Cinta Shabrina

Cinta Shabrina
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Malam ini Nesya dan Arsya nampak begitu bahagia. Pasalnya semua keinginan mereka sudah tercapai. Tinggal dirumah bagus, dan memiliki kamar masing masing yang dipenuhi oleh mainan dan juga fasilitas yang lain.


Bahkan Nesya begitu ceria meski kesehatannya sedang tidak baik baik saja.


Saat ini mereka sudah berada di ruang makan untuk menyantap makan malam mereka. Shabrina belum datang karena dia masih membersihkan dirinya. Tidak tahu kenapa sore tadi dia malah ketiduran, dan sekarang baru saja bangun.


"Sudah lapar belum. Kalau lapar kalian bisa makan terlebih dulu. Biar ayah yang menunggu bunda" ujar Devan.


Arsya dan Nesya langsung menggeleng.


"Nunggu bunda saja ayah" jawab mereka berdua. Terlihat begitu kompak. Meskipun Devan tahu jika mereka nampak sekali sudah ingin menyantap makanan dihadapan mereka sekarang.


Ada banyak makanan yang disediakan oleh pelayan dirumah itu. Sangat menggugah selera dan terlihat begitu lezat.


Tentu saja Arsya maupun Nesya sudah sangat ingin mencicipinya. Tidak pernah mereka melihat makanan sebanyak ini dan juga seenak ini. Ada ayam, daging, ikan dan telur. Semuanya sangat lengkap.


"Kalian suka ini? kalau tidak suka, ayah bisa meminta pelayan untuk menggantinya" ujar Devan.


Arsya dan Nesya langsung menggeleng dengan cepat.


"Suka ayah" sahut mereka dengan cepat.


"Ayah punya banyak uang untuk beli ini ya?" tanya Nesya dengan begitu polos.


Devan tersenyum dan mengangguk.


"Kalau Nesya dan Arsya mau sesuatu. Minta ayah ya nak" ujar Devan.


"Ayah kerja apa memang nya . Bunda juga kerja, tapi cuma bisa beli ayam goreng kalau lagi gajian. Ayah juga baru gajian ya?" tanya Nesya lagi.


Perkataan polos itu memang selalu membuat Devan merasa tersentuh. Entah seberapa besar perjuangan Shasa nya untuk menghidupi kedua anak nya ini.


"Iya ayah baru gajian. Ayah kerja setiap hari. Mulai sekarang, kalau mau apa apa bilang sama ayah dan bunda. Kalian sudah punya ayah sekarang, jangan ngerepotin bunda lagi" ujar Devan. Dan Nesya langsung mengangguk semangat.


"Ayah kerja apa?" tanya Arsya


"Kerja diperusahaan nak" jawab Devan.


"Ayah bos nya?" tanya Arsya lagi.


Devan tersenyum dan mengangguk. Anak lelaki nya ini memang cukup pintar. Mungkin nanti Devan akan menyekolahkan dia selagi Nesya menjalani pengobatan.


"Iya, ayah bos nya" jawab Devan.


"Wah ayah keren" sahut Nesya


Devan tertawa dan menggeleng saja.


"Tapi kenapa tidak bisa menemui bunda. Padahal ayah punya banyak uang" gumam Arsya.


Senyum Devan langsung meluntur mendengar perkataan Arsya.


"Maafkan ayah, ayah salah. Ayah fikir bunda ada di Jakarta, tapi nyata nya bunda pergi sangat jauh membawa kalian" jawab Devan.


Arsya hanya diam dan memandang nanar makanan didepan nya. Malam itu saat Devan mengungkapkan segalanya, Arsya mendengar nya. Maka dari itu dia bisa memaafkan Devan. Hanya saja, jika mengingat bunda nya yang selalu bersedih, Arsya jadi sedih kembali.

__ADS_1


"Maaf kan ayah ya. Ayah salah dan membiarkan kalian bersedih setiap hari" pinta Devan lagi.


Arsya menggeleng pelan.


"Yang terpenting ayah janji tidak akan membuat bunda bersedih lagi" jawab Arsya.


Devan mengangguk dengan cepat.


"Ayah janji nak" jawab Devan.


"Dan janji jangan pergi lagi ya ayah" pinta Nesya pula.


Lagi lagi Devan tersenyum dan mengangguk.


"Ayah janji. Ayah tidak akan pergi lagi meninggalkan kalian. Ayah pasti akan selalu berusaha untuk membuat kalian dan bunda bahagia" ucap Devan.


Ya, tidak akan lagi dia ulangi kesalahan yang sama. Sudah cukup mereka sama sama tersiksa selama ini. Meskipun derita yang di alami Shabrina lebih berat dari pada dia yang hanya menahan perasaan rindu selama ini.


Dan karena itu, Devan berjanji untuk memperbaiki segalanya. Menebus masa masa enam tahun yang paling berat bagi Shabrina dan juga anak anak nya.


"Bunda.... bunda lama sekali. Nesya sudah lapar"


Suara Nesya yang memandang kearah belakang nya membuat Devan terkesiap dan langsung menoleh. Dia tersenyum saat melihat Shabrina sudah terlihat segar dan cantik dengan dress yang dikenakan nya malam ini.


Devan sudah menyiapkan segala keperluan Shabrina dan anak anak nya. Bukan Devan, tapi orang orang nya.


"Maaf nak" ucap Shabrina yang langsung duduk disamping Nesya.


"Kenapa tidak makan duluan?" tanya Shabrina pada kedua anak nya. Dia masih cukup canggung untuk membuka pembicaraan dengan Devan.


Shabrina tersenyum dan mengangguk.


Meskipun senyum tipis, tapi senyum itu yang mampu membuat Devan merasa bahagia.


Senyum yang selalu dia rindukan, meski senyum itu tidak lagi seperti dulu.


"Kita makan sekarang" ajak Devan.


"Makan, Nesya sudah lapar. Nesya mau yang itu dan itu bunda" dengan antusias Nesya menunjuk ayam goreng dan juga martabak telur yang dicampur sosis.


Shabrina langsung mengambil makanan itu dan meletakkan nya ke piring Nesya.


"Makan yang banyak dan pelan pelan saja" ujar Shabrina


"Siap" jawab Nesya. Dia menengadahkan tangan nya sejenak seraya mulutnya berkomat Kamit membaca doa. Dan itu membuat Devan tersenyum gemas melihatnya.


"Kemarikan piring kamu nak" pinta Shabrina pada Arsya.


"Arsya makan itu saja bunda" kata Arsya yang menunjuk ayam goreng.


"Pakai sayur juga ya" ujar Shabrina. Dan Arsya hanya mengangguk patuh.


Shabrina mengambil kan makanan untuk Arsya dan meletakkan nya didepan Arsya yang langsung menerimanya dengan cepat.


Dia kembali memandang kearah Nesya yang nampak makan dengan lahap. Lagi lagi hatinya merasa tersentuh melihat ini.

__ADS_1


Dia tidak bisa membuat mereka bahagia, dan buktinya, baik dia maupun anak anak nya memang membutuhkan Devan.


"Ayah tidak makan?" tanya Arsya.


Shabrina yang baru ingin mengambil nasi nya langsung menoleh kearah Devan.


"Ayah mau di ambilkan bunda juga?" tanya Nesya.


Devan tersenyum dan mengangguk dengan cepat, seraya dia yang menoleh pada Shabrina yang nampak gugup sekarang.


"Ayo bunda, ambilkan ayah. Nanti ayah ngambek kalau gak di ambilkan makan" ujar Nesya.


Devan terkekeh geli mendengar itu. Sepertinya Putrinya ini sangat pintar untuk memihak padanya.


"Emang seperti kamu yang suka ngambek" sahut Arsya yang kini sudah menikmati makan nya.


Nesya mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Nesya gak ngambek. Nesya cuma bilang sama bunda. Bunda harus adil. Benarkan ayah" kata Nesya yang kembali memandang kearah Devan.


"Iya, bunda memang harus adil. Ayah juga sudah menunggu giliran" jawab Devan. Dia memandang Shabrina yang hanya diam, namun dia tahu jika Shabrina cukup canggung.


Ah... dia rindu Shasa nya yang manja. Bagaimana cara mengembalikan gadis ini seperti dulu lagi????


Dan akhirnya, mau tidak mau Shabrina meraih piring Devan dan mengambilkan Devan makanan. Bahkan saat meletakkan piring itu dihadapan Devan, Shabrina tidak berani memandang nya.


"Sudah mas" ucap Shabrina.


"Kamu masih ingat selera ku"


Perkataan Devan membuat Shabrina tertegun, dia langsung melirik kearah piring Devan. Sup iga dan perkedel kentang nya.


"Tidak ada yang terlupa" jawab Shabrina akhirnya.


Devan tersenyum dan mengangguk.


"Aku tahu" sahut Devan.


Hingga akhirnya mereka makan dengan lahap. Makan dengan keadaaan dan suasana yang berbeda. Terasa hangat, terasa begitu mendamaikan. Apalagi ditambah dengan ocehan Nesya dan sanggahan Arsya sejak tadi. Membuat Shabrina dan Devan tanpa sadar selalu menerbitkan senyum mereka.


Perasaan yang tidak pernah mereka rasakan selama enam tahun terakhir.


Hingga tiba tiba kedatangan Hans kedalam ruangan makan itu membuat devan mengernyit. Apalagi kode dari Hans, yang menyatakan jika ada sesuatu yang genting.


"Om Hans, ayo makan sama Nesya. Lihat banyak sekali makanan nya" ajak Nesya.


Hans tersenyum dan menggeleng.


"Om sudah makan nona princess. Nona makanlah yang banyak" jawab Hans.


"Oke..." jawab Nesya.


Mereka makan seperti biasa. Hans maupun Devan juga tidak ingin mengganggu suasana makan malam hangat ini dengan kabar itu.


Tapi Shabrina tahu, jika pasti ada sesuatu yang telah atau akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2