Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Kedatangan Arsya


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal operasi Nesya. Dan sekarang Shabrina sudah duduk menunggu didepan ruang operasi bersama Arsya.


Wajahnya cemas dan terlihat panik. Nesya baru saja dibawa masuk kedalam ruang operasi oleh dokter Satria. Putri kecilnya itu terlihat tidak berdaya, apalagi ketika sudah dalam pengaruh obat bius. Sungguh, Shabrina benar benar tidak tega.


Shabrina hanya menunggu bertiga dengan Arsya dan pak Mun. Devan pamit pergi keluar karena ada yang harus di urusnya.


Lelaki itu berkata jika hanya sebentar, tapi sampai Nesya dibawa keruang operasi Devan juga tidak ada kembali. Dan tentu saja, itu yang membuat dia semakin bertambah panik dan tidak menentu. Entah ada apa dengan Devan, padahal dia sudah berjanji untuk menemani anak nya operasi hari ini.


"Pak mun" panggil Arsya.


Pak Mun yang sedang berdiri dengan wajah tegang nya langsung menoleh kearah Arsya.


"Temani Arsya keluar sebentar yuk" ajak Arsya.


Shabrina langsung memandang Arsya dengan bingung.


"Mau kemana nak?" tanya Shabrina.


"Keluar bunda, cari air minum. Hanya sebentar. Boleh kan" pinta Arsya.


Shabrina memandang kearah ruangan Nesya sejenak dan kembali memandang kearah Arsya.


"Jangan lama lama ya" pinta Shabrina


Arsya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Arsya tidak lama bunda. Bunda tunggu sebentar ya. Dan jangan sedih, Nesya pasti baik baik aja" ujar Arya.


Shabrina tersenyum tipis dan mengangguk. Seraya memandang Arsya yang langsung beranjak dari duduk nya.


"Hati hati pak" pinta Shabrina pada pak Mun.


"Baik nyonya" jawab pak Mun.


Shabrina memandang nanar kepergian Arsya dan pak Mun. Sekarang dia sendirian disini. Menunggu putri kecilnya yang sedang berjuang melawan maut didalam.


Hati Shabrina semakin tidak menentu. Dia benar benar takut dan cemas. Devan entah kemana, dan itu membuat perasaan nya semakin tidak menentu.


Shabrina kembali memandang ruangan Nesya dengan tangan yang saling meremas. Berharap operasi Nesya akan berjalan lancar dan dia bisa sehat kembali.


...


Sementara ditempat lain...


Devan tengah memandang lekat Adinda yang datang keperusahaan nya.


Devan baru saja selesai meeting dan dia ingin segera pergi untuk menunggu Nesya yang dioperasi hari ini.


Shabrina sudah pasti cemas dan panik seorang diri dirumah sakit. Tapi wanita ini, lagi lagi malah mengganggu nya.


"Bisakah kamu pergi, aku benar benar tidak punya waktu sekarang" ucap Devan

__ADS_1


Dia sudah ingin pergi, tapi Adinda malah terus menghalangi nya. Bahkan Devan benar benar tidak habis fikir dengan gadis ini.


"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu menerima permintaan ku kemarin" ucap Adinda.


"Jangan gila Adinda. Sudah aku bilang sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah dengan mu, apalagi menduakan Shabrina" jawab Devan sedikit berseru.


"Kamu tidak bisa begitu Dev. Kamu hidup senang bersama nya, tapi kamu lupa kamu hidup karena siapa" seru Adinda.


"Aku tidak melupakan semuanya Adinda. Aku sadar dan aku tidak akan mengabaikan kalian. Tapi untuk sekarang, aku mohon jangan ganggu aku. Anak ku sedang sekarat dirumah sakit. Dan aku harus kesana" sahut Devan.


"Aku akan membiarkan mu pergi tapi kau harus memberikan aku keputusan" ucap Adinda.


"Jangan gila. Awas" seru Devan.


"Tidak akan" sahut Adinda yang malah memeluk Devan. Saat ini mereka berada diruangan Devan hanya berdua. Hans menunggu diluar. Tapi sepertinya keadaan menjadi buruk sekarang.


"Adinda!!" bentak Devan yang langsung melepaskan pelukan Adinda dengan kasar membuat gadis itu langsung mundur kebelakang.


"Jangan pancing aku untuk berbuat kasar padamu. Aku sudah bilang, aku tidak akan menikahi mu" seru Devan.


Dia sudah kalap, apalagi ketika mengingat Nesya dirumah sakit.


"Dev... jika kau tidak ingin menikahi ku... maka aku..."


"Ayah!!!" seruan Arsya langsung membuat perkataan Adinda langsung terhenti.

__ADS_1


__ADS_2