
Devan memandang Shabrina dengan perasaan yang hancur. Sebegitu terluka kah dia dengan kejadian itu? atau ada hal lain yang membuat dia seperti ini?
Bagaimana mungkin Devan pergi membawa anak anak nya tanpa Shabrina. Jika selama ini Shabrina lah yang dia cari.
"Tidak Sha, aku tidak bisa pergi tanpa kamu. Anak anak juga pasti tidak akan mau pergi tanpa ibunya" ucap Devan.
Shabrina terisak begitu pilu, namun sekuat mungkin dia menahan nya.
"Ayolah Sha. Jangan seperti ini. Aku berjanji, tidak akan ada lagi luka yang kamu terima ketika kamu tiba disana nanti" kata Devan lagi.
Shabrina memandang Devan sendu dan sedih.
"Tidak ada luka lagi?" Tanya Shabrina.
"Bagaimana tidak ada luka lagi mas. Jika ibumu benar benar tidak menyukai ku. Bagaimana dia tahu jika kamu memiliki anak dari wanita seperti ku, bagaimana jika dia mencaci ku dan mengusir ku lagi dari kota itu. Mengancam ku dan membuat mental ku hancur. Apa kamu fikir aku sekuat itu?" Ungkap Shabrina begitu hancur.
Dia menggeleng dan menangkup wajahnya, menahan tangis nya didalam sana.
"Tidak mas, aku tidak sekuat itu" gumam Shabrina dengan begitu pilu. Dia menangis dengan pilu, tangisan yang mengungkapkan betapa terluka hatinya.
Devan langsung beranjak dan berlutut dihadapan Shabrina. Dia meraih tangan Shabrina dan menggenggam nya dengan erat.
Mengusap wajah penuh kesedihan itu dengan begitu lembut.
"Sha, tidak akan lagi aku biarkan dia menyakiti kamu dan anak anak. Sudah cukup sekali, meskipun dia ibuku. Tapi kalian kehidupan ku" ucap Devan begitu yakin.
"Demi anak anak kita. Aku mohon, ikutlah bersama ku kesana. Nesya perlu perawatan, dia harus segera ditangani. Kamu mau dia sehat seperti anak anak yang lain kan?" Tanya Devan. tangannya masih menggenggam tangan Shabrina dengan erat. Tangan yang tidak lagi semulus dulu, tapi tangan inilah yang sudah berjuang mati matian untuk membesarkan anak anak nya.
Shabrina masih diam dan masih menahan Isak tangisnya. Rasanya dia ingin menangis, dia ingin menumpahkan segala beban nya. Dia kecewa, tapi tidak tahu kecewa pada siapa, dia ingin marah, tapi bagaimana cara meluapkan nya.
Dia lelah, tapi bisakah Devan mengerti.
"Sha... Tolong. Demi anak anak" pinta Devan lagi.
__ADS_1
"Mereka tidak akan mau pergi bersamaku. Meski aku ayahnya, tapi aku masih baru dipenglihatan mereka. Bagaimana pun kebahagiaan yang aku tawarkan, tetap saja kamu yang mereka butuhkan Sha" ucap Devan.
Shabrina memandang Devan yang menatapnya dengan sendu. Pandangan mata tajam yang selalu dia rindukan, dan kini sudah ada dihadapan nya. Menawarkan kembali kebahagiaan yang sempat ingin dia raih.
Tapi.... Sungguh tidak semudah itu untuk dia menerimanya.
"Sha... Aku tahu, luka mu begitu besar. Sejuta kata maafku pun tidak bisa mengobati rasa kecewamu. Tapi untuk sekarang, aku tidak memintamu untuk memaafkan ku. Aku hanya minta kamu ikut ke Jakarta bersama ku dan anak anak. Kita obati Nesya bersama sama. Ya" pinta Devan lagi.
Bibir Shabrina kembali bergetar, dia melepaskan tangan Devan dan kembali menangkup wajahnya. Entah kenapa bertemu Devan dia tidak bisa meredam emosi. Dia ingin menangis, rasanya benar benar tidak bisa diungkapkan. Segala beban yang selama ini dia pendam terasa mencuat dan tidak bisa dia tahan.
Beban yang selama ini dia simpan sendirian. Lelah, sedih, sakit, semuanya tidak bisa dia pendam.
Devan beranjak dan duduk disamping Shabrina, dia langsung menarik Shabrina kedalam pelukan nya. Memeluk erat wanita yang nampak begitu rapuh dan lelah ini.
Dan tentu saja, pelukan Devan membuat Shabrina semakin menangis. Bahkan tangisan nya cukup kuat. Bahkan semakin Devan mengusap punggung nya semakin tidak bisa berhenti Shabrina menangis.
Devan memejamkan matanya seolah merasakan kesakitan Shabrina saat ini. Tangisan Shabrina benar benar melukai hatinya. Terdengar begitu pilu dan penuh beban.
Ya tuhan...
Devan membiarkan Shabrina menangis dalam pelukan nya. Tidak perduli walaupun ada orang yang akan melihat mereka. Dia hanya ingin membiarkan Shabrina merasa tenang dan percaya, jika dia tidak akan membiarkan luka itu datang lagi.
Enam tahun sudah mereka hidup dalam kerinduan, rasa cinta yang pernah tercurah kini seakan mencuat kembali.
Rasa sakit, kecewa dan rindu bersatu menjadi satu. Ditambah dengan segala kesakitan yang selama ini mereka pendam. Membuat Shabrina menumpahkan segala beban yang ada dihatinya pada Devan, lewat tangisan nya yang terdengar begitu pilu.
Bahkan tangan Shabrina mencengkram kuat kemeja Devan dan menyembunyikan wajahnya didada lelaki itu.
Menangis sesenggukan hingga dia merasa puas dan lega. Setelah selama ini dia selalu menahan kesedihan nya.
Sangat lama...
Bahkan sampai tubuhnya berkeringat dan suaranya sudah menghilang. Hanya menyisakan sesunggukkan dalam dekapan Devan.
__ADS_1
Rasa hangat pelukan Devan, harum aroma maskulin yang dulu pernah dia rasakan benar benar membuat Shabrina merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat perasaanya sedikit tenang, dan beban yang selama ini dia tanggung seakan menguar keluar.
Devan menunduk memandang Shabrina yang masih memeluk nya. Dia tersenyum dan mengusap kepala Shabrina dengan lembut, mungkin sudah hampir satu jam dia memeluk Shabrina dan membiarkan wanita ini menangis, hingga dapat dia rasakan dadanya sudah basah karena tangisan Shabrina.
Devan mengecup kepala Shabrina dengan lembut dan begitu dalam. Rasa rindu dan rasa cinta yang memang masih selalu ada untuk kekasih hatinya ini.
Devan mulai merenggangkan pelukan nya, namun dia mengernyit, saat melihat ternyata Shabrina malah sudah terpejam dalam dekapan nya.
Dia tertidur????
Devan tersenyum pedih memandang wajah Shabrina dari dekat. Wajahnya kering, lusuh, dan tidak lagi secerah dulu. Dulu Shabrina nya adalah gadis yang ceria dan penuh senyum, tapi sekarang, Shabrina nya adalah seorang wanita tangguh yang sudah tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, melainkan hanya untuk anak anaknya.
'maafkan aku' bisik Devan.
Devan langsung mengangkat tubuh Shabrina kedalam gendongan nya. Dan benar saja, sepertinya Shabrina sudah terlelap karena kelelahan menangis dan juga satu hari ini dia yang tidak ada beristirahat.
Dengan susah payah Devan membuka pintu, namun saat pintu terbuka, dia terkejut melihat Arsya yang berdiri mematung didekat pintu.
Devan memandangnya dengan bingung. Apa Arsya mendengar percakapan mereka???
Arsya melengos dan dia langsung merapikan bantal disamping Nesya, membiarkan Devan membaringkan bunda nya disana.
Devan merebahkan tubuh Shabrina dengan hati hati. Menyelimuti nya dengan selimut tipis nya.
Matanya memandang sedih pada Shabrina yang memang terlihat begitu kelelahan.
Tangan Devan mengusap lembut wajah Shabrina, dan setelah itu dia berbalik kearah Arsya yang duduk dikursi dekat pintu.
Devan menghampiri putranya itu.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Devan, suara nya terdengar pelan karena dia tidak ingin membangunkan dua wanita kesayangan nya itu.
"Bisakah untuk tidak membuat bunda menangis lagi?" Pinta Arsya
__ADS_1
Devan langsung mematung mendengar perkataan itu.