Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Memeriksa Nesya


__ADS_3

Menikah adalah hal yang di impikan oleh semua orang. Hidup bahagia bersama seseorang yang mereka cintai. Membangun bahtera rumah tangga dan memiliki keluarga kecil yang bahagia. Dan itulah yang juga diharapkan oleh Shabrina dan Devan.


Berpisah selama enam tahun karena terhalang restu, dan kini mereka telah bertemu lagi. Tentu Devan tidak akan membiarkan Shabrina nya pergi lagi.


Sejak dulu, hingga sekarang, Shabrina adalah pemilik hati dan raganya. Tidak ada siapapun yang bisa menghalangi dia, meski rintangan untuk mereka bisa hidup tenang masih terus berlanjut hingga saat ini.


Tapi demi kebahagiaan anak anak nya. Devan memang akan berusaha lebih kuat untuk menjaga keluarga kecil yang baru saja dia bangun.


"Ayah... Nesya takut"


Suara kecil Nesya dalam gendongan Devan membuat Devan terkesiap. Mereka baru saja turun dari mobil dan kini sudah masuk kedalam rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan Nesya.


Devan tersenyum dan mengecup sekilas pipi Nesya.


"Jangan takut, enggak apa apa. Nesya mau sekolah kan?" tanya Devan.


Nesya langsung mengangguk dengan cepat.


"Karena itu harus sehat. Dokter nya baik kok. Nanti setelah periksa, ayah akan bawa Nesya jalan jalan, kita beli boneka, mau" tawar Devan.


"Benar ayah?" tanya Nesya.


"Iya sayang" jawab Devan.


"Yeay... terimakasih ayah. Nesya mau sembuh. Biar Nesya bisa sekolah dan gak ngerepotin bunda lagi" jawab Nesya.


Shabrina yang berjalan disebelah Devan langsung tersenyum mendengar itu. Meski jantung nya pun terasa berdetak tidak stabil. Dia juga takut dengan hasil pemeriksaan Nesya nanti.


Devan memandang Shabrina, dia meraih tangan istrinya itu dan menggenggam nya dengan lembut.


"Bunda juga jangan takut gitu. Nesya pasti baik baik saja" ucap Devan.


Shabrina hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi sungguh genggaman tangan Devan bisa sedikit membuat dia tenang.


Dan kini mereka berjalan bergandengan tangan menuju lantai atas dimana ruangan dokter yang akan memeriksa Nesya berada. Sudah terlihat seperti keluarga bahagia yang lengkap.


Arsya hanya diam, seraya matanya yang mengedar memandangi rumah sakit besar itu. Fikiran anak kecil itu masih begitu bingung dengan semua yang dia dapatkan.


Dalam benak nya, seberapa banyak uang ayahnya???


Hingga tidak lama, mereka masuk kedalam. Seorang dokter lelaki bernama dokter Satria langsung menyambut mereka dengan hangat.

__ADS_1


Semua sudah dipersiapkan oleh dokter itu, karena semalam Hans sudah mengubungi nya.


Dan kini Nesya hanya tinggal melakukan proses pemeriksaan saja.


Dia dibaringkan disebuah ranjang kecil untuk melakukan CT scan detak jantung dan juga memeriksa keadaan jantung Nesya.


Dan sungguh, hanya melihat proses pemeriksaan ini saja Shabrina sudah dibuat takut. Dia dan Devan berdiri disamping Nesya. Menemani anak perempuan mereka yang terlihat takut tapi dia tahan.


"Bunda.... Nesya takut" ucap Nesya. Matanya berkaca-kaca sekarang.


Shabrina tersenyum dan menggenggam tangan Nesya.


"Enggak apa apa sayang. Cuma periksa aja. Enggak sakit, Nesya kan mau sembuh, biar bisa main sama kakak" ujar Shabrina


"Nesya takut sakit bunda" rengek Nesya.


"Tidak sakit nona cantik. Cuma sedikit panas. Nanti setelah ini dokter punya hadiah untuk nona kalau nona berani. Mau tidak" tawar dokter Satria. Senyum teduhnya sungguh menenangkan untuk Nesya.


"Beneran dokter. Nesya gak akan mati kan?" tanya Nesya dengan polos nya. Namun itu bisa membuat Devan dan Shabrina langsung tertegun.


"Tidak dong. Nona cantik pasti bisa hidup lama. Bisa sekolah, bermain, dan bertemu dengan teman teman" jawab dokter Satria sembari dia yang mulai memeriksa Nesya.


"Bisa berlari lari dokter?" tanya Nesya


Devan merangkul bahu Shabrina dengan lembut, dia tahu istri yang baru dia nikahi beberapa jam yang lalu ini pasti begitu khawatir dengan keadaan Nesya.


Apalagi ketika melihat reaksi dokter Satria yang nampak berbeda meski dia masih tetap tersenyum seperti biasa.


Dan hampir satu jam, akhirnya pemeriksaan Nesya selesai. Meski diakhiri dengan Nesya yang menangis takut saat dia merasa sesak di dadanya.


Shabrina menggendong Nesya dan duduk memangkunya diatas ranjang. Sedangkan Devan nampak begitu serius berbicara dengan dokter Satria dikursi mereka.


"Bunda, Nesya takut. Sakit tadi bunda" rengek Nesya.


"Enggak apa apa sayang. Nanti pasti sembuh. Peluk bunda ya" ujar Shabrina yang terus memeluk Nesya dan mengusap punggung putri kecilnya itu.


"Biar cepat sehat. Nanti kita minta beli sepeda sama ayah" ucap Arsya pada Nesya.


"Emang ayah punya uang?" tanya Nesya dengan polosnya. Shabrina langsung tersenyum getir mendengar itu. Mereka tidak tahu saja jika ayah mereka tidak akan pernah kekurangan uang.


"Adalah. Buktinya ayah bisa punya mobil dan rumah. Berarti kan ayah punya banyak uang. Iya kan bunda" tanya Arsya.

__ADS_1


"Iya sayang" jawab Shabrina.


Sedangkan Devan masih berbicara serius dengan dokter Satria. Dia cukup teriris saat dokter Satria berkata jika keadaan Nesya cukup lemah. Penyakit jantung bawaan dari lahir ini harus segera ditangani. Dan itu juga memerlukan operasi agar Nesya bisa sehat, meski tidak sesehat anak anak lain nya.


"Jika anda dan istri bersedia, maka seminggu lagi kita bisa melakukan operasi itu tuan" ujar dokter Satria


Devan menghela nafasnya sejenak dan menoleh pada Shabrina yang masih menenangkan Nesya.


"Jika ini yang terbaik, maka saya hanya bisa menurut dokter. Semoga putri saya bisa sembuh dan hidup lebih lama" harap Devan.


Dokter Satria tersenyum dan mengangguk


"Nona kecil pasti sembuh. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa tuan" ujar dokter Satria.


Devan mengangguk pelan.


"Jika begitu, saya pamit dulu dokter. Semua akan diurus oleh asisten saya" ucap Devan.


"Baik tuan. Sampai bertemu nanti" jawab dokter Satria


Mereka beranjak, dan Devan langsung mendekat kearah Shabrina. Dia mengusap kepala Nesya dengan lembut.


"Kita pulang" ajak Devan


"Nesya lemas ayah" ucap Nesya yang masih terkulai dalam pelukan Shabrina


"Iya, ayah gendong yuk" ajak Devan yang langsung meraih Nesya kedalam pelukannya.


Dia tersenyum sekilas pada Shabrina yang terlihat bersedih namun berusaha untuk tetap baik baik saja.


"Nah ini untuk nona... permen lolipop terbaik yang dokter punya. Harus semangat, biar cepat sembuh. Oke" ucap dokter Satria seraya menyerahkan permen lolipop yang cukup besar pada Nesya


"Waah terimakasih dokter" ucap Nesya. Meskipun dia masih terkulai dalam dekapan Devan, tapi wajah ceria nya itu tetap saja membuat semua orang gemas.


"Lolipop, apa tidak apa apa dokter?" tanya Devan yang terlihat keberatan. Namun dokter Satria menggeleng pelan.


"Itu bukan permen dari banyak gula. Itu madu yang dicampur dengan bahan bahan sehat lain nya. Tenang saja tuan" jawab dokter Satria.


Devan langsung mengangguk dan kembali memandang Nesya yang nampak senang mendapatkan lolipop itu.


"Dan ini untuk tuan kecil. Karena sudah berbaik hati mau menemani nona cantik" kali ini dokter Satria beralih pada Arsya, dan memberikan lolipop juga, tapi dengan ukuran yang lebih kecil.

__ADS_1


"Om dokter, Arsya tidak suka permen. Arsya sudah besar" jawab Arsya dengan gelengan kepala nya.


Dokter Satria dan Devan langsung tertawa mendengar itu. Apalagi ketika melihat wajah angkuh itu. Benar benar mirip dengan bibitnya.


__ADS_2