
Operasi Nesya berjalan dengan lancar. Cukup lama mereka menunggu dalam ketegangan dan kekhawatiran yang mendalam.
Dan sekarang, dokter Satria berkata jika semua baik baik saja.
Nesya hanya tinggal menunggu pemulihan. Meski untuk saat ini dia masih dalam keadaan tidak sadar.
Kondisi Nesya masih lemah, dan dia masih berada diruang ICU. Shabrina hanya bisa memandang nya dari dinding kaca. Menatap sedih dan tidak tega pada Nesya yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis ditubuhnya.
Anak sekecil Nesya harus mengalami hal mengerihkan seperti ini. Jika boleh memilih, ingin sekali Shabrina menggantikan posisi anak nya disana. Biar dia yang menanggung sakit nya Nesya, asal Nesya bisa baik baik saja.
"Sayang" panggil Devan. Dia merangkul bahu Shabrina dan ikut memandang Nesya dari balik dinding kaca itu.
"Kita istirahat yuk" ajak Devan.
Namun Shabrina menggeleng pelan.
"Shasa masih mau disini mas. Nesya sendirian. Kasihan" ucap Shabrina.
"Nesya diprediksi baru sadar besok pagi sayang. Ini sudah malam, kamu perlu istirahat " ujar Devan.
Dia benar benar tidak tega melihat Shabrina yang seperti ini. Sudah sejak tadi istrinya ini berdiri dan memandang Nesya disini. Sama sekali tidak beranjak. Jika dia lelah, Shabrina hanya duduk didepan ruangan ini. Namun untuk pergi, dia tidak ingin sama sekali.
"Arsya juga butuh kamu Sha" ucap Devan akhirnya.
"Opa dan Oma nya?" tanya Shabrina
"Ada. Tapi tetap saja dia tidak akan bisa tidur. Kamu temani dia dulu ya" pinta Devan.
"Apa mas akan pergi?" tanya Shabrina. Wajah lelah dan sedihnya benar benar membuat Devan mengiba. Tapi malam ini dia sudah berjanji pada Adinda, dan Devan tidak bisa untuk tidak kesana. Wanita itu pasti akan meneror nya terus menerus.
"Hanya sebentar. Tidak apa apa kan?" tanya Devan.
Shabrina tertunduk dan menggigit bibirnya dengan getir
"Apa semua akan baik baik saja?" tanya Shabrina.
Devan tersenyum dan meraih tangan Shabrina. Menggenggam nya dengan lembut dan penuh perasaan.
"Doakan sayang. Doa kamu sangat mas butuhkan saat ini" pinta Devan.
Mata Shabrina langsung berair dan mengangguk. Ya, tidak ada gunanya dia hanya meratapi dan terus larut dalam rasa khawatirnya. Devan butuh kekuatan dan semangat. Disini dia yang paling dibingungkan, karena semua keputusan ada ditangan nya.
"Doa Shasa selalu ada buat mas" ucap Shabrina yang langsung memeluk Devan.
__ADS_1
"Terimakasih sayang. Mas mencintaimu Sha" ucap Devan seraya mencium pucuk kepala Shabrina.
"Shasa juga mencintai mas" jawab Shasa.
Devan tersenyum dan memejamkan matanya sejenak. Merasakan kehangatan dari pelukan Shasa nya yang cukup membuat hatinya tenang. Karena saat ini hanya kehangatan ini yang bisa membuat Devan bertahan.
"Kita ketempat Arsya ya. Dia juga butuh kamu. Arsya masih belum terbiasa dengan opa dan Oma nya" ajak Devan lagi.
"Apa Nesya tidak apa apa jika di tinggal?" tanya Shabrina seraya memandang kembali kearah Nesya.
"Tidak apa apa sayang. Sudah ada perawat yang menjaga nya dua puluh empat jam. Mas sudah meminta mereka untuk tidak meninggalkan Nesya. Jangan khawatir ya. Besok kita lihat lagi kesini" ujar Devan.
Shabrina menghela nafas sejenak dan akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Meski berat, namun ada Arsya yang juga membutuhkan dirinya.
Dan akhirnya, mereka berjalan kembali keruangan dimana tempat mereka beristirahat selama dirumah sakit.
Arsya terlihat berbaring dengan nyonya Kartika yang mengusap punggung nya.
"Sha... sepertinya Arsya demam" ucap nyonya Kartika langsung.
Shabrina langsung berjalan dengan cepat menuju Arsya. Dia mengusap kepala Arsya yang memang hangat.
"Bunda..." lirih Arsya.
"Iya nak, bunda disini sayang. Arsya kenapa, apa yang sakit?" tanya Shabrina seraya duduk disamping Arsya. Sedangkan nyonya Kartika beranjak dari sana dan membiarkan Shabrina mendampingi Arsya.
"Ayah panggil dokter dulu ya nak" ucap Devan. Namun nyonya Kartika menghalangi nya.
"Papa kamu sudah kesana Dev. Sebentar lagi juga datang" sahut nyonya Kartika dengan cepat.
Dan benar saja, tidak lama setelah mereka berbicara tuan Bram masuk dengan seorang dokter wanita.
Shabrina langsung duduk dengan tegak dan membiarkan dokter wanita itu memeriksa Arsya.
"Kamu jadi pergi Dev?" tanya tuan Bram.
Devan mengangguk pelan seraya memperhatikan Arsya yang tengah diperiksa.
"Ya, malam ini aku akan kesana. Bisakah papa dan mama menjaga anak dan istriku selama aku tidak ada?" tanya Devan. Wajahnya terlihat cemas dan khawatir. Apalagi melihat Arsya yang juga ikut demam dan tidak sehat seperti ini. Pasti Shabrina semakin cemas sekarang.
Sebenarnya itu membuat Devan tidak tega untuk pergi dan meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, Adinda dan orang tuanya pasti sudah menunggu.
"Pergilah, selesaikan semuanya baik baik. Mungkin jika kau yang kesana, mereka bisa mengerti " ucap tuan Bram.
__ADS_1
Devan mengangguk pelan. Dia memandang mamanya yang nampak khawatir.
"Untuk malam ini, tolong anggap Shasa seperti anak mama sendiri ya. Aku tidak bisa menemaninya untuk menjaga anak anak. Aku sangat berharap pada mama" harap Devan.
Mama mengangguk pelan dan hanya bisa mengusap bahu kekar Devan dengan lembut. Dia tidak bisa berkata apa apa lagi sekarang.
Dan kini, Devan beralih pada Shabrina dan dokter yang sedang memeriksa Arsya.
"Bagaimana dokter?" tanya Devan.
"Tidak apa apa tuan. Hanya demam biasa. Saya sudah memberikan sirup penurun panas untuk tuan muda kecil. Saya dengar kembaran nya sedang tidak baik baik saja ya?" tanya dokter itu.
Shabrina langsung mengangguk pelan
"Dan mungkin saja itu bisa menjadi penyebabnya. Ikatan batin dua anak kembar cukup kuat. Hingga jika yang satu merasakan sakit, maka yang satu nya juga begitu" ungkap dokter wanita itu.
"Tapi tidak apa apa kan dokter?" tanya Shabrina.
"Tidak apa apa nona. Semoga besok pagi tuan muda kecil sudah membaik" jawab dokter itu.
"Terimakasih banyak dokter" ucap Devan.
"Sama sama tuan" jawab dokter itu kembali.
Dan setelah memastikan semua baik baik saja, dokter itu keluar dari ruangan mereka. Arsya juga sudah mulai tenang dalam dekapan Shabrina yang sudah berbaring disamping nya.
"Mas pergi dulu ya" pamit Devan sedikit berbisik.
Shabrina mengangguk dan tersenyum tipis.
"Hati hati mas. Cepatlah kembali" pinta Shabrina
"Tentu sayang" jawab Devan. Dia mengecup dahi Shabrina dengan lembut dan juga bergantian pada Arsya yang mulai tertidur.
Sebelum beranjak, Devan memberikan senyum hangatnya pada istrinya itu. Dan beralih pada kedua orangtuanya.
"Aku pamit pa ma" ucap Devan pada nyonya Kartika dan juga tuan Bram yang duduk disofa.
"Hati hati nak" ujar mama.
Devan mengangguk dan tersenyum tipis. Dan setelah itu dia langsung pergi keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Shabrina dan kedua orang tua nya yang kini memandang kepergian nya dengan pandangan khawatir dan cemas.
Apalagi Shabrina, dia benar benar cemas membiarkan Devan pergi malam ini. Hatinya tidak tenang, dia takut setelah dari sana, Devan berubah atau ada sesuatu masalah yang akan lebih parah lagi yang akan mereka hadapi.
__ADS_1
Ya tuhan...
semoga semua nya akan baik baik saja....