Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Om Ingin Minta Maaf


__ADS_3

Shabrina mengusap wajahnya yang sembab. Dia tidak memperdulikan pria yang ada didepan rumahnya saat ini. Entah mereka sudah pulang atau belum. Dia sungguh tidak ingin menemui mereka.


Tapi...


Anak anak nya belum makan apapun dari pagi, jika Shabrina terus mengurung mereka didalam, bagaimana mereka bisa makan.


Pagi tadi saat bekerja dirumah tetangganya, ada seseorang yang berkata jika rumah nya kedatangan beberapa mobil dan orang orang asing. Shabrina yang panik tidak lagi mengingat untuk membeli makanan. Dia langsung pulang untuk melihat anak anak nya. Dan sekarang, dia malah terjebak didalam sini.


Shabrina melirik kearah pintu yang tertutup rapat. Sedangkan Nesya dan Arsya saat ini duduk dan memandang nya dengan heran. Mata Nesya sudah mulai mengantuk, karena hari memang sudah siang.


"Bunda" panggil Nesya


Shabrina langsung menoleh kearah putrinya.


"Iya nak, kenapa?" tanya Shabrina.


"Bunda tidak jadi bawa makanan ya. Perut Nesya sudah lapar bunda" ucap Nesya terdengar lirih.


Arsya langsung memandang bunda nya dengan sendu.


Shabrina langsung beranjak dan berjalan menuju pintu. Dia mengintip keluar, namun matanya mengernyit, saat tidak dia dapati kedua pria itu lagi.


Kemana mereka?


Apa sudah pergi???


Shabrina langsung membuka pintu, matanya mengedar kesegala arah. Dan benar saja, tidak ada lagi Devan dan asistennya nya disana.


Shabrina langsung tersenyum miris melihat ini. Tidak tahu harus bahagia atau sedih. Perasaannya bercampur aduk sekarang.


Dia kembali menoleh kepada kedua anak nya.


"Bunda beli makanan sebentar ya nak. Kalian didalam rumah. Kunci pintunya dan jangan dibuka sebelum bunda pulang" ujar Shabrina


Arsya langsung melompat dari tempat tidur dan berjalan mendekat kearah bundanya.


"Iya bunda, Arsya gak akan bukain pintu untuk orang asing" jawab Arsya.


Shabrina tersenyum dan mengangguk.


"Bunda percaya sama kamu nak. Bunda cuma sebentar. Ingat ya, jangan dibukakan. Apalagi kalau om itu datang lagi" pinta Shabrina


"Iya bunda" jawab Arsya dengan patuh.


Shabrina langsung berjalan keluar rumah dengan cepat, seraya matanya yang mengedar kesegala arah. Memandang takut dan cemas jika Devan masih berada disana.


Dan tanpa dia tahu, jika sejak tadi, Devan memang masih berada dirumah itu. Dia bersembunyi disamping rumah saat Shabrina keluar. Sedangkan Hans sudah pergi membawa mobilnya entah kemana.


Devan tidak ingin lagi berpisah dengan Shabrina. Dia akan menebus kesalahan nya pada kekasih hatinya ini.

__ADS_1


Dan juga pada kedua anak nya.


Ya, anak yang telah dia telantarkan selama lima tahun ini.


Arsya hendak mengunci pintunya, namun Devan segera menghalanginya membuat Arsya terkesiap kaget.


Apalagi ketika Devan yang masuk dengan cepat dan terlihat begitu memaksa.


"Om!!!" teriak Arsya begitu terkejut.


"Sssst" Devan langsung membungkam mulut Arsya seraya tangan sebelah nya yang menutup pintu.


"Auh" Devan langsung meringis saat tiba tiba Arsya menggigit tangan nya dengan kuat.


Arsya memandang Devan dengan tajam dan penuh benci. Dia tidak suka ada orang yang membuat bunda nya menangis.


Nesya memandang Devan dengan lekat. Entah kenapa jika tadi dia takut, tapi sekarang rasa takutnya sudah berkurang.


"Keluar om!" usir Arsya


"Maaf, tapi om cuma ingin berkenalan dengan kalian" ucap Devan. Dia terlihat kaku, tapi berusaha untuk selembut mungkin mengambil hati kedua anaknya ini.


"Arsya tidak mau ada om disini. Om buat bunda kami nangis. Arsya gak suka" teriak Arsya lagi.


Devan meringis, menghadapi Arsya mungkin sulit, tapi anak perempuan itu, seperti nya lebih mudah.


"Izinkan om disini sebentar saja. Om juga mau minta maaf sama bunda kalian. Boleh ya" pinta Devan.


"Memang om ada salah sama bunda ya?" tanya Nesya pula.


Devan tersenyum dan mengangguk pelan .


"Om salah sudah buat bunda kalian menangis, jadi om kesini mau minta maaf. Tolong biarin om disini sebentar ya, setidaknya sampai bertemu bunda kalian lagi" pinta Devan. Wajahnya memelas dan begitu sedih, bukan di buat buat, tapi karena hatinya yang memang merasa teriris melihat keadaan tempat tinggal anak anak nya ini.


Rumah sepetak yang semua ruang nya bercampur menjadi satu. Dari tempat tidur, lemari, bahkan dapur. Hanya rumah sepetak yang benar benar membuat hati Devan begitu tersayat.


Dia tinggal dan hidup dalam kemewahan, tapi anak anak nya hidup dalam kesusahan seperti ini.


Ya tuhan..


betapa berdosa nya dia.


"Om, bunda itu udah sering nangis. Arsya gak suka kalau om buat bunda semakin sedih" sahut Arsya. Matanya mulai berair sekarang. Dan itu membuat Devan benar benar merasa bersedih.


"Bunda sering menangis?" tanya Devan. Dia berlutut dihadapan Arsya.


"Bunda udah capek ngurusin kami, dia juga capek kerja, dan om datang cuma buat bunda tambah sedih. Lebih baik om pergi" usir Arsya. Hatinya lembut, tapi dia begitu tegas pada Devan.


Devan tersenyum dan mengangguk. Dia mengusap kepala Arsya sejenak.

__ADS_1


"Om janji tidak akan buat bunda kalian bersedih lagi nak. Om janji" ucap Devan.


"Om... Om itu sebenarnya siapa?" tanya Nesya. Dia masih berada diatas tempat tidur.


Devan beranjak dan mendekati Nesya, dia duduk dengan perlahan disamping anak perempuan bermata indah ini.


Harus menjawab apa?


Apa dia harus bilang jika Devan adalah ayahnya?


Tapi apa itu tidak terlalu cepat?


Bagaimana jika Shasa bertambah marah. Meskipun Devan memang ayah mereka, tapi tetap saja kesalahannya tidak bisa diterima dengan mudah.


"Teman bunda kalian" jawab Devan akhirnya


"Teman bunda, tapi kenapa bunda marah sekali sama om?" tanya Nesya


Devan mengusap wajah Nesya dengan lembut. Rasanya benar benar terharu melihat kedua anak ini. Perasaannya memang tidak bisa dibohongi, perasaan hangat yang menjalar melihat anak anaknya.


"Om udah buat kesalahan sama bunda kalian. Dan sekarang om mau minta maaf, kalian mau bantu om kan?" tanya Devan seraya memandang Nesya dan juga Arsya yang masih mematung di tempatnya.


"Tapi janji jangan buat bunda nangis lagi ya om" pinta Nesya.


"Om janji nak. Om janji" jawab Devan dengan mata yang berkaca kaca.


"Kamu kenapa pucat, nama kamu siapa nak?" tanah Devan. Dia masih betah mengusap wajah Nesya.


"Nesya om" jawab Nesya


"Nama yang cantik, sama seperti orang nya" ucap Devan.


"Bunda kalian kemana?" tanya Devan lagi.


"Bunda cari makanan, tadi lupa beli makanan, padahal udah janji dari pagi" jawab Nesya dengan polosnya.


"Kalian belum makan dari pagi?" tanya Devan


Nesya menggeleng dengan cepat.


"Belum, om. Semalam juga cuma makan satu roti" jawab Nesya. Wajah polosnya itu membuat Devan terasa begitu teriris hatinya.


Dia memandang Arsya yang hanya tertunduk dengan wajah datarnya. Tapi Devan tahu jika dia juga bersedih.


Ya tuhan...


Kenapa mereka sesusah ini dan Devan tidak tahu?


Sial sekali, dia memang orang yang paling jahat didunia ini.

__ADS_1


Devan menarik nafasnya dan ingin menghubungi Hans untuk mencari makanan, namun tiba tiba pintu terbuka membuat Devan mematung.


Begitu juga Shabrina yang datang. Wajahnya benar benar tidak bisa menahan kesal dan amarah lagi.


__ADS_2