Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Bunda Jangan Marah


__ADS_3

Arsya tertunduk takut saat melihat wajah marah Shabrina. Bahkan dia langsung mundur saat Shabrina masuk kedalam rumah.


"Sudah bunda bilang jangan biarkan orang asing masuk kerumah. Kamu tidak ingin mendengar perkataan bunda lagi Arsya?" tanya Shabrina pada Arsya yang sudah tertunduk takut.


"Maaf bunda" ucap Arsya begitu lirih.


"Sha, aku yang memaksa masuk" sahut Devan. Dia tidak tega melihat Arsya yang ketakutan seperti itu.


Dan lagi, perkataan orang asing itu sungguh melukai hati Devan. Apa Shabrina begitu membenci nya.


"Anda bisa keluar tuan. Disini bukan tempat anda. Tolong pergi sekarang!" usir Shabrina seraya menunjuk pintu rumah nya.


Namun Devan menggeleng


"Aku tidak akan pergi sebelum aku berbicara denganmu" ucap Devan.


"Pergi!" usir Shabrina lagi. Matanya memandang Devan dengan lekat. Namun pandangan mata itu begitu penuh luka namun juga rindu.


"Sha, aku tidak akan pergi sebelum kamu mendengarkan penjelasan ku" kata Devan lagi, dia mulai beranjak dan mendekat pada Shabrina.


"Saya tidak butuh penjelasan apapun. Dan kita juga tidak saling mengenal" sahut Shabrina. Namun saat mengatakan itu, matanya malah berair. Sungguh, mulut dan hatinya benar benar tidak saling memahami saat ini.


"Sha... aku mohon" pinta Devan begitu memelas.


Shabrina memalingkan wajahnya dan menahan tangisnya. Tangis yang entah untuk apa dia keluarkan. Untuk kekecewaan nya? untuk rasa sakitnya? atau untuk rasa rindunya?


Arsya dan Nesya memandang kedua orang dewasa ini dengan wajah bingung mereka.


"Sha tolong dengar kan dulu penjelasan ku" Devan ingin meraih tangan Shabrina, namun Shabrina menolak dan langsung menjauh.


"Keluar!" teriak Shabrina dengan kuat hingga membuat Nesya terkejut.


"Bunda" lirih Nesya yang langsung mengkerut takut dan memeluk bantal kecilnya.


Shabrina memejamkan matanya sejenak dan menghela nafasnya perlahan. Dia mengabaikan Devan dan langsung berjalan menuju Nesya.


Dia lupa, dia lupa jika Nesya sedang sakit dan tidak bisa mendengar bentakan.


"Maaf nak, maaf. Kamu gak apa apa kan?" Shabrina langsung naik keatas ranjang nya dan memeluk Nesya yang nampak takut dan ingin menangis.


"Bunda jangan marah. Nesya takut" lirih Nesya. Nafasnya nampak tersengal.

__ADS_1


Dan Devan yang melihat itu nampak begitu iba.


"Enggak nak, bunda gak marah sayang. Tenang ya, bunda cuma kesal sama om itu. Bunda gak marah" jawab Shabrina dengan terus mengusap punggung Nesya


Nesya memeluk Shabrina dengan tangan kecilnya.


"Om itu mau datang dan minta maaf sama bunda. Bunda gak mau maafin ya" tanya Nesya dengan begitu polos. Mata indah nya memandang Shabrina dengan lembut, dan itu membuat hati Shabrina seakan tidak mampu untuk membuat anak anak nya ketakutan lagi.


"Nesya udah lapar kan. Sekarang makan dulu ya" ujar Shabrina yang tidak ingin membahas itu. Entah apa yang sudah dikatakan Devan pada anak anak nya, tapi sungguh, Shabrina benar benar tidak bisa berbuat apapun didepan anak anak nya saat ini.


"Bunda udah beli nasi?" tanya Nesya


Shabrina tersenyum getir dan mengangguk


"Udah nak, sekarang kamu makan ya"


Shabrina langsung meraih bungkusan nasi tadi. Hanya dua bungkus nasi dan dua lauk telur. Hanya itu yang bisa dia berikan untuk anak anak nya siang ini.


Shabrina menoleh pada Arsya yang masih nampak berdiri mematung didekat pintu. Dan dia kembali merasa bersalah karena telah membuat anak lelaki nya itu bersedih.


"Arsya, sini nak" panggil Shabrina.


Arsya mengangguk dan langsung berjalan mendekat kearah bunda dan adiknya. Sementara Devan masih terdiam mematung di tempat nya memandangi anak anak nya yang terlihat menyedihkan.


Ya tuhan..


sesusah ini mereka, dan sungguh, Devan benar benar tidak tahan melihat ini.


"Bunda gak makan?" tanya Nesya


"Bunda masih kenyang nak. Sekarang Nesya makan aja sama kakak ya" jawab Shabrina yang terus menyuapi Nesya makan.


"Kenapa cuma beli dua bunda?" tanya Nesya lagi


"Diam, makan aja" sahut Arsya. Nesya langsung mencebikkan bibirnya, memandang kesal pada Arsya.


Devan tersenyum tipis melihat kedua anak itu. Dia tidak bisa melihat mereka seperti ini. Dia ingin mereka hidup bahagia. Tapi bagaimana caranya. Shabrina terlanjur kecewa dan terluka, dia tahu bagaimana sifat Shabrina yang keras kepala. Dia tidak akan mau di ajak pindah dari sini, apalagi dengan pemberian percuma.


Dari tatapan mata Shabrina saja Devan sudah tahu, jika Shabrina begitu kecewa padanya.


"Om... Om mau makan?" tawar Nesya.

__ADS_1


Shabrina langsung tertegun mendengar itu.


"Tidak nak. Nesya makan saja. Om sudah kenyang" jawab Devan. Dia duduk disebuah kursi kayu yang ada disana.


"Enak om, pakai telur" adu Nesya begitu antusias.


"Iya, makan yang kenyang ya" ujar Devan dengan senyum tipisnya. Namun sungguh, dia benar benar ingin menangis melihat kesusahan anak nya. Entah seberapa beban yang di tanggung Shasa nya selama ini untuk menghidupi kedua buah hati nya. Bahkan bisa Devan lihat jika saat ini tubuh Shasa begitu kurus dan tidak lagi terawat. Begitu banyak beban yang dia pendam selama ini, dan semua adalah karena Devan.


Shabrina pun terlihat tertunduk dan mengalihkan pandangan matanya yang juga ingin menangis.


Sudahkah dia terlihat menyedihkan sekarang?


Apakah setelah ini Devan akan menghinanya?


Dan apakah setelah ini Devan akan membawa anak anak nya pergi karena dia yang tidak bisa merawat mereka dengan baik?


"Bunda?" suara Nesya membuat Shabrina terkesiap dan langsung mengusap matanya dengan cepat.


"Bunda nangis lagi?" tanya Nesya.


Devan dan Arsya langsung memandang Shabrina.


Shabrina menggeleng dan tersenyum.


"Enggak, bunda gak nangis. Cuma kena debu aja. Ayo makan lagi, setelah itu kamu tidur ya" ujar Shabrina.


Nesya mengangguk dan makan dengan lahap. Sedangkan Arsya menyudahi makan nya. Bahkan dia kembali membungkus nasi nya dengan asal.


"Kenapa udah makan nya nak?" tanya Shabrina


"Udah kenyang bunda" jawab Arsya.


Shabrina hanya diam dan mengangguk saja. Karena dia tahu, Arsya bukan sudah kenyang, melainkan selalu menyisihkan makanan untuk dimakan nanti.


Yah sebegitu susahnya mereka.


Devan tertunduk dan tidak lagi berani memandang Shabrina dan anak anak nya. Hanya dengan melihat saja, dia sudah tidak bisa membayangkan bagaimana kesulitan mereka saat ini.


Apalagi dengan Shabrina yang menjalani nya.


Ya tuhan...

__ADS_1


Sudah cukup, dia tidak akan lagi menyia nyiakan Shabrina. Cukup sudah dia mengecewakan gadis ini dulu. Mengambil kehormatan nya, dan membiarkan dia bersedih hingga pergi dengan membawa luka yang begitu besar.


Devan berjanji, bagaimana pun caranya dia akan memperbaiki kesalahan nya. Memperbaiki apa yang telah hancur dari Shasa nya. Dia akan membuat Shasa bahagia, seperti janji nya dahulu.


__ADS_2