
Devan menurunkan Arsya disebuah kursi yang ada disamping ranjang Shabrina. Wanita itu masih tertidur dan belum sadarkan diri. Wajahnya yang pucat, dan kepala nya yang diperban membuat hati Devan begitu sakit.
Entah apa yang terjadi hingga Shabrina bisa seperti ini. Bisa berada diluar dan bertemu dengan Adinda. Apa Adinda membuat ulah lagi?
Tangan Devan terjulur dan mengusap wajah istrinya dengan lembut. Namun dia langsung tersenyum, karena usapan nya itu malah membuat Shabrina terbangun.
Ternyata dia tidak pingsan. Mungkin hanya tertidur saja.
Mata sayu Shabrina dan mata tajam Devan langsung saling bersitatap, hingga mata Shabrina kini berkaca kaca.
"Mas .." gumam nya.
"Iya sayang, mas disini" ucap Devan seraya mengecup dahi Shabrina dengan pelan.
"Mas kemana, kenapa gak pulang?" tanya Shabrina begitu pelan. Suara nya masih terdengar serak. Tapi itu sudah cukup membuat hati Devan menjadi lega. Karena itu berarti Shabrina tidak apa apa dan tidak ada yang fatal pada tubuhnya.
"Maaf sayang. Maaf. Tapi setelah ini, kita sudah bisa hidup tenang dan tidak lagi terganggu. Kita bisa menjaga anak anak dengan tenang" ungkap Devan.
"Benarkah?" tanya Shabrina dengan air mata yang mulai menetes diwajahnya.
Devan mengangguk dan tersenyum seraya tangan nya yang mengusap air mata itu dengan lembut.
"Aku sudah berjanji kan, sampai kapapan pun istriku cuma kamu" ucap Devan.
Shabrina langsung tersenyum haru dan mengangguk cepat.
"Ya, sampai kapanpun sepertinya kalian memang tidak akan pernah bisa dipisahkan" ucap seseorang yang masuk kedalam ruangan itu.
Ruangan yang tidak ditutup oleh Devan, hingga percakapan mereka bisa didengar oleh orang diluar.
Devan dan Shabrina langsung menoleh keasal suara. Dan ternyata orang tua Adinda yang masuk. Bersama dengan orang tua Devan dan juga Adinda sendiri.
Devan langsung beralih, sedangkan Shabrina memandang semua orang yang ada disana dengan pandangan heran.
Apalagi ketika melihat dua orang yang tidak dia kenal nampak tersenyum kearah nya.
Sementara Adinda nampak tertunduk dengan wajah sedihnya.
"Shasa.... maafkan aku. Dan... terimakasih karena telah menolong ku" ucap Adinda pada Shabrina.
Shabrina menggeleng pelan dan tersenyum tipis. Dia ingat, perkataan terakhir Adinda yang berkata akan pergi menjauh dari Devan, benarkah itu??
"Ya, terimakasih karena telah menyelamatkan putri kami. Mungkin jika tidak ada kamu, putri kami lah yang akan terbaring disini. Kami berhutang nyawa padamu nak" ucap tuan Bastian.
"Jangan begitu tuan. Saya juga hanya reflek" jawab Shasa.
"Reflek mu benar benar membuat kami bersyukur nak. Adinda Putri kami satu satunya. Kami takut akan kehilangan lagi, tapi kamu mau menyelamatkan dia. Padahal kami tahu, jika ulah nya selalu membuat kamu sakit hati kan" ucap nyonya Ambar pula.
Shabrina hanya tersenyum tipis mendengar itu. Semua perlakuan Adinda memang selalu membuatnya sakit dan sedih. Apalagi sejak dulu Adinda memang selalu mencari masalah dan suka menghina nya. Tapi mau bagaimana lagi, kejadian pagi tadi benar benar reflek, bukan dibuat buat.
Shabrina juga tidak ingin ada yang celaka didepan matanya sendiri.
Meskipun itu adalah seorang Adinda.
"Tuan Bram" panggil tuan Bastian pada ayah Devan.
"Ya tuan" sahut tuan tuan Bram yang langsung berjalan mendekat kearah mereka.
"Saya sudah mengikhlaskan dan melepaskan perjanjian kita dulu" ucap tuan Bastian. Membuat Devan langsung tersenyum tipis.
"Saya tidak bisa memaksa, karena jodoh memang sudah menjadi takdir Tuhan" ucap nya lagi.
"Tuan... maafkan kami. Ini benar benar diluar kendali kami. Sejak dulu, kami sudah mewanti wanti ini. Tapi... semua memang tidak bisa diprediksi " jawab tuan Bram. Sebenarnya dia sangat tidak enak dengan semua ini. Keluarga tuan Bastian sudah begitu baik, dan karena mereka lah Devan bisa tetap hidup sampai sekarang.
Tapi mau bagaimana lagi, jika keadaan nya cukup rumit sekarang.
"Tidak apa apa. Kami sudah merelakan nya. Benar kan ma" ucap tuan Bastian pada nyonya Ambar.
Nyonya Ambar tersenyum tipis dan mengangguk. Dia menoleh pada Adinda sekilas dan kembali memandang orang tua Devan.
"Ya, mau bagaimana lagi. Sepertinya cinta Devan pada istrinya cukup kuat, hingga Devan tidak bisa lagi melihat cinta dari Adinda" jawab nyonya Ambar.
__ADS_1
Devan menghela nafas dan memandang Adinda yang nampak tertunduk sedih.
"Tuan, nyonya. Maafkan saya. Tapi sungguh, saya memang tidak bisa mencintai putri anda sebagai seorang pasangan. Tapi sejak dulu, saya sudah menganggap Adinda sebagai adik saya sendiri." ungkap Devan.
Membuat Adinda langsung menoleh kearah nya.
"Adinda cantik dan pintar. Dia pasti bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari pada saya" ucap Devan seraya memandang Adinda yang nampak ingin menangis.
Adinda mengangguk dan mengusap air matanya dengan cepat.
"Yah... sepertinya aku memang harus mendapatkan seseorang yang lebih baik dari mu" jawab Adinda dengan tawa getirnya.
Nyonya Kartika langsung merangkul Adinda dengan lembut.
"Kamu pasti bisa mendapatkan nya nak. Jangan bersedih" ujar nyonya Kartika
Adinda mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Tidak bersedih, tapi bagaimana bisa. Dia ingin Devan menjadi suaminya. Tapi itu adalah hal yang tidak mungkin. Karena dipaksakan bagaimana pun Devan tetaplah milik Shabrina. Dan juga kedua anak nya.
"Tapi kami masih bisa menganggap Devan sebagai putra kami sendiri bukan?" tanya nyonya Ambar pada nyonya Kartika.
Nyonya Kartika langsung mengangguk dengan cepat.
"Tentu nona. Devan juga putra kalian. Seperti saya yang sudah menganggap Adinda sebagai putri kami sendiri. Benar kan pa" ucap nyonya Kartika pada tuan Bram
"Benar nyonya" jawab tuan Bram.
Shabrina tersenyum tipis melihat mereka yang sudah berdamai. Meski hatinya sedikit sedih karena sikap nyonya Kartika padanya dan juga pada Adinda sangat berbeda.
Dia bisa bersikap lembut pada Adinda, tapi tidak padanya.
Entah sedih atau iri. Mungkin semua bercampur menjadi satu.
Tapi sudah lah, yang terpenting saat ini hubungan nya dengan Devan sudah baik baik saja kan.
"Berbahagialah kalian. Jangan lupa untuk sering sering berkunjung bersama anak dan istrimu" ujar tuan Bastian pada Devan.
"Pasti tuan" jawab Devan.
"Iya nyonya. Namanya Arsya, anak pertama saya" jawab Devan.
"Arsya... kamu tampan sekali nak" ucap nyonya Ambar.
"Panggil Oma juga sayang" ujar nyonya Kartika pada Arsya.
"Oma?" tanya Arsya seraya memandang bingung pada nyonya Kartika dan juga nyonya Ambar.
"Iya, Oma Arsya juga" ucap Devan.
Arsya hanya mengangguk saja. Dan tidak terlalu memperdulikan nya. Dia bahkan kembali menoleh pada bunda nya.
"Jika begitu, kami pamit dulu. Besok kami pasti datang lagi. Shabrina, sekali lagi terimakasih nak" ucap nyonya Ambar pada Shabrina.
Shabrina tersenyum dan mengangguk pelan.
"Sama sama nyonya" jawab Shabrina.
"Putrimu bagaimana Dev, aku dengar dia juga dirawat " tanya tuan Bastian sebelum pergi
"Keadaan nya sudah membaik tuan. Hanya tinggal menunggu pemulihan " jawab tuan Bram. Karena sudah pasti Devan tidak akan tahu bagaimana keadaan putrinya karena sejak semalam dia yang tidak ada pulang.
"Oh.. syukurlah. Jika begitu kami pamit dulu" ucap tuan Bastian lagi.
"Baik tuan" Jawab Devan dan juga tuan Bram bersama sama.
"Ayo Adinda" ajak nyonya Ambar pada putrinya.
Adinda menoleh pada Devan sejenak dan langsung berjalan mendekat kearah ibunya. Namun panggilan Shabrina, membuat dia terhenti.
"Adinda" panggil Shabrina
Adinda langsung menoleh pada Shabrina
__ADS_1
"Terimakasih" ucap Shabrina
Adinda tersenyum tipis dan mengangguk. Dan setelah itu dia langsung berjalan keluar dari ruangan Shabrina dengan hati yang perih.
Rasanya berat, berat sekali. Tapi memaksakan Devan untuk bersama nya juga tidak akan bisa. Sejak dulu hingga sekarang. Bertahun tahun, tapi cinta nya tidak bisa meluluhkan Devan dari pesona Shabrina.
Dan kini, tinggalah Devan dan juga Arsya diruangan itu. Karena orang tua Devan pergi mengantarkan kepulangan nyonya Ambar dan juga tuan Bastian.
"Kamu tidak apa apa jika mas akan sering kerumah Adinda bukan?" tanya Devan seraya mengusap kepala Shabrina dengan lembut.
"Enggak apa apa mas. Shasa mengerti. Mereka sudah baik, dan gak ada alasan untuk menolak permintaan mereka kali ini" jawab Shabrina.
Devan langsung tersenyum dan mengecup kepala Shabrina dengan lembut.
"Kenapa kamu bisa seperti ini sayang? Mas takut sekali melihat kamu terluka" tanya Devan
"Bunda memang suka buat orang khawatir. Arsya juga takut ayah" sahut Arsya pula. Membuat Devan tersenyum dan kali ini mengusap kepala Arsya dengan gemas.
Shabrina langsung tersenyum memandang anak dan suaminya.
"Tadi pagi Adinda datang. Dia menangis dan cuma lihat Nesya dari jauh. Shasa heran, jadi Shasa datangi sekalian untuk nanya dimana mas. Tapi dia malah pergi keluar" ungkap Shabrina.
"Dan akhirnya kamu nolongin dia yang hampir celaka" sahut Devan
"Reflek mas" jawab Shabrina
Devan menghela nafas dan mengangguk pelan.
"Terimakasih sayang... sebenarnya mas takut kamu kenapa kenapa, tapi dengan kejadian ini, membuat mas merasa sedikit lega" ungkap Devan.
Shabrina memandang Devan dengan bingung.
"Lega?" tanya Shabrina
Devan mengangguk pelan.
"Karena rasanya hutang nyawa itu bisa sedikit berkurang. Bukan hanya sedikit, tapi memang sudah impas" jawab Devan.
Shabrina langsung mematung mendengar itu.
"Jika tidak ada kamu, mungkin Adinda yang akan celaka, atau bahkan tidak tertolong." kata Devan lagi.
Shabrina terdiam dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Shasa tidak ada niat untuk membalas Budi. Itu terjadi karena reflek" jawab Shabrina.
Devan tersenyum dan mengangguk.
"Tapi setidaknya sekarang kita sudah tenang kan" ucap Devan
"Iya mas... hanya saja. Shasa masih takut dengan keadaan Nesya" jawab Shabrina.
"Kamu tenang aja. Nesya pasti baik baik saja. Sekarang kamu hanya perlu istirahat, agar cepat pulih. Arsya dan Nesya pasti butuh kamu. Iya kan sayang?" tanya Devan pada Arsya.
Arsya langsung mengangguk dengan cepat.
"Bunda jangan seperti ini lagi. Arsya takut" ucap Arsya, dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Bunda gak kenapa kenapa sayang. Bunda hanya pusing sedikit" ucap Shabrina seraya menjulurkan tangan nya pada Arsya, hingga anak lelaki nya itu langsung beranjak dan didudukkan Devan disamping Shabrina.
"Jangan menangis. Anak laki laki tidak boleh cengeng" ucap Devan
Arsya menggeleng kuat.
"Arsya tidak nangis" jawab nya, namun dengan bibir yang bergetar menahan tangis. Membuat Devan dan Shabrina langsung mengulum senyum mereka.
"Sekarang, Arsya jaga bunda disini ya nak. Ayah mau lihat Nesya dulu" ujar Devan.
"Iya ayah" jawab Arsya dengan patuh.
"Kabari kalau Nesya cari Shasa ya mas" pinta Shabrina
__ADS_1
"Iya sayang" jawab Devan.