Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Dimana Suamiku?


__ADS_3

Hari sudah pagi, bahkan matahari sudah mulai bersinar menerangi bumi yang pagi itu nampak cerah.


Hanya hari yang cerah, tapi tidak dengan suasana hati Shabrina dan kedua orang tua Devan saat ini.


Pasalnya mereka cukup was was dan khawatir karena Devan sampai pagi ini belum juga kembali. Bahkan untuk sekedar kabar pun tidak ada dia beri.


Berulang kali tuan Bram menghubungi Devan dan Hans. Tapi satupun dari mereka tidak ada yang bisa dihubungi. Dan itu membuat mereka semakin cemas.


Shabrina bahkan tidak ada tidur sejak Devan pergi. Dia sudah khawatir dengan keadaan Nesya yang belum sadar, Arsya yang masih demam, dan sekarang malah Devan yang tidak ada kabar.


Sungguh, Shabrina benar benar ingin menangis rasanya.


Shabrina duduk diatas ranjang Arsya dan mengusap kepala Arsya yang masih hangat. Dia memperhatikan tuan Bram yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya. Bahkan beberapa kali Shabrina lihat jika dia marah marah dengan orang yang dia hubungi.


"Bagaimana pa. Dimana Devan?" tanya nyonya Kartika. Dia sama cemasnya dengan Shabrina.


"Tidak ada ma. Devan sudah tidak ada dirumah tuan Bastian sejak semalam. Orang orang kita sudah mencari Devan disana" ungkap tuan Bram.


"Astaga... jadi kemana anak itu" gumam nyonya Kartika.


Shabrina mengusap wajahnya yang sembab. Matanya kembali berkaca kaca. Dia memandang Arsya yang masih tertidur setelah malam tadi dia juga tidak tidur karena demam.


"Nyonya , tuan. Saya titip Arsya ya" ucap Shabrina.


"Mau kemana kamu?" tanya Nyonya Kartika


"Saya mau lihat Nesya nyonya" jawab Shabrina.


Nyonya Kartika menghela nafas panjang dan mengangguk pasrah.


"Kita bagi tugas. Mama jaga Arsya disini, Shabrina melihat Nesya. Papa akan keluar mencari Devan. Entah kemana anak itu. Disaat saat seperti ini dia menghilang membuat cemas saja" ujar tuan Bram.


"Jika perlu pergilah ke rumah tuan Bastian pa. Tanyakan pada mereka dimana Devan kita. Mama benar benar takut jika Devan ada bersama mereka" ucap nyonya Kartika


Tuan Bram mengangguk pelan.


"Ya, papa memang akan kesana. Papa pergi dulu. Kalian jangan ada yang kemana mana " pinta tuan Bram seraya memandang nyonya Kartika dan Shabrina bergantian.


"Iya" jawab nyonya Kartika. Sedangkan Shabrina hanya mengangguk patuh.


Setelah tuan Bram pergi, Shabrina juga pergi keruangan Nesya. Dia menitipkan Arsya pada ibu Devan. Semoga saja Arsya tidak mencari nya nanti.


Diruangan Nesya ternyata sudah ramai dokter yang berkumpul. Namun Shabrina hanya berdiri didepan ruangan itu. Memandangi Nesya dari balik dinding kaca.


Hatinya perih dan teriris melihat Nesya yang dikerumuni oleh orang orang itu. Apalagi ditambah dengan Devan yang menghilang dan tidak ada kabar. Shabrina benar benar tidak tahu harus apa. Rasanya dia ingin menangis, tapi sudah tidak lagi bisa.


Hatinya lemah, bahkan kakinya pun juga ikut lemah. Rasanya seperti sudah tidak sanggup lagi untuk berpijak. Dia seperti kehilangan pijakan, Shabrina benar benar takut jika Devan akan pergi dan meninggalkan dia. Entah itu menuruti keinginan Adinda dan orang tuanya, atau pergi karena keinginan Devan sendiri.

__ADS_1


Ingin menangis, tapi Shabrina lagi lagi harus dipaksa kuat demi kedua buah hatinya.


Ya tuhan...


Kapan mereka bisa bahagia. Pergi ikut Devan ke kota adalah untuk meraih kebahagiaan demi anak anak nya. Tapi jika begini yang terjadi, bagaimana bisa bahagia?


Shabrina terkesiap, saat dokter Satria dan teman dokter nya keluar dari ruangan Nesya.


Dia langsung mendekat kearah mereka dengan wajah cemasnya.


"Dokter, bagaimana Nesya?" tanya Shabrina langsung.


Dokter Satria tersenyum memandang wajah cemas Shabrina.


"Jangan khawatir nona. Nesya sudah lebih baik. Bahkan dia berhasil melewati masa kritisnya. Siang nanti mungkin nona kecil sudah sadar" ungkap dokter Satria.


Shabrina langsung mengucap syukur mendengar itu.


"Saya boleh lihat dokter" tanya Shabrina.


"Boleh.. Tapi nona pakai pakaian steril dulu ya" ujar dokter Danar.


Shabrina langsung mengangguk dengan cepat. Dan setelah dokter Satria pergi, dia juga pergi untuk memakai pakaian steril dibantu oleh seorang perawat.


Shabrina masuk kedalam ruangan Nesya dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya benar benar sakit melihat Nesya yang dipenuhi oleh alat medis seperti ini. Anak nya yang ceria dan bersemangat, kini lemah dan tidak berdaya. Tapi Shabrina bisa apa, ini adalah jalan agar Nesya bisa sehat dan seperti anak anak yang lain nya.


"Cepat bangun ya. Biar bisa main sama ayah bunda" bisik Shabrina lagi. Seraya dia yang mencium sekilas dahi Nesya. Karena demi apapun Shabrina tidak bisa menahan air mata nya lebih lama.


Dia memalingkan wajah seraya mengusap air matanya. Tapi tiba tiba Shabrina terkejut, saat melihat seseorang berdiri didepan ruangan Nesya dan memandang nya dengan lekat.


"Adinda" gumam Shabrina.


Namun hanya sebentar karena setelah Shabrina melihatnya, Adinda langsung pergi dari depan ruangan Nesya. Membuat Shabrina juga langsung berlari keluar seraya membuka paksa pakaian steril itu.


Dia harus bertemu Adinda, dia ingin bertanya dimana suaminya.


Dengan cepat Shabrina berlari keluar. Namun ketika diluar Adinda sudah tidak ada lagi, dia sudah berjalan keujung lorong dimana pintu keluar menuju lobi rumah sakit.


Shabrina menutup pintu ruangan Nesya dengan pelan. Dan segera berlari menyusul Adinda. Berlari dengan cepat hingga Adinda bisa terlihat lagi dipandangan matanya.


"Adinda!!" seru Shabrina.


Namun Adinda tidak menghiraukan seruan Shabrina. Dia terus berjalan dengan cepat keluar dari rumah sakit itu. Bahkan kini dia sudah berada dilobi. Berjalan dengan cepat menuju keluar.


"Adinda!!" seru Shabrina lagi.


"Tunggu dulu" panggil Shabrina.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga dia langsung berlari dengan cepat, bahkan tanpa menghiraukan tatapan dan pandangan orang orang yang memandang nya dengan heran.


Shabrina langsung menarik tangan Adinda saat sudah berada didekatnya.


"Adinda" seru Shabrina. Namun dia terkesiap saat melihat wajah Adinda yang sudah basah dengan air mata.


Adinda menangis???


"Dimana suamiku???" tanya Shabrina tanpa basa basi. Nafasnya tersengal hebat karena dia berlari dengan cepat dari dalam hingga keluar rumah sakit. Bahkan kini mereka sudah berada dipinggir jalan.


"Kenapa kamu bertanya padaku ha?" tanya Adinda terlihat marah. Dia menghapus air matanya dengan kasar. Dan memandang Shabrina penuh benci.


"Dia suami mu, seharusnya kamu tahu dia dimana" seru Adinda.


"Dia dirumah mu kan..Malam tadi pamit akan kerumah mu. Tapi sampai sekarang dia tidak juga kembali. Dimana suamiku Adinda?" tanya Shabrina lagi.


Adinda tertawa kecil dan menggeleng.


"Kamu takut kehilangan dia ha. Apa kamu takut jika dia tidak lagi kembali?" tanya Adinda begitu sinis.


Shabrina terlihat menggeram. Sudah, cukup sudah berbaik hati pada wanita ini.


"Aku tidak takut kehilangan dia. Aku sudah pernah kehilangan dia selama enam tahun. Aku bisa bertahan hidup tanpa dia. Tapi anak anak ku Adinda! Anak anakku membutuhkan ayah nya. Kamu tidak lihat, didalam sana Nesya sedang berjuang diantara hidup dan mati. Dia butuh ayahnya Adinda. Anak anak ku butuh ayahnya!" seru Shabrina begitu menggebu. Bahkan wajah nya memerah menahan amarah dan air mata.


Adinda memandang Shabrina dengan pandangan tidak menentu.


"Kamu bisa ambil Devan dari ku. Tapi aku mohon jangan ambil Devan dari anak anakku. Mereka sudah merindukan ayahnya sejak kecil, dan sekarang mereka baru bertemu ayahnya lagi, tolong... tolong jangan hancurkan kebahagiaan mereka Adinda " pinta Shabrina dengan segenap emosinya.


Adinda langsung memalingkan wajahnya, dan entah kenapa matanya juga kembali ingin menangis.


"Sejak dulu aku sudah kalah Sha " ucap Adinda. Membuat Shabrina langsung mematung seraya mengusap kasar air matanya.


"Aku sudah kalah meski bagaimana pun cara untuk mendapatkan Devan. Kamu tenang saja. Devan pasti akan kembali pada kalian. Aku sudah pasrah. Cintaku tidak mungkin terbalas" ungkap Adinda.


"Adinda " lirih Shabrina


Adinda tersenyum pedih dengan air mata yang semakin banyak.


"Devan masih ada bersama orang tuaku. Aku akan pergi dari kehidupan kalian. Kamu tenang saja. Aku sudah lelah" ucap nya lagi.


Dan setelah mengatakan itu, Adinda langsung pergi meninggalkan Shabrina. Meninggalkan Shabrina yang mematung ditepi jalan. Namun beberapa detik kemudian, Shabrina terkesiap saat melihat dari arah belakang Adinda ada sebuah mobil yang melaju begitu cepat.


"Adinda awas!!!!" teriak Shabrina yang langsung berlari kearah Adinda.


Dan


Brakk

__ADS_1


"Aaahhhh!!!!


__ADS_2