
Shabrina duduk dengan tegang disebuah sofa mewah yang ada diruang keluarga. Dia bersama Arsya, sedangkan Devan duduk dengan memangku Nesya.
Malam ini mereka sudah berada dirumah mewah milik orang tua Devan. Setelah beristirahat sejenak, malam ini Devan membawa Shabrina dan kedua anak nya untuk menemui kedua orang tuanya.
Devan menoleh pada Shabrina. Istrinya ini terlihat begitu tegang dengan wajah gugupnya. Devan tahu Shabrina pasti takut, karena entah sudah berapa kali dia datang kerumah ini hanya untuk mencari restu kedua orang tuanya.
"Sha..." panggil Devan seraya meraih tangan Shabrina dan menggenggam nya. Meski tangan satunya masih merangkul Nesya yang duduk dipangkuan nya.
Shabrina menoleh kearah Devan dengan pandangan sendunya.
"Semua akan baik baik saja" ucap Devan.
Shabrina hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
Sedangkan Arsya dan Nesya nampak bingung memandang kedua orang tua nya.
"Kita dirumah siapa ayah?" tanya Nesya.
"Dirumah orang tua ayah sayang" jawab Devan.
"Kakek dan nenek?" tanya Arsya pula.
Devan tersenyum tipis dan mengangguk. Dia mengusap kepala Arsya sejenak. Devan bahkan tidak tahu kedua orang tuanya akan menerima anak anak nya atau tidak. Hingga dia tidak sanggup untuk memperkenalkan mereka sebagai kakek dan nenek pada anak anak nya.
Devan kemari hanya ingin menunjukkan pada mereka, jika Devan memang sudah memilik anak dan istri. Agar ambisi gila mereka yang selalu ingin menjodohkan Devan dengan Adinda tidak lagi mereka bicarakan.
Cukup lama mereka menunggu, karena kedua orang tua Devan tidak dirumah, dan tidak lama kemudian suara pintu yang terbuka membuat mereka langsung menoleh.
Shabrina tertegun memandang kedatangan orang tua Devan. Begitu pula dengan orang tua Devan, mereka benar benar terperangah tidak percaya melihat ini.
Devan datang dengan Shabrina dan dua orang anak???
"Devan... apa apaan ini?" tanya nyonya Kartika dengan wajah yang benar benar terkejut.
Devan berdiri seraya menggendong Nesya.
"Mereka istri dan anak anak ku ma, pa" jawab Devan.
Nyonya Kartika menggeleng tidak percaya. Bahkan tuan Bram terdiam dengan wajah datar yang seperti tidak bisa lagi untuk berucap.
"Tidak mungkin" gumam nyonya Kartika dengan gelengan kepala nya. Dia berjalan mendekat kearah mereka, hingga membuat Nesya langsung menyembunyikan wajahnya dibalik pundak Devan. Dia takut melihat wajah nyonya Kartika yang begitu sangar dan penuh amarah.
Shabrina ingin menjulurkan tangan nya, namun langsung ditepis oleh nyonya Kartika.
"Kamu.... kenapa kamu datang lagi ha?" tanya nyonya Kartika, nadanya begitu marah dan terlihat tidak suka. Membuat Devan dan Arsya langsung memandang nya dengan tajam.
__ADS_1
"Dan ini, apa maksud kalian? Sejak kapan kamu menikah dan mempunyai anak sebesar ini Dev? Jangan gila kamu" bentak nyonya Kartika.
Nesya terkejut dan semakin mengeratkan pelukannya pada Devan.
"Mama... pelankan suara mama. Mama membuat anak ku ketakutan. Aku datang kemari baik baik, aku ingin memperkenalkan kalian dengan cucu kalian. Tapi beginikah sambutan mama?" tanya Devan.
"Cucu katamu? Mereka sudah besar, dan Shasa sudah pergi meninggalkan mu saat kau koma. Dia menghilang tanpa kabar dan sekarang dia kembali dengan dua anak. Apa kau percaya mereka anak anak mu?" tanya Nyonya Kartika.
Devan tersenyum tipis mendengar itu. Sedangkan tuan Bram masih memperhatikan Arsya dengan lekat.
Shabrina tertunduk perih mendengar tudingan mama Devan. Lagi lagi cacian itu masih saja dia dengar.
"Apa mama tidak bisa melihat wajah nya. Wajah putraku ini? Dan mama malah meragukan mereka?" sahut Devan.
Nyonya Kartika yang memang tidak memperhatikan Arsya sejak tadi langsung menoleh pada anak lelaki kecil yang berdiri disebelah Shabrina itu. Anak lelaki yang memandang nya dengan pandangan tidak suka.
Dan mata nyonya Kartika langsung melebar memandang Arsya.
Dia menggeleng pelan dengan wajah terperangah nya.
"Tidak mungkin" gumam nyonya Kartika.
"Devan... jelaskan ini" ujar tuan Bram dengan suara dingin nya.
"Enam tahun yang lalu sebelum aku kecelakaan, aku sudah berbuat hal yang merenggut kesucian Shasa." jawab Devan.
Tuan Bram dan nyonya Kartika langsung mematung tidak percaya mendengar itu.
"Sejak dulu bukankah sudah kukatakan. Aku hanya akan menikahi Shasa, bukan Adinda. Dan sekarang, karena kesalahan ku itu, mereka ada. Anak anak ku." ucap Devan lagi.
Nyonya Kartika menggeleng dan meraba dadanya yang terasa berdenyut nyeri. Dia tidak percaya dengan ini. Devan nya yang dia banggakan ternyata bisa menikah dan mempunyai anak tanpa sepengetahuan dia.
"Sekarang aku mohon dengan sangat pada papa dan mama. Jangan ganggu aku lagi, atau jangan lagi usik kebahagiaan ku dan berniat menjodohkan aku dengan Adinda. Karena sampai kapanpun, aku hanya ingin Shasa yang menemani kehidupan ku" ucap Devan dengan begitu tegas.
"Bunda...." lirih Nesya.
Shabrina langsung meraih Nesya dan menggendong nya. Wajah Nesya sudah memucat ketakutan. Dan itu membuat Shabrina benar benar khawatir.
"Kau tega melakukan ini Dev. Kau tega pada kami Dev" ungkap nyonya Kartika. Dia mulai menangis penuh kekecewaan.
"Maafkan aku ma. Tapi sejak dulu bukankah kalian yang tega, begitu kejam memaksakan kehendak kalian sendiri. Sekarang, tolong, jangan lagi ganggu aku dengan keluarga ku" pinta Devan.
"Kami melakukan itu hanya karena ingin yang terbaik untuk mu. Tidak kah kau tahu jika nama baik mu dipertaruhkan disini?" tanya tuan Bram.
Devan tersenyum tipis dan menggeleng
__ADS_1
"Nama baik ku akan hancur jika aku yang menelantarkan anak anak ku" jawab Devan dengan tegas
"Jika begitu kau bisa membawa anak anak mu untuk tinggal disini. Itu sudah merupakan tanggung jawab bukan"
deg
Shabrina langsung terperangah mendengar perkataan tuan Bram.
Apa maksudnya itu???
Apa dia mau memisahkan Shabrina dengan anak anak nya?
"Ya, itu lebih baik. Mama bisa menerima anak anak kamu, tapi tidak dengan dia" ucap nyonya Kartika seraya menunjuk Shabrina
Shabrina menghela nafas dan memeluk Nesya dengan erat. Rasanya dia sudah tidak tahan lagi berada disini. Sejak dulu, perlakuan mereka masih sama. Dan bagaimana jika mereka benar benar mengambil anak anak nya? Tidak, Shabrina tidak rela.
"Apa mama fikir aku mau seperti itu. Jangan harap. Anak anak tidak akan bisa tanpa bunda mereka, begitu juga aku, aku tidak akan bisa tanpa Shabrina" jawab Devan.
Shabrina langsung menoleh pada Devan dengan mata yang berkaca kaca.
Devan langsung merangkul bahu Shabrina dengan lembut. Berusaha untuk menguatkan wanita lemah ini.
"Sampai kapanpun, meski tanpa restu kalian. Shabrina akan tetap menjadi istriku" ucap Devan lagi.
"Devan... Kamu jangan bodoh." bentak nyonya Kartika
"Kamu memang tidak punya fikiran Devan" sahut tuan Bram pula.
"Bukan ayah yang tidak punya fikiran. Tapi kalian" ucap Arsya tiba tiba. Membuat semua orang terkejut dan langsung menoleh kearah nya.
"Apa kalian fikir kami mau tinggal bersama kalian. Kami lebih senang hidup susah dari pada berpisah dengan bunda" ungkap Arsya dengan begitu berani. Tuan Bram dan nyonya Kartika bahkan sampai terperangah melihat anak kecil ini.
"Bunda, kita pergi. Kasihan Nesya ada disini. Sudah seperti dirumah nenek lampir" ajak Arsya yang langsung menarik tangan Shabrina.
Shabrina langsung menoleh pada Devan yang masih mematung memandang Arsya dengan takjub. Ini memang anak nya.
"Kalian lihat kan. Dia anak ku, dan dia tidak akan membiarkan siapapun melukai bunda nya" ucap Devan akhirnya.
"Kami pamit dulu. Terimakasih sambutan kalian" kata Devan lagi. Dia langsung meraih Nesya dari gendongan Shabrina, dan setelah itu menarik Shabrina keluar dan pergi dari rumah itu
Nyonya Kartika langsung terduduk dengan lemas diatas sofa.
Dia benar benar tidak percaya dengan semua yang dia lihat.
Devan kembali dengan membawa dua anak yang mirip dengan nya. Dan sialnya, ibu dari anak anak nya adalah Shabrina. Gadis yang tidak dia sukai sejak dulu karena mereka yang berbeda.
__ADS_1