
Shabrina berdiri dengan pandangan mata yang dingin dan hampa. Tidak ada ekspresi apapun yang dia berikan pada Devan yang sejak tadi memandang nya dengan lekat.
Saat ini mereka berada didepan rumah. Nesya sudah tertidur, sedangkan Arsya menemani adiknya didalam rumah.
Devan memandang Shabrina dengan hati yang begitu perih. Tidak ada lagi tatapan cinta dan senyuman manja yang selalu dia dapatkan dulunya. Kini Shabrina benar benar sudah seperti orang lain yang tidak ingin lagi mengenalnya.
"Pergilah tuan, tolong jangan usik kehidupan saya dan anak anak saya disini. Kita tidak saling mengenal" ucap Shabrina
Devan memandang Shabrina dengan gelengan kepalanya.
"Tolong jangan seperti ini Sha. Tolong dengarkan aku dulu, aku mencarimu selama bertahun tahun. Dan kenapa kamu pergi begitu saja dari ku?" tanya Devan.
Shabrina tersenyum sinis mendengar itu. Namun matanya yang terlihat kembali berair. Rasa sakit dan kehancuran itu masih begitu terasa dihatinya.
"Tidak ada yang perlu didengar lagi, dan tidak ada yang perlu dijelaskan. Pergi dari rumah kami sekarang. Ini bukan tempat anda" usir Shasa lagi, dia benar benar membentengi hatinya dengan tembok yang begitu tinggi. Meski sebenarnya rasa rindu dan rasa cinta itu masih terkubur didalam hatinya.
"Sha... tolong, maafkan aku. Aku tahu aku salah. Tapi kamu tidak bisa seperti ini. Apalagi ada mereka, mereka anak anak ku juga Sha" ungkap Devan.
Jantung Shabrina terasa berdenyut ngilu mendengar itu. Dia memandang Devan dengan perasaan yang berkecamuk.
"Dia anak anak saya tuan. Bukan anak anda" ucap Shabrina dengan segenap hatinya, meski air mata itu tidak bisa lagi dia bendung.
"Sha... kenapa kamu seperti ini. Mereka anak ku kan, mereka anak anak ku!" sahut Devan.
Shabrina menggeleng dengan kuat.
"Mereka anak anak ku, mereka tidak punya ayah. Ayah mereka sudah mati" kecam Shabrina
Brukk
Devan langsung berlutut dihadapan Shabrina. Dia menangis terisak dibawah kaki gadis yang telah dia lukai itu.
"Maafkan aku Sha, maafkan aku. Aku tahu aku salah, aku tahu keluarga ku salah karena telah menyakiti kamu. Tapi semua tidak seperti yang kamu fikirkan sha" ungkap Devan. Dia benar benar menangis penuh penyesalan. Bahkan tidak lagi dia hiraukan tatapan orang orang yang ada disana memandang mereka dari jauh.
Shabrina memalingkan wajahnya, dengan air mata yang semakin deras.
"Maafkan aku Sha. Aku tahu mereka anak anakku. Aku tahu itu. Tolong, izinkan aku menebus kesalahan ku padamu, juga pada mereka sha" pinta Devan
Shabrina menggeleng pelan dan mengusap air matanya
"Kamu datang dengan meminta maaf semudah itu mas. Apa kamu kira hatiku sekuat itu?" tanya Shabrina.
Nada nya sudah mulai lemah, dan panggilan itu sudah terdengar lagi ditelinga Devan.
Devan mendongak dan memandang Shabrina yang menangis hancur
"Kamu berjanji untuk menikahi ku, kamu berjanji untuk bertanggung jawab. Tapi nyata nya kamu malah menikah dengan orang lain" ungkap Shabrina dengan Isak tangis nya.
Devan menggeleng pelan dan memandang Shabrina yang semakin menangis terisak.
"Kamu tidak tahu rasanya jadi aku disaat itu, aku menyaksikan kamu bertunangan, dan aku masih memberikan kamu kesempatan, bukan hanya kesempatan, tapi semua nya mas. Semuanya" seru Shabrina. Emosinya kembali meluap memandang Devan yang masih berlutut dihadapan nya.
__ADS_1
"Aku menunggu kamu datang, sebulan aku terus menunggu kamu. Tapi yang datang bukan kamu, melainkan undangan pernikahanmu dengan wanita itu. Apa kamu pernah berfikir bagaimana sakitnya hati ku disaat itu!!!?" bentak Shabrina lagi
"Jangankan meminta maaf, mendatangi ku saja kamu sudah tidak ingin lagi. Kamu kejam mas, kamu jahat" suara Shabrina semakin kuat.
"Kamu tidak tahu betapa susahnya aku kan. Betapa susahnya aku hamil seorang diri. Dan karena aku yang hamil diluar nikah ini membuat ibuku meninggal mas. Kamu tidak tahu itu kan!!!"
Shabrina menggeleng dan mengusap kasar wajahnya. Memandang Devan yang semakin menangis menyesali semuanya.
"Kamu tidak akan tahu, karena kamu begitu bahagia bersama perempuan itu" kecam Shabrina
Devan menggeleng dan dia langsung beranjak berdiri dihadapan Shabrina.
"Sha... tidak seperti itu" Devan menarik kuat lengan Shabrina dan menggenggam nya dengan erat.
Meskipun Shabrina memberontak namun Devan terus menggenggam nya.
"Lepas" seru Shabrina
"Aku tidak pernah menikah dengan Adinda Sha!!" ucap Devan dengan cepat.
Shabrina langsung mematung, hanya air mata yang mengalir saat memandang wajah Devan.
"Aku sudah berjanji untuk menikahimu kan, dan aku tidak pernah menikah dengan dia. Pernikahan yang ada di undangan itu tidak pernah terjadi. Sejak dulu hingga kamu pergi" ungkap Devan lagi. Mata tajam itu memandang Shabrina dengan lekat.
Shabrina menggeleng.
"Kamu berbohong" tuding Shabrina
"Aku serius Sha. Kenapa kamu keras kepala sekali" ucap Devan.
Shabrina menghempaskan tangan Devan dengan kasar.
"Aku keras kepala??? apa kamu tahu jika ibumu sendiri yang mengatakan padaku jika kamu akan menikah. Aku diminta untuk pergi dan tidak lagi mengganggumu mas. Bagaimana aku bisa percaya begitu saja??" teriak Shabrina
"Sha... itu tidak benar" sanggah Devan.
"Benar atau tidak, itu sudah tidak lagi penting sekarang. Sekarang mas pergi, dan jangan lagi ganggu hidup kami." usir Shabrina
"Tidak, aku tidak akan pergi, jika pun aku pergi aku akan membawa mu bersama anak anak" sahut Devan dengan cepat.
Shabrina menggeleng dan tersenyum getir memandang Devan.
"Apa karena mas lihat jika kami susah disini, begitukah?" tanya Shabrina. Nada bicaranya terdengar begitu perih
"Sha... kalian tanggung jawab ku. Kamu tidak bisa mengelak. Mereka anak anak ku juga " ucap Devan.
Shabrina menangis terisak. Dia ingin egois, tapi anak anak nya juga selalu menanyakan ayah mereka. Tapi jika mereka lebih memilih untuk ikut Devan bagaimana? Bagaimana dengan dia???
"Sha, aku mohon biarkan aku menebus kesalahanku. Aku tidak bisa melihat anak anak ku seperti ini"
Dan sungguh, ucapan Devan semakin membuat hati Alyssa semakin teriris perih.
__ADS_1
"Bunda!!"
Tiba tiba teriakan Arsya membuat Shabrina dan Devan terkesiap. Shabrina langsung berlari masuk kedalam, begitu pula dengan Devan.
"Bunda, Nesya sesak nafas lagi" seru Arsya yang nampak panik dan ingin menangis.
Devan langsung menghubungi Hans dengan cepat.
Sedangkan Shabrina berlari mendekat kearah Nesya.
Dia mendudukkan Nesya dan disandarkan ditumpukan bantal nya.
Wajah Nesya memucat bahkan nyaris membiru, dada nya naik turun dan nampak begitu sesak.
"Nesya, nafas pelan pelan ya nak" ujar Shabrina seraya mengusap dada Nesya dengan lembut. Air mata yang belum mengering kini menetes lagi melihat keadaan Nesya yang seperti ini.
"Apa sudah sering?" tanya Devan yang memeriksa Nesya.
Shabrina mengangguk dengan cepat, dia bahkan tidak lagi menghiraukan sakit hatinya pada Devan tadi. Keadaan Nesya yang seperti ini membuat dia benar benar nampak khawatir dan cemas.
"Kita bawa kerumah sakit" ajak Devan.
Shabrina memandang Devan dengan lekat. Dia ingin protes tapi Devan langsung mengangkat Nesya dalam gendongan nya.
"Untuk kali ini Sha, tolong redam emosi kamu" pinta Devan.
Shabrina langsung tertunduk dan semakin menangis, dia mengusap air matanya dengan kasar dan meraih kain untuk selimut Nesya.
"Ayo nak" ajak Shabrina pada Arsya
Devan membawa Nesya masuk kedalam mobil Hans yang memang sudah ada disana. Disusul oleh Nesya dan juga Arsya.
"Boy, duduk didepan saja ya. Biar bunda dibelakang bersama Nesya" ujar Hans pada Arsya.
Arsya memandang Shabrina terlebih dulu.
"Pergilah nak" ucap Shabrina.
Arsya mengangguk dan langsung masuk kedalam mobil dibantu oleh Hans. Sedangkan Shabrina juga masuk kedalam mobil dimana Devan sudah memangku Nesya disana.
"Nesya" panggil Devan
"Sesak .... Om" ucap nya terbata bata
"Dudukkan mas" pinta Shabrina seraya membantu Devan memperbaiki posisi Nesya yang kini bersandar didada nya.
"Bun...da" lirih Nesya.
"Iya nak, bunda disini tenang sebentar ya" jawab Shabrina seraya mengusap kepala Nesya yang berkeringat.
Shabrina benar benar panik sekarang, begitu pula dengan Devan.
__ADS_1
Mereka langsung melupakan keributan mereka tadi karena ternyata Nesya mampu mengalihkan perhatian mereka.