam mereka saling memandang satu sama lain. Seperti tidak ada yang mau mengalah. Baik tuan Bram maupun Devan memiliki watak dan karakter yang sama. Mereka sebenarnya lembut, tapi jika sudah mengungkit masalah pribadi, terasa seperti tidak ada yang mau mengalah.


Hans dan juga asisten tuan Bram hanya berdiri mematung memandang tuan mereka masing masing. Suasana didalam ruangan ini terasa begitu tegang dan panas.


"Aku mengatur hidupmu agar kau mendapatkan sesuatu yang lebih baik" ucap tuan Bram.


Devan langsung tersenyum tipis mendengar itu.


"Yang lebih baik bagaimana maksud papa. Apa dengan memisahkan aku dengan istri dan anak anak ku, itu yang papa maksud baik?" tanya Devan.


Dia benar benar tidak habis fikir dengan pemikiran ayahnya selama ini. Sudah sejak dulu, bahkan hingga sekarang ketika mereka sudah mempunyai anak, tetap saja mereka tidak juga merestui hubungan nya dengan Shabrina.


"Aku tidak mempermasalahkan lagi tentang anak anak mu. Karena mereka adalah cucuku. Dan aku sudah tahu jika kau juga baru baru ini menikahi Shabrina bukan" ucap tuan Bram.


Devan terdiam, bukan hal yang sulit untuk ayahnya mencari tahu tentang hal ini.


"Kesalahan satu malam mu itu ternyata menghasilkan dua anak itu. Tidak masalah, aku menerima mereka. Tapi tidak dengan Shabrina. Dia hanya akan menjatuhkan nama baik keluarga Bramasta Dev" ungkap tuan Bram.


Lagi lagi strata sosial ini yang menjadi tembok penghalang hubungan mereka.


"Apa dengan aku menikahi Adinda itu adalah pilihan yang baik?" tanya Devan. Nadanya terdengar memendam amarah yang besar.


"Kau sudah tahu itu. Orang tua Adinda adalah salah satu investor terbesar diperusahaan. Dan jika kau menikah dengan nya bukan kah itu akan membuat perusahaan semakin kuat. Nama baikmu dan keluarga juga pasti baik baik saja" ungkap tuan Bram.


Devan tersenyum sinis dan menggeleng.


"Sejak dulu hingga sekarang. Pilihan ku tetap sama. Aku tidak akan meninggalkan Shabrina hanya untuk sebuah nama baik. Dia istri ku, dan dia ibu dari anak anak ku" jawab Devan dengan tegas.


"Kau bisa memilih, tetap bersama wanita itu, atau kau kehilangan semua nya"


Devan tertegun, memandang ayahnya dengan pandangan yang begitu lekat dan dalam.

__ADS_1


"Bagiku Shabrina dan anak anak adalah segalanya pa. Aku lebih memilih kehilangan semua nya dari pada harus kehilangan mereka lagi" ucap Devan.


Tuan Bram memandang Devan dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Devan benar benar keras kepala. Padahal dia tahu, jika usaha yang dibangun Devan bukanlah usaha yang besar, tapi kenapa Devan begitu kekeh untuk tetap bersama wanita itu.


"Papa seharusnya tahu, karena papa yang lebih dulu berpengalaman dari pada aku. Bagaimana papa jika kehilangan aku dan mama? Apa papa tidak bersedih????" tanya Devan.


Tuan Bram masih terdiam. Namun ada secarik emosi Dimata tuanya itu.


"Atau papa memang tidak memiliki perasaan itu?" tanya Devan lagi.


Dan kali ini perkataan Devan membuat hati tuan Bram merasa tertohok.


Sepertinya, Devan memang sudah harus mengetahui semuanya.


"Kau tidak pernah tahu kenapa papa dan mama selalu memintamu menikah dengan Adinda" ucap tuan Bram akhirnya.


"Bahkan dari awal aku sudah tahu, semua hanya demi keuntungan perusahaan dan nama baik. Bukankah itu yang papa bilang tadi?" sahut Devan.


"Ya itu salah satunya. Tapi tidak kah kau berfikir kenapa kami sampai tega berbuat seperti ini padamu dan juga Shabrina?" tanya tuan Bram lagi.


Dan kali ini Devan yang terdiam. Sejak dulu dia memang hanya tahu jika orang tua nya hanya ingin mengambil keuntungan dari pernikahan mereka.


"Jika kau tahu, apa kau akan berubah fikiran?" tanya tuan Bram lagi.


Tuan Bram tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Dia terlihat menghela nafasnya dengan berat.


"Papa dan mama mempunyai hutang yang begitu besar pada keluarga Adinda"


Ucapan tuan Bram membuat Devan mengernyit.


"Hutang? Keuntungan perusahaan sebesar ini dan kalian bisa berhutang?" tanya Devan tidak percaya.


Namun tuan Bram menggeleng pelan.


"Mau seberapa banyak pun uang yang kita miliki tidak akan pernah bisa menebus semua hutang kami" jawab tuan Bram


Devan semakin bingung mendengar perkataan ayahnya.


"Apa maksud papa?" tanya Devan.


"Kau masih ingat jika kau mempunyai penyakit jantung bawaan dari lahir bukan?" tanya tuan Bram

__ADS_1


Devan mengangguk pelan, namun dengan jantung yang tiba tiba berdetak dengan kencang. Dia tahu, jika dia memang mempunyai penyakit jantung bawaan. Dan hal itu juga yang sedang di alami oleh Nesya sekarang.


Tapi, apa hubungan nya dengan status nya dan Shabrina?


Lagipula Devan juga sudah sehat karena donor jantung dari seseorang sewaktu dia masih berusia delapan tahun.


Tapi....


Tunggu dulu...


Devan langsung tertegun, dia memandang ayahnya dengan lekat.


Apa hutang yang mereka maksud itu adalah tentang jantung Devan?


"Kau tahu siapa yang mendonorkan jantung itu padamu, hingga bisa membuat kau tetap hidup dan bisa bernafas sampai detik ini???" tanya tuan Bram lagi.


Devan hanya diam, namun pandangan matanya tidak pernah lepas dari tuan Bram.


"Kakak Adinda"


deg


Jantung Devan terasa tertohok mendengar itu.


"Kakak Adinda menderita penyakit leukimia. Dan usia nya memang sudah tidak lama lagi waktu itu. Tapi dengan baik nya dia dan kedua orang tuanya mau mendonorkan jantung nya padamu yang waktu itu sedang sekarat"


"Mama dan papa sudah hampir putus asa saat itu. Tapi mereka datang seperti malaikat yang menyelamatkan buah hati kami. Putra semata wayang kami yang hampir kehilangan nyawanya " ungkap tuan Bram.


Devan tertunduk dengan perasaan yang menjadi tidak menentu sekarang.


"Bagian mana lagi yang membuat mu bisa berfikir jika kami yang selalu memaksamu untuk menikahi Adinda karena kami tidak perduli???" tanya tuan Bram


"Kami juga ingin melihat putra kami bahagia. Tapi tentang kebaikan mereka yang membuat mu tetap hidup sampai sekarang juga tidak bisa kami lupakan begitu saja Dev" ucap tuan Bram.


"Waktu itu, diusiamu yang masih begitu kecil. Mereka tidak meminta imbalan apapun atas jantung yang kau terima. Mereka hanya ingin kau hidup dan ketika kau dewasa, kau bisa menikah dengan Adinda, agar mereka bisa selalu merasa dekat dengan anak mereka yang sudah tiada" ungkap tuan Bram


Devan semakin terdiam.


Tidak tahu apa yang harus dilakukan nya sekarang.


Pantas saja, kedua orang tua nya selalu melarang Devan untuk dekat dengan wanita lain, bukan hanya pada Shabrina, tapi pada teman teman wanita Devan yang lain.

__ADS_1


Hingga akhirnya Devan tetap kekeh untuk mendekati Shabrina.


Lalu... bagaimana dia bisa membalas hutang Budi itu dan masih bisa mempertahankan Shasa nya???


__ADS_2