Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Arsya sekolah. Anak lelaki itu nampak begitu bahagia. Apalagi ketika Shabrina selesai membantu nya mengenakan seragam sekolah.


Senyum tampan yang sangat mirip sekali dengan Devan. Bahkan Shabrina bisa melihat jika saat besar nanti, Arsya pasti akan jauh lebih tampan dari pada Devan, ayahnya.


"Nah... sudah tampan anak bunda" ucap Shabrina yang baru selesai memasangkan dasi kupu kupu dileher Arsya.


Arsya tersenyum simpul mendengar pujian itu. Dia memperhatikan penampilan nya didepan cermin.


"Siapa dulu dong, kakak Nesya. Pasti tampan, Nesya saja sudah cantik" sahut Nesya yang duduk di tempat tidur Arsya seraya memeluk boneka nya.


Shabrina tertawa dan mengangguk, dia mengambil tas sekolah Arsya yang sudah dia siapkan sejak semalam. Karena sungguh, dia pun begitu bersemangat melihat Arsya sekolah. Padahal dulu, dia sangat khawatir mengenai pendidikan anak anak nya.


Tapi saat ini, semua masalah itu sudah tidak lagi menjadi beban fikiran nya.


"Kamu terlalu percaya diri sekali Nesya. Cantikan juga bunda" ledek Arsya.


"Enak saja, Nesya juga kalau sudah besar juga cantik seperti bunda. Yakan bunda" ucap Nesya.


"Iya sayang. Nesya yang paling cantik. Sudah ayo keluar. Ayah sudah menunggu diluar " ajak Shabrina.


"Ayah ngapain bunda?" tanya Nesya. Sedari pagi dia tidak melihat ayahnya.


"Ayah masih ngobrol sama on Hans didepan" jawab Shabrina.


Mereka keluar kamar bersama sama dengan Arsya yang sudah siap untuk sekolah. Didepan rumah ternyata Devan memang sedang terlihat berbicara serius dengan Hans. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Wajah mereka berdua terlihat tegang, apalagi wajah datar Devan. Jika sedang serius, dia terlihat menakutkan.


Tapi ketika melihat Shabrina datang bersama anak anaknya, raut wajah Devan langsung berubah. Dia tersenyum dengan hangat sembari merentangkan tangan nya saat melihat Nesya yang berlari kearahnya.


Anak perempuan nya ini memang sangat manja pada Devan.


"Sudah harum anak ayah" ucap Devan seraya mencium gemas pipi Nesya.


"Sudah dong, biar ayah tambah sayang" jawab Nesya.


Devan langsung tertawa mendengar itu. Kini dia beralih pada Arsya yang berjalan mendekat kearahnya.


"Wow... boy. Kamu keren sekali. Sudah siap sekolah hari ini?" tanya Devan seraya mengusap pundak Arsya dengan hangat


"Sudah ayah, tapi ayah dan bunda antar Arsya kan?" tanya Arsya.


"Tentu nak. Setiap hari ayah pasti antar kamu. Perjalanan kita searah. Nanti siang on Hans yang jemput kamu, oke" ucap Devan.


"Oke ayah" jawab Arsya.


"Nesya ikut kan?" tanya Nesya pula


"Ikut dong." jawab Devan.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang?" ajak Devan pada Shabrina


Shabrina mengangguk dan tersenyum.


"Yeay..... antar kakak sekolah" teriak Nesya begitu bersemangat. Hingga lagi lagi membuat Devan meringis dan menjauhkan telinga nya dari Nesya.


"Persis seperti bunda nya" ucap Devan sembari menoleh pada Shabrina yang berjalan disampingnya.


"Sembarangan" gumam Shabrina.


Devan mendengus senyum dan langsung membawa istri dan anak nya masuk kedalam mobil. Sementara Hans yang sejak tadi hanya diam, nampak tersenyum melihat kebahagiaan tuan nya. Meskipun saat ini tuan nya itu berada dalam sebuah masalah.


Semoga saja, tuan nya bisa melewati semua masalah yang akan datang dan bisa hidup bahagia bersama keluarga kecil nya.


Didalam perjalanan Nesya bernyanyi nyanyi kecil bersama Devan. Sesekali mereka menggoda Shabrina. Bercanda dan tertawa bersama seperti tidak ada beban yang sedang mereka tanggung.


Ya, jika kebersamaan inilah yang bisa membuat mereka mendapatkan kekuatan untuk bisa terus memperjuangkan kehidupan mereka. Berjuang untuk bisa terus bahagia dan selalu bersama.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya mereka tiba didepan sekolah Arsya. Sekolah bertaraf internasional yang sengaja dipilihkan oleh Devan untuk anak lelakinya. Sekolah terbaik untuk anak yang sudah dia sia siakan selama lima tahun usianya.


Berharap Arsya akan menjadi anak lelaki yang pintar dan juga menjadi seorang pemimpin yang bisa membanggakan mereka kelak.


"Belajar yang pintar oke" ujar Devan pada Arsya. Dia berlutut didepan Arsya dan menepuk pundak Arsya dengan lembut.


"Sekolah tidak susah kan ayah?" tanya Arsya.


Devan tersenyum dan menggeleng.


Arsya langsung mengangguk dengan cepat.


"Nah maka dari itu sekolah yang pintar, dan ikuti semua perintah guru. Supaya kelak Arsya bisa menjadi orang hebat yang bisa membanggakan bunda dan ayah" ujar Devan.


Arsya langsung tersenyum dan mengangguk.


"Tentu ayah. Arsya janji akan belajar yang rajin dan pasti jadi orang hebat seperti ayah" ucap Arsya.


"Harus lebih hebat dari ayah" sahut Devan seraya mengusap kepala Arsya dengan lembut.


Shabrina tersenyum haru memandang anak dan suaminya itu.


"Kalau begitu pergilah masuk bersama bunda dan Nesya. Ayah sudah harus pergi bekerja dulu" ucap Devan.


Arsya mengangguk seraya mencium punggung tangan Devan. Membuat rasa haru yang begitu membuncah dihati Devan. Anak yang dia temui ketika sudah besar, yang tidak dia ketahui tumbuh kembang nya. Kini Arsya sudah ada dan sudah bersekolah.


"Ayah hati hati bekerjanya. Cari uang yang banyak untuk Nesya dan bunda" ucap Nesya saat Devan beralih pada nya.


Devan tertawa dan mengangguk.

__ADS_1


"Tentu sayang. Jangan terlalu lelah oke. Jangan jauh dari bunda juga" ujar Devan seraya mengusap kepala Nesya dengan lembut.


"Oke ayah" jawab Nesya.


Dan kali ini Devan beralih pada Shabrina.


"Mas pergi dulu, kalau ada apa apa kabari. Nanti siang Hans yang akan menjemput kalian disini" ujar Devan.


"Iya mas" jawab Shabrina seraya dia juga ikut mencium tangan Devan.


"Aku mencintaimu" bisik Devan


Shabrina langsung tersenyum simpul mendengar itu. Rasanya begitu malu mendengar perkataan cinta Devan. Padahal sudah hampir setiap hari Shabrina mendengarnya dari Devan. Tapi tetap saja, dia sudah seperti anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta.


Astaga...


"Wajah bunda merah" ucap Nesya yang sejak tadi ternyata memandang bunda nya.


Devan langsung terkekeh lucu mendengar nya, apalagi melihat wajah Shabrina yang semakin memerah.


"Bunda kenapa?" tanya Arsya pula.


Dan sungguh, itu tidak bisa membuat Devan berhenti untuk tersenyum lucu.


"Maass ih, udah deh pergi sana" usir Shabrina yang lama lama menjadi kesal sendiri. Dia mengerucutkan bibirnya dengan kesal, namun itu membuat Devan semakin gemas melihatnya. Jika saja tidak sedang berada ditempat terbuka, sudah dia cium istrinya ini. Shabrina sekarang lebih pemalu dari pada dulu.


Menggemaskan sekali.


"Yasudah, kalian baik baik ya. Ayah pergi dulu" pamit Devan.


"Hati hati" ujar Shabrina


Devan mengangguk dan tersenyum


"Dadah ayah!!!" Nesya melambaikan tangannya pada Devan yang ingin masuk kedalam mobil.


Devan tersenyum dan melambaikan tangannya pada Nesya. Apalagi ketika mobilnya sudah pergi meninggalkan istri dan anak anak nya yang sudah masuk kedalam sekolah Arsya.


Mata Devan kembali memandang ke depan. Tatapan yang tadinya hangat, kini berubah menjadi menjadi datar dan serius kembali.


"Jadi papa sudah memberikan ancaman itu padaku?" tanya Devan pada Hans.


"Benar tuan. Tuan besar berkata jika tuan masih ingin melanjutkan hubungan dengan nona Shasa, maka jabatan tuan sebagai CEO diperusahaan akan dicabut" ungkap Hans.


Devan menghela nafasnya dengan berat.


"Tidak apa apa. Kita tunggu kedatangan nya. Jika dia memang tega melakukan itu, aku akan keluar dari perusahaan dengan suka rela. Harta ku untuk menghidupi istri dan anak anak ku masih cukup dan tidak akan kurang" ucap Devan.

__ADS_1


Hans hanya mengangguk pelan. Dia cukup iba melihat masalah yang sedang Devan hadapi. Meski Devan terlihat tenang dan berkata tidak apa apa. Tapi Hans tahu, jika Devan pasti menyimpan kekecewaan yang cukup besar pada kedua orang tuanya.


Sejak dulu, bahkan hingga sekarang, mereka selalu saja memaksakan kehendak mereka tanpa ingin memikirkan perasaan Devan, anak semata wayangnya.


__ADS_2