Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
CARAMIA I Love You


__ADS_3

Hay guys, bantu dukung lagi yuk. Gak kalah seru dan menantang


judul : CARAMIA I Love You


Cuplikan bab :


Ferdinand mengemudikan mobilnya menuju perusahaan Polie. Hari sudah siang dan dia harus menjemput Arya kembali. Rasanya benar benar malas bekerja jika sudah seperti ini. Baru saja tenang, tapi sekarang sudah mempunyai beban pikiran lagi.


Ferdinand kira ayahnya sudah tidak akan lagi mempermasalahkan tentang perjodohan itu, tapi ternyata masih juga. Dan sialnya, Ferdinand diminta untuk membawa pasangannya sendiri ke rumah.


Dimana dia harus menemukan pasangan dalam waktu yang singkat?


Astaga…


Ini benar benar rumit.


Brak


Ferdinand menutup pintu mobil dengan wajah yang mencetut kesal.


Hatinya benar benar tidak tenang. Mungkin setelah ini dia ingin mencari cara untuk membuat ayahnya tidak lagi membicarakan tentang pernikahan. 


Tapi apa???


Bruk


Tiba tiba suara seseorang yang jatuh membuat lamunan Ferdinand buyar. Dia terkesiap dan langsung menoleh ke arah seorang gadis magang yang nampak terjatuh dengan beberapa kertas yang berhamburan di atas lantai.


"Mia, kok bisa jatuh?" Ferdinand berlari dan segera membantu gadis itu membereskan kertas kertasnya.


"Bang Ferdi, iya nih. Mia gak lihat jalan." Jawab Mia.


Ferdi, ya nama itu adalah namanya ketika menjadi supir. Tidak ada yang tahu siapa Ferdinand sebenarnya.


Dan Mia, Mia adalah mahasiswi magang di perusahaan ini. Gadis muda berusia 21 tahun yang juga sahabat dari istri bos Arya. Mereka baru akhir akhir ini saling kenal, karena Mia juga baru dua bulan ini magang di perusahaan Arya.


"Tangan kamu kenapa?" Tanya Ferdinand, matanya tidak sengaja memandang pergelangan tangan Mia yang memar.


Mia terkesiap, dia langsung menyembunyikan lengan itu dengan kertas kertas yang dia pungut.


"Nggak apa apa bang. Yaudah, Mia mau fotokopi ini dulu, di dalem lagi penuh." Ucapnya.


"Makasih," Mia langsung merebut kertas dari tangan Ferdinand dengan cepat, dan setelah itu dia langsung berlari menuju pelataran gedung. Meninggalkan Ferdinand yang masih memandangnya dengan curiga.


Bukan hanya pergelangan tangan gadis itu yang memar, namun juga cara jalan Mia yang aneh. Sepertinya kakinya juga terluka.


Puk


Ferdinand terkejut, dia langsung menoleh ke belakang dimana Arya yang sudah tiba di sana.

__ADS_1


"Kamu ngeliat apa?" Tanya Arya.


"Eh, pak. Gak ada kok. Bapak udah siap?" Tanya Ferdinand yang langsung mengalihkan perhatiannya.


"Udah yuk, kamu antar saya ke salon ya," ajak Arya, dia langsung masuk ke dalam mobil. 


Ferdinand mengernyit, bos gondrongnya ini memang selalu ingin tampil keren. Setiap Minggu pasti pergi ke salon. Memang menakjubkan.


Akhirnya, di hari itu Ferdinand alias Ferdi kembali mengantar Arya kesana dan kemari. Meski tetap saja hatinya masih tidak tenang, memikirkan bagaimana cara untuk mencari pasangan.


"Kamu kenapa melamun terus, Fer?" Tanya Arya dari kursi belakang. 


Ferdinand melirik Arya dari kaca depan, dia tersenyum tipis dan menggeleng pelan.


"Memangnya kalau sudah 32 tahun itu sudah tua ya, pak?" Tanya Ferdinand.


"Tidak juga, hanya sudah dewasa dan sudah harus menikah." Jawab Arya.


Ferdinand langsung berdecak kesal, kenapa jawaban itu terdengar menyebalkan.


Arya langsung terkekeh melihat raut wajah Ferdinand yang berubah.


"Kenapa, pasti lagi bingung mau cari istri?" Tanya Arya.


"Iya pak, udah di suruh kawin," jawab Ferdinand. Mereka sudah tiba di depan rumah mewah Arya sekarang.


"Yaudah cari dong, kalau nggak tuh sama si Mia. Cocok kok." Jawab Arya. 


"Usaha dong, yauda saya masuk dulu. Kamu kalau mau jalan, pergilah. Yang penting besok pagi jangan telat." Ujar Arya 


"Boleh saya bawa mobil pak?" Tanya Ferdinand.


"Boleh, paling kalau nggak pulang saya gentayangin kamu." Sahut Arya.


Ferdinand terkekeh kecil dan mengangguk sopan pada Arya.


"Nggak lah, pak. Saya kemari lagi kok. Masih betah kerja disini. Ya Sudah saya pinjam sebentar pak. Mau cari angin dulu." Izin Ferdinand.


"Oke, aman." Jawab Arya.


Ferdinand tersenyum senang, dia langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil Arya menuju ke sebuah tempat. Senja ini Ferdinand sudah berencana untuk mengambil gambar di pantai. Hari cukup cerah, pasti sunset yang terlihat juga indah.


Semoga saja ketika menenangkan hati dan pikiran nanti, dia bisa menemukan cara untuk masalah yang sedang dia hadapi.


Hari sudah mulai senja ketika Ferdinand tiba di tepi pantai. Dia langsung mengalungkan kamera kesayangannya di leher dan berjalan cepat menuju pinggir pantai. Kali ini dia memilih tempat spot foto yang sedikit sepi dari orang orang. 


Ferdinand mengotak atik kameranya, dan dia mulai mengarahkan kamera itu ke bibir pantai. Mengambil beberapa gambar dengan begitu serius. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat gambar yang dia dapatkan begitu indah.


Kini Ferdinand kembali mengarahkan kameranya pada kumpulan pohon pohon bakau yang bersinar terkena sinar senja. Sangat estetik, namun tiba tiba dia terkesiap saat kamera itu menangkap sebuah pemandangan yang membuat dia terkejut.

__ADS_1


Ferdinand menurunkan kameranya dan memandang ke arah dimana ada seorang gadis yang sedang menangis di pinggir pantai itu. Menangis sesenggukan seperti penuh dengan beban. Bahkan dia sampai tidak menyadari dengan kehadiran Ferdinand disana.


"Itukan Mia," gumamnya.


Ya, Mia. Gadis itu menangis begitu pilu seorang diri. Dan entah kenapa Ferdinand menjadi iba melihat gadis itu. Dengan cepat dia menghampiri Mia yang berada di bibir pantai. Duduk memeluk lutut di atas bebatuan.


"Mia," panggil Ferdinand.


Mia terkejut, dia langsung menoleh dan memandang Ferdinand dengan wajahnya yang sembab.


"Kamu kenapa?" Ferdinand berlutut di samping Mia yang masih sesenggukan.


"Bang Ferdi," Mia bergumam dan kembali menangis. Seolah dia tidak bisa untuk menahan rasa sedih yang dia alami.


"Hei, ada apa?" Tanya Ferdinand kembali. Dia yang iba langsung menarik Mia kedalam dekapannya, membuat gadis itu kembali menangis dan memeluk Ferdinand dengan erat.


Ferdinand membiarkan Mia menangis disana, sampai dia puas bahkan sampai Ferdinand merasa jika kemejanya basah.


"Ibu sakit, dia harus dibawa kerumah sakit. Mia gak punya uang, mau pinjam sama Pelangi, tapi hutang kami udah banyak sama mereka. Mia gak enak. Mia bingung, bang". Ungkap Mia dengan Isak tangis yang masih berusaha dia tahan .


"Berapa biaya nya?" Tanya Ferdinand.


"150 juta, untuk operasi ibu." Jawab Mia, dia melepaskan pelukannya dari Ferdinand. Mengusap wajahnya yang sudah basah dan sangat sembab.


"Pakai uang aku dulu ya." Tawar Ferdinand.


Mia mendongak, memandang Ferdinand dengan pandangan tidak percaya. Dia hanya tahu jika Ferdinand adalah Ferdi. Ferdi yang hanya bekerja sebagai seorang supir. Bagaimana mungkin bisa memiliki uang sebanyak itu?


"Tapi bang, itu banyak. Apa abang … punya?" Tanya Mia, begitu ragu.


Ferdinand tersenyum dan mengangguk pelan. Dia tahu Mia tidak akan percaya. Tapi itu memang untuk Ferdi yang seorang supir, tapi sebagai Ferdinand, uang segitu bukan apa apa.


"Iya, aku ada simpanan. Nanti kamu bisa pakai itu. Jangan khawatir." Ujar Ferdinand sembari mengusap pucuk kepala Mia.


"Serius bang?" Tanya Mia kembali


"Iya," jawab Ferdinand.


Mia kembali memeluk Ferdinand dengan erat, dia begitu bahagia.


"Terimakasih bang, terimakasih. Mia janji bakalan nyicil bayar nya, Mia juga janji bakalan balas semua kebaikan Abang." Ucap Mia begitu antusias.


Ferdinand terdiam, dia memandang Mia dengan helaan nafas yang cukup berat. Entah kenapa tiba-tiba sebuah ide langsung terpikirkan olehnya.


"Kamu gak usah mikirin itu, tapi kalau aku minta tolong sama kamu, boleh?" Tanya Ferdinand, dan kali ini dia yang ragu.


Mia kembali melepaskan pelukannya, dia memandang Ferdinand dengan senyum di wajahnya yang basah.


"Tentu aja boleh bang. Apa yang harus Mia lakuin, kalau bisa, pasti Mia bantu." Jawab Mia dengan cepat.

__ADS_1


"Tolong jadi pacar aku, tiga bulan aja." Pinta Ferdinand dengan senyum getirnya.


Mia langsung terdiam mendengar perkataan Ferdinand. Menjadi pacarnya? Tiga bulan? Yang benar saja!


__ADS_2