Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Jadikan Aku Istri Kedua


__ADS_3

Shabrina terduduk dengan lemas disofa. Air mata sejak tadi tidak berhenti mengalir diwajahnya. Nyonya Kartika sudah pulang. Dia datang hanya untuk mengucapkan hal itu. Hal menyakitkan yang sungguh membuat hati Shabrina terasa porak poranda.


Bagaimana mungkin dia bisa berbagi suami, jika hanya Devan yang dia punya selain anak anak nya.


Bagaimana mungkin Shabrina akan sanggup melihat Devan bersama dengan wanita lain didepan matanya.


Tidak...


Tidak mungkin...


Itu terlalu menyakitkan, bahkan hanya sekedar untuk membayangkan nya saja, Shabrina sudah tidak sanggup.


Enam tahun hidup tanpa Devan dia bisa, meski hatinya selalu tersiksa menahan rindu. Tapi untuk berpisah lagi, apa mungkin??


Sedangkan mereka baru saja menikah dan bersatu lagi.


Dan sekarang...


Shabrina dihadapkan dengan pilihan yang begitu sulit.


Jika dia memilih pergi, bagaimana dengan anak anak nya?


Nesya sakit, dan dia butuh ayahnya. Dan Shabrina juga tidak tega untuk meninggalkan Nesya disini.


Ya tuhan...


Kenapa seperti ini. Dosa apa yang sudah dia perbuat hingga harus menanggung masalah yang begitu rumit seperti ini.


Kenapa hanya untuk bersatu dengan Devan saja begitu sulit. Kenapa semua terasa menyakitkan.


Sekarang, Shabrina tidak bisa untuk menyalahkan Nyonya Kartika. Karena jika itu dia, mungkin Shabrina juga akan melakukan hal yang sama.


Dan sekarang...


semua tinggal menunggu keputusan nya.


Jika Shabrina masih ingin bersama Devan, maka dia harus siap berbagi suami. Tapi jika Shabrina memilih untuk pergi, maka dia harus siap berpisah dengan anak anak nya.


Benar benar pilihan yang sulit. Dan Shabrina tidak bisa memilih. Semua terasa menyakitkan.


....

__ADS_1


Sementara disekolahan Arsya...


Devan sudah tiba disana. Dia hanya sebentar diperusahaan. Hanya untuk menghadiri rapat saja dan selebihnya diurus oleh Hans.


Devan tidak ingin membiarkan Shabrina menjaga Nesya sendirian. Dia tahu istri nya itu pasti sedang bersedih sekarang.


Meski perasaan nya juga tengah gundah sekarang, namun Devan juga tidak ingin membuat Shabrina semakin bertambah bersedih. Apalagi dengan keadaan mereka yang sedang rumit seperti ini.


"Dev..."


Suara seseorang membuat Devan terkesiap kaget. Dia yang sedang fokus memperhatikan sekolahan Arsya langsung menoleh kesamping.


"Adinda" gumam Devan.


"Ternyata benar, anak kamu yang sekolah disini" ucap Adinda. Terdengar begitu getir.


"Kenapa kamu disini?" tanya Devan.


"Aku hanya ingin memastikan apakah yang dikatakan Shasa benar atau tidak" jawab Adinda.


"Tentang anak anak ku?" tanya Devan lagi.


Adinda tersenyum getir dan mengangguk. Helaan nafasnya terdengar cukup berat.


Dan kini Devan yang terlihat menghela nafasnya.


"Kenapa kamu bertanya. Sudah sejak dulu aku selalu bilang padamu kan. Jika aku tidak ingin menikah denganmu" jawab Devan.


"Tapi kami ingin selalu ada didekat mu Dev. Aku juga sudah mencintai kamu sejak dulu, sejak pertama kali kita bertemu" ucap Adinda dengan mata yang mulai berair.


Dan sungguh, hal inilah yang tidak disukai oleh Devan sejak dulu. Dia tidak bisa melihat Adinda menangis. Entah kenapa, apa mungkin karena jantung kakak nya ini hingga dia mempunyai perasaan tiga tega melihat Adinda yang bersedih.


"Adinda... Kamu terlalu berharga untuk terus mengharapkan aku. Aku tahu aku berhutang nyawa pada kalian. Tapi tidak bisakah aku membayar nya dengan hal lain. Tapi jangan dengan pernikahan" pinta Devan.


Adinda menggeleng pelan seraya mengusap air matanya yang mulai menetes.


"Aku sudah mempunyai anak dan istri Adinda. Tidak mungkin aku mengkhianati mereka" ucap Devan lagi.


"Kamu hidup karena kakak ku. Tapi kenyataan nya hidup kamu bukan untuk kami. Ini terasa tidak adil Dev." ungkap Adinda.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku tentang hal ini..Kenapa baru sekarang kalian mengungkapkan nya pada ku. Kenapa disaat aku sudah memiliki wanita yang aku cintai?" tanya Devan tidak habis fikir.

__ADS_1


Disaat dia mulai membangun keluarga, kenapa disitu pula masalah menimpa mereka.


Siapa yang salah jika sudah begini? Bukan Devan tidak tahu diri dan mengabaikan hal penting itu. Hanya saja, dia sudah memiliki kehidupan lain sekarang.


"Aku yang meminta Dev. Aku yang meminta orang tua mu dan orang tua ku untuk tidak memberitahukan hal ini. Aku ingin mendapatkan cinta dari kamu. Aku ingin kamu menikahi ku dengan suka rela. Bukan karena alasan hutang nyawa itu" ungkap Adinda.


"Tapi kenyataan nya. Aku gagal. Bagaimana pun cara yang aku buat, aku tetap tidak bisa meluluhkan hati kamu" ucap Adinda lagi. Dia tertunduk seraya mengusap air mata nya kembali.


Beruntung nya ditempat itu belum terlalu ramai karena jam pulang Arsya masih ada beberapa menit lagi.


Devan terdiam dan memijat pelipisnya yang terasa berat. Bagaimana cara menjelaskan nya lagi pada Adinda.


"Adinda... bisakah kamu merelakan aku. Tidak dengan menikah pun aku berjanji akan selalu ada untuk kalian. Aku juga pasti akan datang pada orang tua mu untuk mengobati rindu mereka pada kakakmu" pinta Devan.


Namun Adinda malah menggeleng.


"Kamu tidak mengerti Dev. Aku sudah cukup menahan agar orang tua ku tidak selalu memaksa ku untuk mendekati mu. Bahkan pernikahan yang batal itu membuat mereka begitu kecewa. aku tidak sanggup lagi untuk melihat mereka lebih kecewa dari pada ini. Kenapa kamu tidak mengerti" tanya Adinda yang mulai emosi.


"Apa kamu juga tidak mengerti dengan posisi ku Adinda. Aku juga sudah mempunyai istri, bahkan aku sudah memiliki anak. Bagaimana mungkin aku menikahi kamu" sahut Devan tidak kalah menahan emosi.


Lelah sekali rasanya menghadapi wanita ini.


"Apa kamu tidak bisa meninggalkan dia?" tanya Adinda begitu serius.


Devan menggeleng dengan yakin.


"Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Shasa. Dia ibu dari anak anak ku. Dan anak anakku tidak akan bisa hidup tanpa ibunya" jawab Devan dengan tegas.


"Jika begitu aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi" ucap Adinda. Membuat Devan memicingkan matanya memandang bingung pada Adinda.


"Aku rela menjadi istri kedua mu, dan hidup ditengah tengah kalian"


deg


Jantung Devan terasa tertohok mendengar itu.


"Jangan gila kamu" sergah Devan seraya memandang Adinda dengan marah. Permintaan Gila Adinda ini benar benar tidak masuk akal.


"Aku tidak gila Dev. Kamu tidak bisa meninggalkan dia, maka dari itu kamu harus menikahi aku. Aku tidak masalah harus berbagi suami dengan dia. Asalkan kamu bisa ada didekat ku" jawab Adinda dengan begitu serius.


"Adinda... kamu tidak masalah, tapi aku yang bermasalah. Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianati wanita yang aku cintai. Aku tidak mungkin menduakan dia Adinda" ucap Devan dengan suara yang menggeram tertahan. Apalagi ketika melihat orang orang sudah mulai berdatangan untuk menjemput anak anak mereka.

__ADS_1


"Aku tidak perduli itu. Kamu hanya perlu memilih. Meninggalkan dia, atau menjadikan aku istri kedua. Ingat Dev, kamu bisa berdiri disini sekarang karena kematian kakak ku" ucap Adinda dengan segenap hatinya. Dan setelah mengatakan itu, dia langsung pergi meninggalkan Devan.


Meninggalkan Devan yang mematung dengan wajah yang memerah menahan amarah.


__ADS_2