Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Kembalikan Jantung Kakakku


__ADS_3

Devan dan Adinda begitu terkejut saat melihat Arsya yang membuka pintu ruangan itu dengan tiba tiba. Anak lelaki Devan itu nampak memandang Devan dan Adinda dengan tajam.


Dibelakangnya berdiri Hans dan pak Mun yang nampak khawatir.


Arsya..


Dia berjalan kearah Devan dan memperhatikan ayahnya dengan lekat. Dia sengaja pergi dari rumah sakit untuk menyusul ayahnya. Arsya tidak ingin bunda nya bersedih sendirian dirumah sakit. Walau bagaimanapun kepedulian anak berumur lima tahun itu sudah melebihi batas usia sewajarnya. Apalagi ketika melihat bundanya yang terus menahan sedih dan takut karena Nesya yang kini sedang berjuang diruang operasi.


Hingga akhirnya entah bagaimana fikiran anak kecil itu bisa berfikir untuk menjemput ayahnya di perusahaan ini.


"Apa ayah akan disini dan melupakan bunda?" tanya Arsya


Adinda langsung tersenyum sinis memandang Arsya, apalagi saat melihat wajah Devan yang nampak terkejut dan merasa tidak enak.


"Tidak nak. Ayo kita kembali kerumah sakit sekarang" ajak Devan yang langsung menarik lengan Arsya. Namun lengan nya juga malah ditarik oleh Adinda.


"Tidak... kamu tidak boleh pergi" ucap Adinda seraya menahan lengan Devan.


Arsya memandang tajam Adinda yang mencengkram lengan ayahnya dengan kuat.


"Tante tidak tahu malu ya?" tanya Arsya.


Adinda langsung terkesiap mendengar itu. Apalagi ketika Devan menghempaskan tangan nya dengan kuat.


"Lepas! Kamu jangan menghancurkan harga dirimu dihadapan anak sekecil Arsya Adinda!" tegas Devan.


"Aku tidak perduli, tahu apa anak kecil ini tentang orang dewasa. Kamu tetap tidak boleh pergi sebelum kamu mengatakan jika kamu akan menikahi ku" ujar Adinda


"Menikah dengan ayah?" tanya Arsya seraya memandang Devan dan Adinda bergantian.


"Tidak nak, jangan dengarkan. Ayo kita pergi sekarang" Devan langsung menarik tangan Arsya, namun lagi lagi Adinda kembali menahan lengan nya.


"Adinda!!" bentak Devan. Membuat semua yang ada disana langsung terlonjak kaget.


"Anak ku sedang berjuang disana dan kau malah menghalangi ku sejak tadi. Apa kau fikir dengan begini aku tidak semakin membenci mu ha!!" seru Devan dengan suara yang semakin meninggi.


Arsya bahkan sampai takut melihat ayahnya, begitu pula dengan Hans dan juga pak Mun. Namun Adinda dia sudah seperti tidak punya harga diri lagi sekarang.


"Aku tidak akan melepaskan kamu Dev. Aku sudah menunggu lama. Dan aku tidak ingin kamu bahagia begitu saja dan kami yang terpuruk" sahut Adinda


"Jika kamu tidak ingin menikahi ku, maka kembalikan jantung kakak ku!" teriak Adinda


Devan mematung, begitu pula dengan Hans dan pak Mun. Apa Adinda sudah gila meminta jantung Devan.

__ADS_1


"Bawa Arsya keluar Hans" pinta Devan.


Nada bicaranya terdengar begitu dingin sekarang. Pandangan matanya memandang lekat pada Adinda yang juga nampak memandang wajah Devan dengan tajam.


Bahkan suasana diruangan itu kini sudah terasa begitu tegang dan mencekam. Apalagi dengan permintaan Adinda.


"Arsya tidak akan pergi dari sini tanpa ayah" seru Arsya saat Hans ingin menarik tangannya.


"Ayah akan menyusul nak" ucap Devan dengan perasaan yang tidak menentu. Antara menahan emosi dan menahan sesak atas perkataan Adinda barusan.


"Arya kesini untuk jemput ayah. Bunda ketakutan sendirian nungguin Nesya disana, tapi ayah gak datang juga. Bisakah ayah mengabaikan nenek lampir ini dan lebih memperdulikan bunda" pinta Arsya.


Adinda langsung memandang Arsya dengan kesal.


"Apa kamu bilang tadi?" seru Adinda langsung.


Namun Arsya seperti tidak mendengar.


"Ayah pergi sekarang, atau enggak sama sekali" tanya Arsya lagi.


Devan memejamkan matanya dan mengembuskan nafasnya dengan kasar. Dan sedetik kemudian dia langsung mengangguk dengan pelan.


"Urus dia" kini Devan beralih pada Hans seraya melirik pada Adinda sekilas.


"Tidak bisa Dev. Kamu tidak tahu bagaimana jika ayahku yang sudah turun tangan kan" ancam Adinda.


"Kita selesaikan malam nanti. Dan untuk sekarang. Jangan ganggu aku" tegas Devan. Dan setelah mengatakan itu dia langsung menarik tangan Arsya keluar dari ruangan itu. Sedangkan Adinda langsung dihalangi oleh Hans.


"Dev... aku tunggu malam nanti. Jika kamu berbohong. Maka istri dan anak anak mu yang tidak akan tenang!!" ancam Adinda dengan suara yang cukup kuat membuat Hans dan pak Mun nampak meringis dengan jengah.


Devan tidak lagi memperdulikan hal itu. Semua seperti membuat kepalanya serasa ingin pecah. Tapi yang paling penting saat ini adalah keadaan putri nya.


Mereka berjalan dengan cepat kearah lobi. Dimana pak Mun juga berlari mengikuti Devan.


Wajah Devan terlihat datar dan dingin. Bahkan dia tidak lagi menjawab sapaan para karyawan yang menyapanya. Bahkan hingga dia dan Arsya masuk kedalam mobil.


"Apa ayah akan menikah dengan Tante itu?"


Pertanyaan Arsya membuat Devan menoleh pada Arsya. Dia tersenyum tipis dan menggeleng pelan seraya mengusap kepala Arsya dengan lembut.


"Tidak nak" jawab Devan.


"Benar?" tanya Arsya lagi.

__ADS_1


"Tentu saja. Istri ayah hanya bunda, dan jagoan ayah cuma Arsya" jawab Devan.


Pak Mun hanya diam dan fokus pada kemudinya. Cukup iba melihat kehidupan tuan nya yang seperti ini.


"Ayah janji tidak akan mengingkari janji ayah ini kan?" pinta Arsya seraya menjulurkan jari kelingking kecilnya.


Devan tersenyum dan menyambut jari kelingking itu dengan lembut.


"Ayah janji nak" jawab Devan.


Yah, tidak mungkin dia mengkhianati cintanya. Tidak ada dalam kisah hidup Devan untuk menduakan Shabrina.


Jika kematian adalah pilihan terakhir untuk kesetiaan nya, mungkin itu akan dia lakukan. Namun untuk menduakan, tidak akan pernah.


Devan tidak akan sanggup menyakiti hati wanita yang sangat dia cintai itu. Sudah cukup enam tahun Devan menelantarkan mereka. Dan sekarang, setidaknya jika dia memang tidak bisa menawarkan kebahagiaan itu, maka Devan sungguh tidak ingin untuk menorehkan luka lagi.


"Ayah adalah ayah Arsya yang hebat. Arsya percaya pada ayah"


Ucapan Arsya semakin membuat hati Devan begitu terharu.


Anak lelaki yang benar benar membuatnya bangga .


"Terimakasih. Ayah pasti akan jadi ayah yang terhebat untuk Arsya dan Nesya. Juga bunda" jawab Devan seraya merangkul pundak Arsya dengan hangat.


"Kenapa Arsya datang keperusahaan ayah nak?" tanya Devan akhirnya.


"Bunda butuh ayah" Jawab Arsya dengan singkat. Namun mampu membuat Devan mematung hingga akhirnya lagi lagi dia hanya bisa menahan haru.


"Dan karena itu Arsya jemput ayah?" tanya Devan lagi.


Arsya mengangguk pelan. Wajah polos dan lugunya itu benar benar menggemaskan namun juga mampu membuat Devan tidak menyangka jika anak lelakinya ini sudah memiliki pemikiran yang jauh dan begitu perduli. Apalagi pada bunda nya.


Sungguh.. perasaan Devan semakin tidak menentu sekarang.


Entah bagaimana nasib hubungan mereka kedepan nya. Devan hanya berharap jika semua akan baik baik saja.


Bagaimanapun caranya Devan akan memperjuangkan istri dan anak anak nya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba dirumah sakit tempat Nesya dirawat. Jarak rumah sakit dan perusahaan Devan tidak terlalu jauh. Jadi mereka bisa cepat sampai disana.


Devan membawa Arsya menuju ruangan Nesya dioperasi. Mereka berjalan cukup cepat.


Rasa khawatir dan cemas semakin memenuhi hati Devan.

__ADS_1


Namun tiba tiba dia terkesiap, saat sudah hampir tiba diruangan Nesya, Devan melihat dari kejauhan, jika ibu dan ayah nya juga ada disana.


Mau apa mereka ????


__ADS_2