
Beberapa saat sebelumnya....
Shabrina yang hanya sendirian duduk menunggu didepan ruangan Nesya benar benar khawatir dan cemas. Arsya sudah pergi cukup lama namun belum juga kembali. Berulang kali Shabrina menoleh kearah koridor rumah sakit dan dan juga keruangan Nesya.
Hati nya benar benar cemas tidak menentu sekarang. Sejak tadi didalam hatinya dia tidak berhenti berdoa semoga Nesya bisa bertahan dan operasi nya berjalan dengan lancar. Dan juga dia sangat ingin Devan ada disini. Shabrina benar benar tidak bisa sendirian seperti ini. Apalagi dengan Arsya yang juga tidak kembali sejak tadi. Entah kemana dia pergi, tapi karena pergi bersama pak Mun, Shabrina tidak terlalu takut jika anak nya itu akan tersesat atau bertemu dengan orang jahat.
Shabrina menghela nafas panjang untuk yang kesekian kali. Hatinya benar benar tidak enak. Entah karena perasaan takut terhadap keadaan Nesya, atau takut dengan masalah yang sedang mereka hadapi. Semua terasa bercampur menjadi satu dibenaknya.
Suasana di ruangan itu yang terasa sepi membuat Shabrina semakin ingin menangis rasanya.
Lagi lagi.... dia sendirian.
Namun disaat dia merasa jika dia sendiri, suara langkah kaki terdengar, hingga membuat Shabrina langsung menoleh.
Deg
Orang tua Devan...
Mau apa mereka kesini??
Kenapa mereka berdua kemari?
Shabrina langsung berdiri dengan wajah yang semakin pucat dan cemas. Bahkan detak jantung yang tadinya memang sudah tidak menentu, kini semakin bertambah parah dengan kedatangan nyonya Kartika dan juga tuan Bram.
"Tuan... nyonya" gumam Shabrina dengan kepala yang tertunduk takut saat kedua orang tua Devan sudah berada didekat nya.
"Bagaimana dengan Nesya?" tanya nyonya Kartika langsung.
Membuat Shabrina langsung tertegun dan memandang nya dengan bingung.
"Kenapa kamu malah diam" tanya nyonya Kartika lagi. Wajahnya terlihat kesal karena Shabrina yang malah seperti orang terkejut begitu.
"Nesya masih dioperasi nyonya. Saya juga belum tahu, tapi sudah hampir dua jam dokter Satria belum juga keluar dari dalam sana" jawab Shabrina.
Tuan Bram menghela nafas berat dan langsung duduk dikursi yang ada disana. Matanya memandang datar pada pintu ruang operasi Nesya. Sementara Shabrina memandang mereka dengan heran.
Mereka kemari untuk apa sebenarnya??
Bukan untuk melabrak nya lagi kan? Atau memarahinya?
Tapi kenapa sekarang mereka malah duduk dan menunggu disini??
Mereka menunggu cucu mereka?
Sungguh, Shabrina benar benar bingung sekarang.
"Kenapa wajahmu itu?" tanya nyonya Kartika. Masih saja terlihat begitu ketus.
Shabrina menggeleng pelan dan memalingkan wajahnya dari orang tua Devan.
"Tidak nyonya" jawab nya begitu pelan.
"Kami kesini untuk mengetahui keadaan cucu kami. Bukan untuk mu. Walau bagaimana pun dia adalah darah daging Devan. Kami tidak mungkin mengabaikan dia" ucap nyonya Kartika.
Shabrina kembali memandang nyonya Kartika dengan senyum harunya. Bahkan matanya terlihat berkaca kaca sekarang.
Meski bukan dia yang dianggap, tapi mereka sudah mengakui kedua anak nya, itu sudah membuat Shabrina benar benar senang.
__ADS_1
Nyonya Kartika langsung duduk disamping tuan Bram yang sejak tadi hanya diam. Dan Shabrina juga ikut duduk dijajaran kursi tunggu itu. Namun dengan jarak beberapa kursi.
Tangan nya saling meremas dengan wajah yang kembali tegang dan panik. Dan tentu saja kecemasan Shabrina terlihat jelas dipandangan nyonya Kartika. Wanita yang dicintai mati matian oleh putra nya. Mau sekuat apapun dia menentang, namun jika takdir sudah berkehendak, mereka pasti akan bersatu juga.
Seperti sekarang, enam tahun berpisah, nyonya Kartika berfikir jika Devan sudah melupakan Shabrina dan kisah mereka telah usai. Tapi kenyataan nya, semua malah semakin parah, mereka bahkan sudah mempunyai dua anak sekaligus.
Astaga....
Ini benar benar kisah dan masalah yang cukup rumit.
Hingga beberapa saat kemudian, suara langkah kaki membuat mereka menoleh.
Devan dan Arsya baru tiba ditempat itu, membuat Shabrina langsung menghela nafas lega dengan mata yang berkaca-kaca. Sebab dua orang inilah yang dia harapkan sejak tadi.
"Mama, papa. Kenapa disini?" tanya Devan
"Apa kami tidak boleh melihat cucu kami sendiri?" tanya tuan Bram.
Devan terdiam dan memandang Arsya yang sudah mendekat ke bunda nya.
"Kenapa kau tidak bilang jika Nesya akan di operasi hari ini Dev?" tanya nyonya Kartika pula.
"Aku fikir mama dan papa tidak akan perduli" jawab Devan.
Shabrina dan Arsya saling memeluk dan memandang Devan dengan takut. Shabrina tidak ingin terjadi keributan di sini. Apalagi dengan Nesya yang sedang berjuang didalam namun mereka disini malah bertengkar.
"Kami sudah mencoba untuk tidak perduli. Tapi kenyataan nya, hati memang tidak bisa mengelak. Nesya dan Arsya cucu kami. Dan kamu juga tidak bisa menolak kedatangan kami saat ini" ucap nyonya Kartika.
"Apalagi dengan keadaan Nesya. Kamu tidak tahu bagaimana cemas nya seorang ibu yang sedang menunggu anak nya berjuang melawan maut didalam sana. Dan ternyata itu masih bisa mama rasakan sampai sekarang" tambah nya lagi.
Devan terdiam, dia memandang kearah ruang operasi Nesya dimana lampu ruang operasi itu masih bewarna merah dan berarti operasi itu masih terus berlanjut.
Devan terlihat menghela nafasnya dengan berat dan langsung berjalan menuju ketempat Shabrina duduk. Dia langsung duduk disamping istrinya itu dan mengusap bahu Shabrina dengan lembut.
Tidak tahu maksud perkataan orang tuanya barusan, tapi untuk sekarang memang mereka seharusnya tidak bertengkar lagi. Nesya lebih penting sekarang.
"Maafkan aku, aku terlambat datang" ucap Devan pada Shabrina.
Shabrina hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Tidak tahu apa yang harus dikatakan nya lagi. Untuk bertanya kenapa dan dari manapun rasanya sudah tidak penting untuk sekarang.
Dan Devan, dia benar benar merasa bersalah karena lagi lagi harus membiarkan Shabrina menunggu Nesya sendirian disini. Apalagi ketika melihat wajah lelah dan cemas istrinya.
Membuat perasaan Devan semakin terenyuh.
Cukup lama mereka menunggu hingga membuat Arsya mulai mengantuk dan tersandar dibahu Devan.
"Arsya mengantuk nak?" tanya Devan seraya mengusap kepala Arsya dengan lembut.
"Iya ayah. Tapi Arsya takut Nesya kenapa kenapa didalam. Kenapa lama sekali?" tanya Arsya.
"Nesya pasti baik baik saja. Dokter Satria sedang membuang penyakit Nesya. Kita berdoa ya nak" ujar Devan.
Arsya mengangguk pelan dan kembali memandang keruangan Nesya. Hingga perkataan tuan Bram membuat mereka menoleh.
"Ayo Arsya, ikut opa keluar. Kita menunggu diluar" ajak tuan Bram.
Devan dan Arsya memandang bingung pada tuan Bram.
__ADS_1
"Kita membeli minuman, kamu pasti haus bukan" ajak tuan Bram lagi.
Arsya nampak ragu, karena dia pernah melihat ayahnya bertengkar dengan tuan Bram.
"Pergilah nak, belikan bunda minum juga ya" ucap Shabrina. Dia tahu, jika orang tua Devan juga pasti ingin dekat dengan anak anak nya.
"Apa tidak apa apa bunda?" tanya Arsya.
"Tidak apa apa. Opa kakek Arsya, jadi Arsya juga harus sayang sama seperti Arsya menyayangi ayah" jawab Shabrina
Tuan Bram langsung tersenyum tipis mendengar itu. Dia menjulurkan tangan nya pada Arsya yang nampak memandang nya dengan takut.
"Pergilah, kan ada pak Mun juga yang mengantar" kata Devan akhirnya. Dia juga tidak ingin egois, meski rasa khawatir itu pasti ada. Apalagi mengingat hubungan mereka yang tidak baik akhir akhir ini.
"Baiklah" ucap Arsya akhirnya. Dia langsung meraih tangan besar tuan Bram dan berjalan bersama kakek nya itu. Bahkan dapat Devan dan Shabrina lihat, jika tuan Bram nampak begitu senang saat Arsya mau pergi bersamanya.
Begitu pula dengan nyonya Kartika yang hanya diam dan duduk di kursinya. Bahkan matanya berkaca kaca melihat ini.
Walau bagaimana pun, mereka sudah tua, dan cucu yang lucu dari anak semata wayangnya tentu sudah mereka harapkan sejak dulu.
Shabrina yang melihat raut wajah nyonya Kartika nampak bersedih dan terharu langsung memandang wajah datar Devan yang masih fokus keruangan anak mereka.
Dia langsung menyikut lengan Devan dengan pelan hingga membuat Devan menoleh kearah nya.
"Mama" bisik Shabrina seraya melirik nyonya Kartika yang nampak mengusap sudut matanya.
"Pergilah" gumam Shabrina yang meminta Devan untuk mendekati ibunya itu.
Devan menghela nafas pelan dan mengusap wajah Shabrina sejenak, setelah itu dia langsung beranjak dan duduk disamping mama nya. Merangkul bahu mama nya dengan lembut, hingga membuat nyonya Kartika memandang heran pada Devan.
"Maafkan aku ma. Mungkin aku sudah terlalu kasar dan membangkang selama ini. Tapi sekarang, aku sudah tahu rasanya bagaimana mengkhawatirkan anak ku yang sedang berjuang didalam sana" ucap Devan.
Nyonya Kartika mendengus senyum tipis dan menggeleng pelan, namun matanya yang terlihat berkaca kaca kembali.
"Sudahlah, mama juga salah karena terlalu keras mengatur kehidupan kamu. Meski nyatanya kalian masih saja bersama hingga sekarang" jawab nyonya Kartika
"Jangan lagi merasa terbebani. Malam nanti aku akan datang ke rumah keluarga Adinda baik baik. Mama tidak perlu lagi khawatir " ucap Devan.
"Kamu akan kesana?" tanya nyonya Kartika sedikit terkejut. Begitu pula dengan Shabrina yang mendengar ucapan suaminya.
Devan mengangguk pelan.
"Aku akan mencoba menawar permintaan mereka. Karena sungguh, untuk menduakan Shabrina, aku tidak sanggup ma" jawab Devan.
Mama memandang Devan dengan mata yang berkaca kaca.
"Mama tidak bisa menolak permintaan mereka sejak dulu nak. Mereka memberikan nyawa untuk kamu, dan mama tidak bisa membayar itu selain dengan menyetujui permintaan mereka" ungkap mama yang mulai menangis sekarang.
"Mama tenang saja. Semua pasti baik baik saja" ucap Devan seraya mengusap pundak nyonya Kartika dengan lembut
Sementara Shabrina nampak tertunduk getir. Dia juga tidak tahu harus apa. Devan hanya memintanya untuk diam dan tetap bertahan. Tapi melihat kesedihan mereka ini. Dia kembali goyah.
"Bagaimana jika mereka menolak. Kamu tahu jika keluarga mereka sangat berpengaruh nak" kata nyonya Kartika yang nampak khawatir.
"Tidak apa apa. Pasti bisa. Mama hanya perlu doakan dan restui hubungan ku dengan Shabrina. Seperti mama menerima Arsya dan Nesya sebagai cucu mama. Sejak dulu hingga sekarang, aku hanya mencintai dia ma. Bukan Adinda " ucap Devan.
Nyonya Kartika langsung tertunduk perih mendengar itu.
__ADS_1
Harus bagaimana dia sekarang?