
Pelataran rumah sakit besar itu begitu ramai oleh orang orang yang berkerumun. Apalagi ditambah dengan petugas medis yang datang dengan membawa brankar.
Suasana nampak riuh dengan wajah wajah panik dan heran orang orang yang kebetulan lewat disana. Apalagi saat melihat tubuh seorang wanita yang nampak terkulai dengan darah yang cukup banyak.
"Shasa..." lirih Adinda.
Dia berjalan dengan cepat mengikuti langkah petugas rumah sakit yang membawa tubuh Shabrina yang sudah tidak lagi sadarkan diri. Darah terus mengalir dari kepala Shabrina membuat Adinda benar benar panik dan cemas.
Dia tidak menyangka jika Shabrina akan mengorbankan dirinya sendiri demi untuk menolong nya.
Shabrina langsung dibawa masuk kedalam rumah sakit dan langsung dilarikan ke ruang UGD. Sepertinya keadaan nya cukup parah, apalagi dengan luka dikepala nya. Adinda tidak tahu harus berbuat apa, Shabrina sempat menghindar bersama nya, tapi naas, mobil itu menyerempet tubuh Shabrina hingga membuat Shabrina juga terhempas.
"Sha..." lirih Adinda yang langsung mematung dan memandang takut Shabrina yang sudah dibawa masuk oleh para petugas itu kedalam sana.
Dokter yang bertugas juga terlihat berlari dan masuk kedalam membuat hati Adinda semakin cemas.
Dia langsung terduduk dikursi dengan lemas. Air mata kembali membasahi wajah nya. Adinda benar benar takut jika terjadi sesuatu pada Shabrina. Bagaimana jika Shabrina tidak tertolong, bagaimana dengan Devan? lelaki itu pasti akan semakin membencinya.
Ya Devan...
Dia harus tahu ini.
Adinda langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Sementara ditempat lain...
Devan sedang berdiri didepan makam seorang anak kecil. Yang jika dia masih hidup, mungkin mereka seumuran atau mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja.
Alvaro Negredo
Putra tuan Bastian dan nyonya Ambar yang sudah berbaik hati menyerahkan jantung nya untuk Devan. Yang rela menukar kehidupan nya demi Devan.
"Sudah sangat lama. Tapi kami benar benar masih begitu merindukan nya" ucap nyonya Ambar seraya tersenyum tipis dan mengusap air mata yang mengalir disudut matanya.
"Tapi hari ini, rasa rinduku sudah sedikit terobati karena kau telah mau menuruti permintaan ku" kata nyonya Ambar lagi.
Devan tersenyum dan mengangguk.
"Tidak akan untuk hari ini saja nyonya. Saya berjanji akan sering sering datang mengunjungi nyonya dan tuan nanti. Kebaikan kalian tidak akan pernah saya lupakan" ucap Devan seraya memandang tuan Bastian dan nyonya Ambar bergantian.
"Aku bangga padamu Dev. Meski kami kecewa, tapi kami juga tidak bisa memaksa. Harga diri seorang lelaki memang ada pada kesetiaan nya. Meski sedikit kecewa, tapi kami akan mencoba merelakan nya" jawab tuan Bastian.
Devan tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Ya, malam tadi setelah perdebatan panjang yang mereka lakukan hingga akhirnya Devan memilih untuk mengembalikan jantung putra mereka. Tuan Bastian dan nyonya Ambar malah berkata jika itu hanyalah untuk melihat ketulusan Devan.
Ternyata mereka sudah lama tahu jika Devan sudah menikah. Hanya saja, mereka memang tidak lagi mengungkit nya.
Mereka cukup kecewa sebenarnya, karena mau bagaimanapun mereka sudah meminta Devan untuk menjadi menantu mereka sejak Devan menerima jantung dari anak mereka. Tapi kenyataan nya malah seperti ini. Sejak dulu selalu saja ada yang membuat Adinda dan Devan tidak berjodoh. Meskipun Shabrina pergi, namun pernikahan yang tinggal didepan mata malah gagal karena Devan yang kecelakaan.
Dan sekarang, mereka sudah lelah dan sudah memasrahkan segalanya. Karena mau dipaksa bagaimanapun Adinda dan Devan memang lah tidak akan pernah bisa berjodoh.
Malam tadi Devan tidak pulang karena permintaan dari nyonya Ambar agar Devan mau menginap dirumah mereka. Bukan dirumah utama itu, melainkan dirumah masa kecil Alvaro, mendiang putra mereka. Dan hal itulah yang membuat orang orang tuan Bram tidak tahu dimana Devan berada.
Nyonya Ambar dan tuan Bastian ingin mengenang putra mereka yang telah pergi dengan kedatangan Devan yang mewarisi jantung Alvaro. Devan pergi bersama Hans. Dan memang tidak ada mengabari siapapun jika mereka tidak akan pulang. Karena itu juga permintaan dari nyonya Ambar.
Devan tidak bisa menolak, karena mereka sudah cukup baik untuk melepaskan Devan dan membatalkan rencana pernikahan nya dengan Adinda.
Devan berfikir jika semua akan selesai malam itu. Tapi dia tidak tahu, jika karena kepergian nya membuat keluarga nya panik dan cemas. Ditambah dengan keadaan Shabrina yang juga dalam bahaya.
"Kami harap kamu menepati janjimu Dev. Ini permohonan kami yang terakhir. Kami masih ingin selalu dekat dengan kamu. Meski tidak sebagai menantu, tapi kami akan menganggapmu sebagai putra kami sendiri" ucap Tuan Bastian.
Devan langsung tersenyum dan mengangguk.
"Tentu tuan. Saya tidak akan mengabaikan kalian. Apalagi melupakan kebaikan kalian. Kalian juga orang tua saya, sejak dulu, bahkan sampai nanti" jawab Devan.
Nyonya Ambar langsung memeluk Devan dengan hangat.
Devan tersenyum dan mengusap pundak nyonya Ambar dengan lembut. Sedangkan tuan Bastian memandang mereka dengan haru.
Meski Putri nya bersedih karena tidak bisa menikah dengan Devan, namun sepertinya ini memang jalan terbaik.
Jodoh memang tidak bisa dipaksa. Dan egois, tidak akan bisa membuat semua menjadi bahagia.
Tapi tiba tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Hans dan juga asisten tuan Bastian. Mereka datang dengan tergopoh-gopoh. Apalagi dengan Hans yang nampak berbeda.
"Ada apa?" tanya tuan Bastian. Seperti ada yang tidak beres, apalagi saat melihat wajah Hans yang nampak panik.
"Tuan, nona Adinda hampir saja celaka karena kecelakaan." ucap asisten tuan Bastian.
"Tapi dia selamat karena ditolong oleh seorang wanita"
"Dan wanita itu adalah..... istri tuan Devan"
deg
Jantung Devan langsung terasa berhenti berdetak mendengar itu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya tuan Bastian seraya dia yang berjalan menjauh dari makam putranya.
"Sedang ditangani pihak rumah sakit, karena nona Shasa yang tidak sempat menghindar hingga mobil yang akan menabrak nona adinda malah menabrak dirinya"
Dan sungguh demi apapun, kaki Devan serasa lemas tidak berdaya mendengar itu.
"Shasa ku" gumam Devan yang langsung berlari sekuat tenaga nya menuju mobil. Bahkan dia tidak lagi menghiraukan tuan Bastian dan nyonya Ambar. Fikiran Devan sudah kalut dan cemas.
Kenapa Shasa bisa ada diluar?
Kenapa Shasa bisa bersama Adinda?
Seharusnya Shasa menjaga Nesya dirumah sakit kan. Tapi kenapa bisa seperti ini.
Fikiran buruk dan beribu pertanyaan langsung memenuhi kepala Devan. Dia benar benar takut terjadi sesuatu pada Shasa nya.
"Lebih cepat Hans" seru Devan saat Hans sudah melajukan mobilnya. Diikuti oleh rombongan tuan Bastian dan juga nyonya Ambar dibelakang mereka.
Hans langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota siang itu. Bahkan tidak sampai dua jam kemudian mereka telah tiba didepan rumah sakit tempat dimana anak dan istrinya dirawat.
Devan berlari dengan cepat masuk kedalam rumah sakit. Wajahnya benar benar cemas dan panik.
Dia takut dan sangat takut jika dia akan kehilangan Shabrina nya. Sudah cukup enam tahun, dan jangan lagi.
Ya tuhan...
Devan memelankan laju langkah nya saat sudah tiba didepan ruangan Shabrina. Disana duduk Adinda dan juga orang tuanya bersama Arsya yang terlihat menangis dalam pangkuan mama nya.
"Mama... apa yang terjadi. Dimana Shasa?" tanya Devan langsung. Seraya tangan nya yang terbuka dan menangkap Arsya yang masuk kedalam pelukan nya.
Adinda nampak memandang Devan dengan raut bersalah nya.
"Dev... maaf" ucap Adinda. Matanya terlihat memerah dan berair.
"Shasa didalam, dia tertabrak mobil karena menolong Adinda. Tapi tidak apa apa Dev. Hanya cidera dikepala karena Shasa sempat menghindar" ungkap tuan Bram
Devan langsung menghela nafas lega dan menoleh pada Adinda yang nampak merasa bersalah.
Dia tidak berbicara apapun pada gadis ini, melainkan langsung masuk kedalam ruangan Shabrina bersama Arsya.
"Ayah.... Arsya takut bunda kenapa kenapa" ucap Arsya dengan Isak tangis nya.
"Enggak apa apa nak. Bunda pasti baik baik aja. Bunda kuat" jawab Devan seraya mengusap kepala Arsya yang ada didalam gendongan nya.
__ADS_1
Meski dia sendiri pun takut melihat keadaan Shabrina yang masih terbaring dengan kepala nya yang diperban.